DIORAMA

DIORAMA
23. Satu Langkah


__ADS_3

Bandung, Desember 2016


Pukul sepuluh lebih empat puluh enam menit saat akhirnya aku menggeser layar ponselku dan melirik kearah jam digital yang tertera disana. Menarik napas lega dan menggeliat saat yakin jika pekerjaan yang harus kukerjakan malam ini berhasil selesai dan aku bisa pergi tidur dengan perasaan tenang. Menutup layar laptopku dan merangkak naik keatas ranjang sembari membuka pesan yang kuterima sejak satu jam yang lalu dari seseorang. Yah, siapa lagi orang yang begitu rutin mengirimiku pesan selain Evan Adiatma yang masih saja menanyakan kapan aku pulang ke Jogja.


Bandung turun hujan sejak sore tadi, bagaimana dengan Jogja?


Empat bulan sepuluh hari, dan rasanya seperti baru kemarin sore aku turun dari kereta dan memasuki gedung bertingkat tempatku bekerja saat ini. Entah aku yang begitu mudah merasa betah tinggal di Bandung atau Bandung yang menerimaku dengan begitu baik hingga rasanya aku seperti menemukan rumah kedua setelah Jogja. Dan tentu saja hujan masih menjadi topik yang sangat menarik untuk kujadikan bahan obrolan.


Jogja juga turun hujan ternyata. Aku tidak begitu memperhatikannya karena begitu sibuk menyelesaikan proyek baru yang harus selesai akhir tahun ini.


Oh, oh, apa aku baru saja memberi gangguan pada orang yang sedang sibuk?


Tentu saja tidak, sayang. Dan boleh aku tahu kenapa kamu belum tidur jam segini?


Beberapa pekerjaan harus segera diselesaikan, atau kalau tidak selesai maka manager tidak akan memberiku cuti akhir tahun. Bukankah mengerikan kalau aku tidak bisa pulang ke Jogja akhir tahun ini?


Really? Jadi sudah diputuskan kamu yang akan pulang ke Jogja dan bukannya aku yang berkunjung ke Bandung?


Iya, lagipula ibu pasti marah besar kalau sampai aku tidak pulang dihari pernikahan mbak Mita.


Kuhela napas dalam dan memejamkan mataku sejenak sebelum membukanya kembali hanya untuk mengamati langit-langit kamarku. Empat bulan, dan tidak banyak yang berubah dari diri seorang Alia Pangesti selain hari-harinya yang semakin sibuk selepas selesainya masa trainingku di kantor.


Kalender sudah memasuki bulan Desember dan hujan sudah mulau turun setiap hari dan kadang turun dari pagi hingga malam hari. Hubunganku dengan orang-orang di Jogja juga masih berjalan sangat baik meski beberapa orang tidak bisa kuhubungi setiap saat. Tapi tentu saja ada seseorang yang selalu terhubung denganku setiap hari selain ibu meski sebenarnya apa yang kami bicarakan tidak benar-benar penting. Ya, tentu saja orang itu adalah Evan yang saat ini sedang bertukar pesan denganku.


Kutunggu kepulangan kamu kalau begitu.


Kangen kamu, mas.

__ADS_1


Miss you so bad.


Bagaimana hubunganku dengan pria itu? Jujur saja aku tidak bisa menjawab jika ada yang bertanya seperti itu padaku sebab aku sendiri tidak begitu mengerti dengan hubunganku dengan Evan. Aku tidak tahu kapan tepatnya kami menjadi semakin dekat dan tidak segan mengungkapkan perasaan kami satu sama lain. Evan yang sudah tidak terhitung memanggilku ‘sayang’ dan aku yang sama sekali tidak keberatan dipanggil demikian, juga tentang rasa rindu yang tidak lagi kusimpan untuk diriku sendiri.


Aku belum mengerti apa itu artinya hubunganku dengan Evan sudah menapaki dimensi yang baru atau kami masih berjalan pada anak tangga yang sama meski dengan perasaan yang berbeda. Tapi meski begitu tetap ada perasaan mengganjal yang kurasakan setiap kali mengingat perlakuan yang Evan berikan padaku dan status hubungan kami.


‘Barangkali aku harus meminta penjelasan pada mas Evan kalau kita bertemu nanti.’


Entah sudah berapa kali kugumamkan kalimat itu pada diriku sendiri sejak aku sadar jika hubunganku dengan Evan sudah ada pada dimensi yang baru. Hanya saja setiap kali aku menggumam, setiap kali itu pula keinginan itu terlupakan begitu saja seolah aku memang tidak pernah memikirkannya.


Aku baru saja mematikan lampu dan hendak berjalan ke kamar mandi saat ponselku bergetar dan membuatku mengurungkan niat. Mengerutkan kening saat menyadari nama yang tertara di layar empat inch itu sebelum menggeser layar untuk menerima panggilan itu.


“Halo, mas.”


“Ternyata bertukar pesan dengan kamu tidak bisa mengurangi rasa rinduku, Al.”


“Lalu, apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi rasa rindu anda, pak ketua?” tanyaku sembari tertawa kecil dan kembali duduk di tepi ranjang. Tepat pukul sebelas malam saat aku melirik jam dinding dikamarku, dan aku sempat menebak apa yang sedang Evan lakukan malam-malam begini.


“Lalu?”


“Lalu, yang bisa kamu lakukan mungkin cukup mendengarkanku berbicara beberapa menit dan membiarkan aku mendengar suara kamu. Cukup adil?” dari suara helaan napasnya, kutebak Evan baru saja merangkak naik keatas tempat tidurnya seperti yang baru saja kulakukan.


“Kalau begitu boleh kudengar bagaimana mas Evan menjalani hari ini? Mungkin ada cerita yang menarik yang butuh kudengar.”


“Selain aku yang benar-benar merindukan kamu, tidak ada hal menarik, Alia. Kamu tahu sendiri aku bukan tipikal orang yang suka dengan drama-drama kehidupan seperti itu.”


Entah apa yang sebenarnya lucu dari kalimat Evan hingga aku harus tertawa seperti ini. Tapi sungguh, rasanya setiap kali pria itu berbicara atau sekedar mengucapkan sebuah kalimat, itu cukup untuk membuatku tertawa. Seperti sekarang.

__ADS_1


“Drama yang seperti apa? Aku kan hanya bertanya adakah sesuatu yang menarik hari ini? Barangkali ada karyawan baru di kantor atau semacamnya.”


“Astaga, kenapa aku baru ingat sekarang, Al?”


“Hemm? Apa aku baru saja membuat kamu ingat sesuatu, mas?” tanyaku sarkastik karena sebenarnya tanpa bertanyapun aku sudah tahu kalau aku baru saja membuat Evan mengingat sesuatu yang mungkin sebelumnya pria itu lupakan


“Aku baru ingat kalau aku harus menyiapkan materi pelatihan untuk besok lusa.”


“Materi pelatihan?”


“Untuk mahasiswi magang di divisi perencanaan.”


“Aku tidak tahu kalau tugas ketua tim juga mencakup memberikan materi pelatihan untuk mahasiswi yang sedang magang. Anda punya pekerjaan berat rupanya pak ketua.” Godaku yang sebenarnya bertujuan untuk menyamarkan keterkejutanku saat mendengar kata ‘mahasiswi’ keluar dari mulut Evan.


Benar juga, meski aku tidak mengakuinya, tidak jarang aku memikirkan tentang kehidupan Evan selepas kepindahanku ke Bandung. Sering aku memikirkan tentang pria itu yang mungkin saja sedang menjalin kedekatan dengan seorang perempuan meski disaat yang sama Evan selalu membual tentang hubungan kami berdua.


“Mungkin akan sedikit lebih ringan kalau ada kamu disini,” jawab Evan yang membuatku tidak tahu harus membalas apa. Hanya saja, Evan yang tertawa kecil diseberang sana membuatku menarik napas tanpa kusadari. “Sudah malam, kamu tidur ya. Mungkin aku harus menunda jam tidurku satu atau dua jam lagi.”


“Jangan tidur lewat jam satu dinihari, mas.”


Sebenarnya, sejak kapan aku mulai menuntut sebuah kepastian dari hubunganku dengan Evan? Aku sendiri tidak tahu dan bahkan tidak mengerti sejak kapan aku mulai berharap lebih pada pria itu dan memikirkan tentang ratusan kemungkinan pada hubungan kami. Aku mulai berharap jika di Jogja sana Evan menjaga jarak dengan gadis-gadis disekitarnya dan tidak menjalin hubungan apapun dengan mereka kerena kenyataannya pria itu telah terikat denganku.


Sebuah ikatan yang kubentuk sendiri meski tanpa sepengetahuan Evan dan tanpa persetujuan pria itu. Sebuah ikatan yang kurundingkan dengan diriku sendiri dan buah dari keegoisanku. Benar, nyatanya aku memang sudah begitu egois dengan mengakui sebuah ikatan dengan Evan meski sebenarnya tidak ada ikatan apapun antara kami berdua.


“Sebaiknya segera kamu kumpulkan keberanian untuk bertanya padanya, Al.”


Dulu, aku yang terlebih dahulu mengaku pada Evan tentang perasaanku, dan sekarang apa aku juga yang harus bertanya terlebih dahulu tentang hubungan kami berdua? Dan aku lupa kapan aku benar-benar telelap bersama pikiran terntang hubunganku dengan Evan.

__ADS_1


Dan saat aku mulau sadar, semua sudah berjalan terlalu jauh untukku dan Evan hingga rasanya akan aneh sekali jika tiba-tiba aku bertanya tentang kejelasan hubungan kami seolah kami masihlah dua orang yang baru saja akan menapaki sebuah dimensi baru sebuah hubungan.


* * * * *


__ADS_2