DIORAMA

DIORAMA
33. Tepian Kata


__ADS_3

Tiga detik aku menahan napas saat mataku terbuka dan kurasakan berbagai macam rasa disaat yang bersamaan. Mataku yang terasa panas dan perih, tenggorokanku yang terasa kering, perutku yang terasa mual, dan badanku yang terasa kaku. Aku bahkan kesulitan menggerakkan kepalaku untuk menoleh. Rasanya seperti aku sudah tidur diposisi yang sama untuk waktu yang sangat lama.


‘Di rumah sakit, ya.’ Batinku saat lebih dari tiga detik aku hanya mengamati langit-langit tempatku terbaring saat ini.


Aku ingat apa yang menimpaku sebelum ini, hingga saat ini aku bahkan bisa menebak dimana aku berada. Ya, tentu saja orang yang baru saja mengalami kecelakaan akan berakhir di dua tempat, ranjang rumah sakit atau liang lahat. Dan aku menahan napas satu detik lagi saat menyadari bahwa Allah masih memberiku satu kesempatan hingga aku berakhir di rumah sakit setelah kecelakaan yang menimpaku kemarin.


“Alia,”


‘Syukurlah aku tidak lupa ingatan.’ Aku bahkan sempat meringis menahan sakit saat mencoba menoleh kearah mbak Mita yang sudah berdiri tepat disamping ranjangku.


Lagi, butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna raut wajah kakak perempuanku saat ini. Saat seorang kakak mendapati adik satu-satunya terbaring seperti orang pesakitan diatas ranjang rumah sakit.


“Alhamdulillah kamu sudah sadar, Al.”


Rasanya seperti ada sesuatu yang menusuk punggungku dan membuatku sesak napas saat tiba-tiba mbak Mita mengusap puncak kepalaku dan mencium keningku. Bukan, yang membuat dadaku sesak bukan karena apa yang dilakukan mbak Mita, tapi karena kurasakan air mata mbak Mita jatuh membasahi wajahku. Kakakku menangis. Setelah sekian tahun, ini adalah pertama kalinya mbak Mita jujur padaku tentang perasaannya.


“Mbak,”


“Sebentar mbak panggilkan dokter dulu, ya. Ibu dan bapak baru saja keluar untuk sholat subuh.” Bisik mbak Mita sebelum kembali menyentuh keningku dan berlalu.


Dan tepat saat pintu kamar rawatku tertutup dari luar oleh mbak Mita, mataku memanas dan setitik bening jatuh juga di sudut mataku. Kali ini bukan karena sikap mbak Mita terhadapku, tapi karena seseorang yang saat ini kulihat sedang tertidur sembari duduk disofa sudut ruangan. Seorang pria yang terlihat begitu lelap dalam tidurnya meski dari wajahnya saja aku bisa menebak betapa lelahnya dia.


“Mas,” meski tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutku selain sebuah desisan, tapi pria itu bangun juga dan membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak berubah sama sekali. Dan entah kenapa gerakannya saat membetulkan letak kacamatanya itu membuatku tersenyum tipis.


“Al? sayang kamu sudah sadar?” sama seperti mbak Mita, pria ini juga kulihat sedang menahan air mata begitu dirinya berdiri tepat disamping ranjangku dan mengelus keningku dengan tangannya yang terasa dingin dikulitku. “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah sayang.” Kalimat syukur itu bahkan dia ulang hingga tiga kali. Dan sekarang aku benar-benar ingin bertanya sebenarnya seberapa parah kecelakaan itu hingga semua orang secemas ini padaku? “Kupikir aku akan kehilangan kamu.”


“Kenapa semua orang justru menangis begitu aku sadar, mas?” tanyaku dengan suara serak yang membuat suaraku bahkan terdengar aneh ditelingaku sendiri.


Tepat saat Evan mencium keningku, rasanya dadaku semakin sesak dan rasa panas dimataku tidak bisa lagi kutahan hingga rasa panas itu menjelma juga menjadi setitik bening yang jatuh begitu saja diwajahku.


“Tidak apa-apa, kami semua hanya terlalu bahagia melihat kamu bangun, sayang.”


Senyuman itu, juga tatapan matanya dari balik kacamata itu, sudah berapa lama aku tidak melihatnya dari jarak sedekat ini? Sejauh yang kuingat, awal tahun lalu Evan bahkan memutuskan dengan seenaknya sendiri untuk mengantarku ke Bandung dan aku yang mengantar pria itu ke stasiun kereta. Ya, sejuah yang kuingat pula, aku bersama dengan Evan seharian itu dan kami baru berpisah saat kereta yang ditumpangi Evan berangkat ke Jogja. Ah, barangkali perasaanku saja yang terlalu sentimentil hingga merasa bahwa aku sangat merindukan Evan.


“Mas,”


“Ya?”


Aku baru saja akan bertanya tentang sejak kapan Evan ada di Bandung saat pintu ruang rawatku terbuka dan seorang pria masuk bersama seorang wanita yang keduanya berseragam biru muda. Dibelakangnya kulihat bapak yang diikuti oleh ibu dan mbak Mita.


“Alia,” tipikal dokter pada umumnya yang menyapa pasiennya dengan begitu ramah seolah pasiennya baru saja kembali dari piknik sekolah. “Terlihat luar biasa, gimana perasaan kamu?” dokter Aslan Subagyo, sekilas kulirik nama yang tertera pada tanda pengenal yang tergantung pada saku jas putih pria yang kini sedang memeriksaku. Dengan teliti dan hati-hati dokter Aslan memeriksa setiap detail yang butuh ia tahu untuk kemudian dicatat oleh perempuan muda disampingnya.


“Luar biasa, dok.” Susah payah kutelan air liurku yang terasa pahit dan membuat tenggorokanku terasa perih demi menjawab pertanyaan dokter Aslan.


“Hmm?”


“Kaku.”


Entah apa yang lucu dari jawabanku hingga dokter Aslan terkekeh sebelum kembali memeriksa pergelangan tangan kiriku.


“Kaku adalah keluhan pertama dan wajar untuk pasien yang baru saja koma selama delapan hari.”


“Delapan hari?” tanyaku pada dokter Aslan. Pertanyaan yang membuatku mengerutkan dahi hingga kurasakan kedua alisku yang nyaris bertemu satu sama lain. Koma selama delapan hari. Aku bahkan sempat menahan napas sebelum menutup mata dan menghela napas dalam saat membayangkan bagaimana perasaan keluargaku dan Evan saat aku tidak sadarkan diri selama delapan hari.


“Ibu,” panggilku setelah membuka mata dan merasakan mataku memanas, dan rasa panas itu benar-benar menjelma menjadi tangis saat ibu mendekatiku dan mengelus puncak kepalaku.

__ADS_1


“Iya, nduk. Ibu disini.”


“Maaf sudah membuat ibu khawatir.”


Rasanya seperti ada sebuah euphoria yang harus kurayakan saat ini. Euphoria yang tertahan selama delapan hari dan nyaris membuat seluruh keluargaku bahkan enggan untuk menelan air ludah mereka sendiri karena saking khawatirnya mereka dengan keadaanku.


Sebuah euphoria yang harus kurayakan karena menyadari, Allah masih memberiku kesempatan untuk kembali berkumpul dan merasakan hangatnya berada ditengah-tengah keluargaku. Bahkan bapak, yang selama ini selalu kesulitan mengekspresikan perasaannya pagi ini tersenyum begitu tulus saat aku menoleh kearahnya. Seulas senyum tipis yang terkembang diwajahnya dan bercampur dengan rona kekhawatiran yang masih tersisa disana.


“Alia, coba gerakkan kedua kaki kamu.”


Harusnya perintah itu menjadi sesuatu yang biasa saja jika dokter Aslan tidak mengatakannya dengan nada cemas seperti itu. Sejak aku membuka mata beberapa menit yang lalu, aku sudah tahu pasti ada luka serius di kaki kiriku hingga harus dibebat hingga sebatas lutut. Dan ya, aku bahkan sempat memikirkan bahwa kaki kiriku patah atau paling tidak terkilir.


“Patah ya dok?” tanyaku dengan nada santai sembari memperhatikan kaki kiriku yang sedang diperiksa oleh dokter Aslan.


“Secepatnya kita adakan pemeriksaan mendetail untuk kaki kiri kamu ya.”


Entah apa yang sedang dipikirkan oleh keluargaku dan Evan sebab aku tidak memperhatikan mereka. Hanya saja, dari cara Evan menghela napas dalam dan caranya menggenggam tanganku, aku tahu kalau pria ini cemas sekali. Aku justru mempertanyakan kejiwaanku sendiri yang entah bagaimana merasa tenang sekali meski dengan jelas dokter Aslan mengisyaratkan bahwa ada yang salah dengan kaki kiriku yang tidak bisa kugerakkan.


‘Setelah berurusan dengan hidup dan mati, kamu akan sangat menghargai setiap napas yang kamu miliki setelahnya.’


Entah siapa yang mengucapkan itu, tapi aku akan membenarkannya. Setelah merasakan ngerinya berhadapan dengan maut, rasanya kecemasan yang nampak diwajah dokter Aslan bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan. Kenyataan bahwa Allah masih memberiku kesempatan untuk hidup adalah sesuatu yang harus kusyukuri dan aku tidak ingin menodai rasa syukur itu dengan menggerutu karena kondisi kakiku.


“Semua akan baik-baik saja, mas.”


“Ya, semua akan baik-baik saja.”


Jangan tersenyum seperti itu mas. Tersenyumlah seperti Evan-ku biasa tersenyum.


* * * * *


Entah karena perasaanku yang masih saja kebas sejak empat hari ini atau memang selain hatiku, kulitkupun menjadi kebas. Rasanya aku masih ingin disini dan enggan kembali ke kamar rawatku meski bebrapa menit yang lalu seorang perawat memintaku untuk kembali. Dengan alasan masih ingin berada di luar kamar, aku bahkan menolak ajakan perawat wanita itu dengan sedikit meninggikan suara. Ah, sejak empat hari yang lalu, rasanya aku jadi sering sekali berteriak.


“Semua akan baik-baik saja.” gumamku pada diriku sendiri sembari menatap kaki kiriku yang masih saja dibebat meski sudah tidak setinggi lutut.


Ya, pada akhirnya kabar buruk itu sampai juga ditelingaku. Kabar bahwa kaki kiriku patah dan mengalami cacat permanen kecuali aku mengambil pilihan untuk mengganti sesuatu yang rusak di dalam kaki kiriku. Entahlah, aku bukan ahli tulang dan aku tidak tahu pasti apa yang dikatakan oleh dokter Aslan sebab saat pria itu menjelaskannya padaku, kepalaku sudah penuh dengan kalimat pernyataan bahwa setelah ini, Alia akan menjelma menjadi gadis cacat yang butuh tongkat untuk berjalan. Yang kutahu adalah aku harus menjalani operasi agar aku bisa kembali berjalan seperti semula.


“Operasi memang pilihan terbaik, bu. Tapi operasi seperti itu juga butuh biaya yang tidak sedikit.”


Barangkali saat itu mbak Mita mengira aku sudah tertidur dan tidak bisa mendengar apa yang sedang keluargaku bicarakan. Sungguh, mendengar vonis dari dokter bahwa setelah ini aku akan menjadi perempuan cacat cukup untuk membuatku tidak bisa tertidur. Dan sekarang, mendengar obrolan keluargaku tentang masa depanku semakin membuat kepalaku penuh dengan sepekulasi tidak beraturan.


“Dan membiarkan adikmu menghabiskan sisa hidupnya dengan satu kaki dan tongkat sebagai ganti kaki satunya?”


“Bu,”


“Ibu akan tetap mencari cara agar adikmu bisa menjalani operasi, Mit.”


“Dengan meminta Evan membayar biaya operasi calon istrinya?”


23 tahun aku mengenal mbak Mita dan hidup bersama kakak perempuanku itu. Dan selama 23 tahun itu pula aku paham seperti apa sifat dan karakter kakak perempuanku meski aku tidak berani mengaku bahwa aku sudah mengenal kakakku seratus persen. Tapi tetap saja mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut kakak perempuanku sendiri tak urung membuat dadaku semakin sesak dan membuatku menangis meski aku masih bisa menyembunyikan isaknya.


Mendengar sebuah kalimat seolah aku adalah seorang perempuan miskin yang mengemis biaya operasi pada calon suaminya benar-benar terasa seperti sebuah tamparan keras dikepalaku.


“Mita,! Ibu belum serendah itu untuk mengemis pada Evan. Alia anak ibu, dan ibu yang akan bertanggung jawab terhadap Alia.”


Sungguh, sebelum ini perasaanku masih baik-baik saja. Bahkan berulang kali aku meyakinkan Evan bahwa aku baik-baik saja meski mendengar penjelasan dokter Aslan mengenai kakiku.

__ADS_1


Semua masih baik-baik saja dan perasaanku masih bisa kuajak berdamai dan menerima kenyataan bahwa semua yang terjadi padaku murni ketentuan Allah. Hanya saja pemahaman seperti itu tidak didapatkan oleh keluargaku yang justru menganggap bahwa kondisi kakiku adalah sesuatu yang layak disesali.


“Maaf bu,” bisikku pada diriku sendiri sembari terus menahan isak tangisku dan membuat dadaku semakin terasa sesak.


Mengemis pada Evan, bahkan sebelum dua detik yang lalu, aku sama sekali tidak pernah memikirkan tetang betapa berbedanya aku dan Evan. Tentang betapa sebenarnya kami berdua memang benar-benar berasal dari lingkungan kehidupan yang berbeda. Ah, barangkali selama ini aku terlalu naif dan terlena dengan apa yang kujalani bersama pria itu. Hingga kalimat itu membuatku sadar bahwa setelah ini, hubunganku dengan Evan tidak akan semudah sebelumnya.


“Sayang,” dan sebuah sentuhan dipipi kiriku membuatku terseret dari lamunan dan membuatku terkesiap meski setelahnya aku masih bisa mengulum seulas senyum.


“Mas,”


“Kata perawat kamu belum mau kembali ke kamar.” Itu bukan pertanyaan. Tapi sebuah penyataan yang Evan ucapkan dengan niat mengajakku kembali ke kamar karena memang sudah saatnya dokter Aslan memeriksaku dan sudah saatnya pula seorang perawat memberikan obat untukku.


“Bosan di kamar terus, mas.”


“Nanti mas temani biar tidak bosan. Ke kamar ya, sebentar lagi dokter Aslan visit.”


Dan melihat pria dihadapanku ini tersenyum sembari menyentuh punggung tanganku tiba-tiba saja membuat mataku memanas dan dadaku kembali terasa sesak. Juga tentang kalimat yang mbak Mita ucapkan dua hari yang lalu yang entah kenapa terputar begitu saja dan membuat setitik bening jatuh begitu saja tanpa kusadari.


Benar juga, hanya dari sekali lihat saja semua orang bisa menilai tentang perbedaan yang ada diantara aku dan Evan. Tidak perlu kami jelaskan, semua orang bahkan bisa paham jika kami berdua memanglah dua orang yang berasal dari lingkungan kehidupan yang berbeda.


‘Sekarang aku tahu kenpa mas Jendra terlihat begitu keberatan dengan hubunganku dengan kamu, mas.’ Batinku sendiri sembari terus memperhatikan Evan yang masih berjongkok dihadapanku dan menatapku tidak mengerti.


“Sayang kenapa?”


‘Bahkan setelah ini, semua orang akan punya alasan yang sangat kuat kenapa mereka harus mengatakan bahwa aku bukanlah perempuan yang layak untuk kamu, mas.’


“Hei, ada apa?”


Dan aku hanya bisa menggeleng sembari menyeka ujung mataku dengan punggung tangan untuk menjawab pertanyaan Evan. Lidahku kelu dan kerongkonganku serasa tercekat setiap kali kulihat tatapan mata Evan dibalik kacamatanya itu.


“Tidak ada apa-apa.” Bohong. Aku sendiri bahkan tidak tahu ada berapa banyak pikiran tidak beraturan yang sejak dua hari yang lalu berkumpul dan berputar di dalam kepalaku. Tentang kehidupanku setelah ini, tentang hubunganku dengan Evan, juga tentang apa yang harus kulakukan setelah ini.


Ah, barangkali untuk saat ini biar aku saja yang disibukkan dengan segela sesuatu yang ada didalam kepalaku sendiri. Aku belum ingin dan sama sekali tidak berniat untuk membaginya bersama orang lain meski orang itu adalah calon suamiku sendiri.


Untuk saat ini, biar kunikmati segala kebohongan yang kuciptakan dihadapan Evan dan keluargaku tentang perasaanku yang sebenarnya. Biar kunikmati setiap pergolakan batin yang kurasakan setiap kali kutatap nanar kaki kiriku dan pikiran tentang kehidupanku kembali bermunculan.


“Mas Evan hati-hati di jalan.” Bahkan hingga Evan pamitan padaku untuk kembali ke Jogja sore harinya, pikiranku masih saja penuh dengan spekulasi-spekulasi tidak beraturan tentang kehidupanku sendiri. Meski masih bisa kusamarkan kegurasan itu dengan senyum palsu diwajahku, tetap saja senyuman itu justru membuat dadaku semakin sesak.


“Apa sebaiknya mas ambil cuti lagi sampai kamu benar-benar pulih? Hm?”


“Jangan, mas. Nanti bisa-bisa mas dipecat kalau ambil cuti lagi. Toh kondisiku semakin membaik dan dokter Aslan bilang lusa sudah boleh pulang.”


Kulihat Evan menghela napas panjang sebelum melepas kacamatanya dan memakainya kembali. Sempat Evan menyarankan agar aku dipindah ke rumah sakit yang ada di Jogja agar lebih mudah mengurus segala hal yang berkaitan denganku. Hanya saja saat itu kondisiku yang masih koma tidak memungkinkan untuk dipindah dengan jarak sejauh itu dan saat aku sudah sadar-pun, aku yang justru menolak dengan alasan pemindahan ke rumah sakit yang ada di Jogja butuh biaya yang tidak sedikit. Dan tentu saja aku hanya mengatakan alasan itu pada ibu dan bapak dan tidak berani mengatakannya pada Evan.


“Baiklah kalau begitu.” Dari suaranya saja, aku tahu betul kalau ada banyak kalimat yang sengaja Evan tahan agar tidak menyulut perdebatan diantara kami. Dan ya, memang sebiaknya seperti itu saja. Evan mengalah untuk kembali ke Jogja bersama bapak dan mbak Mita, sementara aku tetap di Bandung bersama ibu hingga kesehatanku pulih. “Mas pulang ya. Kamu hati-hati di Bandung.” Juga, rasanya aku memang butuh waktu seorang diri saja untuk memikirkan segala hal yang selama ini kutahan.


“Bu,”


“Ya?”


“Apa perempuan cacat sepertiku layak menjadi istri seorang laki-laki seperti mas Evan? Apa rasanya adil kalau Evan Adiatma beristrikan Alia si perempuan cacat ini?”


Bahkan aku masih bisa menjangkau punggung Evan dengan pandanganku saat kutanyakan hal itu pada ibu.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2