
Yogyakarta, November 2018
Tepat satu bulan aku kembali pulang ke Jogja setelah sekian lama berada di Bandung. Dan aku tidak tahu bahwa aku benar-benar merindukan tempat kelahiranku ini. Membuatku memejamkan mata dan menarik napas dalam saat menyadari bahwa tahun 2018 sudah merangkak menuju penghujungnya dan hujan yang juga sudah semakin sering turun.
Setelah sekian hari memilih untuk mendekam didalam rumah dan menolak semua ajakan untuk keluar rumah, akhirnya aku keluar juga hari ini. Suasana hangat di sore hari dan godaan untuk menikmati daun pohon mahoni yang sedang berguguran di taman bermain tidak bisa lagi kutolak.
“Dulu rasanya jarak dari rumah ke taman tidak sejauh ini.” gumamku sembari tersenyum tipis saat menyadari bahwa dengan tongkat, langkahku menjadi lebih pelan dibandingkan saat aku masih bisa berlari mengejar Lili ke taman bermain ini. Ah, aku sedang tidak ingin bermelodrama sekarang, jadi biar saja langkahku menjadi pelan, toh sejak satu setengah tahun lalu aku sudah seperti ini.
Tapi tetap saja keinginan untuk tidak bermelodrama menguar begitu saja saat aku menyadari bahwa taman bermain ini menyimpan begitu banyak kenangan milikku. Ditempat ini dulu aku menerima telepon Jendra dihari dimana aku menerima undangan pernikahan pria itu bersama Hesti.
Di ayunan ini aku dan Evan sering menghabiskan sore hari kami karena aku terlalu malas untuk diajak pergi keluar. Dan pohon mahoni disudut taman itu, entah sudah berapa kali aku menunggu kedatangan Evan dibawah pohon mahoni itu sembari menyelesaikan buku yang belum selesai kubaca. Sebuah tempat memang tidak pernah luput dari kenangan rupanya.
“Bagaimana dengan Jendra, Ka?”
Rajendra, semenyebalkan apapun pria itu dimasa lalu, sebanyak apapun luka yang pria itu berikan untukku dimasa lalu, tetap saja aku menanyakan kabarnya begitu aku pulang ke Jogja. Mika, yang saat itu mengunjungi rumahku dua minggu setelah kepulanganku bahkan sempat mengamuk karena pertanyaanku.
“Harusnya kamu bertanya tentang orang lain, Al. Bukan tentang Jendra.!”
Bagaimana aku bisa bertanya tentang orang lain itu Ka jika hanya dengan memikirkannya saja dadaku terasa sesak dan lidahku menjadi kelu? Bagaimana aku harus bertanya tentangnya?
“Hesti melahirkan anak pertama mereka lima bulan yang lalu.” jawab Mika pada akhirnya meski harus menghela napas berkali-kali.
Aku lupa mengatakannya, tapi Mika bahkan sempat mendatangiku di Bandung dan mengamuk karena aku menghilang dan Mika butuh waktu hingga dua bulan untuk mendapat informasi tentang diriku. Membiarkan gadis itu mencecariku dengan rentetan kalimatnya yang bahkan sulit kuartikan karena bercampur dengan emosi yang tidak Mika kelola dengan baik. Hanya saja, aku tahu satu hal, bahwa Mika mengkhawatirkanku.
__ADS_1
“Farhan mungkin akan menikahi Desta pertengahan tahun depan.” Sambung Mika yang tak urung membuatku mengulum senyum tipis.
Rajendra yang sudah menjadi seorang ayah. Farhan yang sudah meminang Desta. Mika yang sudah kembali ke Jogja dan menjadi seorang guru privat. Juga Kamila yang sudah menikah dengan Dion lima bulan yang lalu. Aku tidak tahu bahwa dalam satu setengah tahun masa pelarianku, ada begitu banyak hal yang kulewatkan.
Benar juga, segalanya memang akan tetap berjalan seperti seharusnya dengan ada atau tidaknya aku. Sebab bumi tidak akan berhenti berputar hanya karena aku memilih untuk berhenti melangkah. Segalanya memang berubah. Kecuali hatiku yang masih saja bertahan dalam gundah.
“Mas,”
Aku baru saja meraih tongkat disampingku dan hendak kembali ke rumah saat tatapanku justru teralihkan pada seseorang yang berdiri dibawah pohon mahoni disudut taman tak jauh dariku. Seorang pria yang terlihat begitu santai menyandarkan tubuhnya pada pohon mahoni itu dan melipat kedua tangannya didepan dada. Seorang pria yang kini sedang beradu tatap denganku dan seorang pria yang selama ratusan hari tidak pernah berhenti kupikirkan. Dia yang selama ratusan hari menjadi alasanku menyesal, dan dia yang selama ratusan hari tak henti membuatku menggumam maaf meski tidak pernah terbalas.
‘Jangan kemari, tolong jangan kemari dan pulang saja.’
Tapi, seperinya semesta memang sedang enggan mengabulkan inginku hingga pria itu tetap saja berjalan mendekatiku meski sudah kurapalkan mantra itu. Dia berjalan kearahku dengan begitu tenang. Berbanding terbalik denganku yang bahkan kesulitan mengontrol degub jantungku hingga rasanya aku ingin sekali berlari dan segera menjauh sebelum dia berhasil tiba dihadapanku.
Benar juga, selama ratusan hari aku memang berlari dari semua orang termasuk dari pria ini. Tapi pada hakikatnya satu-satunya hal yang kuinginkan dalam masa pelarianku itu adalah dia mengejarku. Aku berlari, tapi aku hanya ingin dikejar.
Saat ini, saat jarak antara kami hanya dua langkah saja sebenarnya satu-satunya hal yang ingin kulakukan adalah tersenyum padanya. Tersenyum dan bertanya apa kabar hanya untuk membuat pria itu merasa bahwa dirinya sedang tidak berhadapan dengan orang asing. Sebab bagaimanapun aku berlari dan menjauh darinya, dimasa lalu kami tetaplah dua orang yang sempat merajut mimpi yang sama. Evan Adiatma, nyatanya dimasa lalu pria ini menjadi orang yang begitu erat menggenggam tanganku seolah tidak ingin melepaskannya. Degub jantung kami pernah seirama dan tatapan kami sempat searah meski pada akhirnya aku memilih untuk menjauh dan berhenti bertukar sapa.
Aku hanya ingin tersenyum dan melihatnya membalas senyumanku, hanya saja sepertinya otak dan hatiku sedang tidak akur hingga hatiku enggan mendengar perintah otakku untuk tersenyum. Bukan enggan sebenarnya, aku hanya belum siap dan tidak tahu apa yang harus kulakukan saat tiba-tiba mendapatinya berdiri selangkah dihadapanku dan menyadari tatapannya yang lekat kearahku.
Oh tidak, ada apa dengan tatapan itu? Kenapa tatapanya terlihat sendu begitu? Atau, aku saja yang merasa asing kerena selama ratusan hari tidak melihat tatapan itu?
“Sebelum aku bicara banyak, apa saat ini kamu masih ingin lari dariku, Al?”
__ADS_1
Entah sudah berapa menit aku dan Evan hanya saling diam dan membiarkan suara gesekan daun mahoni dan deru kendaraan menjadi pengisi celah diantara kami berdua sebelum Evan menanyakan hal itu padaku. Pertanyaan yang tidak mampu kujawab dan pertanyaan yang pada akhirnya mampu membuatku tersenyum tipis.
“Apa kabar, mas?”
Betapa selama ratusan hari aku ingin menanyakan hal itu pada pria ini. Betapa selama ratusan hari aku ingin mendengar kabarnya dan memastikan dirinya baik-baik saja. Aku ingin tahu kabarnya selepas pelarianku, tapi sepertinya saat itu egoku masih begitu besar hingga aku tidak pernah bertanya kabarnya selama ratusan hari.
Dan saat ini, melihatnya berdiri dihadapanku tanpa kurang satu apapun cukup untuk membuatku bernapas lega. Meski aku tidka tahu bagaimana perasaan Evan selepas pelarianku, aku tetap bersyukur karena melihatnya baik-baik saja.
“Aku ingin mengatakan kalau aku baik-baik saja, kalau aku bahagia, dan mengatakan pada kamu kalau aku sama sekali tidak terluka.”
Aku tidak tahu kapan Evan maju dan memangkas jarak diantara kami. Saat aku sadar, pria itu sudah memelukku dengan begitu erat seolah aku akan terbang kalau tidak dipeluk seperti itu. “Aku tidak baik-baik saja, Al. Aku sama sekali tidak baik-baik saja.” bisiknya tanpa berniat melepaskan pelukanku. “Aku tidak bahagia, aku terluka, dan aku rindu.”
Ratusan hari aku selalu mencoba membayangkan kehidupan Evan Adiatma selepas pelarianku dari pria itu. Membayangkan Evan akan menjalani kehidupannya dengan normal senormal sebelum dia bertemu denganku.
Membayangkan Evan menemukan penggantiku dan mereka akan bahagia, juga bayangan-bayangan kehidupan seorang Evan Adiatma yang telah kugambarkan dengan sempurna. Tapi hari ini, gambaran tentang bayangan kehidupan Evan hancur begitu saja, persis seperti istana pasir yang tersapu ombak. Luluh lantak tidak tersisa. Pria yang memelukku saat ini bukanlah sosok pria yang telah bahagia dengan kehidupannya. Pria yang memelukku saat ini adalah pria yang hancur karena keputusan yang kubuat satu setengah tahun yang lalu.
“Tolong berhenti menyiksaku seperti ini, Al.”
Dan sebelum ini, aku sama sekali tidak tahu jika keputusan yang kubuat satu setengah tahun lalu telah begitu melukai pria ini.
“Maaf, mas.”
Setelah ratusan hari berlalu dengan kata maaf yang tak kunjung berbalas, apakah maafku kali ini akan diterima? Ah, mudah sekali aku meminta maaf setelah kesalahan yang kulakukan selama ini.
__ADS_1
* * * * *