DIORAMA

DIORAMA
17. Kau...


__ADS_3

Sudah hampir sepuluh menit sejak outlander sport milik Evan terparkir dengan sempurna di pelataran parkir gedung tempat diadakannya pernikahan Jendra dan Hesti, tapi kami sama sekali belum berniat untuk turun. Bukan, maksudku aku yang belum bersedia diajak turun oleh Evan dan memintanya untuk menunggu sebentar lagi.


Meski tidak ada percakapan apapun diantara kami dan membiarkan keheningan mengambil alih celah diantara kami, kurasa perasaanku memang jauh lebih baik. Walau terkadang aku harus menunduk malu saat mengingat apa yang terjadi antara aku dan Evan kemarin sore dan betapa bodohnya aku yang menangis dihadapannya di tengah-tengah hujan deras yang mengguyur kota.


Kehela napas dalam sekali lagi dan memejamkan mata sejenak sebelum menoleh dan mendapat Evan juga tengah menoleh kearahku. Malam ini Evan terlihat tampan sekali dengan kemeja merah hati yang dipilihnya kemarin sore dan setelan jas hitam yang dengan sempurna membalut tubuhnya. Seolah setelan jas itu memang dibuat khusus hanya untuk Evan. Sementara aku harus puas dengan gaun panjang abu-abuku dan jilbab yang juga berwarna abu-abu. Pilihan pakaian yang membuat mbak Mita mencibirku dan mengataiku sebagai gadis abu-abu dipesta pernikahan mantan pacarku.


“Jangan gugup begitu. Pastikan saja kamu sudah tampil cantik dipesta pernikahan Jendra dan istrinya.”


Aku berani bertaruh kalau sebelum ini aku dan Evan tidak pernah mengatakan tentang dimensi baru dari hubungan kami. Kami masih berteman seperti sebelumnya. Hanya saja aku tidak mengerti kenapa sejak kemarin sore pria ini selalu memperlakukanku seolah aku adalah kekasihnya. Seperti sekarang, Evan bahkan membetulkan letak bros dipundakku yang mungkin terlihat tidak pas.


“Bagaimana kalau nanti di dalam sana aku bertingkah bodoh, mas?”


“Misalnya?”


“Menumpahkan jus jerukku atau menjatuhkan piring makananku?”


“Kalau begitu nanti biar aku saja yang memegang makanan untuk kamu didalam sana.” Timpal Evan sembari tertawa yang membuatku mencebik tidak suka.


“ Aku serius, mas.”


“Tidak akan terjadi hal-hal seperti itu, Alia. Semua akan baik-baik saja. Bukankah aku sudah janji pada kamu kalau semua akan baik-baik saja didalam sana?”


Benar juga. Pria ini sudah berjanji padaku bahwa semua akan baik-baik saja meski aku berhadapan dengan Jendra dan Hesti di pelaminan nanti. Evan sudah berjanji kalau semua akan baik-baik saja dan aku percaya pria ini akan menepati janjinya.


“Kita turun dan masuk sekarang?”


Dengan begitu alami Evan bahkan memintaku untuk mengamit lengan kirinya dan kami memasuki gedung, dan kami sama-sama mengamati seluruh isi gedung yang mampu kami jangkau dengan pandangan kami.


“Kurasa pesta pernikahan ini disiapkan dalam waktu yang singkat, Al.” bisik Evan setelah beberapa saat mengamati isi gedung, sementara aku memusatkan tatapanku pada seorang pria dengan batik coklat dan seorang gadis disampingnya. Farhan dan Desta.


“Hm? Mungkin mereka tidak mau menunda-nunda pernikahan, mas.” Sebenarnya aku sama sekali tidak peduli berapa waktu yang Jendra dan Hesti butuhkan untuk mempersiapkan acara pernikahan mereka.

__ADS_1


“Benar juga,”


Evan baru saja menerima gelas minuman yang kuberikan padanya saat perhatian kami justru teralihkan oleh suara obrolan beberapa gadis didekat kami. Aku mengenali gadis-gadis itu sebagai teman-teman Hesti di kampus meski aku yakin mereka sama sekali tidak mengenaliku.


“Kupikir Jendra masih pacaran sama Alia anak ekonomi itu, lho. Tapi kok tahu-tahu menikah dengan Hesti?”


“Sebelum pacaran dengan Alia, Jendra memang sudah berpacaran dengan Hesti, kamu saja yang tidak tahu.”


“Aku tahu, astaga. Maksudku kenapa mereka begitu terburu-buru menikah padahal yang kutahu Jendra dan Alia itu masih baik-baik saja?”


“Well, akan terdengar nggak sopan kalau kubilang hal seperti ini disaat seperti sekarang ini. Tapi kupikir semua orang punya tebakan dan pikiran yang sama denganku.”


“Kupikir juga begitu. Hesti bukan tipikal perempuan yang dengan mudah melepaskan masa lajangnya hanya karena nggak ingin kehilangan Jendra untuk kedua kalinya ‘kan? Jadi alasan kalau ada bayi di dalam perutnya lebih masuk akal untuk dipikirkan.”


“Ayolah, kasus seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Kenapa harus kalian permasalahkan? Toh Jendra bertanggung jawab dan mau menikahi Hesti.”


Aku menghela napas dalam dan meletakkan gelas minumanku yang bahkan belum kusesap sedikitpun. Memilih untuk berpaling dan mencari keberadaan Farhan dan Desta yang entah pergi kemana mereka berdua. Aku sama sekali tidak peduli alasan kenapa Jendra dan Hesti begitu terburu-buru untuk menikah meski terkadang aku ingin tahu. Tapi mendengar pemikiran-pemikiran bodoh dari orang-orang yang hanya mengenal nama Rajendra Yudhistira tapi sudah berani menghakimi pria itu membuatku kesal. Toh apapun alasan dari pernikahan ini sudah menjadi tanggung jawab mereka berdua ‘kan?


“Roby. Datang sendirian?” tapi nyatanya Evan sama sekali tidak terlihat keberatan dengan panggilan itu dan justru menyapa pemuda bernama Roby itu dengan ramah.


“Jendra itu keterlaluan sekali, pak. Memberi kita undangan disaat saya masih jomblo begini.” Dan tawa Evan membuatku tersenyum tipis dan mulai memikirkan seperti apa sosok Evan Adiatma saat sedang bekerja dan memimpin tim di kantornya. “Tapi sepertinya pak Evan nggak merasakan apa yang saya rasakan.” Sambung Roby sembari melirikku dan mengulurkan tangan kanannya padaku. “Pacar, tunangan, atau istrinya pak Evan?”


“Calon Rob,” aku baru saja akan menjawab ‘teman’ saat Evan terlebih dahulu menyela dan menjawab pertanyaan Roby. Membuatku menaikkan alis yang justru mendapat balasan seulas senyum dari Evan.


“Alhamdulillah, akhirnya ada satu perempuan yang berhasil membuat pak Evan menyerah.” lagi, kalimat Roby membuatku berspekulasi seperti apa kehidupan romantisme seorang Evan Adiatma yang kurasa sudah mempunyai kehidupan yang mapan diusianya yang bahkan belum menyentuh angka 27. Aku bahkan sempat memikirkan tentang gadis-gadis cantik yang mendekati Evan, yang pastinya sangat potensial untuk dijadikan istri oleh pria ini. Tapi kurasa memikirkan tentang hal itu disaat seperti ini bukanlah hal yang baik untuk dilakukan.


“Mas Evan, Roby.”


Lagi, aku baru saja akan menyela saat seseorang kembali menyapa Evan dan membuatku menghela napas pendek. Tapi kali ini seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokanku saat kusadari siapa orang yang menyapa dua pria didekatku ini.


Jendra dan istrinya. Benar, dua orang yang berdiri dua langkah dihadapanku dan menyungging senyum lebar adalah Jendra dan istrinya. Harus kuakui kalau Jendra terlihat tampan dengan setelah tuxedonya dan Hesti sangat cantik dengan gaun pengantin warna toska yang panjangnya menyapu lantai. Tapi sungguh, aku datang kemari untuk mengucapkan selamat pada Jendra dan Hesti, bukan untuk mengagumi ketampanan dan kecantikan mereka berdua.

__ADS_1


“Halo, pasangan pengantin yang bahagia.” Sapa Evan yang entah kapan menarikku mendekat dan menggenggam tangan kananku dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menyalami Jendra dan Hesti.


Ada geleyar hangat yang Evan kirimkan melalui genggaman tangannya yang dengan cepat merambat keseluruh tubuhku. Seolah geleyar hangat itu mengganti perasaan tidak nyaman yang sejak tadi kurasakan dengan sebuah ketenangan. Rasanya seperti melalui genggaman tangannya itu Evan mengatakan padaku kalau semua akan baik-baik saja. Seperti yang pria itu katakan padaku kemarin sore.


“Alia? Kupikir kamu nggak datang karena sejak tadi aku nggak lihat kamu.”


“Tentu saja aku datang, Hes. Ini pernikahan temanku dan kamu mengundangku.” Dan saat kurasakan genggaman tangan Evan semakin erat, aku semakin yakin kalau semua memang baik-baik saja. “Selamat untuk pernikahan kalian. Semoga menjadi keluarga yang penuh keberkahan.” Aku sama sekali tidak berniat untuk melepaskan genggaman tangan Evan meski aku sadar betul Jendra dan Hesti menuntut penjelasan atas sikapku dan Evan. “Mas Jendra?” ya, aku bahkan berani memanggil Jendra yang terlihat bingung dengan situasi kami saat ini hingga pria itu terkesiap sedetik berikutnya.


“Oh, ya. Terima kasih untuk doanya, Al. Dan aku nggak tahu kalau kamu kenal baik dengan mas Evan.”


“Sudah sekitar dua bulan ini, ya Al?” aku bahkan berani bertaruh kalau jawaban Evan kali ini berhasil memunculkan ribuan spekulasi didalam kepala Jendra hingga membuat pria itu mengerutkan kening begitu dalam. Sementara aku hanya mengangguk dan mengulum senyum tipis.


Ah, memangnya siapa yang peduli dengan spekulasi berantakan yang ada didalam kepala Jendra?


“Kalian pacaran?” tanya Hesti tanpa bisa menutupi rasa penasarannya.


“Tidak, hubungan kami lebih dari itu.” baiklah, untuk kali ini akan kubiarkan Evan mengambil alih peran sebagai ‘pangeran penyelamat’ untukku dihadapan Jendra dan Hesti. Tapi nanti, pria ini pasti akan menerima serentetan pertanyaan dan sebuah pukulan dariku di lengannya yang kekar itu.


“Wah, ternyata dunia benar-benar sempit ya.” Celetuk Roby yang membuat kami semua menoleh kearahnya. “Kalian semua saling mengenal dan dipertemukan di tempat indah seperti ini. Kudoakan pak Evan dan mbak Alia segera menyusul Jendra dan mbak Hesti.”


“Aamiin, terima kasih doanya, Rob. Kamu juga, segera temukan perempuan yang membuat kamu berhenti mencari.”


“Seperti Jendra menemukan Hesti dan pak Evan menemukan mbak Alia?”


“Something like that.”


Seorang perempuan yang membuat seorang pria berhenti mencari. Jadi selama Jendra bersamaku, tanpa sadar pria itu masih mencari perempuan lain yang akan membuatnya berhenti mencari? Ada satu kenyataan yang menamparku malam ini. Kenyataan yang membuatku membuka mata meski kenyataan itu pahit sekali sampai membuatku kehilangan kalimat untuk kuucapkan.


Bahwa, selama Jendra bersamaku, dia masih terus mencari. Bahwa selama bersamaku, Rajendra Yudhistira masih terus memikirkan tentang seorang perempuan yang membuatnya berhenti mencari. Dan takdir menuliskan bahwa perempuan yang Jendra cari selama ini adalah Hesti.


Entahlah, bukankah sebagai manusia aku hanya bisa menerima semua scenario kehidupan yang sudah tertulis untukku? Dan aku sedang melakukannya. Menerima dengan lapang dada siapa perempuan yang ditakdirkan untuk bersama Jendra, dan siapa laki-laki yang nantinya akan bersamaku untuk bersama-sama mengahabiskan sisa hidup kami.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2