
Bandung, April 2017
“Kalau kamu tidak ikut ke Jakarta tidak bisa ya nduk?” tanya ibu di seberang sana yang membuatku menghentikan kegiatanku mengepak pakaian kedalam koper. Memindahkan ponsel dari telinga kanan ke telinga kiri dan duduk ditepi ranjang tepat disamping koperku yang masih terbuka.
“Kenapa bu?” tanyaku pelan. Menekan rasa penasaran tentang kenapa tiba-tiba saja ibu menelepon dan mengatakan tentang ‘rasa keberatannya’ tentang rencanaku pergi ke Jakarta. Ya, untuk urusan pekerjaan aku akan pergi ke Jakarta besok lusa dan akan ada disana selama satu minggu. Tidak sendiri tentu saja, ada lima teman yang juga pergi bersamaku dan aku juga sudah mengatakan hal ini pada Evan dua hari yang lalu.
“Tidak apa-apa kok.” Aku tahu ibu dan aku sudah hidup bersama wanita itu selama 24 tahun, itulah kenapa aku bisa paham jika saat ini ibu sedang menahan kalimatnya yang sebenarnya ingin wanita itu katakan padaku.
“Hanya seminggu, bu. Lagipula bulan depan Al sudah mengundurkan diri, jadi tidak enak kalau menolak ditugaskan ke Jakarta.”
Dengan senang hati kukatakan kalau bulan depan, aku resmi kembali menyandang status sebagai seorang pengangguran setelah dengan berat hati Kartika menyetujui surat pengunduran diriku. Yah, meski dengan syarat bahwa aku harus bersedia untuk ditugaskan ke Jakarta bersama lima rekan kerjaku yang lain besok lusa.
“Tidak sendirian ‘kan kamu ke Jakarta-nya?”
“Tidak kok bu, ada lima orang teman yang juga ikut ke Jakarta. Lagipula jarak Jakarta Bandung hanya sejauh jarak Jogja Solo.”
Bohong. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu sejauh apa jarak antara Bandung dengan Jakarta sebab sebelum ini aku belum sekalipun mengukur jarak antara kota Bandung dengan Jakarta.
“Yasudah, hati-hati ya kamu disana.”
“Bu,” tahanku saat kutahu ibu sudah ingin menyudahi percakapan kami. Aku tidak tahu darimana datangnya perasaan ini, tapi sungguh, tiba-tiba saja rasanya aku ingin berlama-lama berbicara dengan ibu malam ini.
“Ada apa, nduk?”
“Ehm, ndak apa-apa. Sampai ketemu bulan depan ya bu. Alia sayang ibu.”
“Demi Allah, ibu juga sayang Alia.”
Sempurna. Bahkan hanya dengan satu kalimat terakhir saja, ibu berhasil membuat dadaku terasa sesak dan meneteskan air mata tepat saat ibu memutus sambungan teleponnya denganku. Tapi jika kembali kuingat, perasaan sentimentil setiap kali aku berbicara dengan ibu bukan kurasakan sekali ini saja, tapi perasaan seperti itu sudah kurasakan sejak malam pertunanganku dengan Evan empat bulan yang lalu.
Perasaan seperti enggan berpisah dengan ibu, hingga perasaan yang membuatku tiba-tiba saja ingin menangis sendiri sudah kurasakan semenjak malam dimana Evan Adiatma mengikatku dengan sebuah cincin yang pria itu sematkan di jari manisku.
“Itu karena kamu anak bungsu dan anak yang paling dekat dengan ibu, dek. Jadi perasaan seperti itu ya memang wajar kamu rasakan.” Dan itu adalah kalimat mbak Mita saat aku bercerita padanya tentang perasaanku, juga saat aku bertanya padanya apakah mbak Mita merasakan hal seperti ini saat dirinya akan menikah dengan mas Ardi.
Bukan hanya mbak Mita saja sebenarnya yang mengatakan hal seperti itu padaku, tentang perasaan wajar yang dirasakan oleh perempuan yang akan menikah. Evan bahkan sempat tertawa saat aku tiba-tiba saja meneleponnya dijam makan siang dan mengatakan aku sedang menangis karena baru saja berbicara dengan ibu.
“Jarak rumahku dengan rumah kamu tidak sejauh jarak Jogja Bandung, sayang. Jadi setelah kita menikah nanti, kamu tetap bisa mengunjungi ibu, bapak, mbak Raya, Lili, dan mas Raka kapanpun kamu merasa rindu.”
Benar juga, barangkali aku saja yang belum siap dengan perpisahan dengan ibu hingga rasanya aku ingin terus berdekatan dengan wanita itu. Setidaknya sebelum aku resmi menjadi istri Evan Adiatma dan masih berstatus sebagai anak bungu ibu.
Atau, memang ada hal lain yang membuatku begitu sentimentil? Hal lain yang belum mampu kupikirkan.
* * * * *
__ADS_1
Untuk ketiga kalinya aku kembali mengecek tas tanganku dan melirik koper kecil disamping kakiku sembari terus memegang ponsel ditelinga kananku. Tidak, sebenarnya aku bukan tipikal perempuan yang menderita sindrom ocd yang butuh berulang kali mengecek sesuatu. Tapi karena Evan memintaku untuk kembali mengecek barang bawaanku, maka otomatis aku melakukan apa yang pria itu minta.
“Sudah semuanya, mas.” Jawabku yakin sembari melambaikan tanganku kearah seorang perempuan yang berjalan dari pintu gerbang. Kartika, sang manajer muda atasanku.
“Oke, jarak Jakarta Bandung tidak sejauh itu sampai aku harus gelisah seperti ini ‘kan?” kali ini aku mengerutkan kening dan mengabaikan Kartika yang berkata bahwa dia akan masuk kedalam kantor terlebih dahulu untuk mengurus sesuatu.
“Gelisah kenapa, mas?” tanyaku dengan kening yang kuyakin masih mengerut. Diseberang sana, bahkan bisa kurasakan Evan yang menghela napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan.
“Tidak apa-apa. Barangkali mas terlalu merindukan kamu. Jadi bawaannya gelisah terus.”
“Mas,”
“Tidak apa-apa, sayang. Oh ya, kamu berangkat jam berapa?” dan aku tahu betul kalau pertanyaan yang Evan hanya cara agar aku berhenti mendesak pria itu. Ya, sebab tadi pagi aku sudah mengatakan pada Evan kalau kami berenam akan bertolak ke Jakarta sekitar pukul 8 pagi, dan sejauh yang kutahu Evan bukan tipikal pria pelupa.
“Jam 8 lebih sedikit mungkin, mas. Aku datang terlalu pagi, jadi masih harus menunggu teman-teman yang lain. Mas sudah di kantor?”
“Dalam perjalanan, sebentar lagi sampai. Tahu sendiri ‘kan seperti apa Jogja dipagi hari.”
Aku tidak tahu apakah ini karena aku yang terbawa suasana kegelisahan yang dikatakan oleh Evan, atau karena aku yang memang merindukan pria itu. Rasanya seperti aku ingin sekali bertemu dengan Evan dan memeluk pria itu, atau setidaknya aku bisa melihatnya dan memastikan calon suamiku baik-baik saja.
Ah, terkadang aku masih sulit percaya bahwa pria yang saat ini sedang tertawa kecil di seberang sana adalah calon suamiku. Mengingat pertemuan pertama kami di pelataran parkir kantor. Pertemuan demi pertemuan hingga perpisahan kami karena kepindahnaku ke Bandung, hingga keputusan yang Evan buat untuk melamarku.
“Mas?”
Semua berjalan begitu sempurna hingga aku sendiri sulit percaya bahwa perjalanan hidupku bisa seindah ini. Tentang rasa sakit yang kualami, juga perasaan bahagia hingga aku lupa pada rasa sakit yang kurasa sebelumnya. Sebelum aku bertemu dengan Evan.
“Nyanyi lagi dong.”
“Nyanyi apa?”
“You and I. Seperti yang mas nyanyikan untukku tempo hari di stasiun.” Lagi, kurasakan tawa Evan terdengar aneh dan sumbang ditelingaku meski aku yakin bahwa itu masihlah tawa yang sama yang biasa pria itu berikan untukku.
“As you wish my girl.” Kali ini aku yang tertawa saat menyadari Evan sedang berdehem seperti penyanyi murahan yang hendak memulai aksinya. “You and I, we don’t wanna be like them. We can make it ‘till the end. Nothing can come between, you and I.” hampir semenit penuh aku terdiam dan merasakan mataku memanas saat Evan mulai menyanyikan refrain lagu you and I milik one direction seperti yang pria itu lakukan di stasiun tempo hari.
“Sayang?” dan kesadaranku baru kembali saat Evan memanggilku dan membuatku terkesiap. Tanpa sadar menyeka ujung mataku seolah aku yakin bahwa aku sedang menangis. “Semua baik-baik saja ‘kan?”
“Eh-mm. Besok kalau pulang nyanyikan full ya mas.”
“Besok mas latihan dulu biar tidak sumbang dan tidak salah lirik.”
“Janji ya.”
“Love you too, sayang.” Lagi-lagi aku tertawa mendengar jawaban Evan yang sama sekali tidak terduga. Ah barangkali benar jika kegelisahan yang kami rasakan hanya karena kami saling merindukan.
__ADS_1
“See you soon, my man.”
My man, apakah aku berlebihan mengakui Evan sebagai pria-ku meski pria itu belum sah menjadi suamiku? Apakah aku berlebihan meminta Evan menyanyikan lagu you and I saat kami bertemu nanti? Entahlah, sebab dalam hati aku hanya ingin melakukannya dan merasa bahwa semua akan baik-baik saja.
* * * * *
Sebelum ini, aku benar-benar tidak mengerti bagaimana tentang sebuah kejadian bisa terjadi begitu cepat. Ah, tapi bukankah aku sendiri sudah paham dan yakin dengan konsep takdir?
Dan sebuah kejadian bukankah tidak pernah lepas dari takdir? Benar juga segala hal yang terjadi hari ini bahkan sudah tercatat didalam buku takdir manusia jauh sebelum manusia itu lahir ke dunia. Pun begitu denganku, dan konsep yang sama juga belaku untukku. Saat semua hal terjadi padaku, itu artinya Allah sedang menjalankan skenario takdir yang telah Dia tuliskan untukku.
“Al…!!”
Segala hal yang terjadi, segala hal yang kualami, dan segala hal yang kurasakan tidak akan pernah terjadi jika Allah tidak menghendaki.
Barangkali, aku masih harus belajar tentang bagaimana memahami dengan hati tentang takdir yang tertulis untukku. Hingga nantinya, tidak ada perasaan marah ataupun penyesalan yang melingkupiku saat takdirku ternyata tidak semanis anganku. Pun agar nantinya aku tidak luput dari syukur pada penciptaku jika ternyata takdir yang tertulis untukku tidaklah seburuk apa yang kukhawatirkan selama ini.
Tapi, segala hal yang telah Allah takdirkan untuk hambaNya akan tetap berjalan dengan sempurna bagaimanapun alurnya. Segala hal akan berjalan dengan begitu sempurna meski aku sendiri terus menerka tentang bagaimana akhir dari semuanya.
“Ya Allah, ibu…” seperti saat ini. Aku tahu ini adalah bagian dari takdir yang Allah tulis untuk hambaNya yang bernama Alia Pangesti. Saat entah dorongan darimana aku ingin menghubungi ibu, juga tentang teleponku yang belum terjawab saat Kartika yang duduk tepat disampingku menarik lenganku dan membuatku terkesiap dan menjatuhkan ponselku.
Semua berjalan sangat sempurna hingga tanpa sadar semua sudah terjadi dan aku tidak mampu menghindari. Datang tanpa mampu disangka-sangka dan dengan alur yang begitu sempurna. Ya, begitulah memang sebuah takdir harusnya berjalan sebab yang menjalankan takdir itu adalah Dia yang maha kabir terhadap hambaNya yang fakir.
“Ibu, mas Evan…” aku tidak tahu apa yang terjadi sebelum ini sebab aku tidak memperhatikannya. Dan saat aku menoleh, sebuah mobil melaju begitu cepat dari arah kiri pertigaan tepat saat mobil yang kutumpangi melaju dan baru saja meninggalkan garis marka pembatas lampu lalu lintas.
Otakku sempat berpikir meski hanya sepersekian detik ‘tidak, mobil itu harusnya berhenti dan tidak boleh melaju’. Hanya sepersekian detik hingga kesadaranku berangsur berkurang meski aku masih bisa mendengar keributan yang terjadi setelahnya.
Aku tidak bisa memastikan seberapa jauh mobil kami terseret hingga kurasakan benturan yang sangat keras yang barangkali terjadi karena mobil kami menabrak pembatas jalan. Tapi lagi-lagi, dari keributan yang terjadi aku bisa yakin jika ini bukanlah kecelakaan kecil.
“Alia,” itu suara Kartika yang duduk disampingku. Ya, aku masih bisa mendengar suaranya meski yang kudengar saat ini bukanlah suara Kartika yang tegas seperti biasanya. Suara itu benar-benar terdengar seperti suara kesakitan.
“Demi Allah, ibu juga sayang Alia.” Dan itu adalah kalimat terakhir yang terngiang dikepalaku sebelum kesadaranku benar-benar menghilang dan tidak lagi kupedulikan keributan yang terjadi disekitarku. Itu suara ibu. Suara lembut milik ibu yang bahkan mengalahkan suara sirine ambulance disekitarku. Suara lembut milik ibu yang tidak pernah gagal membuat mataku memanas. Suara lembut milik ibu yang mengantarkanku hingga detik ini.
Benar juga, entah sudah berapa kali kupikirkan bahwa segala hal memang berjalan begitu sempurna untuk mengantarku hingga detik ini. Bahkan aku sendiri tidak akan mampu menjabarkan setiap lembar kejadian hingga aku tiba pada kejadian hari ini.
Bukankah sudah berkali pula kubilang bahwa skenario Allah itu sempurna dan indah hingga manusia tidak akan mampu mengurainya? Dan sebagai manusia, tugas kita hanya menerima. Sama sepertiku, yang perlu kulakukan hanyalah menerima meski aku masih saja menerka tentang apa yang akan terjadi setelahnya. Tentang bagaimana kehidupanku setelah ini. Tentang, apakah aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri atau Allah telah menetapkan bahwa ini adalah saat aku harus kembali.
Hidup atau mati. Aku lupa memikirkan tentang konsep takdir yang selalu berkaitan dengan hidup dan mati. Saat manusia ditakdirkan hidup, bukankah takdir selanjutnya adalah mati?
Yang menjadi persoalan bukan tentang kematiannya. Tapi tentang bagaimana manusia memanfaatkan waktu hidup dan bagaimana manusia mempersiapkan kematiannya.
Sungguh, apakah semua manusia yang sedang sekarat seperti ini selalu memikirkan tentang hidup dan mati?
* * * * *
__ADS_1