
“Jendra bicara apa saja saat aku tidak ada?”
Tanya Evan begitu mobilnya keluar dari pelataran parkir dan berbaur dengan kendaraan lain dijalan raya. Membuatku menoleh kearahnya meski belum berniat untuk menjawab pertanyaan Evan dan memilih untuk mengamati wajahnya yang mulai sibuk dengan jalanan dihadapannya. Hampir setengah jam Evan menemui sekretarisnya dan meninggalkanku didalam ruangan bersama Jendra. Dan aku, meski dalam hati merapalkan doa dan meminta agar tuhan menggerakkan hati Jendra untuk segera meninggalkan ruangan Evan, tapi sepertinya doaku tidak terkabul dan Jendra baru pergi setelah Evan kembali ke ruangannya dan mengajakku pulang.
“Banyak hal.” Jawabku enggan. Menarik napas dalam dan membiarkan aroma apel memenuhi indra penciumanku.
“Tentang apa?” dan aku tidak menyalahkan nada bicara Evan yang terdengar begitu mengintimidasi. Dia calon suamiku dan kupikir tidak ada pria yang baik-baik saja saat calon istrinya terkurung didalam ruangan bersama mantan pacarnya selama setengah jam lebih. Tapi apa Evan sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat aku berada diruangan yang sama bersama Jendra sementara pria itu tahu bagaimana kehidupanku dan Rajendra sebelum ini?
“Tentang bagaimana mas Evan tiba-tiba bisa menjadi calon suamiku, tentang kenapa dua orang yang belum lama saling mengenal bisa memutuskan untuk merencanakan sebuah pernikahan, tentang bagaimana aku dan mas Evan akan saling mengenal satu sama lain, tentang pernikahan seperti apa yang akan dijalani oleh dua orang yang belum lama saling mengenal, tentang….” Aku bahkan tidak sadar dengan apa yang kuucapkan hingga membuat napasku terengah hingga kalimatku terputus begitu saja.
“Hei,”
“Tentang aku yang tidak layak menjadi calon istri untuk kamu.” sambungku tanpa memalingkan wajahku dan Evan dan menatapnya lekat.
Benar, nyatanya seorang Rajendra Yushistira yang kuanggap sudah semakin dewasa dengan statusnya sebagai seorang suami bisa mengatakan hal semurahan itu padaku. Aku bahkan masih ingat betul wajah Jendra dan senyum kecutnya yang ia tujukan padaku.
“Kamu ingin membuktikan padaku kalau kamu bisa mendapatkan seorang pria yang lebih hebat begitu putus dariku, Al? Dan kamu sengaja terus mendekati Evan karena kamu tahu dia adalah atasaku dan dimata kamu Evan jauh lebih hebat dariku?”
Aku bahkan masih ingat betul kalimat yang Rajendra tujukan padaku hingga membuat ujung mataku berkedut menahan marah. Bukan marah sebenarnya, hanya saja aku terlalu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Jendra.
“Aku tidak tahu kalau kamu bisa berpikir seburuk itu tentang aku, mas.”
“Pikirkan kembali, Al. Kalau seluruh kantor tahu Evan menikahi kamu yang tidak lain adalah mantan pacarku, bukan tidak mungkin harga diri Evan akan jatuh karena dianggap merebut kamu dariku.”
“Kamu sedang ingin menyampaikan bahwa aku tidak pantas menjadi istri dari manajer kamu?”
“Dan kamu memang Alia yang begitu pandai menerjemahkan kalimat.”
Kutarik napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan. Berusaha menerapkan teori yang kupelajari saat mengikuti kelas yoga beberapa tahun lalu tentang bagaimana menahan marah dengan menarik napas dalam-dalam.
__ADS_1
“Boleh kukatakan beberapa hal pada kamu, mas? Pertama aku bahkan sudah berhenti memikirakn tentang kamu sejak berbulan-bulan yang lalu, jadi kalau kamu berpikir aku menerima lamaran mas Evan karena ingin membuktikan pada kamu, maka kamu salah. Yang kedua, tentang apakah aku layak menjadi pendamping mas Evan atau tidak, itu ranah Allah mas. Aku dan mas Evan hanya menjalaninya sebaik yang kami bisa. Dan kupikir kamu juga tidak layak memutuskan begitu saja tentang aku yang tidak layak menjadi istri Evan Adiatma.”
Dan yang membuatku nyaris beranjak dari sofa dan mengejar Evan keluar ruangannya adalah pikiran tentang bagaimana Jendra bisa berpikir seburuk itu tentangku, dan bagaimana bisa seorang pria dewasa mengatakan kalimat semurahan itu pada seorang perempuan?
“Aku sedang tidak membicarakan tentang perasaan kamu karena aku memang tidak peduli lagi, Al.” hanya saja keinginan untuk mengejar Evan keluar ruangan urung seketika saat Jendra kembali membuka suara dan membuat langkahku tertahan. “Aku sedang membicarakan atasan yang kuhormati. Aku sedang membicarakan tentang karir Evan di kantor ini dan…”
“Dan terima kasih karena kamu sudah begitu perhatian pada calon suamiku, mas.” Potongku cepat sebelum Jendra menyelesaikan kalimatnya dan sekuat tenaga menahan rasa panas dimataku agar tidak menjelma menjadi tangis. Hanya dalam hitungan menit, dan Rajendra berhasil memunculkan pertanyaan-pertanyaan tidak karuan didalam kepalaku dan spekulasi-spekulasi tentang pria itu.
Siapa sebenarnya yang melakukan kesalahan fatal dimasa lalu hingga saat ini Jendra menatapku seolah aku adalah musuh yang telah lama dicarinya dan saat ini sedang berdiri dihadapannya?
Siapa yang sebenarnya telah menggoreskan luka hingga saat ini Jendra menatapku seolah aku adalah tawanan yang siap ia penggal kepalanya?
Dan juga, siapa sebenarnya pria yang kini berdiri dan berjarak dua langkah dariku dan menatapku seolah aku adalah perempuan paling berdosa dimuka bumi ini? Sungguh, dia benar-benar tidak seperti Rajendra yang pernah kukenal.
“Tolong, mas.” Mulaiku dengan suara serak setelah Evan menepikan mobilnya dan membiarkanku menangis seperti perempuan bodoh dihadapannya selama hampir sepuluh menit. “Tolong pikirkan kembali.”
“Tentang lamaran kamu untukku.”
“Kamu ingin aku memikirkannya berapa kali?”
“Mas,”
“Sepuluh kali? Dua puluh kali? Atau seratus kali?”
“Tolong, mas.”
“Aku sudah melakukannya sebelum kamu minta, Al.”
Kali ini aku memilih untuk diam dan tidak lagi mendebat Evan dengan argument konyolku. Argument konyol yang sebenarnya tidak ingin kuucapkan karena aku sendiri tidak ingin mengucapkan kalimat-kalimat tidak masuk akal seperti itu. Hanya saja, perasaanku yang sedang campur aduk membuatku mengeluarkan semua yang ada didalam kepalaku tanpa sanggup menyaringnya terlebih dahulu.
__ADS_1
“Aku sudah memikirkannya ratusan kali.” Dan air mata yang sebenarnya sudah kususut dari wajah kembali jatuh saat Evan menatapku lekat meski pria itu masih bergeming dan seperti tidak ingin melakukan apapun. “Tentang aku yang ingin menjadikan kamu perempuan terakhir untukku, tentang aku yang ingin menjadi pria terakhir untuk kamu. Dan setelah memikirkannya ratusan kali, jawabannya tetap sama, Al. Aku ingin memiliki kamu dengan cara yang mulia.”
Memiliki dengan cara yang mulia. Kenapa aku lalai memikirkan tentang hal seperti itu hingga Evan harus mengingatkanku? Kenapa aku sama sekali tidak bisa menangkap niat baik Evan untuk menjadikan hubungan kami menjadi sebuah hubungan yang mulia dan justru memikirkan hal tidak masuk akal karena beberapa kalimat racauan dari Jendra yang tidak lain adalah orang dari masa laluku?
Ah, barangkali memang masih ada sedikit luka disudut hatiku karena Jendra yang hingga detik ini belum sepenuhnya sembuh.
“Boleh kutanya sesuatu, Al?” tanya Evan setelah beberapa saat kami hanya terdiam. Aku yang sibuk dengan pikiranku dan Evan yang terlihat sibuk memperhatikan jalanan dari kaca disampingnya. Tapi dari caranya menarik napas dalam beberapa kali, aku bisa menebak jika saat ini Evan-pun sedang mencoba menata pikirannya yang sudah pasti kacau karena racauan tidak jelasku. “Apa kamu memang tulus menerima lamaranku, atau kamu menerimanya hanya karena terpaksa?”
“Mas,” kali ini aku bahkan mengerutkan kening hingga merasakan alisku yang nyaris bertemu. Bagaimana Evan bisa menanyakan hal seperti itu disaat seperti ini?
“Kupikir luka karena Jendra sudah berhasil kamu sembuhkan sepenuhnya, Al.” gumam Evan yang mungkin ia tujukan untuk dirinya sendiri. Dan hatiku mencelos hingga rasanya seperti ada tangan yang menamparku saat kudapati Evan tersenyum kecut dan menoleh kearah luar jendela saat aku menoleh kearahnya.
“Kupikir keberadaan Jendra sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang bisa mengganggu kamu. Tapi ternyata aku salah. Keberadaan Jendra masih sangat mengganggu kamu, bahkan perkataan Jendra bisa membuat kamu ragu dengan lamaranku.”
Sungguh, aku sama sekali tidak menginginkan percakapan seperti ini bersama Evan. Aku tidak tahu jika racauanku karena perkataan Jendra bisa membuat situasiku bersama Evan menjadi seperti sekarang. Aku bahkan kehilangan kata-kata dan tidak sanggup menyusun kalimat yang layak untuk kuucapkan pada Evan. Aku sudah menyakiti Evan dan aku tidak ingin semakin melukainya dengan kalimatku.
“Harus berapa lama lagi aku menunggu sampai luka itu benar-benar sembuh, Al?” kudapati Evan menghela napas sekali lagi sebelum melepas kacamatanya dan menoleh kearahku. Mengulurkan tangan kirinya dan menyusut air mataku yang memang sejak tadi kubiarkan jatuh begitu saja. “Harus berapa lama lagi aku menunggu hingga hati kamu benar-benar siap menerimaku?”
Benarkah seperti itu? Benarkah aku belum siap menerima Evan dan segala perasaan yang pria itu tawarkan padaku meski berbulan-bulan kami selalu bersama-sama dan pria ini bahkan sudah melamarku? Benarkah masih ada luka dari Jendra yang belum sembuh hingga aku begitu kesulitan menerima Evan tanpa terbayang-bayang kalimat yang Jendra ucapkan padaku?
“Maaf, mas. Maafkan aku.”
“Pernikahan ini tentang kita, Al. Tentang kamu dan aku. Jadi, tentang seperti apa kehidupanku setelah menikah dengan kamu, itu bukan ranah Jendra untuk mendiktenya. Pun dengan perempuan seperti apa yang layak menjadi pendampingku, hanya aku yang berhak menentukannya, bukan orang lain.”
“Maaf, mas.”
Harusnya segala hal memang bisa kubuat lebih sederhana. Sesederhana aku yang melepaskan segala luka karena Jendra dan berhenti memikirkan bahwa aku memang pernah terluka begitu dalam karena Jendra di masa lalu. Sesederhana aku menerima Evan dengan segala perasaan tulus yang pria itu tawarkan untukku dan berhenti menoleh kebelakang sebab aku tidak akan menapaki kembali jalan yang telah kulalui.
* * * * *
__ADS_1