DIORAMA

DIORAMA
6. Sesuatu Tentang Hujan


__ADS_3

Yogyakarta, permulaan desember 2015


“Dek,” aku baru saja meletakkan tas punggungku diatas kursi belajarku saat Mbak Mita membuka pintu kamarku dan nyaris membuatku melompat karena keget. “Kamu darimana? Rapi begitu?” tanya mbak Mita tanpa berniat untuk masuk kedalam kamarku dan hanya berdiri diambang pintu.


“Memang apalagi yang bisa dilakukan seorang pengangguran sepertiku selain menghadiri wawancara kerja dan melamar pekerjaan, mbak?” tanyaku sarkastik yang membuat mbak Mita justru tergelak.


Mbak Mita, kakak perempuan yang hanya berjarak 3 tahun dariku dan kami hidup terpisah sejak aku kelas enam SD. Saat itu mbak Mita memutuskan untuk melanjutkan SMA diluar kota dan hal itu membuatnya harus mondok dan hidup terpisah dari keluarganya. Seolah tidak cukup hidup merantau selama tiga tahun, setelahnya mbak Mita pun memutuskan untuk kuliah keluar kota dan kembali hidup terpisah dari keluarga kami selama lima tahun. Itulah yang membuatku terkadang bertanya-tanya mungkinkah karena itu mbak Mita menjadi begitu perhatian padaku?


“Kali ini wawancara dimana?”


“Bukan wawancara, mbak. Tadi hanya melengkapi berkas. Aku ikut programnya BPS.”


“Oh, kamu ikut program itu to? Kok nggak bilang-bilang mbak sih?”


“Memang kalau aku bilang mbak, mbak Mita mau gimana? Nganterin aku melengkapi berkas? Atau nganterin aku wawancara?”


Kali ini mbak Mita kembali tergelak dan memutuskan untuk masuk kedalam kamarku dan berbaring diatas kasurku tanpa mau repot-repot mandi dan mengganti seragam kerjanya yang sudah dia pakai sejak pagi.


“Tidak juga sih, kamu tahu sendiri mbakmu ini super sibuk.”


Aku hanya mengangkat bahu tidak peduli dan mulai membuka ponsel yang sejak tadi siang kuabaikan. Berharap mendapat pesan dari seseorang meski pada akhirnya aku hanya menghela napas panjang dan menghembuskannya kembali perlahan untuk mengurai kekecewaanku.


“Oh ya, minggu depan kamu ada acara nggak dek?”


“Belum tahu, why?”


“Main, yuk.” Ajak mbak Mita ringan yang membuatku menoleh dan menyipitkan mata. Aku tahu ajakan itu. Hanya ada dua kemungkinan mbak Mita mengajakku ‘main’. Yang pertama adalah untuk menjadi sopirnya, dan yang kedua adalah untuk membawakan belanjaannya karena kakak perempuanku itu terlalu malas untuk membawa barang belanjaannya sendiri hingga harus memanfaatkan adiknya yang sedang malas ini.


“Main?”


“Iya. Sekalian kenalan sama mas Ardi.”


Dan mas Ardi yang dimaksud oleh mbak Mita adalah tunangan mbak Mita sendiri yang itu artinya mas Ardi adalah calon kakak iparku.


“Maksud mbak Mita dengan menjadi gadis malang diantara dua orang yang sedang kasmaran dan mempersiapkan pernikahan? Tidak usah mbak, terima kasih tawarannya.” Lagi-lagi mbak Mita tertawa keras mendengar jawabanku hingga ibu memanggilku dan bertanya apa yang membuat mbakku tertawa seperti itu.


“Kalau begitu kamu boleh ajak pacar kamu. Kita double date. Bagaimana?”


“Benar-benar ide konyol yang tidak akan pernah terkabul meski mbak Mita memintanya dengan memberiku sogokan dua buah es krim sekalipun.”


Kali ini ada yang berubah dari wajah mbak Mita saat mendapatiku mengerutkan kening sembari memperhatikan layar ponsel tanpa menyentuhnya.


“Ada masalah dengan pacar kamu?”


“Apa?”


“Kamu. Kamu sedang ada masalah ‘kan dengan pacar kamu?”

__ADS_1


“Tebakan bagus.” Ya, aku memang sedang tidak mencoba berbohong pada mbak Mita tentang hubunganku dengan Jendra. Meski aku tidak akan menceritakannya pada mbak Mita, setidaknya kakak perempuanku itu tahu kalau adiknya sedang ada masalah.


“Dek,”


“Aku masih bisa mengatasinya mbak. Lagipula apa enaknya pacaran kalau adem ayem saja? Memangnya aku pacaran dengan mesin?” tukasku sebelum meraih handuk dan berjalan keluar kamar menuju kamar mandi. Meninggalkan mbak Mita yang masih berbaring diatas kasurku dan menatap punggungku hingga menghilang dibalik pintu kamar.


Ya, memang benar bahwa masalah akan membuat hubungan menjadi lebih berwarna. Hanya saja, apa tidak masalah kalau aku hanya diam dan tidak mencoba menghadapi masalah itu? apa tidak apa-apa jika aku memilih untuk diam dibandingkan dengan menghampiri Jendra dan membicarakan apa yang memang harus kami bicarakan?


* * * *


Lebih dari dua bulan semenjak aku menemani Jendra menghadiri undangan wawancara, dan berakhir dengan kami berdua yang bertemu dengan Hesti di kedai bakmi. Dan bisa ditebak, kami bahkan belum bertemu lagi sejak saat itu meski kami masih bertukar kabar melalui ponsel. Yah, tentu saja bertukar kabar sebatas ucapan ‘selamat pagi’ atau pertanyaan tidak penting seperti ‘sedang apa’. Bagaimana perasaanku? Tentu saja aku jengah sekali dengan situasi seperti ini. tapi aku terlalu sulit mencari cara agar situasi seperti ini tidak terus berlanjut dan membuat hubunganku dengan Jendra semakin menyedihkan.


Ya, kami sama sekali belum pernah bertemu lagi sejak saat itu dan tidak ada salah satu diantara kami yang berusaha untuk mengajak bertemu. Aku dan Jendra sama-sama memiliki ego yang besar dan kami berdua memang menyadarinya.


‘Sedang apa? Udah makan siang?’


Kuhela napas panjang dan memejamkan mata untuk membuang pikiran tentang ‘bagaimana kalau kubanting saja ponsel ini?’ dari dalam pikiranku. Membiarkan layar ponselku mati dengan sendirinya tanpa berniat membalas pesan yang baru saja kuterima dari Jendra.


“Dan kamu memang berpikir kalau hubungan kita baik-baik saja?”


Kuhela napas sekali lagi dan menghembuskannya dengan gusar. Aku tahu ini berlebihan sekali kedengarannya. Mempermasalahkan sesuatu yang seharusnya bisa kami buat menjadi lebih sederhana. Ya, aku tahu jika yang menjadi masalah antara aku dan Jendra hanyalah sekedar komunikasi kami yang memburuk sejak dua bulan yang lalu, dan yang harus kami lakukan hanya memperbaikinya. Benar, segala hal memang bisa menjadi lebih sederhana jika ego kami bisa ikut kami sederhanakan. Hanya saja, ego kami sebagai manusia tidak bisa begitu saja kami kalahkan dan membiarkan masalah sederhana menjadi rumit.


“Ini tidak benar, Al. Kalau kamu seperti ini terus, hubungan kalian akan berakhir tanpa kamu sadari.” Gumamku sendiri dan memperhatikan layar ponselku lama. Menatap kontak yang tertera disana lekat-lekat dan mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghubungi kontak itu.


Benar, aku memang hanya akan menghubungi Jendra, tapi nyatanya keberanian yang harus kukumpulkan lebih banyak dibandingkan saat aku harus menghubungi dosen pembimbing skripsiku beberapa bulan yang lalu.


“Hai, sedang apa?”


“Baru selesai makan,” aku tidak tahu kenapa, hanya saja aku merasa ada yang sedang coba Jendra sembunyikan dariku. Terdengar jelas dari jawabannya yang ragu-ragu saat menjawab pertanyaanku. “Ada apa?”


“Nope,” lagi, ego yang sudah sekuat tenaga kutekan agar tidak kembali membesar lepas kendali begitu saja saat mendengar pertanyaan Jendra.


“Ada masalah?”


“Tidak ada. Hanya sedang berpikir kapan kira-kira kita bisa ketemu? Kupikir ada beberapa hal yang butuh kuceritakan pada kamu, mas.”


Butuh hingga lebih dari tiga detik sebelum aku mendapat jawaban dari Jendra untuk ajakanku. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang pria itu pikirkan dan aku tidak ingin terus berspekulasi buruk tentang Jendra yang kemungkinan akan semakin memperburuk suasana hatiku. Baiklah, aku akan menunggu hingga pria itu memberi jawaban.


“Kapan?” tanya Jendra pada akhirnya.


“Aku masih menganggur, mas. Jadi ketemu kapan saja juga tidak masalah.” Aku tidak tahu dimana letak kelucuan jawabanku hingga Jendra harus tertawa seperti itu. Tapi dia memang tertawa. Jendra tertawa diseberang sana meski aku sendiri merasa bahwa tawa pria itu terdengar hambar ditelingaku.


“Sebentar ya. Mas lihat jadwal kerja dulu.” Lagi, aku harus menunggu hingga beberapa saat hingga Jendra memberikan jawaban untukku. Dan entah ini hanya perasaanku saja atau memang Jendra sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit hingga pria itu harus menghela napas panjang meski aku yakin pria itu tidak sadar telah melakukannya. “Sabtu sore bagaimana? Mas jemput dirumah sabtu sore ya.”


Dan mungkin memang semua akan menjadi sesederhana ini jika sejak awal aku mau mengalah pada egoku sendiri. Membiarkan akal sehat mengambil alih perasaan dan mengendalikannya seperti yang biasa kulakukan dalam hal lain selain tentang hubunganku dengan Jendra.


“H-mm, sabtu sore.”

__ADS_1


“See you, sayang.”


“Mas,” aku tidak tahu ini dorongan darimana atau memang sebuah perasaan yang sudah lama ingin kusampaikan pada Jendra. Aku bahkan menahan Jendra meski aku tahu pria itu sudah ingin menyudahi pembicaraan kami. Dan jika aku boleh jujur, aku masih ingin mengobrol dengan pria itu.


“Ya, Al?”


“Tidak apa-apa, hanya mau bilang kalau aku kangen mas Jendra. Jangan terlalu lelah, mas. Istirahat yang cukup.”


“Iya, mas juga kangen kamu.”


“Bye mas.”


Kupikir, kami berdua memang hanya butuh berbicara untuk memastikan bahwa kami memang masih baik-baik saja. Meski setelahnya aku harus berlari ke kamar mandi untuk mencuci wajah karena merasakan wajahku yang memanas, kupikir itu jauh lebih baik dibandingkan hanya duduk diam dan menunggu hingga ego menguasai diri kami.


“Lucu sekali, kamu pikir kamu anak SMA yang baru pertama kali ini pacaran, Al?”


____________


Aku tidak tahu kapan tepatnya aku harus memberi batas waktu antara sore hingga malam hari. Aku tidak paham sebab selama ini aku memang tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Jadi, saat dua hari yang lalu Jendra mengatakan bahwa dia akan menjemputku sabtu sore, maka yang kulakukan adalah bersiap-siap sejak jam setengah lima sore dan menunggu pria itu di teras rumahku. Menunggu mobil pria itu memasuki halaman rumahku dan menunggu hingga pria itu turun dan menyapaku yang duduk diteras rumah. Sungguh, hanya hal sederhana itu yang mampu kupikirkan sejak berakhirnya obrolan kami dua hari yang lalu. Dan memang harus kuakui itu karena aku terlalu merindukan Jendra.


Tapi nyatanya, entah sudah berapa kali kuhela napas panjang dan kulirik pintu pagar rumahku untuk memastikan apakah Jendra sudah datang atau belum. Aku bahkan sudah duduk dikursi kayu teras rumahku sejak pukul lima dan mengabaikan pekerjaan rumah yang harusnya kukerjakan setiap sore. Mengatakan pada ibu jika hari ini aku akan pergi bersama Jendra dan tidak bisa membantunya membereskan rumah.


“Jadi jemput tidak sih?” kulirik ponselku dan membuka riwayat percakapanku dengan Jendra dua jam yang lalu. Jendra hanya mengatakan padaku bahwa dia akan menjemputku, dan aku tidak lagi mempertanyakan kapan tepatnya dia akan menjemputku. Jadi ya, mungkin lain kali aku harus menanyakan jam dan menit kapan tepatnya Jendra akan menjemputku hingga aku tidak lagi harus duduk diteras rumah seperti orang bodoh untuk menunggunya.


“Jendra masih belum datang?” aku menoleh cepat dan tersenyum tipis saat mendapati ibu sudah duduk disampingku dan memperhatikanku.


“Mungkin masih dijalan, bu. Kena macet.”


“Kalau begitu masuk daja dulu, sholat dulu. Nanti toh kalau Jendra datang dia pasti akan mengetuk pintu to?” dan aku hanya mengangguk mengiyakan perintah ibu dan beranjak, dan tepat saat aku hendak melangkah perhatianku justru teralihkan oleh hujan yang tiba-tiba saja turun.


“Kenapa, nduk?” tanya ibu yang lagi-lagi memperhatikanku tidak mengerti. Akupun tidak mengerti, kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang sedang coba hujan itu sampaikan padaku? atau perasaanku saja yang terlalu melankolis hingga hujan saja bisa membuatku seperti ini?


“Hujan, bu.”


“Memang sedang musimnya.”


Benar juga. Sekarang sudah memasuki bulan desember dan sedang musim hujan. Tidak ada yang aneh dengan hal itu. Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku menjadi begitu sensitive dengan hal sesepele hujan.


<*R. Yudhistira> Maaf ya ndak jadi pergi, ketua tim tiba-tiba meminta untuk lembur, aku juga nggak tahu kalau harus lembur malam ini.


H-mm, tidak apa-apa mas. Masih ada lain kali.


Minggu depan ya, kita ganti acara kita jadi minggu depan. Aku janji*


Tolong jangan berjanji untuk sesuatu yang kamu sendiri tidak yakin bisa kamu tepati atau tidak, mas. Jangan membuatku berharap lagi.


Kuhapus lagi pesan yang sebenarnya sudah kuketik dan kubiarkan layar ponselku mati begitu saja. Lagi-lagi aku merasa tersakiti oleh hal sepele yang dilakukan Jendra. Jelas disini bukan pria itu yang salah. Hanya saja, lagi-lagi egoku sebagai seorang perempuan tidak bisa begitu saja menerima alasan yang Jendra buat karena tidak bisa menjemputku. Tapi disisi lain akupun tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuk membuatku menerima jika, rencana yang kita buat bisa gagal kapanpun.

__ADS_1


* * * *


__ADS_2