
Lagi-lagi pandanganku tanpa sadar kuarahkan pada gedung perpustakaan saat Jendra merapikan jaketnya yang tadi kami pakai untuk berpayung dan hendak menyalakan mesin mobilnya. Aku bahkan mengurungkan niat untuk memasang sabuk pengaman dan justru menatap gedung perpustakaan seperti orang bodoh.
Benar, nyatanya aku masih saja memikirkan tentang E.A dan kenapa dia harus memberiku pesan singkat alih-alih langsung menemuiku di meja baca dan mengatakan padaku kalau kami pernah bertemu sebelumnya.
“Sayang?”
Dan entah sudah berapa kali Jendra harus menyentuh lenganku dan mengembalikan kesadaranku dari lamunan tentang E.A. Ya ampun, dihari pertamaku melihatnya aku sudah dibuat kalang kabut begini oleh orang asing.
“Ya? Kenapa mas?”
Entahlah, aku tidak mengatakan kalau hari ini telah terjadi hal besar dalam hidupku, hanya saja aku merasa kalau setelah ini aka nada banyak hal yang terjadi antara aku, Jendra, juga E.A.
“Kamu kenapa, sih?”
“Tidak, ndak kenapa-kenapa kok. Tadi mas tanya apa?”
“Kapan pernikahan mbak Mita dan mas Ardi. Tapi itu nggak penting, mas justru sedang berpikir kalau sebelum mas datang, terjadi sesuatu yang besar didalam sana.”
Kuhela napas dalam dan merasakan aroma lemongrass memenuhi indra penciumanku dan memperhatikan Jendra yang mulai fokus dengan kemudinya saat kami sudah memasuki jalan raya. Apa aku harus mengatakan pada Jendra tentang pesan singkat yang E.A berikan padaku? Apa aku harus mengatakan pada kekasihku sendiri kalau didalam sana aku baru saja bertemu pandang dengan seorang pria yang mengaku pernah melihatku dan aku yang juga merasa pernah melihatnya? Entahlah, aku tidak tahu adalah perempuan berpemikiran seperti itu disekitar sini atau tidak.
“Entahlah, mungkin tadi aku sedang melihat bayangan hantu. Dan pernikahan mas Ardi dengan mbak Mita akan dilangsungkan bulan desember kalau tidak salah.” Jawabku tak urung juga.
Menyandarkan kepalaku pada kaca mobil dan memperhatikan hujan yang masih menderas diluar sana. Tiba-tiba saja aku tidak menyukai sikap Jendra yang terdengar begitu mengintimidasi. Atau, aku saja yang tidak terlalu suka jika urusanku dicampuri oleh orang lain sekalipun orang itu adalah Jendra?
“Maaf, mas bukan mau mencampuri urusan kamu terlalu jauh, Al. Mas hanya penasaran apa yang terjadi sampai kamu jadi linglung begitu. Tapi kalau kamu nggak mau jawab, kita ganti topik obrolan, oke?”
Dan aku memang masihlah Alia yang kekanakan dengan pemikirannya yang pendek.
“Tadi mas bilang kalau ibu tidak bilang aku sedang di perpustakaan umum, lalu darimana mas tahu aku ada disana?” tanyaku setelah bekerja keras mencari topik obrolan dan mengalihkan perhatianku dari sosok E.A yang masih saja menghantuiku.
“Memang ada tempat lain yang menjadi tempat persembunyian kamu kalau bukan perpustakaan umum? Mas tahu betul kamu bukan tipikal orang yang gemar menghabiskan berjam-jam di toko pakaian atau food court swalayan .” kalau aku adalah Alia yang kekanakan dan manja, maka Jendra adalah sosok kakak laki-laki yang begitu memahami adik perempuannya. Jendra selalu bisa mengimbanginya sifat manjaku dengan sifatnya yang begitu dewasa.
“Aku tidak bersembunyi, mas. Aku sedang membaca buku. Dan aku baru ingat kalau ini hari kamis dan masih jam tiga sore, kenapa mas kluyuran di jam kerja seperti sekarang?”
Kali ini Jendra tergelak mendengar pertanyaanku dan menginjak pedal rem mobilnya saat kami memasuki sebuah kedai kopi tak jauh dari perpustakaan umum.
“Jujur mas tersinggung kamu katai ‘kluyuran’ Al.”
Alih-alih menanggapi kelakarnya, aku justru mengangkat bahu dan membuka sabuk pengaman sebelum turun dari mobil dan berlari kearah teras kedai.
__ADS_1
“Tadi harusnya ada rapat dengan anggota tim, tapi untuk alasan yang mas nggak tahu ketua tim justru menghilang dan membuat rapat dibatalkan.” Sambung Jendra sembari mengajakku masuk kedalam kedai.
“Benar-benar ketua tim yang tidak bertanggung jawab.” Benar-benar Alia yang gemar mengomentari hal-hal tidak penting seolah dirinya tahu saja apa itu tanggung jawab.
“Mungkin dia punya alasan kenapa menghilang tiba-tiba begitu.”
Untuk beberapa saat tidak ada suara diantara aku dan Jendra hingga kami biarkan keriuhan kedai mengambil alih celah diantara kami. Aku yang kehabisan ide untuk menanggapi kalimat Jendra dan pria itu yang juga terlihat sibuk dengan ponsel ditangannya. Bahkan hingga pesanan kami datang, Jendra masih belum mengangkat wajahnya dari layar ponsel.
Tapi dibandingkan dengan memikirkan apa yang begitu menarik dari ponsel Jendra dibandingkan dengan kekasihnya yang duduk tepat dihadapannya ini, aku justru memikirkan apa yang kurang dari kami berdua hingga perasaan janggal selalu saja muncul setiap kali aku bersama pria ini. Jika ada yang bertanya sejak kapan aku merasakannya, maka jawabannya adalah sejak aku dan Jendra bertemu dengan Hesti di kedai bakmi dua bulan yang lalu.
Ya, bahkan hingga saat ini aku masih saja memikirkan tentang hal-hal yang kuketahui selepas pertemuan kami dengan Hesti. Tentang masa lalu Jendra, tentang hubungan pria itu dengan Hesti, juga tentang hubungan kami.
“Tanggal 4 Februari nanti aku berangkat ke Jakarta, mas.” Mulaiku karena jengah dengan kebisuan yang menyelimuti kami berdua. Membuat Jendra mengangkat wajah dari layar ponselnya dan meraih gagang cangkir kopinya.
“Sudah tanda tangan kontrak?”
“Sudah sejak seminggu yang lalu.”
“Jadinya berapa minggu di Jakarta? Sesuai perjanjian lokasi kerjanya tetap di jogja kan?”
“Entahlah, mungkin sebulan atau kurang dari itu. Tergantung materi pelatihannya.” Aku yang memulai pembicaraan ini dengan Jendra, tapi aku sendiri yang merasa enggan untuk menjawab pertanyaan yang Jendra berikan padaku. “Dan ya, lokasi kerjanya tetap di Jogja sesuai yang tertera di kontrak kerja.”
“Kamis sore besok ada acara?” tanya Jendra setelah lagi-lagi keheningan menyelimuti kami berdua hingga rasanya aku muak sekali untuk berlama-lama di tempat ini. Membuatku menoleh dari menatap hujan diluar kedai dan menatap Jendra yang baru saja meletakkan cangkir kopinya di atas tatakan.
“Tidak ada. Kenapa?”
“Keluar yuk.” Ajaknya santai, dan saking santainya membuatku menyipitkan mata tanpa berniat menjawab ajakannya. “Jangan menatap mas seperti itu, Al. Wajar kan kalau seorang pria mengajak pacarnya keluar dimalam tahun baru?” dan alih-alih terkejut karena aku bahkan lupa kalau besok adalah hari terakhir ditahun 2015. Sungguh, entah karena aku yang terlalu enggan memikirkannya atau aku memang benar-benar lupa.
“New years eve?”
“Yup. Kita bisa jalan-jalan, lihat kembang api, dan hal lainnya.” Jelas Jendra seolah aku adalah gadis malang yang tidak pernah merasakan kemeriahan malam tahun baru.
“Boleh,”
Lagi-lagi seperti ada duri yang sengaja kutancapkan pada dagingku sendiri yang lambat laun akan membuat dagingku membusuk dengan sendirinya. Rasanya seperti aku sedang menggoreskan belati pada bekas luka yang memang sebenarnya belum sembuh benar hanya untuk membuatku kembali merasakan sakitnya.
Memang terdengar biasa saja bahkan sangat sederhana, saat seorang pria mengajak kekasihnya keluar dimalam tahun baru. Sungguh, aku juga paham dengan hal-hal romantisme seperti itu. Hanya saja, kesehatan hubunganku dengan Jendra membuatku enggan untuk memikirkan hal-hal romantis apa yang yang akan kami lakukan dimalam tahun baru nanti.
Alih-alih mulai memikirkan pakaian mana yang akan kukenakan, aku justru memikirkan ‘benarkah janji itu? apakah Jendra akan menepati janjinya kali ini?’.
__ADS_1
‘Setidaknya mulailah percaya pada pria dihadapanmu itu, Al. Dia sudah berusaha keras untuk mempertahankan hubungan kalian.’ dan entah siapa yang sebenarnya sedang suara itu ajak bersekongkol untuk membela Jendra.
‘Mulai percaya? Bisa saja. Aku akan dengan mudah menaruh kepercayaanku pada Jendra jika saja pria itu berhenti membuat janji yang entah akan ia tepati atau tidak.’
Entahlah, semenjak pertemuan kami dengan Hesti tempo hari, tanpa sadar dimensi hubunganku dengan Jendra sudah berubah dengan sendirinya dan tanpa kusadari. Entah sejak kapan aku mulai mengambil sedikit demi sedikit kepercayaan yang pernah kutitipkan pada Jendra, hingga kurasa kepercayaanku pada Jendra benar-benar tidak tersisa lagi.
Aku sama sekali tidak bermaksud menghakimi Jendra untuk apa yang terjadi diantara kami saat ini sebab akupun tahu jika aku juga bersalah disini, hanya saja egoku sebagai seorang wanita lagi-lagi menghalangiku untuk mengaku atau setidaknya melunak sedikit terhadap Jendra.
Dan memang benar jika aku tidak begitu berharap Jendra menepati janjinya untuk menjemputku kamis malam untuk merayakan malam pergantian tahun bersama-sama. Hanya saja, tetap ada rasa sakit saat aku menoleh pada jam tangan di pergelangan tangan kiriku untuk kesekain kalinya dan kemudian kembali menoleh kearah pintu pagar rumah.
“Belum datang,” gumamku setengah putus asa.
Ya, aku memang mengatakan bahwa aku tidak terlalu banyak berharap pada Jendra, tapi tetap saja aku memilih pakaian terbaik untuk kukenakan malam ini dan menunggu Jendra di teras rumah sejak jam tujuh meski pria itu bilang akan menjemputku jam delapan. “Sudah jam sepuluh.” Dan sekarang sudah jam sepuluh lewat tiga menit. Tapi tanda-tanda kedatangan Jendra bahkan belum terlihat.
‘Aku masih menunggunya, La.’ Kusentuh tanda ‘kirim’ pada layar percakapanku dengan Kamila saat anak itu menanyakan dimana aku sekarang.
‘Masih belum datang? Bagaimana kalau kuberi kamu sedikit ide, Al?’
‘Apa?’
‘Berjalanlah keujung gang dan beli terompet disana. Setidaknya kamu tetap bisa meniup terompet tahun barumu jam dua belas nanti sembari menunggu kedatangan Jendra yang entah kapan akan datang menjemputmu.’
Tak urung aku tersenyum getir untuk menertawakan diriku sendiri saat membaca pesan balasan dari Kamila. Menarik napas dalam dan membiarkan layar ponselku mati dengan sendirinya tanpa berniat membalas pesan gadis itu. Aku tahu anak itu kesal padaku karena menurutnya aku terlalu abai dengan situasi dan membiarkan hubunganku dengan Jendra semakin memburuk.
Aku tahu, dan aku sadar kalau aku memang sudah bersikap apatis pada Jendra belakangan ini. Hanya saja, rasanya aku terlalu enggan untuk sekedar berbicara dan berhenti untuk bersikap seolah kami baik-baik saja meski kenyataannya aku hampir menangis setiap malam karena memikirkan tentang hubunganku dengan Jendra.
“Haruskah aku memberi tenggat waktu?”
Pukul sebelas lebih lima, dan aku menyerah untuk menunggu Jendra. Memilih untuk masuk kedalam rumah dan melepas jaket yang sudah kupakai sejak tadi.
Lagi, untuk kesekian kalinya Jendra tidak bisa menepati janji yang ia buat untukku. Kali ini pria itu bahkan tidak membaca pesan yang kukirimkan tiga jam yang lalu meski pesan itu jelas terkirim padanya. Kenapa aku tidak berusaha meneleponnya? Tidak ada gunanya sebab aku tahu kalau Jendra bukan tipikal orang yang akan mengabaikan pesan orang lain kalau disaat yang sama dia bisa mengangkat telepon. Itu artinya pria itu memang sedang tidak memegang ponsel.
‘Lain kali, tolong jangan buat janji yang tidak akan bisa kamu tepati, mas.’
Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba saja masuk kedalam kerongkonganku dan membuat napasku tercekat saat aku mengetik deretan kalimat tersebut dilayar ponselku meski pada akhirnya aku menghapusnya kembali. Memilih untuk mematikan lampu kamar dan meringkuk didalam selimut.
Setidaknya, aku bisa meredam rasa sakit hatiku saat aku memejamkan mata dan pergi tidur.
* * * *
__ADS_1