DIORAMA

DIORAMA
29. Will You


__ADS_3

“Alia Adiatma memang terdengar sedikit aneh, tapi aku akan tetap mengganti nama belakang kamu dengan nama belakang milikku, Al. Secepatnya.”


Jika saja aku tidak ingat kalau saat ini aku sedang berada di kantor dimana jam kerja sedang berlangsung, barangkali aku sudah membiarkan Evan lepas kendali dan menciumku. Jika saja aku tidak segera ingat dengan prinsip yang kupegang sejak dulu bahwa aku hanya akan menyerahkan ciuman pertamaku untuk suamiku saja, mungkin aku juga sudah ikut kehilangan kendali. Bahkan aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi antara aku dan Evan jika saja aku tidak menggeleng dan menyentuh kedua sisi wajah Evan dengan kedua tanganku yang terasa dingin.


“Tidak sekarang, mas.” Ucapku takut-takut. Menatap masuk kedalam sepasang mata Evan untuk mencari tahu adakah sebuah kekecewaan atas penolakan yang kuberikan padanya ini?


“Tentu saja, menunggu sebentar lagi tidak akan membuatku mati, sayang.” Tapi tidak, tatapan kemarahan dan kekecewaan yang kukhawatirkan itu sama sekali tidak nampak disana. Sorot mata Evan masih sama meneduhkan seperti biasanya. Membuatku menarik napas dalam dan memejamkan mata saat Evan mencium keningku beberapa detik. “Sabtu malam sebelum kamu berangkat ke Bandung, aku dan keluargaku akan datang.” Sambung Evan setelah menarik wajahnya dan menyentuh pipi kiriku dengan tangan kanannya yang juga terasa dingin.


“Kamu yakin dengan langkah kamu, mas?”


“Tidak pernah seyakin ini.”


“Ada banyak hal yang belum kutahu dari kamu, dan ada banyak kekurangan yang belum kamu tahu tentangku.”


“Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal, Al. Tentang kehidupanku, keluargaku, bahkan masa laluku, kamu punya banyak sekali waktu untuk tahu semua itu.”


Dan kalimat Evan membuatku teringat kalimat Sofia, juga kalimatku sendiri yang sempat kuucapkan pada Evan beberapa hari yang lalu. Bahwa, dua orang yang akan menikah tidak harus saling mengenal untuk waktu yang sangat lama, sebab mereka berdua punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain.


“Ibu dan bapak sudah setuju.”


“Alhamdulillah, kalau begitu nanti sore kuantar kamu pulang sekaligus bertemu dengan ibu dan bapak untuk membicarakan tentang lamaran ini.” ucap Evan dengan nada yakin yang tak urung membuatku tersenyum dan merasakan hatiku menghangat seketika saat Evan berucap ‘lamaran ini’.


Barangkali ini semua memang terdengar terlalu cepat mengingat usia perkenalanku dengan Evan dan kenyataan bahwa selama hampir enam bulan aku meninggalkan Jogja dan hidup di Bandung yang itu artinya aku dan Evan tinggal di kota yang berbeda. Hanya saja, ada beberapa bagian yang hingga detik ini tidak pernah kubagi ataupun kuceritakan pada orang lain. Beberapa bagian tentang hubunganku dengan Evan, juga beberapa bagian tentang kehidupan kami berdua yang kami simpan hanya untuk kami berdua saja. Tentang beberapa bagian dari kehidupan Evan yang pernah pria itu ceritakan padaku meski aku tahu itu hanya satu bagian kecil dari kehidupan seorang Evan Adiatma.


“Kamu pasti akan menuduhku pembual kalau kukatakan aku belum pernah menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan, Al.” dan itu adalah satu dari sekian banyak pertanyaan didalam kepalaku tentang Evan.


“Satupun?”


“Papa seorang tentara yang hanya akan pulang tiga bulan sekali atau bahkan terkadang lebih lama lagi, aku anak pertama dan anak laki-laki di keluagaku.” Meski saat itu aku tidak bertanya lebih jauh, tapi aku mulai paham kemana arah pembicaraan Evan. “Aku tidak sempat melakukannya, Al. Aku diberi tanggung jawab oleh papa untuk menjaga mama dan kedua adikku, jadi, ya.. kamu tahu sendiri setelahnya.”

__ADS_1


“Mas Evan tidak kesepian? Atau setidaknya untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang mas anggap istimewa, mungkin.” Sungguh, itu bukan pertanyaan pancingan. Aku memang benar-benar ingin tahu tentang perasaan Evan dan bagaimana pria itu menjalani kehidupannya selama ini.


“Aku punya banyak sekali teman kantor, dan juga pekerjaan yang menyibukkanku. dan tentang menjalin hubungan dengan seseorang yang istimewa, aku akan melakukannya saat aku sudah menemukan seseorang yang membuatku berhenti mencari.” Entah karena suasana hatiku yang sedang melankolis, atau kalimat Evan yang terdengar begitu tulus, rasanya aku ingin sekali menangis mendengar kalimat itu meski aku tahu bahwa kalimat itu tidak Evan tujukan untukku.


Dan sekarang, mengingat percakapanku dengan Evan beberapa bulan yang lalu, juga kenyataan bahwa pria dihadapanku ini adalah pria yang dengan begitu polos dan begitu berani melamarku tak urung membuatku tersenyum aneh alih-alih menangis terharu. Membuat Evan menyipitkan sepasang matanya dan meraih kacamata yang sejak tadi ia biarkan tergeletak diatas meja.


“Kenapa senyum-senyum begitu?”


“Tidak apa-apa. Hanya…” kutarik napas dan mencoba menormalkan senyumanku hingga tidak harus membuat Evan menaikkan alisnya setiap kali menatapku. “Hanya rasanya masih belum percaya kalau aku baru saja dilamar oleh seorang pria. Dan pria itu adalah kamu, mas. Rasanya seperti mimpi.” Sambungku jujur karena aku memang tidak begitu pandai mengungkapkan perasaanku dengan diksi-diksi berlebihan seperti yang sering kutuangkan didalam tulisanku.


“Apa perlu kubuktikan kalau ini bukan mimpi?”


“Mas, ih.”


“Apa? Memang kamu pikir aku mau membuktikan dengan cara apa? Hm?” kali ini Evan tergelak sementara aku mulai mencubit pinggangnya yang justru semakin membuat pria itu tergelak. Selama berbulan-bulan aku mengenal Evan, ini pertama kalinya aku melihat Evan tertawa selepas ini. Dan tawa pria itu baru terhenti saat pintu ruangannya diketuk oleh seseorang.


“Apa tidak apa-apa aku ada disini?” tanyaku takut-takut. Sungguh, aku tidak ingin teman-teman Evan atau siapapun berpikiran buruk tentang pria itu karena keberadaanku didalam ruangannya.


“Rajendra, ada apa?” hanya saja, pikiran tenang yang kurasakan tiba-tiba menguar saat pintu ruangan Evan dibuka dan seseorang masuk sementara Evan berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Rajendra. Betapa sejak aku menginjakkan kaki di kantor ini kuharap aku tidak akan bertemu dengan Jendra. Tidak di loby atau dimanapun. Dan sekarang, pria yang tidak ingin kulihat itu justru berdiri tidak jauh dariku dan sedang menoleh kearahku dengan tatapan yang benar-benar sulit kuartikan.


“Alia?”


Enam bulan lebih aku tidak bertemu dengan Jendra, dan sekarang entah karena statusnya sudah berubah menjadi seorang suami atau memang pembawaannya. Tapi Jendra yang saat ini kulihat jauh lebih dewasa dari Jendra yang kutemu enam bulan yang lalu.


“Mas Jendra, apa kabar?” tanyaku basa-basi. Membuat suaraku terdengar biasa saja meski sebenarnya tidak ada perasaan khusus yang kurasakan saat tatapan kami bertemu untuk beberapa saat karena segera kualihkan pandanganku pada Evan yang telah duduk dikursi kerjanya.


“Kamu ngapain disini, Al? Tidak mungkin ‘kan Alia melamar kerja disini dan sedang melakukan wawancara kerja bersama mas Evan?” tanya Jendra yang nyaris membuatku tersedak air liurku sendiri. Rajendra masih belum berubah.


“Alia sudah bekerja di Bandung, Ndra. Jadi tidak mungkin dia melamar kerja disini. Ada apa?”

__ADS_1


“Oh, ini script iklan yang sudah dibuat oleh tim yang mas minta kemarin.” Kuperhatikan Jendra dan Evan yang sudah terlihat obrolan asing yang tidak kuketahui. Berada diantara Evan dan Jendra tak urung membuatku merasakan perasaan yang sulit sekali kuuraikan. Jika saja Jendra bukan orang yang pernah bersinggungan denganku di masa lalu, pasti perasaanku akan biasa saja dan tidak harus menarik napas dalam berulang kali. Tapi kenyataan bahwa Jendra adalah mantan pacarku dan Evan adalah pria yang baru saja melamarku untuk menjadi istrinya, tak urung membuatku semakin nelangsa.


“Kalau begitu apa yang kamu lakukan disini, Al?” tanya Jendra setelah menyelesaikan urusannya bersama Evan dan hendak berlalu. Astaga, tidak bisakah dia pergi saja dan tidak usah bertanya?


“Alia menemui calon suaminya, Ndra.” Jawab Evan sebelum aku melakukannya. Beranjak dari kursi kerjanya dan mendekatiku. “Ada beberapa hal yang harus kubicarakan dengan Sena. Kita pulang setelah aku kembali, ya.”


“Calon suami?” tuntut Jendra tepat saat aku mengangguk mengiyakan kalimat Evan. “Siapa, Al?”


“Apa di ruangan ini kamu melihat pria lain selain aku dan kamu yang begitu potensial untuk menjadi calon suami Alia?” lagi-lagi aku baru saja hendak menjawab sebelum Evan terlebih dulu melakukannya. Mengurungkan niat untuk membuka pintu ruangannya dan menoleh kearah Jandra yang terlihat tidak menyukai jawaban Evan.


“Mas Evan? Maksudnya Alia menemui kamu, mas? Tapi, calon suami?” jelas sekali Jendra keget dengan jawaban Evan dan ingin menuntut penjelasan dariku untuk jawaban Evan. Hanya saja, aku memilih untuk berpaling dan membuang muka dari tatapan Jendra. Kupikir jawaban Evan sudah cukup jelas dan tidak perlu kutambahi penjelasannya. Bukan karena aku masih menyimpan kebencian untuk apa yang telah Jendra lakukan dimasa lalu, hanya saja rasanya aku enggan sekali bersitatap dengan Jendra sebab sebelum ini kami sudah saling memunggungi dan menjauh satu sama lain.


“Sebentar ya, Al.” pun begitu dengan Evan yang memilih untuk mendorong pintu ruangannya dan keluar. Meninggalkanku dan Jendra didalam ruangan seolah Evan sedang berusaha mendamaikan dua orang teman yang bermusuhan.


“Alia, apa maksudnya dengan calon suami? Kamu akan menikah dengan mas Evan?” tanya Jendra setelah Evan berlalu dari ruangannya dan meninggalkan kami berdua.


“Aku dan mas Evan belum menentukan tanggal pernikahan kami.”


“Kamu yakin? Kalian bahkan baru saling mengenal beberapa bulan, Al.”


“Lalu apa yang menjadi permasalahannya?”


“Tentu saja karena kamu belum mengenal siapa itu Evan Adiatma dan Evan belum mengenal siapa kamu.”


Kali ini aku bahkan tersenyum kecut untuk mengejek kalimat Jendra yang entah kenapa terdengar sangat tidak masuk akal dan aneh. Memang tahu apa Jendra tentang hubunganku dengan Evan?


“Meski baru beberapa bulan, aku sudah cukup mengenal siapa calon suamiku, mas. Lagipula kami masih punya banyak sekali waktu untuk saling mengenal. Barangkali kamu perlu tahu kalau waktu perkenalan tidak menjamin seseorang mengenal dan memahami pasangannya dengan baik.” Dalam hati aku mengagumi kalimat yang keluar dari mulutku sendiri dengan begitu lancar juga dengan pelafalan yang bagus. Aku bahkan merasa jika senyuman diwajahku terlalu lebar hingga aku merasakan tulang pipiku yang naik.


Tapi bukankah apa yang kukatakan itu adalah suatu kebenaran? Aku mengalaminya sendiri tentang teori bahwa lamanya perkenalan tidak menjamin seseorang terbuka dengan pasangannya. Aku dan Jendra sudah saling mengenal bertahun-tahun dan menjalin hubungan selama berbulan-bulan, tapi nyatanya sedikit sekali hal yang kutahu dari Jendra. Tentang dirinya yang sebenarnya tidak menginginanku, tentang Jendra yang masih mencintai mantan pacarnya, juga tentang Rajendra yang masih saja mencari meski saat itu dia telah memilikiku.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2