
Dan setelah mendapat petunjuk dan arahan dari Evan seolah aku adalah seorang mahasiswi magang, pada akhirnya aku mengangguk juga dan setuju menemuinya jam 11 siang dikantornya. Berusaha mengenyahkan pikiran tentang ‘bagaimana kalau disana aku bertemu dengan Jendra?’ dan terus menghela napas saat perempuan cantik dengan kemeja biru muda dan rok selututnya mengantarku ke lantai tiga dimana ruangan pak Evan Adiatma berada.
“Silahkan bertanya pada mbak Sena yang ada di meja sekretaris itu, mbak. Saya tidak tahu apa pak Evan sudah kembali keruangannya atau belum.”
“Terima kasih.”
Suaraku yang cenderung cempreng semakin terdengar kacau jika disandingkan dengan suara perempuan resepsionis itu. Itulah kenapa aku hanya berterima kasih dengan pelan sembari mengangguk sebelum melangkah mendekati seorang perempuan yang duduk di meja sekretaris seperti yang perempuan resepsionis itu katakan.
‘Sekretarisnya Evan?’ tanyaku dalam hati sebelum memberanikan diri untuk menyapa. Memikirkan bahwa pekerjaan yang Evan miliki di kantor ini memang benar-benar penting dan banyak hingga pria itu butuh seorang sekretaris untuk membantunya.
“Saya Alia, mbak. Mas Evan, maksud saya pak Evan meminta saya untuk bertemu dengan beliau hari ini.” rasanya aku ingin sekali memasukkan wajahku kedalam tas selempangku karena malu pada perempuan bernama Sena ini. Sungguh, aku benar-benar tidak sengaja memanggil Evan dengan sebutan ‘mas’ dihadapan perempuan ini.
“Oh, mbak Alia ya. Mari saya antar ke ruangannya pak Evan.” Tanpa pertanyaan dan rasa curiga sedikitpun, perempuan bernama Sena ini dengan cepat mengajakku masuk kedalam sebuah ruangan berdinding pembatas kaca yang tidak jauh dari meja kerjanya. “Saya Sena, mbak. Sekretasinya pak Evan. Tadi pagi pak Evan bilang kalau mbak Alia akan datang.”
“Terima kasih, mbak.”
“Mungkin pak Evan akan kembali selepas sholat jum’at mbak. Kalau ada apa-apa mbak Alia bisa panggil saya.”
Dalam hati aku mulai menebak usia perempuan bernama Sena ini dan kupikir usianya tidak jauh berbeda dariku. Dan pembawaannya yang ramah dan menyenangkan itu membuatku merasa diterima meski ini adalah kali pertama pertemuanku dengan perempuan bernama Sena itu.
“Apa tidak apa-apa saya menunggu pak Evan disini sendirian?” tanyaku ragu-ragu sebab sejauh yang kutahu, tidak sembarangan orang boleh memasuki ruangan seorang manajer.
“Tidak apa-apa, mbak. Lagipula mbak Alia kan sudah membuat janji temu dulu dengan pak Evan, jadi tidak masalah.”
Janji temu. Rasanya aneh sekali saat aku mengingat bahwa biasanya aku dan Evan hanya perlu mengabari melalui telepon atau pesan singkat untuk bertemu, dan sekarang aku bahkan harus membuat janji temu dan melalui perantara seorang sekretaris untuk bisa bertemu dengan pria itu.
“Yah, setidaknya kalau kamu menunggu disini, kemungkinan kamu bertemu dengan Jendra akan semakin sedikit, Al.”
Dan memang tidak dipungkiri jika semenjak aku melangkah memasuki pelataran parkir hingga naik ke lantai tiga, aku selalu merasa was-was dengan kemungkinan kalau aku akan bertemu dengan Rajendra atau paling tidak akan berpapasan dengan pria itu.
Memang benar jika selepas pernikahan Jendra dengan Hesti beberapa bulan yang lalu, aku selalu menghindari kemungkinan bertemu dengan Jendra dan aku sengaja menghapus semua hal tentang Jendra dari kehidupanku. Tapi tetap saja hal itu tidak lantas membuatku melupakan kenyataan bahwa Evan dan Jendra bekerja di tempat yang sama dan jika aku memutuskan untuk mendatangi tempat ini kemungkinan untuk bertemu dengan Jendra akan selalu ada.
Sebab terlalu banyak kenangan dan rasa sakit yang Jendra berikan untukku hingga rasanya aku enggan sekali barang berpapasan dengannya sekalipun. Aku ingin menganggap Jendra sebagai temanku, hanya saja setiap kali keinginan itu muncul, kenyataan bahwa Rajendra Yudhistira adalah orang yang pernah kucintai dan pernah menyakitiku juga turut ambil bagian.
Nyatanya, menganggap Rajendra sebagai seorang teman bukanlah perkara muda yang bisa kulakukan dalam waktu sesingkat ini.
* * * * *
Aku baru saja hendak memasang jam tangan di pergelangan tangan kiriku dan membiarkan tas selempangku tergeletak begitu saja disampingku saat seorang perempuan muda mendekatiku.
“Permisi,” mulainya dengan nada takut-takut dan membuatku menoleh keseluruh penjuru musolah untuk mencari tahu adakah orang lain di tempat ini atau tidak. ya, karena terlalu bosan menunggu Evan selama sejam lebih, akhirnya aku memilih untuk keluar dari ruangan Evan dan bertanya pada Sena dimana musholah berada. Dan aku harus bersyukur karena tidak harus turun ke lantai dasar untuk sholat duhur dan selepas sholat aku bisa kembali keruangan Evan.
“Ya?” balasku dengan nada yang ditelingaku sendiri-pun terdengar aneh. Menatap kearah perempuan muda yang kini duduk didekatku dan tersenyum manis kearahku.
“Saya belum pernah melihat mbak sebelum ini, karyawan baru ya mbak?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Oh bukan, saya sedang ada janji dengan seseorang.”
__ADS_1
“Oh, kupikir mbak ini karyawan baru.” Tukas perempuan muda ini dengan nada kecewa. Dan kalau boleh kutebak, mungkin usia perempuan ini baru memasuki 20 tahun. “Aku Wina.” Sambung perempuan muda itu sembari mengulurkan tangan kanannya kearahku dan tak urung membuatku tersenyum dan menyambut uluran tangannya itu. Serasa menemukan teman setelah sekian lama aku terkurung didalam gua, akupun merasa begitu girang saat menyebutkan namaku dan kami berdua memulai perkenalan.
“Alia,”
Alia dan Wina, dan entah sejak kapan tepatnya aku begitu mudah untuk menjadi akrab dengan orang yang baru kukenal seolah kami adalah teman lama yang kembali dipertemukan. Sejauh yang mampu kuingat, aku bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang baru bahkan cenderung tipikal orang pendiam.
“Kamu mahasiswi magang ya?” tanyaku setelah sekian menit memperhatikan penampilan Wina dan entah kenapa tiba-tiba saja teringat saat Evan mengatakan jika dirinya perlu menyiapkan materi pelatihan untuk mahasiswi yang magang di kantornya.
“Terlihat sejelas itu ya mbak?”
“Iya, terlihat kalau kamu masih dedek-dedek mahasiwi semester lima yang sedang magang.” Candaku yang disambut tawa oleh Wina. Tawa yang selalu bisa membuat dua orang yang baru saling mengenal menjadi akrab.
“Bagaimana rasanya magang di perusahaan sekelas gameloft?”
“Menyenangkan, mbak. Tegang sudah pasti, dan kadang merasa di sepelekan karena aku hanya mahasiswi magang.”
Tak urung aku tersenyum dan menyentuh lengan Wina yang berbalut kemeja longgar merah marunnya. Mencoba kembali mengingat saat dulu semester lima aku yang juga menjadi anak magang di kantor pemerintahan dan menjadi manusia asing dan tidak jarang disepelekan, seperti apa yang Wina rasakan.
“Tidak apa-apa, semua akan menempa mental kamu menjadi lebih sabar dan kebal. Tapi omong-omong pegawai di sini menyebalkan ya?” pancingku sembari menoleh kearah luar musholah dan menatap pintu yang menghubungkan koridor ruangan Evan dan musholah ini.
“Tidak kok, mbak. Kebayakan menyenangkan, apalagi divisi perencanaan tempatku magang ini. Hanya saja ada satu karyawan yang kadang menyebalkan sekali setiap kali berpapasan denganku.” Keluh Wina seolah anak ini baru saja bertemu dengan kakak perempuannya dan mengeluhkan betapa menyebalkannya sekolah karena banyak tugas.
“Oh ya? Mungkin kamu melakukan kesalahan yang tidak kamu sadari.”
“Berinteraksi secara langsung saja tidak pernah mbak. Dia di divisi HRD, dan aku di divisi perencanaan. Masalah apa coba yang pernah kulakukan.” Wina bahkan menghembuskan napas kesal diujung kalimatnya dan membuat kaliamtnya terdengar begitu dramatis. “Tapi bukan apa-apa kok mbak, maaf ya malah jadi kebablasan ceritanya.”
“Tidak apa-apa. Aku malah senang ada yang mengajak bicara, sejak jam 11 lebih 10 menit aku menunggu seseorang dan sampai sekarang dia belum datang juga.” kali ini aku yang menghembuskan napas berat diujung kalimatku sendiri dan melirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku. Semakin mendesah kesal saat mendapati jarum jam bahkan sudah menunjukkan jam 1 lebih dan Evan belum juga menghubungiku.
“Aku menunggu Evan,” jawabku tanpa berpikir karena saking kesalnya, dan jawaban yang membuatku menyesal dua detik berikutnya. “Maksudku pak Evan Adiatma.”
“Pak Evan manajer divisi perencanaan?”
“Memang ada berapa orang yang bernama Evan di kantor ini?” dan aku memang benar-benar ingin tahu, itulah kenapa aku bertanya pada Wina. Pertanyaan yang justru ditanggapi dengan tawa ringan oleh Wina.
“Mbak Alia pacarnya pak Evan ya?” tanya Wina tanpa tedeng aling-aling yang membuatku nyaris tersedak air liurku sendiri.
“Ehm, kenapa bertanya begitu?”
“Karena tidak mungkin mbak Alia ini adiknya pak Evan. Karena menurut informasi dari mbak Sena, adik perempuan pak Evan itu masih SMP dan yang sudah kuliah adalah laki-laki.”
“Kamu tahu sejauh itu tentang pak Evan?” tanyaku tanpa bisa menahan tawa. Tapi jauh didalam hatiku, rasanya seperti ada tangan yang menamparku. Evan mempunyai dua adik, satu laki-laki dan satu perempuan. Aku tahu Evan punya dua orang adik, hanya saja aku tidak pernah bertanya tentang adik-adik Evan. Dan pemikiran itu kembali memunculkan peratanyaan didalam kepalaku. Berapa banyak hal yang belum kuketahui tentang pria itu? Bukan, maksudku seberapa sedikit yang kuketahui dari Evan-ku?
“Soalnya aku sempat suka pada pak Evan.”
“Oh ya?”
“Iya, sebelum mbak Sena bilang kalau ada karyawati di divisi HRD yang menyukai pak Evan dan dulu mereka sempat dekat. Namanya mbak Clara, cantik sih, tapi sayangnya judes.”
__ADS_1
Kali ini seperti ada sebuah pemantik yang entah kapan dinyalakan dan membuat sebagian kecil dari hatiku seperti ada yang terbakar. Ini rasa cemburu dan aku mengakuinya tanpa berusaha menyangkalnya. Ya, kenyataan jika di tempat ini ada seorang perempuan yang begitu menyukai Evan membuatku tidak suka dan ingin sekali kutanya pada Evan tentang perasaannya pada perempuan itu.
“Memang apa yang istimewa dari pak Evan sampai kamu suka padanya?” pancingku lagi.
“Pak Evan tampan mbak, dan kurasa tidak ada perempuan yang menolak kenyataan itu. Dan selebihnya pak Evan baik, mudah sekali dipahami setiap kali memberi arahan, juga tidak pernah menyalahkan bawahannya secara langsung.” Jelas Wina seolah dia sedang diminta untuk medefinisikan tentang idolanya. “Sejauh ini sih hal-hal seperti itu yang membuatku menyukai pak Evan.”
Aku baru saja akan menanyakan hal lain kepada Wina sebelum seseorang menggeser pintu musolah dan membuatku menoleh cepat begitupun dengan Wina.
“Alia,”
Dan dia ada disana, orang yang kutunggu sejak dua setengah jam yang lalu, dan orang yang sejak tadi menjadi topik obrolan antara aku dengan Wina. Seorang pria dengan kaus putih dan jas hitam yang lengannya ia gulung hingga nyaris mencapai siku berdiri diambang pintu dan menatapku.
“Mas,”
“Pak Evan,” sahutku dan Wina nyaris bersamaan. Dan aku memang tidak salah lihat saat Wina menaikkan alisnya mendengarku memanggil ‘mas’ pada Evan.
“Maaf, tadi rapatnya sebenarnya sudah selesai sejak jam 12 kurang, tapi selepas sholat jumat ada beberapa hal yang harus dibicarakan. Sudah berapa jam kamu disini? hm?” tanya Evan setelah masuk kedalam musolah dan duduk disampingku. Tanpa basa-basi mencium pelipisku seolah pria itu lupa jika ada Wina ditempat itu dan apa yang dia lakukan bisa saja memunculkan bermacam-macam spekulasi didalam pikiran Wina.
“Oh ya, Win. Kamu dicari Roby lho. Katanya kalian ada janji jam 1 untuk membahas masalah boot di game?” sambung Evan dengan nada santai seolah ‘mencium pelipis seorang gadis’ bukanlah sesuatu yang layak ia permasalahkan.
“Oh, iya. Astaga saya lupa, pak.” Dengan cepat Wina beranjak dari duduknya. Lagi-lagi aku tidak bohong saat Wina bahkan kaget dengan aksi cium pelipis yang Evan lakukan. “Oh ya, pak Evan dan mbak Alia pacaran ya?” Wina bahkan sempat menanyakan hal tidak penting itu sebelum menggeser pintu musholah dan membuatku meringis.
“Tidak, Wina.” Kejarku sebelum Evan menjawab pertayaan itu.
“Lalu, tadi itu apa?”
“Kami memang tidak pacaran, Win. Tapi aku dan Alia akan menikah sebentar lagi.”
“Mas,” desisku sembari menarik lengan jas Evan dan menunduk karena malu pada Wina yang masih saja berdiri di ambang pintu.
“Menikah? Oh, ya ampun.” Hanya itu. Hanya itu yang Wina katakan sebelum akhirnya gadis itu berlalu meninggalkanku dan Evan didalam musolah.
“Apa saja yang kalian bicarakan sebelum aku datang?” tanya Evan sembari beranjak dan mengajakku kembali ke ruangannya.
“Tidak banyak. Hanya tentang Clara, karyawati dari divisi HRD yang menyukai pak Evan, dan kalian berdua sempat dekat.” Jawabku dengan nada kesal yang tidak kusadari. Aku bahkan tidak menolak saat Evan terus menggandeng tangan kananku sejak dari musolah hingga kami masuk kedalam ruangannya.
“Clara?”
“Iya, juga tentang Wina yang menyukai pak Evan Adiatma karena dia tampan, baik hati, dan selalu ramah pada bawahannya.” Dan aku memang sama sekali tidak bermaksud untuk membahas tentang siapa itu Clara dan bagaimana hubungan Evan dengan perempuan itu sebelum ini. Segala hal tentang Evan di masa lalu cukuplah menjadi milik pria itu. Aku tidak ingin mencampurinya terlalu jauh.
“Apa semua wanita memang menyukai pria tampan?” tanya Evan setelah melepas jasnya dan duduk disampingku diatas sofa merah hati disudut ruangannya. Menghela napas panjang dan menghembuskannya kembali perlahan seolah pria itu ingin melepaskan rasa lelah yang begitu membuatnya tidak nyaman.
“Iya, semua wanita pasti akan menyukai pria tampan.”
“Begitu,” dan aku sendiri tidak tahu kenapa aku sama sekali tidak keberatan saat Evan meminta ijin untuk berbaring dan menyandarkan kepalanya diatas pangkuanku. Membuatku mampu menjangkau wajahnya dengan leluasa bahkan melepaskan kacamata yang terlihat mengganggunya.
“Tapi semua wanita akan jatuh cinta pada pria yang bersedia menerima kekurangannya dan bersedia melengkapi kekurangan itu dengan kelebihannya, mas.” Aku bahkan tidak merasa canggung saat menyentuh rambut Evan dan menyugarnya dengan jari-jariku sendiri. “Seperti Alia yang jatuh cinta begitu alami pada Evan yang tidak pernah mengeluh dengan jutaan kekurangan yang Alia miliki.”
__ADS_1
Entah kapan aku mulai menyadari jika aku memang sudah jatuh cinta pada Evan Adiatma. Sebab saat aku benar-benar sadar, aku sudah jatuh cinta begitu dalam pada pria ini. Aku ingin menjadi wanita yang Evan miliki seutuhnya. Aku ingin menjadi wanita yang memiliki Evan untuk diriku sendiri.
* * * * *