
Yogyakarta, Februari 2016
“Sudah dipastikan ndak ada yang ketinggalan?” tanya bapak sekali lagi hingga membuatku nyaris terlonjak dan mengerjap cepat. Berhenti menyapu pelataran stasiun Tugu pagi itu dan menoleh kearah bapak yang sedang mengecek koperku.
“Insyaa Allah tidak ada, pak. Kalau bapak mau pulang ndak apa-apa.”
“Nanti saja kalau kereta kamu sudah datang. Bapak sudah ijin tidak masuk kerja kok hari ini.” jawab bapak sembari mengajakku masuk kedalam lobi stasiun dan menyeret koperku sementara aku meraih ponsel didalam saku jaketku. Sesuai rencana sebelumya jika tanggal 4 februari aku berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan kerja pada program yang kuikuti.
“Tidak datang, ya?” tanyaku pada diri sendiri setengah bergumam.
Aku bukan gadis naif yang gemar berandai-andai akan ada pria tampan yang berlari kearahku tepat saat kereta yang kutumpangi akan berangkat. Dengan dramatis memanggil namaku dan membuat semua orang yang ada di stasiun menoleh dengan tatapan takjub dan bodoh. Tidak, sungguh itu memalukan sekali. Aku sudah mengatakan padanya jika hari ini aku berangkat ke Jakarta dan dia mengatakan akan datang ke stasiun untuk mengantarku. Itulah kenapa berkali-kali aku menghela napas dalam dan membuat bapak berkali-kali pula menoleh kearahku.
“Menunggu siapa?” tanya bapak pada akhirnya. Sementara aku hanya menggeleng sebelum melirik jam tangan di pergelangan tanganku dan memeriksa tiketku sebelum memutuskan untuk melakukan check in tiket.
“Al masuk sekarang saja pak, sepuluh menit lagi keretanya datang, biar Al tunggu didalam saja.”
Sudah kuputuskan untuk berhenti menunggu Jendra dan masuk kedalam stasiun setelah berpamitan dengan bapak. Sebenarnya aku tidak terlalu berharap banyak Jendra akan datang hari ini dan mengantarku hingga ke pintu keberangkatan. Semenjak pertemuan kami bulan desember tahun lalu hingga hari ini, tidak sekalipun aku dan Jendra kembali bertemu atau setidaknya pria itu yang menemuiku di perpustakaan umum seperti yang terakhir kali pria itu lakukan. Bahkan janjinya untuk pergi dimalam tahun baru tidak pernah ia tepati meski setelahnya Jendra meminta maaf padaku melalui ponsel dan mengatakan kalau malam itu dia harus mengantarkan Bella, adik perempuannya entah kemana.
Berkali-kali aku mencoba memberi pengertian pada diriku sendiri, bahwa sudah saatnya aku bertingkah seperti perempuan dewasa dan berhenti merajuk hanya karena Jendra membatalkan janjinya untuk mengajakku pergi dimalam tahun baru. Tapi tetap saja rasanya sulit sekali untuk bersikap legowo setiap kali aku mengingat betapa sering Jendra tidak menepati janjinya. Bahkan hari ini hati kecilku tetap menginginkan kehadiran Jendra di stasiun. Hati kecilku tetap berharap setidaknya Jendra datang dan mengatakan padaku untuk berhati-hati selama menjalani pelatihan di Jakarta. Aku ingin Jendra datang hari ini dan mengatakan padaku kalau sepulangku dari Jakarta, kami akan memperbaiki hubungan kami.
“Tetap tidak datang.”
Seperti ada sesuatu yang patah saat aku memutuskan untuk berbalik dan menyeret koperku menuju kursi tunggu didekat pagar pembatas peron satu. Sesuatu yang memang sudah retak sejak beberapa bulan terakhir itu akhirnya patah juga hari ini. Dan aku tidak tahu entah sesuatu yang patah itu bisa sembuh sepulangnya aku dari Jakarta, atau justru akan bertambah hancur.
“Mungkin benar kalau aku harus mulai membuat batas.” Gumamku pelan sembari mematikan ponselku dan memasukannya kedalam saku jaket. Menatap nanar sepatu coklatku yang entah kenapa seperti mengejek keputusan yang baru saja kuucapkan itu.
Entahlah, aku sendiri tidak tahu apakah ‘mulai membuat batas’ adalah keputusan yang benar atau bukan. Aku sudah terlalu lelah jika harus terus menerus memberikan kelonggaran pada hatiku dan membiarkannya merasakan sesak setiap harinya.
Saat aku melangkah memasuki gerbong kereta dan duduk dikursi tepat disamping jendela, aku belum mengerti apakah ini adalah keputusan yang tepat? Atau, ini adalah keputusan yang akan kusesali? Aku belum mengerti. Tapi saat peluit tanda keberangkatan kereta dibunyikan dan disahut oleh suara klakson kereta, aku paham satu hal. Bahwa dimensi hubunganku dengan Jendra akan berubah sekembalinya aku dari Jakarta nanti. Aku yakin betul akan ada dimensi baru yang akan aku dan Jendra tapaki setelah ini. Hanya saja, aku belum tahu dimensi seperti akan yang akan kami tempati setelah ini.
__ADS_1
‘Aku berangkat.’
* * * * *
“Satu lagi pria tampan yang bertanya pada bapak tentang siapa anggota tim bapak yang paling muda dan paling pendiam ini.” aku baru saja meletakkan cangkir tehku di atas tatakan dan menyalakan ponsel saat suara pak Ishak terdengar ditelingaku dan membuatku mengangkat wajah. Tersenyum tipis untuk membalas senyuman pria yang kini sudah duduk didepanku dengan secangkir kopi panas dan dua potong kue basah dipiring kecilnya.
“Maksudnya pria tampan itu bertanya tentang mbak Rizky?” selorohku untuk menimpali kalimat pak Ishak. Baiklah, maksudku untuk menyamarkan kegusaran diwajahku karena kekecewaan yang kurasakan begitu ponselku menyala sempurna dan tidak ada satupun pesan yang muncul disana setelah sejak semalam kumatikan benda itu.
“Ya ampun, bukannya tadi bapak bilang ‘tim bapak’ bukan timnya pak Rudi? Memangnya disela-sela nama Alia Pangesti ada nama Rizky-nya to?” kali ini aku nyaris tersedak potongan roti dimulutku mendengar jawaban pak Ishak.
Tiga minggu aku berada dipusat pelatihan ini bersama 37 peserta lainnya, dan kurasa kami memang semakin akrab saja. Termasuk aku dan pak Ishak selaku ketua timku. Pria parubaya ini bisa dengan mudah mengimbangiku yang cenderung pendiam dengan pembawaannya yang ringan dan begitu mengayomi.
Ya, tiga minggu. Dan selama tiga minggu ini pula perasaanku sama sekali belum membaik sejak keberangkatanku tiga minggu yang lalu. Perasaanku masih saja gusar meski kegusaran itu bisa kusembunyikan dengan sempurna pada saat menjalani rangkaian kegiatan pelatihan dan setiap kali aku sedang berkumpul dengan rekan-rekan peserta pelatihan yang lain.
“Dan siapa pria tampan yang sudi menghabiskan waktunya untuk bertanya perihal Alia Pangesti yang tidak menarik ini pada pak Ishak?”
“Ya ampun, kalau kamu tidak menarik, mana mungkin dalam tiga minggu ada dua pria yang bertanya tentang kamu pada bapak, nduk?”
“Yah, susah memang kalau menggoda perempuan muda yang sudah punya pacar.” Kali ini aku memilih untuk tertawa kecil dan menyesap teh dari cangkirku untuk menanggapi kalimat pak Ishak.
Tidak, aku bukan tidak menyadari kalau semenjak dimulainya pelatihan ini ada seorang pria yang terlihat begitu memperhatikanku hingga kupikir dia adalah tipikal pria penguntit. Mas Tristan, pria itu bahkan tidak segan-segan duduk di meja yang sama denganku setiap kali jadwal makan tiba dan entah bagaimana pria itu bisa menemukanku meski aku sudah melarikan diri dengan naik ke teras lantai dua. Aku menyadarinya, hanya saja aku sama sekali tidak tertarik untuk bersapa-sapa ria atau mengobrol ngalor ngidul dengan seorang pria jika disaat yang sama hubunganku dengan seorang pria sedang ada diujung tanduk.
Dan tepat saat aku beranjak dari kursi untuk mengambil cemilan lagi, ponselku bergetar dan sebuah nama tertera disana. Membuatku mengerutkan kening sebelum akhirnya meraih benda itu dan menyentuh layarnya.
“Sepertinya kamu akan patah hati, Tris.” Aku bersumpah saat pak Ishak berbisik pada mas Tristan yang duduk diseberangnya begitu aku melangkah menaiki tangga untuk menuju gazebo. Jam istirahat masih tiga puluh menit lagi, dan kurasa aku bisa berbicara dengan orang ini beberapa menit.
“Halo,” sapaku setelah menarik napas dalam dan menjatuhkan pantatku diatas gazebo rotan yang ada tepat disamping kolam renang.
“Hai,” beberapa saat aku tertegung memikirkan sudah berapa lama aku tidak mendengar suara Jendra meski itu hanya dari sambungan telepon?
__ADS_1
“Ada apa, mas?”
“Tidak apa-apa, hanya ingin mengobrol sama kamu. Sedang apa?”
“Sedang istirahat,” sungguh, aku sedang berbicara dengan pacarku sendiri sekarang. Tapi kenapa rasanya seperti aku sedang berbicara dengan orang asing yang sengaja menggangguku disela-sela jam istirahatku?
“Sudah makan siang?” beberapa saat aku hanya bergeming memperhatikan kilauan sinar matahari yang terpantul pada permukaan kolam renang disampingku. Riak airnya yang bergerak tipis seperti menggodaku untuk melepaskan sepatu dan menceburkan kakiku kedalam sana.
“Belum. Mas sudah makan siang?”
“Sudah. Makan siang dulu, Al. Sudah jam makan siang ini.”
“Iya.” Dan berhasil. Aku bahkan tidak segan-segan melepas kedua sepatu dan kaus kakiku untuk kekmudian memasukkan kakiku kedalam air kolam. Merasakan sensasi dingin menjalar begitu lembut dan membuatku memejamkan mata. Mengabaikan Jendra yang terdengar tidak menyukai jawabanku dan menarik napas dalam.
“Semalam kenapa nomor kamu tidak aktif, Al?” tanya Jendra pada akhirnya yang entah kenapa pertanyaan itu seperti sebuah percikan cahaya kecil. Iya, nyatanya aku memang sekekanakan itu yang dengan sengaja mematikan ponsel untuk membuat Jendra mencari dan menanyakan keberadaanku. Aku sengaja berlari hanya agar Rajendra mengejarku.
“Kumatikan. Kenapa?”
“Ya sudah, mas pikir pelatihan kamu sampai malam.”
Hanya saja cahaya itu terlalu redup dan terlalu kecil hingga padam begitu saja sebelum aku sempat mengagumi cahayanya yang redup itu.
“Tidak kok. Jam istirahatku sudah selesai, mas. Kututup teleponnya.”
Sakit sekali.
Kenapa rasanya sesakit ini hanya karena sebuah jawaban yang Jendra berikan tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan? Kenapa rasanya sakit sekali saat aku mendapati kenyataan kalau Jendra ternyata begitu tidak peduli tentang alasan kenapa aku mematikan ponsel meski alasan yang kubuat sebenarnya adalah untuk pria itu.
Ah, nyatanya air kolam yang dingin ini tidak bisa dengan sempurna menetralisir rasa sesak yang kurasakan ini. Dan setarikan napas kemudian aku sadar bahwa egoku yang besar ini ternyata mudah sekali terluka karena sebuah pengharapan kecil. Sebuah pengharapan kecil yang nyatanya bisa membuatku begitu kecewa.
__ADS_1
* * * * *