DIORAMA

DIORAMA
24. Home


__ADS_3

“Teteh,!” aku baru saja membuka pintu kamarku untuk membuang sampah saat dari arah tangga seseorang terlebih dahulu memanggil namaku dan berlari kecil kearahku setelahnya. Membuatku mengulum senyum tipis sebelum meletakkan keranjang sampah yang sebenarnya akan kubawa turun dan kubuang. Sofia, anak perempuan pemilik kos yang pada pertemuan pertama mencuri perhatianku dan entah bagaimana alurnya kami menjadi akrab seolah kami memang adalah dua orang teman baik.


“Mau kemana, teh?” tanya Sofia yang tidak lupa memasang senyuman yang memang seperti tidak pernah ia lepaskan dari kedua sudut bibirnya. Entah aku yang sering bertemu dengan orang-orang super sibuk hingga tersenyum saja jarang, hingga melihat Sofia rasanya seperti aku menemukan sesuatu yang memang kucari selama ini, atau memang kenyataannya seperti itu. Hanya saja, senyuman Sofia-lah yang sepertinya menjadi jembatan keakraban kami berdua. Bahkan gadis itu tidak lagi memakai kain cadarnya setiap kali mengunjungi kamarku meski gadis itu masih mengenakan secarik kain itu setiap kali kami keluar rumah. Lagi-lagi membuatku merasa diistimewakan oleh gadis ini.


“Turun ke bawah buang sampah, kenapa?”


“Nggak apa-apa, cuma mau tahu saja hari ini teteh ada acara, nggak?” tanya Sofia ragu seolah aku akan marah karena ditanya tentang ‘acara’ dihari minggu seperti ini sementara aku adalah seorang tuna asmara yang memang tidak pernah keluar kos di akhir pekan seperti ini.


“Tidak ada, kenapa to?”


“Yang benar, teh?”


“Memang kapan kamu lihat teteh keluar diakhir pekan seperti ini selain untuk beli makan, Sof?”


Dan kenyataannya memang begitu. Aku bahkan hanya tahu area kos dan kantorku saja meski sudah berbulan-bulan tinggal di Bandung. Membuatku kadang mengeluh pada Evan karena terlalu bosan di akhir pekan yang selalu kuhabiskan dengan mendekam didalam kamar kos dengan sebungkus keripik kentang dan hanya akan keluar untuk membeli makan siang di ujung gang kos.


“Iya, sih.” Dan entah kenapa aku justru membayangkan jika saja aku mempunyai adik perempuan, apakah adik perempuanku akan menjadi seperti Sofia?


“Ada apa?”


“Ehm, mau mengajak teh Alia pergi keluar sebentar, teteh mau nggak?”


“Kemana? Memang ummi atau abi tidak ada dirumah?”


“Ummi dan abi ke kajian pekanan, teh. Pulangnya biasanya ba’da ashar.”


Sungguh, melihat Sofia yang merengut seperti itu membuatku tidak bisa menahan senyum dan kembali memikirkan bahwa mungkin Allah takdirkan Sofia untuk memainkan peran sebagai adik perempuan Alia dan menempaku menjadi lebih dewasa. Dan, apa aku juga seperti ini saat membujuk mbak Mita?


“Mau keluar kemana memangnya?” tanyaku pada akhirnya karea tidak tahan dengan gelagat Sofia.


“Bertemu dengan teman di daerah Dago, teh. Takut kalau pergi sendirian.”

__ADS_1


“Begitu. Kalau gitu teteh tak ganti baju dulu ya. Kamu tunggu di bawah apa mau nungguin teteh ganti baju?” dan aku sama sekali tidak beniat mencecari Sofia dengan pertanyaan-pertanyaan tetang siapa yang akan ditemuinya dan kenapa gadis itu tidak berani pergi sendirian meski jarak antara rumahnya dengan daerah Dago sejauh yang kutahu tidak lebih dari satu jam perjalanan menggunakan mobil.


“Aku siap-siap di bawah aja, teh. Nanti pakai mobilnya ummi aja ya, teh.”


Aku yang hendak membuka pintu kamar kosku kembali menoleh kearah Sofia yang juga sebenarnya hendak menuruni tangga.


“Siapa yang nyetir?” tanyaku cepat saat menyadari bahwa kami akan pergi berdua dan kemungkinan yang akan mengemudikan mobil hanya aku atau Sofia. Itulah kenpa aku butuh untuk memastikan agar tidak terjadi kesalahpahaman.


“Teh Alia, lah. Aku belum boleh nyetir jauh-jauh sama abi.” Jawab Sofia dengan polosnya yang membuatku tertawa kecil dua detik berikutnya.


“Teteh tidak bisa menyetir, Sof.” Ini bukan sekedar alasan agar aku tidak jadi menemani Sofia dan tetap mendekam didalam kamarku seperti seekor kukang, tapi kenyataannya memang aku tidak bisa menyetir karena kupikir untuk apa aku bisa menyetir kalau keluargaku bahkan tidak punya mobil?


“Oh, kalau begitu kita naik ojek online saja, teh.” Jawab Sofia lagi yang entah kenapa membuatku mengulum senyum tulus tanpa kusadari. Lagi-lagi cara Sofia menerimaku membuatku serasa menemukan keluarga.


___________


Awalnya kupikir teman yang akan ditemui oleh Sofia adalah teman kuliah gadis itu dan mereka akan bertemu di sebuah café atau tempat makan karena dalam pikiranku, Dago selalu identik dengan tempat makan atau tempat wisata. Sepanjang perjalanan aku dan Sofia juga tidak sekalipun membicarakan perihal pertemuan ini karena kupikir aku tidak butuh untuk tahu. Aku dan Sofia justru membicarakan segala hal tentang Bandung dan membuatku berpikir kalau aku harus mulai memberanikan diri berkeliling kota kembang ini meskipun harus kulakukan seorang diri.


Awalnya juga kupikir hal-hal yang akan dibicarakan oleh Sofia dan temannya itu tidak jauh-jauh dari seputaran tugas kuliah. Tapi begitu ojek online yang kami tumpangi berhenti dan Sofia mengajakku berjalan menuju sebuah masjid, spekulasiku tentang pertemuan Sofia dengan temannya mulai berantakan. Dan spekulasiku semakin menjadi tidak karuan saat teman yang dimaksud oleh Sofia adalah seorang perempuan bercadar seperti dirinya yang begitu ramah menyambut kedatangan kami berdua.


“Namanya Ummu Aisyah, teh. Beliau guru ngajiku selama ini.”


“Guru ngaji, to.” Balasku setengah bergumam karena terlalu terkejut dengan pertemuan ini.


“Ini pasti neng Alia, ya? Temannya Sofi? Kenalkan saya Rara, neng.”


Baru setelah wanita ini membuka kain cadar yang sejak tadi menutupi wajahnya, aku bisa dengan leluasa mengamati wajahnya yang kutebak wanita ini baru memasuki usia tiga puluhan atau kurang dari itu.


Sebuah pertemuan, aku bahkan sempat dengan lancang membayangkan kalau pertemuan yang dimaksud oleh Sofia adalah pertemuan dengan teman-temannya disebuah café untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting. Tapi siapa yang menyangka jika pertemuan yang dimaksud adalah pertemuan untuk membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah terlintas didalam kepalaku. Pernikahan.


“Kalau kamu yakin agama laki-laki itu baik, nasabnya baik, juga kamu merasa yakin dengannya, tidak ada salahnya kalian melakukan ta’aruf, Sof.”

__ADS_1


Benar, nyatanya aku sama sekali tidak berpikir jika pertemuan antara Sofia dengan perempuan bernama Rara ini adalah untuk membicarakan perihal pernikahan. Aku tidak terlalu tahu dengan apa yang mereka bicarakan sebab aku memilih untuk undur diri dan duduk menjauh dari mereka berdua meski sebenarnya Rara memintaku untuk ikut berdiskusi dengan mereka.


Berdiskusi, rasanya aneh sekali saat aku mengatakan ‘pembicaraan’ penting yang dilakukan oleh Sofia dan guru ngajinya itu sebagai bentuk diskusi seolah mereka berdua sedang membicarakan tentang rencana piknik keluarga.


“Bagaimana dengan abi dan ummi? Mereka sudah melihat cv yang laki-laki itu kirimkan untuk kamu?”


“Ummi dan abi sudah setuju, Umm. Hanya aku saja yang masih sedikit ragu.”


Meski aku masih jelas bisa mendengar pertanyaan Rara untuk Sofia, tetap saja aku tidak ingin ikut campur dan memilih untuk mengeluarkan ponselku dari dalam tas selempangku dan memainkannya dengan asal. Menarik napas dalam saat tiba-tiba perasaanku menjadi tidak karuan. Perasaan yang muncul entah karena apa dan apa alasannya. Aku hanya merasa bahwa pembicaraan antara Sofia dan guru ngajinya membuatku seperti tertampar tangan tak kasatmata. Bukan karena kenyataan bahwa Sofia, yang usianya bahkan masih 19 tahun sudah dilamar oleh seorang laki-laki sementara aku, Alia si perempuan 23 tahun justru terjebak dalam hubungan tidak bernama bersama seorang laki-laki.


‘Saat kamu menginginkan jodoh yang baik, maka jadilah kamu orang yang baik. Tapi jangan menjadi baik untuk jodohmu, tapi jadilah baik untuk tuhanmu. Sebab Dialah yang memberikanmu jodoh dan dia yang mengatur tentang baik buruknya jodohmu.’


Entah ucapan siapa yang baru saja terputar didalam kepalku dan membuatku tersenyum kecut dan kembali menarik napas dalam, tepat saat sebuah pesan masuk dan membuatku menyentuh layar ponselku sebelum kuurungkan kembali niat itu. Ah, rasanya aku masih ingin menikmati setiap jengkal perasaan tidak menentu ini dan tidak ingin dikacaukan oleh sebuah pesan.


“Benar juga, jodoh itu kan cerminan diri sendiri, Alia.” Bisikku pada diriku sendiri. Memperhatikan selembar daun pohon ketapang yang jatuh dan bergabung dengan lembaran-lembaran daun yang sudah terlebih dahulu jatuh dan mengotori halaman masjid.


Teori tentang jodoh. Sebenarnya, meski aku tidak dibesarkan oleh kedua orang tua seperti ummi Hamidah dan suaminya membesarkan Sofia, aku tetap paham tentang konsep jodoh seperti itu. Bahwa, jodohku adalah cerminan diriku sendiri. Bahwa sebaik apa jodohku kelak akan berbanding lurus dengan kadar kebaikan dalam diriku. Dan menyadari jika aku mulai membayangkan sosok laki-laki yang mengajukan cv pada Sofia tak urung membuatku tersenyum pada akhirnya.


“Ah, dia pasti seorang laki-laki sholih yang begitu baik dan menjaga diri seperti Sofia menjaga kehormatannya selama ini.”


Benar juga, meski aku tidak berani bertanya tentang laki-laki yang sedang menjadi topik pembicaraan antara Sofia dengan guru ngajinya, dalam kepalaku aku sudah bisa membayangkan sosok laki-laki itu. Ya, tentu saja aku akan membayangkan sosok laki-laki yang sepadan dengan Sofia, dan bukannya laki-laki yang dengan mudah mengumbar kalimat-kalimat cinta pada perempuan yang belum tentu akan dinikahinya.


Sebab Sofia tidaklah seperti Alia yang begitu mudah berlari ke pelukan seorang laki-laki saat dirinya sedang patah hati karena mantan pacarnya, pastilah laki-laki itu juga seperti Sofia yang tidak bermudah-mudah membuka kedua tangannya untuk memeluk perempuan yang tidak seharusnya ia sentuh.


‘Ah, kenapa kalimatmu itu seolah kamu sedang menghakimi diri kamu sendiri dan menghakimi dia, Al?’


Menghakimi dia? Tidak juga, sudah kukatakan jika saat ini, aku sedang ingin menikmati setiap jengkal perasaan tidak menentu yang kurasakan. Meski sebenarnya perasaan tidak menentu yang kurasakan saat ini sudah pasti ada kaitannya dengan dia.


‘Tapi bukankah apa yang kalian lakukan selama ini masih dalam tahap wajar dan tidak ada apapun yang kalian lakukan selain bertukar kabar satu sama lain?’


Entahlah, sebenarnya sudah jelas jika apa yang kulakukan selama ini dengan begitu mudah bertukar kata-kata cinta dengan dia adalah sesuatu yang salah. Hanya saja, tetap ada satu bagian kecil dari hatiku yang membenarkan apa yang kulakukan itu. Satu bagian dari hatiku yang masih begitu bodoh dengan pemahaman-pemahaman yang tidak benar.

__ADS_1


‘Barangkali, suatu saat kamu akan benar-benar paham dengan alur kehidupan yang tuhanmu tentukan, Al. Alur kehidupan yang baik. Baik menurut tuhanmu, bukan baik menurutmu.’


* * * *


__ADS_2