DIORAMA

DIORAMA
38. Epilog - Kamu


__ADS_3

Evan


Yogyakarta, April 2017


Hubungan yang hanya dipenuhi dengan hal-hal manis dan romantis hanya ada didalam drama roman picisan dan tidak akan ada di dunia nyata.


Entah sudah berapa kali kugumamkan kalimat-kalimat naif semacam itu untuk menghibur diriku sendiri dan meyakinkan hatiku bahwa semua akan baik-baik saja dan hatiku tidak akan terluka. Sejak dua hari yang lalu, saat dia memilih untuk mengatkaannya padaku dan aku yang hanya mampu mendengarkan setiap kalimat yang dia ucapkan. Kalimat yang bercampur dengan isak tangis.


“Aku ingin sendirian, mas. Satu-satunya hal yang kubutuhkan sekarang hanya sendirian. Tanpa kamu, atau siapapun.”


“Kita hadapi semuanya bersama-sama. Itu janjiku pada kamu, Al.”


“Dengan cara seperti apa? Kamu tahu betul seperti apa kondisiku sekarang.”


“Aku tahu. Aku tahu seperti apa kondisi kamu dan aku bisa menerimanya.! Kapan kamu lihat aku keberatan dengan kondisi kamu?”


“Aku yang keberatan, mas.!”


Dan isak tangis itu pecah juga sesaat setelah gadis itu berteriak padaku. Meski aku tidak melihatnya, aku yakin saat ini dia berusaha keras untuk menahan isak tangisnya sendiri meski hal itu sia-sia saja.


Penghujung april tahun 2017, dua minggu setelah kepulanganku dari Bandung dan sebulan sebelum tanggal pernikahanku dengan gadis itu. Harusnya aku bahagia dengan bunga-bunga cinta yang mulai bermekaran ditaman kasih kami. Harusnya kami berbahagia dengan segala kerepotan demi merencanakan pernikahan kami bulan Mei nanti.


Tapi, sepertinya aku luput memikirkan bahwa segala hal bisa berubah dalam hitungan detik. Sama seperti aku yang tiba-tiba terhempas keatas tanah meski beberapa saat yang lalu kurasakan aku masih bercengkerama bersama awan.


“Tidak, sayang. Sungguh kita bisa melewatinya bersama-sama. Tolong jangan pernah katakan hal seperti itu lagi.” dan tentu saja aku bukan pria ***** yang akan mengiyakan permintaan konyol calon istrinya. Aku masih waras dan tentu saja aku tidak akan bisa melepaskan gadis itu dari genggamanku seperti permintaannya.


“Maaf, mas. Kuharap kamu temukan perempuan yang lebih layak mendampingi kamu dibandingkan perempuan cacat ini.”


Tapi nyatanya dia sekeras itu mempertahankan keinginannya yang aku sendiri bahkan tidak pernah berpikir kalau calon istriku sanggup mengucapkan kalimat perpisahan itu. Atau, aku saja yang selama ini selalu terlena dengan hubungan kami yang dipenuhi bunga hingga enggan memikirkan bahwa bunga mawar sekalipun memiliki duri yang bisa melukai jariku kapan saja. Dan saat ini, bukan jariku yang terluka, tapi hatiku. Satu bagian terpenting didalam diriku hancur. Tidak hanya patah, tapi hancur bersamaan dengan sambungan telepon yang diputus secara sepihak.


Hubungan yang hanya dipenuhi dengan hal-hal manis dan romantis hanya ada didalam drama roman picisan dan tidak akan ada di dunia nyata.


* * * * *


Yogyakarta, Juni 2017


10 Juni 2017, tanggal dimana seharusnya aku dan calon istriku melangsungkan pernikahan dan mengganti status kami menjadi sepasang suami istri. Sebulan yang lalu, aku bahkan masih terlena dengan rencana pernikahan kami meski saat itu calon istriku baru saja mengalami kecelakaan yang membuat kaki kirinya patah.


Sungguh, aku sama sekali tidak memikirkan tentang calon istriku yang cacat sebab selama ini aku mencintai calon istriku bukan karena sempurnanya dia. Aku masih terlena hingga luput memikirkan betapa calon istriku terluka karena kecelakaan yang dialaminya. Aku sendiri bagaimana aku bisa begitu naif hingga tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada calon istriku sendiri sementara disisi lain aku selalu menempatkan diri sebagai calon suami yang begitu memahaminya.


“Mama tidak tahu siapa yang salah diantara kalian, Van. Satu hal yang baru mama sadari saat ini adalah Alia begitu terluka karena kecelakaan yang dialaminya.”


“Aku tidak mempermasalahkan seperti apa kondisinya sekarang, ma. Aku menerima Alia seperti apapun kondisinya.”


“Iya, mama tahu perasaan kamu tidak akan berubah begitu saja hanya karena kondisi calon istri kamu. Tapi, apa kamu sudah memikirkan bagaimana perasaan Alia saat dia memikirkan kondisinya saat ini sementara sebentar lagi dia akan menikah? Satu-satunya hal yang diinginkan oleh seorang perempuan hanya menjadi sebaik-baik dirinya bagi pasangannya, nak.”


“Ma,”


“Mama yakin, Alia sama sekali tidak ingin berpisah dari kamu, Van. Apapun yang dikatakannya, intinya hanya satu. Alia butuh waktu untuk menyembuhkan hatinya yang terluka.”


Alia yang butuh waktu untuk membuat dirinya sembuh. Lantas, apa dengan cara menjauh dariku dan membuatku terluka? Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya hingga nasihat demi nasihat yang mama berikan padaku sama sekali tidak sanggup kucerna sedikitpun. Aku marah, aku kecewa, dan aku terluka. Egois sekali. Aku tahu sebagai seorang pria, tidak seharusnya aku berpikir bahwa Alia itu benar-benar egois dan tidak memikirkan perasaanku. Hal yang seharusnya kulakukan adalah mencoba memahaminya. Hanya saja, hatiku yang terlanjut patah tidak bisa begitu saja mencoba memahami Alia dan memikirkan apa yang sebenarnya gadis itu inginkan.

__ADS_1


“Kamu tidak menyusul mbak Alia ke Bandung, mas?” bahkan Fian, adik laki-lakiku juga seolag ingin menghakimi kakaknya meski sebenarnya yang dilakukan anak itu hanya bertanya saja.


“Untuk apa? Mbak Alia bahkan meminta mas untuk tidak usah lagi mencarinya ke Bandung.”


“Aku tidak tahu kalau pemikiran mas Evan bisa sependek ini.”


Aku yang saat itu masih kecewa dan patah hati karena keputusan yang Alia buat setelah berunding dengan dirinya sendiri, nyaris beranjak dan menghantam wajah Fian dengan tangan kananku yang sudah terkepal. Hanya saja, senyum tipis Fian yang pemuda itu berikan saat aku menoleh membuatku mengurungkan niat dan berpikir bahwa adik laki-lakiku ini hanya sedang mencoba memberi pengertian pada kakaknya.


“Kupikir saat mbak Alia meminta untuk tidak diganggu oleh siapapun, maka mas Evan akan segera baranjak dan menyusul mbak Alia.” Aku bahkan tidak punya ide apapun untuk menjawab kalimat Fian dan membiarkan adikku itu menyelesaikan kalimatnya sendiri. “Aku tidak tahu bagaimana perasaan mbak Alia sekarang sebab aku tidak penah merasakan kehilangan sesuatu di dalam diriku secara tiba-tiba seperti itu. Tapi kupikir, alih-alih menyendiri, yang dibutuhkan mbak Alia disaat-saat seperti ini hanyalah seseorang yang bisa membuatnya merasa bahwa semuanya baik-baik saja. Dan aku tidak melihat orang lain yang bisa melakukan hal itu untuk mbak Alia kecuali kamu, mas.”


Seseorang yang mampu meyakinkan Alia bahwa semua akan baik-baik saja. Ah, bahkan sebelum Fian berbicara begitu panjang padaku, aku sudah mengatakan pada Alia bahwa semua akan baik-baik saja bagaimanapun kondisinya. Berulang kali aku mencoba meyakinkan Alia bahwa tidak ada yang berubah apapun yang terjadi pada dirinya.


Entahlah, otakku masih terlalu kacau untuk memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi antara aku dan calon istriku. Juga, aku belum cukup paham dengan apa yang harus kulakukan untuk mempertahankan Alia agar gadis itu tidak semakin menjauh dan hilang dari jangkauanku.


“Mas Evan,” dan lamunan panjangku tentang Alia dan hubungan kami yang entah sekarang harus kusebut apa tiba-tiba saja buyar oleh sebuah suara. Sebuah suara yang seharusnya sudah familier untukku hingga aku tidak harus sekaget ini hanya karena suara itu.


“Clara,” dan tentu saja aku kaget karena tiba-tiba saja mendapati seorang gadis berdiri terpaku disamping sofa tempatku duduk. “Kamu…”


“Pintu depan tidak tertutup, mas. Aku khawatir terjadi sesuatu pada kamu, jadi maaf kalau aku lancang masuk kedalam rumah kamu tanpa ijin.”


Dan sekacau itukah pikiranku hingga pintu rumah kubiarkan terbuka? Tapi, kupikir tidak ada pria yang masih baik-baik saja saat dihari seharusnya ia menikah, justru membuatnya terjebak dalam situasi yang bahkan tidak pernah terbayangkan sedikitpun.


“Ada apa?” susah payah kuatur suaraku agar terdengar biasa saja di telinga Clara saat gadis itu duduk disampingku dan meletakkan sebuah bungkusan di atas meja.


“Tidak ada apa-apa, mas. Aku hanya mengkhawatirkan mas Evan.”


Aku tidak berbohong jika saat ini, aku seperti mendapati sosok Alia yang sedang duduk disampingku, menatapku lekat dan menyentuh punggung tanganku dengan lembut. Pun saat gadis disampingku ini tersenyum, aku tidak bisa membayangkan sosok lain selain calon istriku hingga tanpa sadar akupun menarik kedua ujung bibirku dan membalas senyumannya. “Aku tahu semua yang terjadi pada mas Evan. Dan kupikir perempuan seperti dia sama sekali tidak pantas memperlakukan kamu seperti ini, mas.”


Aku tahu, semua orang dan tidak hanya Alia, tidak ada manusia manapun yang berhak dan pantas untuk menyakiti manusia yang lainnya sebab manusia tidak diciptakan untuk saling menyakiti. Aku tahu konsep itu. Hanya saja, aku sendiri tidak yakin siapa diantara aku dan Alia yang sedang mencoba menyakiti sebab semua terlalu samar. Apakah Alia yang sedang mencoba meluakiku dengan menjauh dan menghilang dari jangkauanku? Atau aku yang sedang menggoreskan luka dihati Alia dengan membiarkannya menjalani masa sulit ini seorang diri?


Entah perasaanku yang masih terlalu samar atau hatiku saja yang memang sedang butuh pelarian, aku bahkan tidak sadar kapan gadis disampingku ini memotong jarak diantara kami hingga tangan kanannya begitu kurang ajar menyentuh dadaku. Dan bodohnya, aku tidak menolak ataupun mengatakan sesuatu meski aku mulai sadar jika gadis disampingku ini bukan Alia. Gadis ini bukan calon istriku dan dia bukanlah gadis yang kuinginkan.


“Jangan, Ra.” Pada akhirnya, hanya desisan pelan itu yang sanggup keluar dari mulutku saat kesadaranku kembali pulih.


“Aku tidak keberatan melakukannya, mas.” Bisiknya saat wajah kami bahkan hanya berjarak kurang dari sejengkal tangan.


“Bukan, maksudku jangan mengatai calon istriku dengan kata-kata buruk seperti itu.”


“Mas,”


“Aku yang memilihnya untuk menjadi pendampingku, Ra. Jadi apapun yang terjadi, hanya aku yang pantas memberi penilaian untuknya. Bukan orang lain.”


“Tapi dia memutuskan untuk menghancurkan semuanya, mas. Hubungan kalian, impian kalian, juga hati kamu telah dia hancurkan. Apa kamu sama sekali tidak menyadarinya?”


Lama kuperhatikan wajah Clara yang hanya berjarak dua jengkal dihadapanku dengan lekat. Memperhatikan garis wajah gadis itu yang menjadi lebih tegas dari sebelumnya, juga beberapa helai rambut yang menjuntai di samping wajahnya. Jadi seburuk itu penilaian orang lain terhadap Alia atas keputusannya untuk membatalkan pernikahan kami?


“Benar, Alia memang telah membuatku patah hati dan menjadi seperti ini, Ra. Tapi bukan berarti dia memang benar-benar ingin melakukannya. Aku yang tahu seperti apa Alia dan bagaimana perasaan gadis itu yang sebenarnya.” Aku tahu betul seperti apa perasaan Clara terhadapku sejak beberapa tahun yang lalu. Gadis itu menaruh hati padaku dan selalu berusaha agar aku membalas perasannya meski berulang kali pula telah kutunjukkan bahwa aku sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun untuknya.


“Barangkali suatu saat kamu akan paham kalau perasaan kamu tidak akan semudah itu hilang hanya karena masalah seperti ini, Ra. Suatu saat, ketika kamu telah menemukan laki-laki yang mampu membalas perasaan kamu seperti apa yang kamu harapkan.”


Benar juga, nyatanya perasaanku memang kacau dan hatiku terluka parah karena keputusan yang Alia buat. Hanya saja, aku lupa mengatakan pada semua orang bahwa bagaimanpun bentuk hubungan kami saat ini, perasaanku masih sama. Perasaan yang kumiliki untuk Alia sama sekali tidak berubah sedikitpun. Aku masih mencintai Alia Pangesti selayaknya Evan Adiatma mencintai gadis yang membuatnya berhenti mencari. Sebab sejak awal aku sudah menyerahkan hatiku untuk Alia, itulah kenapa aku tidak bisa jatuh cinta pada perampuan lain semudah aku jatuh cinta pada Alia.

__ADS_1


* * * * *


Yogyakarta, Januari 2019


Nyaris dua tahun aku tidak bertemu dengan Alia dan kami berdua terjebak pada situasi yang bahkan berulang kali membuatku berpikir untuk mengakhiri hidup saja. Hampir dua tahun, dan aku lupa berapa kali aku terus meyakinkan diri bahwa Alia akan pulang ke Jogja setelah gadis itu merasa telah menyembuhkan luka yang dialaminya. Sama seperti aku yang masih terus meyakinkan diri bahwa Alia akan kembali sembari menyembuhkan hatiku yang memang teluka karena keputusan gadis itu.


“Kenapa pak Evan keras kepala sekali, sih?” aku bahkan masih ingat betul pertanyaan yang Sena ajukan untukku diakhir rapat bulanan yang baru saja kami hadiri. Membuatku menarik napas dalam dan tidak berniat menjawab pertanyaan Sena. “Hampir dua tahun kalian tidak pernah saling menghubungi dan tidak pernah bertemu.”


“Dan kamu, kenapa keras kepala sekali dengan terus bertanya tentang sesuatu yang kamu sendiri sudah tahu jawabannya?”


Keras kepala, benarkah demikian? Akupun tidak tahu bahwa perasaan bisa berpengaruh sebesar ini pada logikaku. Aku bahkan lupa sudah berapa orang yang mengatakan padaku bahwa usahaku untuk menunggu Alia kembali adalah hal yang sia-sia. Juga tentang pendapat mereka kalau akan jauh lebih baik jika aku menerima perasaan Clara dan mulai menjalin hubungan serius dengan gadis itu.


Barangkali untuk mereka, menyerah menunggu Alia dan mulai berpacaran dengan Claran adalah pilihan terbaik dan akan membuatku jauh lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja, mereka sama sekali tidak tahu bahwa hal terbaik yang ingin kulakukan hanya menunggu Alia kembali sebab hatiku sudah sangat yakin bahwa gadis itu akan kembali.


“Aku tidak tahu kalau menghilang hampir dua tahun membuat kepalanya nyaris sekeras batu.” Penghujung oktober 2018, hari jumat sore dan jam seharusnya aku pulang saat seorang gadis berjaket biru toska menungguku di loby kantor. Seorang gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Mikaila dan mengaku sebagai sahabat Alia.


“Apa maksud kamu?”


“Alia sudah kembali.” Betapa selama ratusan hari aku berharap kabar itu terdengar oleh telingaku. Dan sore itu, disela hujan yang mulai menderas diluar gedus kantin, kabar itu terdengar juga olehku. “Sekitar seminggu yang lalu.”


“Maksud kamu Alia pulang ke Jogja?” entah ada berapa perasaan yang saat ini berjejalan didalam kepalaku dan membuatku tidak mampu mengeluarkan kalimat apapun meski sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan pada Mikaila. Tentang maksud dari kabar bahwa Alia-ku telah kembali.


“Sudah sejak akhir bulan September kata mbak Mita, tapi aku juga baru bertemu dengan Alia seminggu yang lalu.” jelas sekali rasa kesal yang saat ini melingkupi Mika hingga mungkin gadis itu tidak sadar jika tangan kanannya telah meremas botol air mineral dihadapannya.


“Anak keras kepala itu bahkan merahasiakan kepulangannya dariku. Dan mungkin aku juga tidak akan tahu kalau Alia sudah pulang kalau saja aku tidak melihatnya di gedung bekas perpustakaan umum beberapa hari yang lalu.”


“Perpustakaan umum.” Dan dari sekian deret racauan yang keluar dari mulut Mika, kata perpustakaan umum menjadi kata yang begitu menarik perhatianku hingga rasanya dadaku menjadi sesak tiba-tiba. Bagaimana tidak jika kenyataan mengatakan padaku bahwa perpustakaan umum menyimpan begitu banyak kenangan antara aku dan Alia. Tempat pertemuan pertama kami, tempat dimana aku jatuh cinta pada gadis itu, juga tempat dimana Alia mengaku bahwa gadis itu telah jatuh cinta padaku. Terakhir yang kutahu adalah perpustakaan umum dipindahkan sekitar setahun yang lalu dan aku sudah tidak pernah lagi mengunjungi tempat itu.


Tapi nyatanya menemui Alia bukan perkara mudah sebab gadis itu masih saja menghindar meski saat ini kami sudah kembali hidup di kota yang sama. Sore itu, awal bulan November 2018 selepas pulang dari kantor, akuputuskan untuk menemui Alia dirumahnya.


“Ibu sudah mencobanya, nak.” Meski sejak awal aku sudah bisa menebak kalau gadis itu akan menolak bertemu denganku, tapi tetap saja mendengar kabar dari ibu membuat hatiku patah untuk kesekian kalinya. Tidak adakah rasa rindu yang gadis itu rasakan untukku?


“Tolong maafkan Alia, Van. Tidak banyak yang bisa kami lakukan selain menuruti apa yang Alia inginkan.” Bahkan mbak Raya, kakak ipar Alia turut memohonkan maaf untuk adik iparnya. Tidak, tidak ada yang perlu meminta maaf disini sebab kesalahan bukan milik siapapun.


“Tidak, mas. Demi Allah, tidak.” dan pagi itu penghujung November 2018, pagi hari dimana cahaya jingga mulai nampak dan matahari perlahan naik, gadis itu mengaku. Setelah ratusan hari gadis itu membohongi perasaannya sendiri, pagi itu dengan air mata yang turun dia mengaku padaku, juga pada dirinya sendiri.


“Kenapa kamu keras kepala sekali?”


Kapan terakhir kali aku memeluk gadis ini dan membiarkannya menangis di dalam pelukanku tanpa harus ia tahan dan ia rasakan seorang diri? Kapan terkahir kali aku memeluk gadis ini dan memahami bahwa selama ini, dia tidak baik-baik saja? Ah, aku bahkan lalai memikirkan bahwa selama ratusan hari semenjak Alia membuat keputusan itu, dirinya juga terluka begitu dalam.


“Jangan menangis. Mulai sekarang, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah melepaskan kamu, sayang.”


Hingga kami tiba pada hari ini, awal januari 2019 tanggal dimana tahun berganti dan tanggal dimana aku memutuskan untuk mengganti aku dan Alia menjadi kami. Ya, karena keegoisanku yang tidak ingin kehilangan Alia untuk kedua kalinya, aku bahkan memutuskan untuk melangsungkan pernikahan kami pada tanggal 1 januari.


“Alhamdulillah,” rasanya seperti rasa sesak yang kurasakan sejak ratusan hari yang lalu menguar begitu saja saat kudapati seorang gadis bergaun pengantin putih keluar dari dalam rumah selepas acara ijab qabul selesai. Alia pangesti, gadis yang mencuri perhatianku di teras kantor, gadis yang mencuri pandang padaku disela-sela deretan buku di perpustakaan umum, juga gadis yang telah membuatku jatuh cinta begitu dalam. Istriku.


Rasanya seperti segala hal yang kami alami selama ini tidak ada apa-apanya dibandingkan euphoria yang kurasakan saat gadis itu mencium punggung tanganku dengan takzim. Juga saat aku menyelipkan cincin pernikahan kami di jari manisnya, segala rasa sakit yang pernah kurasakan menguar seketika. Dan aku paham satu hal, bahwa segala hal yang kualami tidaklah sia-sia meski saat itu rasa sakitlah yang senantiasa kurasa.


“Allah yang menentukan semuanya, mas. Ranah kita sebagai manusia hanya berusaha.”


Entah kapan Alia mengucapkan kalimat itu padaku. Tapi lagi-lagi aku sadar satu hal, bahwa ranah kita sebagai manusia memang hanya sebatas merencanakan hingga tiba keputusan Allah untuk menentukan. Sama seperti aku dan Alia yang merencankan pernikahan tapi Allah berkehendak bahwa itu bukanlah sebaik-baik waktu bagi kami.

__ADS_1


Masih begitu banyak yang perlu kami ketahui hingga Allah mengulur semuanya hingga Dia merasa bahwa aku dan Alia sudah cukup dewasa. Hingga aku dan Alia mengerti bahwa hidup memang tidak hanya seputar kamu dan aku yang hidup bahagia selamanya.


* * * * Selesai * * * *


__ADS_2