
Jogjakarta, Desember 2016
Jogjakarta, akhir tahun, dan stasiun kereta
Sebenarnya aku sudah membayangkan ketiga hal itu jauh sebelum tanggal kepulanganku ditentukan. Membayangkan betapa menyenangkannya beradu rindu dengan kota kelahiranku setelah sekian lama kutinggalkan dan membayangkan tentang pelukan dan senyuman orang yang menyambutku.
Baiklah, kedengarannya berlebihan sekali sebab aku baru meninggalkan Jogja lima bulan yang lalu dan aku bertingkah seolah aku sudah meninggalkan kota ini bertahun-tahun lamanya. Tapi sungguh, aku bahkan sudah mengabarkan tentang kepulanganku ke Jogja pada mbak Mita dan Kamila sejak seminggu yang lalu meski tanggapan mereka berdua tidak se-menyenangkan dia.
"Kok mepet banget pulangnya? Tidak bisa maju beberapa hari gitu?" tanya mbak Mita kala itu saat aku mengatakan padanya kalau aku akan pulang. Awalnya kupikir mbak Mita ingin kepulanganku dipercepat karena perempuan itu merindukanku, hanya saja pikiran melankolisku terlalu berlebihan hingga tidak bisa merasakan maksud khusus dari kakak perempuanku itu.
" Tidak bisa, mbak. Memangnya kenapa to kok kepulanganku harus dimajukan?"
"Tidak apa-apa sih, cuma kalau kamu pulangnya maju kan kamu bisa bantu-bantu mbak nyiapin acara pernikahan."
Benar 'kan kalau mbak Mita masih tidak ada perubaham sama sekali meski sudah kutinggal selama berbulan-bulan?
Sementara Kamila, entah gadis itu benar-benar tidak merindukanku atau terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga hanya menanggapi kabar kepulanganku dengan kalimat yang benar-benar tidak penting.
"Kalau begitu kamu bisa mengajakku makan seblak atau mi ayam kalau pulang nanti. Hitung-hitung merayakan kepulangan pertamamu."
"Kamu tidak ingin mendengar ceritaku selama di Bandung?"
"Boleh juga. Kedengarannya menyenangkan mendengar ceritamu sambil makan seblak dan mi ayam."
Benar-benar Kamila yang begitu luar biasa dengan napsu makannya yang begitu besar.
Dan ya, tentu saja orang yang paling bersemangat dengan kepulanganku ke Jogja adalah Evan. Pria itu bahkan menawarkan diri untuk mengambil cuti kerja dan akan menungguku di stasiun kereta.
“Tiket keretanya habis, masa harus naik bus? Nanti kalau aku mabuk kendaraan siapa yang mau ngurusin?”
__ADS_1
Hanya saja, euphoria rencana kepulangan pertamaku ke Jogja tiba-tiba saja lenyap tak terisisa saat tiket kereta api yang akan kugunakan untuk pulang ke Jogja habis dan hanya tersisa untuk keberangkatan dini hari. Aku bahkan sempat menangis saat menelepon Evan dan mengabarkan kalau aku kehabisan tiket kereta. Bukan kehabisan sebenarnya, hanya saja aku sama sekali tidak berencana untuk naik kereta api dengan keberangkatan dini hari mengingat jarak antara stasiun dengan rumah kosku cukup jauh. Tapi sungguh, aku tidak tahu kalau banyak sekali orang yang akan naik kereta api di akhir tahun untuk melakukan perjalanan.
“Masa habis semua? Atau mau naik pesawat saja?” tawar Evan kala itu yang justru membuatku menangis semakin kencang tanpa tahu malu. “Sshh, jangan menangis dong. Kalau memang semua jadwal sudah habis terjual, naik pesawat saja. Jangan naik bus.”
Naik pesawat? Yang benar saja. Aku baru bekerja selama lima bulan dan baru mendapat gaji penuhku dua bulan yang lalu, dan dengan mudahnya Evan menyarankanku untuk naik pesawat dengan gajiku yang tidak seberapa ini? Sungguh, dibandingkan menuruti sarannya untuk naik pesawat aku lebih memilih untuk naik kereta api meski harus mengambil keberangkatan dini hari.
“Nanti ku-cek lagi. Mungkin untuk keberangkatan malam hari masih ada.” Ucapku pada akhirnya sembari menyeka ingus tanpa peduli kalau diseberang sana Evan mungkin merasa tidak nyaman dengan tindakanku ini.
“Jangan yang keberangkatan malam hari, Alia.”
“Kenapa?”
“Tidak aman.”
“Lalu?”
“Naik pesawat saja, ya.”
“Dengan harga tiket pesawat seharga empat tiket kereta api? Tidak, mas. Sungguh, aku baik-baik saja naik kereta malam hari. Lagipula banyak kru kereta api yang menemaniku, jadi aman.”
“Kubelikan kamu tiket pesawat, oke? Jangan naik yang dini hari.” Kali ini aku mengerutkan kening mendengar tawaran Evan yang justru terdengar seperti perintah mutlak untukku.
“Tidak mau.”
“Alia.!”
“Tidak mau, mas.”
“Sayang,”
__ADS_1
“Aku tidak jadi pulang kalau mas nekat beli tiket pesawat untukku. Ck..”
saat itu aku bahkan memutus sambungan telepon dan menyudahi percakapanku dengan Evan secara sepihak. Mengabaikan telepon pria itu untuk sejam berikutnya dan membiarkan Evan mengirimku pesan tanpa kubalas sedikitpun. Bukan, aku bukan sedang merajuk pada Evan karena aku tahu aku tidak memiliki hak untuk hal seperti itu. Aku hanya sedang kesal pada pria itu dan mengambil langkah praktis agar aku tidak mengamuk pada Evan. Ya, aku kesal karena Evan begitu mudah melakukan sesuatu untukku meski disaat yang sama pria itu terlihat begitu kesulitan untuk memberiku kejelasan perihal hubungan kami.
Tapi meski aku merajuk dan membiarkan Evan kelimpungan karena aku tidak menjawab teleponnya dan mengabaikan pesannya, nyatanya aku tetap tidak bisa mendiamkan pria itu terlalu lama. Aku bahkan dengan tidak tahu malu meminta Evan untuk menjemputku di stasiun pagi tadi karena bapak tidak bisa melakukannya dan mbak Mita pasti sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya yang akan dilangsungkan tiga hari lagi.
“Halo,” dan aku sempat tersenyum tipis saat mendengar suara serak Evan diseberang sana saat teleponku diangkat didering ke lima. Jam 04.57 saat aku melirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku dan membayangkan Evan sedang tertidur pulas dan belum menampakkan tanda-tanda akan bangun.
“Apa tawaran menjemput di stasiun kereta masih berlaku?”
“Hemm?”
“Keretaku akan sampai di Jogja sekitar satu jam lagi. Dan kupikir akan sulit mendapatkan ojek online dijam sibuk saat semua orang berangkat kerja dan sekolah.” langit masih gelap dengan sedikit cahaya putih diujung timur saat aku menoleh keluar jendela kereta dan mendapati embun dipermukaan kacanya.
“Sudah selesai marahnya?” tanya Evan diseberang sana yang disertai tawa kecil dan membuatku mencebik tidak suka.
“Tidak usah dijemput saja kalau begitu. Aku bisa naik angkot.”
Kali ini tidak hanya tertawa kecil, Evan bahkan tergelak diseberang sana tanpa peduli kalau hari masih gelap dan mungkin saja tawanya itu bisa mengganggu seisi rumahnya sendiri.
“Ngambek terus dari kemarin. Kangen ya?” ledek Evan yang membuatku merasakan wajahku yang memanas karena malu.
“Iya. Tapi yang dikangenin malah begitu.”
“See you there, sayang. Tak mandi dulu, ya. Oh ya, hari ini aku cuti kerja khusus buat kamu.”
Dan aku baru saja akan bertanya untuk apa Evan mau repot-repot mengambil cuti kerja sebelum pria itu justru memutus sambungan telepon kami tanpa mengucapkan salam. Membuatku lagi-lagi mengerutkan kening dan menatap layar ponselku hingga benda itu mati dengan sendirinya. Namun seulas senyum tanpa sadar terkembang dikedua ujung bibirku. Bukan karena panggilan ‘sayang’ yang Evan berikan untukku, tapi karena sesuatu yang lain yang tak gagal membuat hatiku menghangat.
“Apa sebuah pertemuan karena rasa rindu memang bisa se-menyenangkan ini?”
__ADS_1
* * * * *