
Sekali lagi dia berlari kearahku seolah berjalan saja tidak cukup cepat baginya. Membuatku tersenyum tipis dan memikirkan kenapa setiap kali kami berjanji untuk bertemu, pria ini selalu terlambat dan membuatnya harus berlari menghampiriku? Padahal meskipun dia hanya berjalan santai saja dan tidak usah berlari, aku tidak akan marah dan pergi meninggalkannya.
“Kali ini bukan mas Evan yang terlambat, tapi aku yang memang datang terlalu cepat.” Ucapku seketika saat dia sudah menarik kursi dihadapanku dan menjatuhkan tubuhnya diatas kursi. Meletakkan kunci mobil dengan lambang tiga berlian diatas meja sebelum memanggil pelayan untuk mendekat.
“Aku tipikal orang yang memilih untuk menunggu daripada ditunggu.” Jawabnya singkat dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya sejenak sebelum kembali memasukkan benda itu.
“Begitu? Itu artinya kalau ada gadis cantik yang menaruh hati pada mas Evan, dia tidak bisa hanya diam dan menunggu kamu peka dan harus mengungkapkannya langsung, ya?” dua detik kemudian rasanya aku ingin sekali menarik kalimatku dan menggantinya dengan kalimat yang lain. Setidaknya dengan kalimat yang tidak sereceh itu.
“Apa menurut kamu seperti itu?” dan kenapa pria ini justru menanggapinya dengan wajah serius seperti itu sih? Aku hanya bercanda astaga. “Mungkin itu sebabnya selama ini gadis-gadis cantik itu selalu menyerah mendekatiku dan berpaling pada pria lain.” sambungnya dengan nada santai sembari menyesap jus lemon yang baru saja diantar oleh pelayan sementara aku hanya mengangkat bahu dan mulai mengaduk jus semangkaku dengan tidak acuh. Sama sekali tidak tertarik dengan obrolan aneh yang kumulai sendiri.
“Kalau begitu, Alia.” Kali ini Evan menggeser gelas jus lemonya dan menautkan kedua tangannya diatas meja. “Kalau suatu saat kamu mulai jatuh cinta padaku, kamu harus segera mengatakannya ya. Supaya aku bisa langsung berlari kearah kamu dan berhenti menunggu.”
Dua detik jantungku seperti berhenti berdetak saat tatapan kami berserobok dan aku yang tidak sanggup berpaling dari tatapan Evan. Namun di dua detik berikutnya aku sadar kalau terlalu cepat untuk mengartikan bahwa ucapan Evan adalah sesuatu yang sangat serius meski aku tidak menemukan kilat candaan disana. Masih terlalu dini untuk menilai kesungguhan pria ini saat mengingat belum genap tiga bulan kami saling mengenal satu sama lain.
“Kamu sudah sering berlari kearahku, mas. Bahkan di dua pertemuan terakhir kita, kamu selalu berlari.”
“Benar juga,” kali ini Evan menghela napas dan menghembuskannya kembali perlahan. “Aku memang selalu berlari kearah kamu, tapi sampai sekarang aku masih menunggu.” Sambungnya setengah bergumam.
Hampir dua menit penuh kami hanya terdiam mengamati makanan yang baru saja diantar oleh pelanggan dan membiarkan suara garpu yang beradu dengan sendok yang dipakai Evan mengisi kesunyian diantara kami. Sementara aku masih diam dan hanya menatap kosong kearah piring makananku sembari sesekali melirik gerakan tangan Evan yang seperti tidak terganggu sama sekali dangan topik obrolan kami beberapa menit yang lalu. Atau aku saja yang terlalu sensitif hingga menganggap candaan Evan sebagai sesuatu yang serius?
“Oh ya, mas.” Mungkin iya, perasaanku yang sedang kacau belakangan ini pasti mempengaruhi perasaanku yang lain. Termasuk perasaanku setiap kali tatapanku bertemu dengan tatapan Evan.
“Hm?”
“Kalau boleh tahu mas Evan sudah punya acara besok sabtu malam?” mulaiku setelah menyingkirkan ego dan harga diriku sebagai seorang perempuan yang pantang mengajak pergi seorang pria terlebih dahulu.
“Belum, kenapa? Kalau kamu mau mengajakku kencan, dengan senang hati kuiyakan ajakan kamu.” jawabnya santai sembari menyeka mulutnya dengan tisu.
“Iya, aku memang berencana mengajak kamu keluar sabtu malam besok, tapi sayangnya bukan untuk kencan, mas. Bagaimana?”
“Katakan dulu mau mengajakku kemana. Aku bukan pria murahan yang bisa diajak kemanapun oleh seorang gadis.” Aku nyaris tersedak jus semangka dimulutku kalau saja tidak buru-buru kutelan cairan itu. Sungguh, apa seorang Evan Adiatma yang gemar membaca buku biologi memang sekolokan ini?
“Kuajak datang ke kondangan, mau ya?” rayuku dengan tidak tahu malu.
“Kondangan?” tanya Evan yang entah kenapa seperti mengingat sesuatu. “Astaga, kenapa aku baru ingat sekarang, Al?” dan benar, nyatanya aku baru saja membuat pria ini mengingat sesuatu.
“Then?”
“Kamu mau mengajakku ke acara pernikahan Rajendra?” tanya Evan yang tanpa sadar membuatku menarik napas gusar sebelum mengangguk mengiyakan. Hatiku belum terbiasa mendengar kata ‘pernikahan Rajendra’ hingga rasanya seketika aku ingin marah setiap kali mendengarnya. “Kalau begitu kamu tidak perlu mengajakku. Kita datang bersama-sama karena aku juga baru ingat kalau aku mendapat undangan dari Jendra hari senin kemarin.” Dan sepertinya Evan belum sadar dengan aura kegusaran yang mulai menguar disekitarku hingga dia masih bisa memasang cengiran seperti itu. Memaksaku untuk tertawa kecil.
“Kalau begitu jawaban dari ajakanku?”
“Kujemput jam enam sore di rumah kamu?”
“Deal.”
“Omong-omong kamu dan Jendra sedekat apa, Al?” benar-benar pertanyaan yang sebenarnya kuhindari meski tidak jarang ada keinginan dalam hatiku untuk bercerita pada Evan tentang diriku dan Jendra dimasa lalu.
“Aku dan Jendra teman satu kampus, mas. Beda fakultas sih, tapi yaah, begitu…” aku ingin jujur. Aku tidak ingin menyembunyikan apapun dari Evan entah bagaimana reaksi pria ini nantinya. “Tapi kupikir mas Evan sudah menyadari siapa temanku yang bekerja di gameloft karena seingatku, Jendra pernah menghampiriku di perpustakaan umum waktu itu.” kuhela napas gusar diujung kalimatku sendiri saat menyadari kacaunya kalimatku.
“Aku belum mengerti, Al.”
“Mas ingat hari dimana mas Evan menitipkan pesan singkat pada pak Wardi?” pancingku meski perasaanku sendiri masih kacau. Tapi aku sudah terlanjur memulai obrolan ini, dan tidak ingin membuat obrolan kami menggantung begitu saja tanpa kejelasan.
__ADS_1
“Laki-laki yang menghampiri kamu? Jadi dia Jendra?” tebak Evan dengan sepasang mata dibulatkan hingga membuatku tertawa kecil karena ekspresi wajah Evan yang terlihat lucu. “Kupikir laki-laki itu pacar kamu, dan aku sempat patah hati karenanya.” Tak urung hatiku mencelos mendengar kalimat Evan. Benar, mas, dulunya laki-laki itu memang pacarku sebelum aku memutuskan untuk melepaskannya dan dia yang memutuskan untuk mengejar kembali cinta lamanya.
“Yap, dan kutebak kalau ketua tim Jendra yang mangkir kerja sampai rapat dibatalkan itu adalah mas Evan.”
“Jendra mengadu pada kamu kalau rapat dibatalkan gara-gara ketua tim yang tiba-tiba menghilang?” tanya Evan disertai tawa kecil
.
“Aku bahkan sempat mengatai ketua tim itu sebagai ketua tim yang benar-benar tidak bertanggung jawab.”
“Sebenarnya aku bukan tipikal ketua tim yang tidak bertanggug jawab, Al.” mulai Evan lagi setelah menandaskan jus lemonnya dan mengamatiku yang sedang berusaha menghabiskan bakmi gorengku dengan susah payah karena tenggorokanku terasa sesak sekali dengan topik obrolan kami. “Saat itu ada salah satu anggota timku yang belum mempersiapkan materi rapat yang seharusnya sudah dia siapkan sehari sebelumnya. Dan kupikir melarikan diri ke perpustakaan umum akan menghindarkanku dari marah-marah pada seluruh anggota tim. Pelarian yang akhirnya mempertemukanku dengan kamu.” sambungnya yang membuatku memutuskan untuk menyerah dan menyisakan bakmi diatas piringku. Seolah topik obrolan kami tidak cukup membuatku merasa gusar, Evan menambahnya dengan kalimat yang semakin membuat perasaan kacau.
“Harus ada yang mecatat keputusan mas Evan sebagai tindakan kepahlawanan.” Susah payah kuatur perasaan dan suaraku agar terdengar datar dan biasa saja ditelinga Evan.
Aku memang ingin jujur, hanya saja mengungkapkan sebuah kejujuran terkadang butuh keberanian yang lebih besar dibandingkan mengungkapkan perasaan. Ah, tapi bukankah mengungkapkan perasaan itu juga berarti sama saja dengan mengungkapkan kejujuran? Lantas apa bedanya?
* * * * *
Awalnya aku ingin pulang setelah selesai makan siang dan memastikan kalau besok malam Evan benar-benar akan menjemputku dan kami akan datang ke pernikahan Jendra bersama-sama. Tapi alih-alih membiarkanku pulang, pria ini justru menyeretku berkeliling toko pakaian dan mengatakan padaku kalau didalam lemarinya tidak ada pilihan pakaian yang layak untuk ia kenakan pada pesta pernikahan. Benar-benar sulit dipercaya sebab sejauh yang kuamati, Evan bukan tipikal pria yang begitu tidak peduli dengan penampilannya.
“Menurut kamu mana yang lebih cocok untukku, Al? Teracota atau biru muda?” dan kenapa rasanya seperti kami sedang bertukar posisi? Aku sebagai pria malang yang merasa bosan setengah mati dan Evan sebagai gadis cantik yang sedang memilih pakaian untuk ia kenakan malam minggu besok. Sungguh, Evan bahkan masuk kedalam tipikal pria tampan yang cocok mengenakan pakaian model apapun.
“Kamu cocok dengan warna apapun, mas. Sekalipun itu warna merah muda.” Jawabku asal sembari meraih sebuah syal bergaris hitam putih yang entah kenapa pasti akan cocok sekali dikenakan oleh Evan.
“Mbak, coba tolong ambilkan warna merah muda.” Ucap Evan yang membuatku berbalik seketika dan menatap pria itu dengan tatapan ngeri sebelum berteriak pada pramuniaga yang membawakan pakaian Evan.
“Sungguh, mas. Aku hanya bercanda, ya ampun.” Sergahku yang membuat Evan tertawa puas. “Merah hati saja mbak kalau ada, atau warna yang lebih gelap dari itu tapi bukan warna hitam.”
“Kupikir aku sudah membuat kamu bosan setengah mati karena kuajak membeli pakaian, Al.”
“Tidak juga,” sangkalku dengan mengangkat bahu dan kembali mengamati deretan syal yang entah kenapa semakin terlihat menarik untukku. “Menurut, mas, kapan seorang pria akan mengenakan syal ketika berpakaian? Kenapa mereka menjual syal padahal mereka tahu cuaca disini panas dan akan menyiksa si pemakai syal itu sendiri?” tanyaku aneh sembari terkikik dengan pemikiran konyol yang tiba-tiba saja muncul didalam kepalaku ini.
“Hm?” dan lagi-lagi jantungku berdetak tidak karuan saat menyadari kalau saat ini Evan berdiri begitu dekat dibelakangku hingga aku bisa mencium aroma parfum yang sudah sedikit bercampur dengan keringat pria itu. “Entahlah, aku bahkan tidak pernah berpikir untuk memakai syal saat jalan-jalan ke bukit bintang, Al.” sambungnya sebelum mengulurkan tangan kanannya untuk meraih syal merah hati bergaris hitam dan mengamatinya sejenak.
“Dan kupikir syal ini tidak hanya diperuntukkan untuk laki-laki saja.” untuk pertama kalinya semenjak aku memberi batas untuk hubunganku dengan Jendra, dimana aku merasa bahwa semua akan baik-baik saja dan hatiku akan sembuh dengan sendirinya.
Untuk pertama kalinya semenjak beberapa bulan yang lalu, aku merasa bahwa dimensi kehidupanku memang telah menapaki lembaran yang lain. Dan itu saat Evan berdiri satu jengkal dihadapanku dan melilitkan syal ditangannya pada leherku. Mengamatinya sejenak sebelum tersenyum puas. Kenapa lagi-lagi senyuman itu yang membuatku merasa nyaman dan aman? Apa tidak apa-apa aku merasakan perasaan semacam ini?
“Pas sekali. Kamu suka?” tanya Evan yang membuatku terseret dari lamunan dan pria itu mundur selangkah dari hadapanku.
“Suka. Tapi aku juga tidak punya ide kapan harus mengenakan syal seperti ini.”
“Benar juga. Kalau begitu sesuatu yang lain saja, sesuatu yang bisa kamu pakai kapan saja.”
Sesuatu yang lain. Ah, aku juga ingat kalau masih ada sesuatu yang lain yang belum kusampaikan pada pria ini.
___________
Hujan mulai turun dan semakin deras saat aku dan Evan keluar dari toko pakaian dengan satu tas belanja yang Evan bawa ditangan kanannya.
“Harusnya tadi kita naik mobil saja, Al. Sekarang jadi terjebak hujan begini ‘kan?” mulai Evan setelah beberapa saat kami sama-sama mengamati sekitar kami dan berpikir bagaimana kami bisa sampai di pelataran parkir restoran tempat kami makan tadi tanpa membuat kami terlihat konyol karena basah kuyup. Sebenarnya jarak toko pakaian tempat kami berdiri sekarang ini tidak lebih dari dua ratus meter dari pelataran parkir dimana mobil Evan terparkir, hanyasaja aku pasti akan kesulitan mengimbangi Evan kalau kami memutuskan untuk berlari bersama menuju mobil.
“Kalau begitu tunggu sampai reda saja, mas. Kupikir bulan juni sudah tidak hujan, makanya tidak bawa payung.”
__ADS_1
Benar juga, sekarang sudah bulan juni dan seharusnya hujan sudah tidak sederas ini.
“Begini saja, kamu tunggu disini dan aku ambil mobil disana. Oke?”
“Jangan, mas. Nanti kamu sakit kalau hujan-hujanan.”
“Tidak. Kalau nunggu sampai reda, bisa sampai malam kita disini.” dan kurasa Evan memang bersungguh-sungguh dengan keputusannya karena kulihat pria itu mulai melepas jam tangan dan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Memasukkan kedua benda itu kedalam tas belanja dan menyerahkannya padaku.
“Begini saja, mas.” Potongku sebelum Evan benar-benar berlari menerobos hujan. “Masukkan barang-barangnya kedalam sini.” Sambungku sembari membuka resleting tas ransel kecilku dan memasukkan tas belanja milik Evan setelah kulipat sedemikian rupa. Menutupnya kembali dan membungkus ransel kecil itu dengan mantel tas yang memang selalu tersedia dikantong tasku. “Tasku anti air, jadi Insyaa Allah barang-barang kita aman.” Ucapku yakin saat menyadari tatapan Evan yang terlihat ragu.
“Bukan itu. Maksudnya kamu mau hujan-hujanan sampai di parkiran? Jangan konyol, Alia. Kamu bisa sakit.”
“Dalam hitungan ketiga ya, mas.” Sanggahku dan mengabaikan kalimat Evan. Entah kapan terakhir kali aku sesemangat ini saat akan melakukan sesuatu.
“Alia.!”
“Satu, dua…” dan aku sudah berlari tanpa menunggu hitungan ketiga dan meninggalkan Evan dibelakangku.
“Hei, you steal the start.!”
Lagi, setelah sekian bulan, inilah pertama kalinya aku tertawa selepas ini. Benar-benar tertawa hingga rasanya aku lupa kalau kemarin sore aku masih menangis bersama Kamila didalam kamar pribadiku. Dan sekarang, aku tertawa seperti anak kecil yang baru pertama kali merasakan betapa menyenangkannya bermain hujan-hujanan seperti ini.
“Bukankah ini menyenangkan?” gumamku setelah menghentikan langkah tiba-tiba dan membuat Evan juga berhenti disampingku.
"What?” dan kami benar-benar berhenti tepat di bawah pohon angsana tidak jauh dari toko pakaian yang tadi hingga beberapa orang menoleh kearah kami.
“Hujan-hujanan seperti ini. Aku lupa kapan terakhir kali bermain hujan-hujanan seperti ini, mas.” Jawabku sekenanya sembari mendongak dan memperhatikan daun-daun pohon angsana diatasku bergerak-gerak karena air hujan dan membiarkan air hujan itu semakin membuat pakaianku basah. Sementara Evan masih terdiam dan maju selangkah untuk memperpendek jarak diantara kami.
“Ada sesuatu yang ingin kamu lepaskan, Al?” aku baru sadar kalau sebetulnya Evan pasti merasa ada yang aneh saat aku bercerita tentang hubunganku dengan Jendra beberapa jam yang lalu. Dan aku akan mengatakan semuanya hari ini juga. Entah seperti apa sikap Evan terhadapku nantinya, pria itu selalu punya pilihan.
“Tidak, mas. Aku sudah melepaskannya.” Juga, aku bertekad untuk tidak berpaling dari tatapan mata pria ini. “Aku hanya ingin memastikan kalau semua akan baik-baik saja meski aku menghadiri pernikahan mereka besok malam.” Hampir semenit penuh tidak ada reaksi apapun dari Evan untuk kalimatku, sementara aku yang terus memperhatikan air hujan yang menetes dari ujung-ujung rambut Evan dan air yang membasahi kacamatanya.
“Kamu mencintai Jendra?”
Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan Evan. Dan ya, rasa cintaku untuk Jendra bahkan sudah lama tidak kurasakan.
“Saat Jendra menghampiriku di perpustakaan umum tempo hari, dia memang masih menjadi pacarku, mas.” Tatapan kami masih bertemu dan sekuat tenaga aku mencoba untuk tetap tidak berpaling. “Benar, dulunya Jendra memang pacarku sebelum aku memutuskan untuk melepaskannya dan dia yang memutuskan untuk mengejar kembali cinta lamanya.”
“Kamu ragu dengan keputusan untuk menghadiri pernikahan mantan kekasih kamu?”
Lagi, aku mengeleng untuk menjawab pertanyaan Evan.
“Semua akan baik-baik saja ‘kan? Meski aku berdiri dipelaminan dan berhadapan dengan Jendra dan istrinya, semua akan baik-baik saja ‘kan? Maukah kamu mengatakan padaku kalau semua akan baik-baik saja, mas?” entah rasa asin yang kurasakan diujung bibirku ini adalah rasa dari air hujan atau dari air mata yang tidak kusadari telah turun dan merobohkan pertahananku.
“Tentu saja.” aku tidak tahu kapan Evan mengangkat tangan kanannya dan menyentuh sebelah pipiku saat aku mulai menunduk dan menghindari tatapannya. “Sekalipun kamu berhadapan langsung dengan Jendra, semua akan baik-baik saja. Sekalipun kamu menyaksikan ijab qabul yang Jendra lakukan bersama wali istrinya, kamu akan baik-baik saja.”
“Mas,”
“Karena aku akan memastikan untuk kamu kalau semua akan baik-baik saja. I promise.”
Dimasa lalu, ada seorang pria yang begitu sering mengingkari janjinya padaku, mas. Apa sekarang aku boleh mempercayai janjimu itu? Bolehkah aku berharap kamu menepati janjimu? Dan, kamu akan menepatinya ‘kan?
* * * * *
__ADS_1