
“Besok pulang naik apa, Al?”
Aku baru saja menutup sambungan teleponku dengan bapak saat Tristan, yang sejak sepuluh menit yang lalu sudah duduk disampingku mulai membuka obrolan. Membuatku mengulum senyum seadanya dan menarik napas dalam. Menekan tombol shutter pada kamera ponselku dan membidik foto pemandangan kota Jakarta dimalam hari yang bisa kunikmati dari atap hotel lantai lima.
“Naik kereta, mas.” Jawabku setengah enggan dan kembali mengamati lampu-lampu kota yang terlihat samar dimataku dan nampak seperti kunang-kunang didalam toples.
Malam terakhir pelatihanku di Jakarta dan aku memilih untuk duduk di teras atap hotel dibandingkan menikmati malam dengan jalan-jalan ke pusat perbelanjaan seperti yang dilakukan teman-temanku lainnya.
‘Mumpung diberi ijin sama panitia, Al. Kapan lagi jalan-jalan tanpa batasan waktu di Jakarta?’
Aku bahkan ingat betul cengiran yang Fira berikan padaku saat gadis itu mengajakku untuk ikut bersamanya dan yang lain untuk berjalan-jalan. Ajakan yang kutolak dan membuat mereka mendengus tidak suka dan mengataiku sebagai anak mami. Sungguh, memang siapa yang peduli dengan julukan yang Fira berikan padaku hanya karena aku memilih untuk mendekam di hotel dibandingkan menikmati malam bersama dengan yang lain? Aku tidak cukup bodoh dengan menghabiskan malam dan kembali ke hotel hingga dini hari sementara besok sore aku akan melakukan perjalanan jauh dari Jakarta ke Yogyakarta. Tapi baiklah, itu bukan satu-satunya alasan sebab alasan utamaku tidak ingin keluar karena aku ingin sendirian dan memikirkan apa saja yang bisa kupikirkan saat aku sedang sendirian seperti ini.
“Sendirian?” usaha yang sia-sia sebab aku hanya bisa menikmati kesendirianku kurang dari setengah jam sebelum akhirnya Tristan datang entah darimana.
“Tadinya mau bersama-sama dengan Bu Nur dan mbak Fira, tapi ternyata mereka berdua mau mampir Bandung dulu dengan yang lain. Jadi yah, aku sendirian.”
Yah, aku bahkan sempat kesal pada kedua rekan setimku itu saat dengan santainya mereka membatalkan janji untuk pulang bersama dengan naik kereta dan memilih untuk pulang dengan bus bersama-sama yang lain, meski seminggu sebelumnya kami bahkan berjanji untuk memesan tiket bersama-sama.
“Kamu tidak ikut liburan ke Bandung dulu? Hampir semua peserta ikut lho, Al. Bahkan kudengar mereka mau menyewa bus.”
‘Aku tidak peduli mas Tristan yang agung,.! Aku tidak peduli mereka mau berlibur kemana dan sampai kapan.! Aku hanya ingin cepat pulang dan menyelesaikan masalahku, itu saja.!’
Kupikir aku sudah meneriakkan serentetan kalimat itu pada Tristan sebelum aku sadar kalau aku bahkan masih saja sibuk menunduk dan memperhatikan lampu-lampu kendaraan dibawah sana yang mampu kujangkau dengan mataku. Mengabaikan Tristan yang terlihat menunggu jawabanku dan sesekali menarik napas dalam.
__ADS_1
“Sudah terlanjur pesan tiket, mas.”
“Kan bisa dibatalkan, atau diganti jadwal, Al. Lagipula demi keakraban antar peserta juga ‘kan?”
“Aku akan mabuk kendaraan kalau naik bus jarak jauh.”
“Kalau begitu begini saja, kita naik kereta dari Jakarta sampai Bandung, nanti sampai di objek wisatanya kita naik taksi, bagaimana?”
Kita? Ya ampun, apasih maunya pria ini? Tidakkah dia bisa melihat kata penolakan dari jawaban yang kuberikan padanya? Memang benar kalau selama masa pelatihan, tanpa kusadari aku sudah tidak sekaku dan setertutup seperti pada awal masa pelatihan, hanya saja bukan berarti itu membuat Tristan bisa memaksaku seperti itu kan?
“Terima kasih tawarannya, mas. Tapi ada beberapa agenda yang harus kuselesaikan di jogja.”
Sengaja kutunjukkan buku agenda hitam yang sejak tadi tergeletak dipangkuanku hanya untuk membuat Tristan yakin kalau aku tidak bisa ikut berlibur bersama yang lain. Aku memang bukan tipikal orang yang sangat sibuk hingga harus mencatat setiap acara yang kuhadiri didalam buku agenda, tapi sungguh, aku suka sekali menenteng buku agenda dan mencatat apa saja yang menurutku menarik didalamnya. Terdengar konyol, tapi aku merasa ‘tidak sendirian’ setiap kali kubawa buku agendaku bersamaku.
“E.A? ini apa, Al?” dan aku tidak sadar kapan secarik kertas itu jatuh dari buku agendaku dan kapan Tristan memungutnya dari atas lantai. Hanya saja, saat aku sadar apa yang saat ini ada di tangan Tristan dan sedang coba ia baca, aku langsung merebutnya seolah secarik kertas itu adalah sesuatu yang sangat berharga.
“Aku kembali ke kamar dulu, mas. Permisi.”
Ada perasaan aneh saat aku melirik secarik kertas ditanganku ini dan mendapati inisial E.A disana. Aku bahkan mengabaikan Tristan yang mencoba memanggilku dan memilih untuk berlari menuju kamarku diujung koridor lantai empat.
E.A, tentu saja aku sadar betul apa tulisan yang ada pada secarik kertas ditanganku ini. Sebuah pesan singkat yang kudapat dari seorang pria di perpustakaan umum dipenghujung bulan desember tahun lalu.
“E.A” gumamku sembari merebahkan tubuhku diatas kasur dan mengamati tulisan pada kertas itu. Kembali memutar ingatan dimana pertama kali aku melihatnya dari sela-sela deretan buku. Saat aku menoleh kearah jam tiga dan mendapatinya tersenyum padaku, dan tatapan matanya dibalik kacamatanya itu. Juga ingatan-ingatan setiap kali aku mencuri pandang padanya saat pria itu sedang membaca buku biologinya dan aku yang bersembunyi dibalik meja baca berpembatas disudut perpustakaan.
__ADS_1
“Kapan kudapatkan keberanian untuk menyapa kamu dengan benar?”
Ya, harus kuakui jika setelah hari itu, hari dimana E.A memberiku pesan, beberapa kali aku melihatnya di perpustakaan umum. Yah, meski harus kuakui pula jika setiap kali aku melihatnya, nyaliku untuk menyapa E.A selalu saja menguar entah kemana. Aku selalu menjelma menjadi Alia yang penakut setiap kali kulihat E.A berjalan memasuki gedung perpustakaan dan berdiri di samping rak deretan buku biologi. Selalu biologi.
‘Kalau tidak ada salah satu dari kalian yang menyapa terlebih dahulu, sampai kapanpun juga tidak akan saling kenal, nduk.’
Aku bahkan ingat betul wajah gusar pak Wardi saat melihatku hanya memperhatikan E.A dari balik meja baca paling ujung tanpa berani mendekat dan menyapanya. Aku yakin E.A tidak menyadari kebradaanku di perpustakaan itu sebab aku selalu bersembunyi saat dia datang dan mengendap seperti pencuri kecil saat akan pulang hanya agar E.A tidak menyadari keberadaanku.
Dan terakhir kali aku melihatnya adalah seminggu sebelum keberangkatanku ke Jakarta bulan januari lalu. Saat itu aku baru saja memasuki gerbang perpustakaan untuk mengembalikan buku saat kulihat E.A berdiri diteras gedung sembari sesekali menoleh kedalam gedung perpustakaan. Saat itu memang sudah sore dan perpustakaan umum akan tutup sepuluh menit lagi.
‘*Mas-mas yang itu hari ini juga datang, nduk.’
‘Dia datang setiap hari ya pak*?’ tanyaku kala itu. Memperhatikan pak Wardi yang mencatat buku pinjamanku sembari sesekali membetulkan letak kacamatanya.
‘Hampir setiap hari, pas jam istirahat makan siang. Tapi hari ini dia datang sejak jam makan siang sampai sepuluh menit sebelum tutup. Itupun karena bapak ingatkan kalau perpus mau tutup.’
‘Begitu,’
Dan ya, nyatanya rasa penasaranku tentang E.A yang sempat tersamarkan sebulan terakhir ini kembali terpantik karena secarik kertas ditanganku ini. Aku ingin tahu siapa sebenarnya E.A itu? Aku ingin tahu apa pria itu datang ke perpustakaan setiap hari? Dan yang pasti, aku ingin tahu apakah dimasa lalu kami memang benar-benar pernah bertemu?
“Semoga saja, saat aku kembali nanti keberanian itu bisa lebih besar dari sebelumnya.” Gumamku tanpa sadar.
Menggenggam secarik kertas itu dan membawanya mendekat kedadaku. Menarik napas dalam berkali-kali hingga aku tidak sadar kapan aku tertidur hingga lupa mematikan lampu kamar dan membiarkannya menyala.
__ADS_1
Aku juga tidak sadar jika hingga aku benar-benar tertidur, aku menggumamkan nama E.A berulang kali hingga aku lupa jika seharusnya ada nama lain yang kugumamkan.
* * * * *