DIORAMA

DIORAMA
36. Ruang Rindu


__ADS_3

Langit-langit kamar warna biru muda menjadi pemandangan yang pertama kali kulihat begitu aku membuka mata. Aku tidak tahu kapan aku tertidur sebab sejauh yang kuingat, aku dan Evan terlibat pembicaraan yang panjang setelah pria itu mengajakku meninggalkan taman bermain.


Evan yang menolak untuk menyudahi pertemuan kami dan aku yang menolak untuk berbicara di rumah, dan pilihan terakhir hanya pergi dari taman bermain karena kami berdua butuh waktu dan ruang untuk berbicara. Sebenarnya akupun sama, masih enggan menyudahi pertemuan kami karena kupikir ada banyak sekali hal yang perlu kami bicarakan. Meski pada akhirnya kami masihlah saling terdiam sepanjang perjalanan hingga Evan menepikan mobilnya di tepian area persawahan di daerah Godean yang saat itu sudah gelap gulita.


“Darimana mas tahu tentang kepulanganku?” dan dari sekian ribu pertanyaan yang ada didalam kepalaku, pertanyaan itu yang mampu kutanyakan pada Evan.


“Selama dua tahun aku nyaris mendatangi rumah kamu setiap hari, Al. Hanya agar aku tahu apa kamu sudah pulang atau belum. Hanya agar aku tidak mengganggu kamu karena terkahir kamu bilang kamu butuh waktu untuk sendirian.” Pandangan mataku bahkan sudah mulai kabur saat kubalas tatapan Evan yang menolah kearahku. “Sekarang, apa waktu yang kamu butuhkan untuk sendirian itu sudah cukup?” dan air mata itu jatuh juga meski buru-buru keseka.


Lantas, bagaimana bisa aku berhenti menyalahkan diriku sendiri atas kekacauan yang terjadi diantara kami? Aku yang menciptakan kekacauan ini. Aku yang mengancurkan tembok yang telah kami bangun selama ini. Tapi lihat, Evan masih berdiri teguh disamping tembok yang telah kuhancurkan itu dan menjaganya agar tidak semakin bertambah hancur. Pria ini menjaganya, bahkan diam-diam memperbaikinya tanpa kuketahui.


“Empat kali aku berpikir apa sebaiknya aku menyerah saja dan mengakhiri semuanya termasuk mengakhiri kehidupanku. Aku bahkan sudah menyimpan tali tambang kamarku yang bisa kupakai kapanpun aku merasa putus asa, Al.”


Seperti ada tangan yang meremas dadaku dan membuat dadaku terasa sesak luar biasa. Kenapa butuh waktu lama sekali untuk menyadari bahwa yang terluka karena keputusanku bukan hanya aku saja, tapi juga Evan.


“Tapi barangkali aku memang belum berjodoh dengan kematian. Itulah kenapa aku selalu mengurungkan niat setiap kali sudah siap melakukan bunuh diri.”


“Maaf, mas. Aku sama sekali tidak bermaksud menciptakan situasi seperti ini, aku hanya….”


Percuma. Sekeras apapun aku mencoba menjelaskan, aku tidak akan bisa memulainya sebab sudah sejak lama aku kehilangan arah untuk menemukan ujung dan pangkal dari kehidupanku sendiri. Kalaupun aku tetap mencoba menjelaskan, hanya penjelasan rancu yang keluar dari mulutku.


“Tidak ada yang berubah meski ratusan hari kamu menjauh dariku, Al. Sebab hatiku tahu betul kalau kamulah orangnya. Entah bagaimanapun kondisi kamu.”


Dua detik aku paham satu hal, bahwa selama ratusan hari aku melarikan diri dari Jogja dan menepi di Bandung, aku dan Evan sama-sama sedang berjuang. Aku yang berjuang untuk menemukan rumah yang sesungguhnya, dan Evan berjuang untuk menjadi sebenar-benar rumah untuk tempatku pulang. Ah, bukankah cinta memang selalu tahu kemana dia akan pulang.


___________


“Rumah siapa?” aku mengerutkan kening saat menyadari bahwa ini bukanlah kamarku dan aku benar-benar asing dengan kamar ini.


Sebuah kamar yang ukurannya sebesar dua kali kamar pribadiku di rumah, dan sebuah kamar yang kutebak masih belum lama selesai dibangun sebab aku masih bisa merasakan aroma cat yang masih baru, juga kamar yang masih polos dan tidak ada hiasan apapun. Aku lupa berapa lama aku mengamati kamar ini dan mencari tahu siapa pemilik kamar ini hingga suara adzan menyadarkanku. Jam 4 pagi, dan lagi-lagi adzan subuh membuatku benar-benar sadar bahwa saat ini aku sedang tidak ada dirumah dan itu artinya aku tidak pulang kerumah sejak kemarin sore.

__ADS_1


“Mas Evan,”


Terakhir kali kuingat aku meninggalkan taman bermain bersama Evan dan berhenti di Godean. Melakukan percakapan yang cukup panjang dan menguras emosi hingga aku menangis tidak terkendali. Tangisan yang membuatku lelah dan tertidur entah jam berapa.


Benar saja, setelah mencuci wajah dan keluar kamar, pria itu ada disana. Berdiri didepan jendela dan menatap keluar seolah diluar sana ada pemandangan yang begitu menarik untuknya. Evan baru mengalihkan pandangannya kearahku setelah mendengar pintu dibelakangku kututup dengan pelan.


“Sudah bangun?” tanyanya sembari mengeluarkan tangannya dari saku celana dan tersenyum kearahku. Apa pria ini tidak tidur sejak semalam?


“Kamu tidak tidur, mas?” tanyaku dengan suara serak yang tidak kusadari sebelumnya, suara serak yang membuat tenggorokanku terasa perih dan tidak nyaman. Ah, barangkali ini efek dari tangisanku semalam.


“Semalam aku sudah menghubungi mbak Mita dan mengatakan kalau kamu tidak pulang dan menginap dirumahku.” Ucap Evan tanpa menjawab pertanyaanku. Dan kenapa rasanya seperti aku sedang berbicara dengan orang asing sekarang? Tapi, adalah hak Evan untuk bicara dingin begitu padaku setelah semua yang kulakukan dimasa lalu.


“Kita ada dimana?” tanyaku lagi sembari mengikuti Evan yang berjalan menuju dapur dengan pandanganku, dan memilih untuk tetap berdiri didepan pintu kamar tanpa berniat duduk.


“Dirumahku. Tidak telalu jauh dari rumah kamu kok, masih di daerah Godean.” Jawab Evan dengan tenang sembari menyiapkan dua cangkir teh. Dirumahnya dia bilang? Bukankah rumah Evan ada di pusat Kota Gede?


“Mau minum teh di taman belakang?” aku baru saja akan menanyakan perihal rumah ini saat Evan justru mengajakku ke taman belakang rumahnya.


“Awalnya agak sulit berjalan dengan tongkat ini, tapi sekarang aku sudah terbiasa.” Jelasku meski tidak diminta. Sungguh, waktu satu setengah tahun bukan waktu yang sebentar untuk membuatku terbiasa dengan kehidupanku termasuk kenyataan bahwa aku harus berjalan menggunakan tongkat. Jadi, aku sama sekali tidak berbohong saat mengatakan pada Evan bahwa aku sudah terbiasa berjalan dengan tongkat.


Taman belakang yang dimaksud oleh Evan adalah taman belakang rumah yang menghadap langsung kearah persawahan dan perbukitan secara langsung. Membuatku bisa merasakan angin pagi hari yang dingin begitu melangkah keluar mengikuti Evan yang terlebih dahulu keluar dan membuka pintu pembatas antara ruang santai dengan taman belakang.


“Sejak kapan kamu pindah rumah, mas?” Satu setengah tahun yang lalu, aku dan Evan adalah dua sosok yang tidak pernah merasa kehabisan bahan obrolan setiap kali kami bersama-sama. Satu setengah tahun yang lalu, kami bahkan tidak segan memotong suara satu sama lain setiap kali mengobrol. Dan lagi-lagi aku tersadarkan bahwa segala hal memang berubah termasuk aku dan Evan yang detik ini bahkan berubah menjadi dua orang asing yang kesulitan mencari bahan obrolan.


“Tidak pindah, kok.” Tapi pria ini tetaplah Evan yang pandai sekali menyamarkan kecanggungan diantara kami meski hanya dengan nada suaranya saja. “Awalnya aku ingin pindah selepas kita menikah karena rumah ini memang sengaja kubangun untuk kita berdua. Tidak sebesar rumah papa di Kota Gede memang, tapi kurasa rumah ini lebih nyaman karena jauh dari hiruk pikuk kota.” Dan helaan napas Evan diujung kalimatnya lagi-lagi menyadarkanku bahwa aku telah melukai dan menghancurkan pria ini selama ratusan hari.


‘Lihat pria ini, Al. Disaat kamu memilih untuk berlari, dia masih bertahan ditempatnya dan menunggu kamu. Disaat kamu sibuk dengan pelarian kamu, Evan masih sempat memikirkan masa depan kalian berdua.’


Benar juga, rasanya akupun semakin membenci diriku sendiri untuk keputusan yang kuambil satu setengah tahun lalu.

__ADS_1


“Kupikir akan sangat menyenangkan menghabiskan sore hari di taman ini selepas pulang kerja. Bersama kamu, bersama anak-anak kita.” Kudapati Evan tersenyum diujung kalimatnya tepat saat aku menoleh kearahnya. Evan yang sedang tersenyum tipis dan semburat warna jingga yang mulai terlihat dari ufuk timur, sebuah perpaduan yang membuat mataku memanas.


Evan tidak mengatakan ‘anak-anakku’ tapi pria itu menggantinya dengan ‘anak-anak kita.’ “Impianku sesederhana itu, Al. Dan sampai sekarangpun impianku masih sama, hidup sederhana bersama kamu, jauh dari ingar-bingar, kecil dari hiruk pikuk. Dan apa menurut kamu impianku itu terlalu muluk-muluk?”


Dan tepat saat Evan menoleh kearahku, sebuah bening jatuh begitu saja karena aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa panas dimataku agar tidak menjelma menjadi tangis. “Sejauh apapun kamu mencoba lari dariku, selama apapun aku harus menunggu kamu, impian itu akan tetap sama.”


“Apa kamu memang berpikir kalau akulah orang yang tepat untuk membersamai kamu mewujudkan impian kamu itu, mas?” kapan terkahir kali aku melihat sepasang mata Evan dari jarak sedekat ini dan waktu selama ini?


“Sejak aku menawarkan kamu sebuah komitmen dan menjadikan kamu tunanganku, sepenuhnya sudah kuserahkan hatiku pada kamu, Al. Apa kamu tidak sadar kalau selama masa pelarian kamu, hatiku juga kamu bawa serta bersama kamu? Lalu bagaimana aku bisa jatuh hati pada orang lain saat hatiku masih ada bersama kamu?”


Sebelum pagi ini, aku sama sekali tidak berpikir tentang semua yang Evan katakan padaku. Akupun tidak mengerti entah karena egoku yang begitu besar atau pemahamanku saja yang belum mampu menggapai hal seperti itu. Tentang sebuah komitmen, tentang hati seseorang yang telah ia serahkan pada kita untuk kita jaga, atau kita hancurkan. Dan setarikan napas kemudian aku sadar bahwa aku telah menghancurkan hati yang telah Evan titipkan padaku.


“Tolong jangan pergi lagi, Al.” aku tidak tahu kapan Evan beranjak dari sampingku dan berjongkok dihadapanku. “Tolong jangan menyiksaku seperti ini lagi.” dan genggaman tangan itu, kapan terakhir kali aku merasakan geleyar hangat merayap keseluruh tubuhku saat dengan erat Evan merai kedua tanganku dan menggenggamnya seolah tak ingin lepas. Sementara aku, tentu saja tidak ada hal lain yang bisa kulakukan kecuali menahan isak tangisku sendiri meski air mataku berulang kali jatuh.


“Kamu berhak mendapatkan pendamping yang lebih dariku, mas. Seorang perempuan yang lebih sempurna dariku.” Ya, sejak awal, satu-satunya alasan aku memilih untuk lari dan menepi adalah karena kupikir Evan sama sekali tidak layak mendapatkan seoran istri cacat sepertiku. Evan berhak mendapatkan perempuan yang lebih dariku. Hanya itu.


“Menurut kamu begitu?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dariku seolah Evan tidak ingin meloloskanku dari tatapannya. “Apa kamu akan bahagia dengan melihatku bersama perempuan lain? Apa kamu akan bahagia dengan melihatku bersanding bersama perempuan lain dan hidup bersamanya?”


Tidak. Jika hanya dengan mendengar pertanyaan seperti itu saja sudah membuat dadaku sesak dan jantungku serasa terbakar, lantas apa jadinya jika aku benar-benar mendapati Evan Adiatma hidup bersama perempuan lain?


‘Lantas apa yang kamu inginkan, Alia? Kamu mengatakan Evan berhak mendapat pendamping hidup yang lebih sempurna dibandingkan kamu, tapi kamu juga tidak rela jika Evan bersanding dengan perempuan lain. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?’


“Kalau dengan menikah bersama perempuan lain akan membuat kamu bahagia, maka aku akan melakukannya, Al.”


“Tidak, mas. Demi Allah, tidak.”


Pada akhirnya, tangisanku pecah juga tepat saat Evan menarikku kedalam pelukannya. Dan pada saat yang sama aku-pun sadar bahwa pelarianku selama satu setengah tahun ini membawaku kembali pada Evan. Aku berlari dari Evan, tapi pada akhirnya pria itu juga yang menjadi tempatku kembali.


“Kenapa kamu keras kepala sekali?” Bukan keras kepala sebetulnya, hanya saja egoku sebagai seorang perempuan kadang mengalahkan logikaku.

__ADS_1


Barangkali sejak awal memang seharusnya seperti ini saja. Saling menerima dan saling mengisi celah kosong diantara satu sama lain tanpa saling melukai. Ah, tapi bukankah jika kami sama-sama jeli, segala yang terjadi pasti memiliki arti meski kadang tersembunyi?


* * * * *


__ADS_2