
Yogyakarta, Maret 2016
“Halo?” kuhela napas dalam sekali lagi saat sambungan teleponku diangkat pada dering kedua oleh seseorang diseberang sana. Seseorang yang suaranya sudah kukenal dan seseorang yang memang sedang kupikirkan sejak seminggu yang lalu. Bukan, maksudku sejak tiga bulan yang lalu.
“Hai,”
“Tumben kamu telepon, ada apa?” tanyanya singkat. Dan aku berhasil membayangkan jika saat ini pria itu sedang berjalan dari kursi kerjanya menuju ranjang disudut kamar.
Sejak tiga bulan yang lalu, dan aku tidak tahu kenapa rasanya emosiku selalu saja terpantik setiap kali aku berbicara ataupun sekedar bertukar pesan singkat dengannya. Seperti sekarang, entah kenapa rasanya seperti aku adalah tipikal pacar yang tidak akan sudi menghubungi pacarnya sendiri kecuali membutuhkan bantuan besar. Dan lagi-lagi aku harus menghela napas dalam untuk mengatur perasaanku.
“Aku baru pulang dari Jakarta,” balasku datar tanpa menjawab pertanyaannya. Yah, karena aku tahu kalau aku menjawab pertanyaan tidak pentingnya itu maka sama saja aku menghancurkan moodku sendiri yang memang sedang tidak begitu baik pasca perjalananku dari Jakarta hingga Yogyakarta.
“Oh ya? Kapan sampai?”
“Sekitar sepuluh menit yang lalu. Kamu libur hari ini ‘kan? Punya waktu sebentar? We need to talk.” Dan lagi-lagi aku menjelma menjadi perempuan muda yang sedang datang bulan yang sedang mencecari pacarnya sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tidak kutanyakan.
Aku tahu hari ini hari minggu dan dia pasti libur kerja. Dan lagi-lagi aku juga tahu kalau dia memang selalu punya waktu dihari minggu. Entahlah, aku sendiri tidak tahu kenapa sejak dua bulan yang lalu apapun yang dia katakan dan dia ucapkan selalu saja salah untukku.
“I’ll pick you up. Masih di stasiun ‘kan?” aku hanya mengangguk seperti perempuan bodoh untuk menjawab pertanyaannya. “Ehmm, lima belas menit kalau ndak macet ya. See you honey.”
“See ya,”
Sungguh, aku sudah memikirkan hal ini bahkan sebelum aku berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan kerja untuk program magang kerja di pemerintahan yang sedang kuikuti. Mengajaknya bicara dan menyelesaikan apa yang memang harus kami bicarakan. Ah, aku bahkan tidak tahu apa yang telah kumulai hingga aku merasa harus menyelesaikannya. Aku hanya merasa kalau ada yang harus kami selesaikan hari ini. Entah kesalahpahaman kami, atau hubungan kami.
Menjalin hubungan diusia ke 22 tahun, dan aku tahu orang-orang pasti akan mengutuk keputusanku untuk hal ini. Hubungan yang dijalin diusia ke 22 harusnya tidak lagi dijadikan sebagai bahan permainan. Dan hei, tidak ada yang sedang bermain-main disini. Aku bahkan berani mengatakan kalau aku adalah tipikal orang yang tidak suka dengan sesuatu yang dijadikan permainan atau ajang percobaan.
Hanya saja, kuharap orang-orang itu tidak lupa kalau menjaga hati jauh lebih penting dibandingkan menjaga hubungan yang entah kenapa membuatku tidak nyaman. Aku melakukan sesuatu yang kupikir akan menyelamatkan hatiku dari rasa perih berkepanjangan. Aku sama sekali tidak tahu kalau keputusan yang kubuat bisa saja salah dan membuatku menyesal hingga detik ini.
Aku diusia 22 tahun, dan entah kenapa aku seperti menjelma menjadi idiot yang tidak bisa untuk sekedar mengambil keputusan dengan kepala dingin.
“Inikah takdir? Atau,…?”
Dia tidak mengingkari janji dan aku juga tidak ingin menjadi perempuan muda yang super egois dengan mencecarinya dengan pertanyaan tidak penting hanya karena dia terlambat tiba di stasiun.
__ADS_1
“Dua puluh menit,” kulirik jam tangan kulit yang melingkar dipergelangan tangan kiriku tepat saat sebuah picanto merah mendekatiku yang sedang duduk di teras stasiun. Aku tahu seperti apa lalu lintas kota jogja dihari minggu seperti ini dan aku tidak ingin mengamuk karena keterlambatannya.
“Maaf terlambat. Macet banget ternyata.” Ucapnya sembari memasukkan kunci mobilnya kedalam saku celana. Tapi tetap saja meskipun dia sudah meminta maaf tidak lantas membuatku mengulum senyum untuknya. “Kamu sudah makan?”
‘Tiga bulan kita tidak bertemu, Rajendra Yudhistira.! Dan itukah kalimat terbaik yang bisa kau ucapkan pada pacarmu?’
Ingin rasanya aku meneriakkan kalimat itu untuknya. Agar dia tahu kalau dadaku sesak bahkan rasanya ingin pecah saat ini juga. Ingin rasanya aku berteriak padanya agar dia tahu, agar semua orang tahu betapa kacaunya hubungan kami sejak dua bulan yang lalu.
Bukan, hubungan kami kacau bukan karena salah satu diantara aku dan Jendra ada yang bermain api, juga bukan karena tidak adanya restu dari kedua orang tua kami. Semua orang mengatakan bahwa kami masih baik-baik saja dan sangat baik untuk ukuran dua orang yang menjalin sebuah hubungan.
Aku sendiri tidak mengerti, entah aku yang terlalu kekanakan atau Jendra yang begitu santai dalam menjalani perannya sebagai pacarku. Jendra baik-baik saja meskipun kami tidak bertemu lebih dari dua bulan meski jarak tempat tinggal kami tidak lebih dari setengah jam perjalanan dengan mobil. Sementara aku, aku begitu mempermasalahkan intensitas pertemuan kami hingga tidak jarang aku mengamuk setiap kali Jendra menghubungiku. Yah, itulah kenapa aku mengatakan kalau hubungan kami kacau.
“You looking tired, pelatihannya berjalan lancar ‘kan?” dan seolah memang tidak ada yang salah dengan hubungan kami, Jendra bahkan dengan santai memasukkan sesendok bakso kedalam mulutnya meski bakso didalam mangkokku bahkan tidak tersentuh.
“Aku meminta kamu datang kemari bukan untuk membicarakan masalah pelatihan, mas.”
Dan meski aku tidak melihatnya, tapi bisa kurasakan air muka Jendra yang berubah dari gerakan tangan kanannya yang memegang sendok. Sementara aku sibuk menata pikiranku dan memalingkan wajah dari pria itu.
“Alia,”
Kali ini kuberanikan diri untuk menatapnya dan memperhatikan wajah Jendra yang entah kenapa semakin berubah sejak tiga bulan yang lalu. Sejak terakhir kali kami bertemu di perpustakaan umum akhir bulan desember tahun lalu Ah, mungkin aku saja yang sedang melankolis hingga merasa kalau wajah Rajendra terlihat asing bagiku.
“Kacau yang seperti apa maksud kamu?”
Dan dia masih bertanya seolah kami masihlah sepasang kekasih yang begitu bahagia dengan bunga-bunga cinta ditaman kasih kami.
“Katakan apa yang kacau dari hubungan kita, Alia.” Sambungnya setelah sekian menit dan aku masihlah diam tanpa berniat menjawab pertanyaannya.
“Dan kamu memang belum menyadarinya ternyata.” Gumamku yang kusambung dengan senyum getir untuk diriku sendiri. Ternyata sekian puluh hari hanya aku saja yang memikirkan tentang hubungan kami, dan aku terus bertingkah seperti perempuan bodoh yang menahan sakit hati setiap hari selama puluhan hari.
“Gimana aku bisa sadar kalau kalau kamu nggak bilang, Al?”
“Baiklah, tolong katakan padaku, mas.” Jika ini memang yang terbaik, aku yakin setelah ini perasaanku pasti akan membaik. Tapi jika ini adalah sebuah keputusan yang salah, maka biar kucari waktu untuk memperbaiki kesalahan ini. “Apa sesuatu yang normal kalau kita bahkan tiga bulan tidak bertemu, sementara kita tinggal di kota dan daerah yang sama? Apa bagi kamu ini sesuatu yang biasa saja saat dua orang yang mengaku berpacaran tapi sama sekali tidak mempermasalahkan intensitas pertemuan dan komunikasi kita?”
__ADS_1
“Dan kamu mempermasalahkan intensitas pertemuan kita? Ya ampun, Alia. Toh kita bukan anak SMA yang harus bertemu setiap minggu dan berkencan ke taman kota.” Kali ini aku mulai bisa merasakan aura gelap yang mulai menguar dari tubuh Jendra. Sebuah aura yang belum pernah kurasakan selama tiga tahun aku mengenal pria ini. ya, sebab selama ini aku mengenal Rajendra Yudhistira sebagai pria baik hati yang gemar sekali berkelakar untuk membuat teman-temannya tertawa.
“Sepertinya kamu lupa mas kalau diluar sana banyak sekali hubungan yang berhenti karena sebuah ‘intensitas pertemuan’.” Sungguh, ini berat sekali. Lebih berat dari yang kubayangkan sebelumnya. “Dan mungkin kita akan menjadi bagian dari mereka.”
“Alia,”
“Kupikir bukan hanya anak SMA saja yang butuh bertemu dan membicarakan banyak hal dengan pasangan mereka, mas. Kurasa siapapun akan merasa jengah jika setiap hari hanya ditanya ‘sedang apa’ tanpa benar-benar dipedulikan oleh pasangannya.”
"Lalu bagaimana dengan pasangan Long Distance Relationship? Mereka bahkan tidak pernah bertemu sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun, Al. Dan mereka baik-baik saja."
Kali ini aku mendengus kesal dan menundukkan kepala beberapa saat. Rasanya aku butuh banyak tambahan oksigen sekarang.
"Kenapa kamu membuat diri kamu terlihat bodoh, mas?"
"Al,"
"Dari namanya saja, jelas mereka menjalin hubungan dimana mereka dan pasangan mereka hidup di kota atau bahkan negara yang berbeda, lalu kamu membuat perumpamaan itu untuk hubungan kita?"
Tidak ada kalimat apapun yang keluar dari mulut Jendra meski saat ini wajahnya terlihat semakin gusar.
Tapi perempuan mana yang masih mampu peduli pada air muka pacarnya saat hatinya sendiri sedang begitu pongah dengan perasaan ‘paling benar sendiri’ yang sedang bercokol begitu kuat? Aku hanya merasa kalau aku berhak marah pada Jendra sebab selama ini kupikir aku tidak pernah meminta apapun pada pria ini. Hanya saja, aku lupa jika saat aku meminta waktu milik Jendra itu artinya aku sedang meminta sesuatu yang begitu berharga dari pria itu.
“Aku peduli pada kamu, Al. itulah kenapa aku bertanya setiap saat.”
“Oh ya? Coba sekarang tanyakan pada hati nuranimu, mas. Benarkah kamu peduli atau hanya menganggap itu sebagai kewajiban? Jika jawabannya adalah kamu benar-benar peduli, berarti ada yang salah dengan hatiku.”
Butuh beberapa menit hingga aku berhasil mengendalikan hati dan lidahku hingga tidak harus terus mencecari Jendra dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak pernah terpikirkan olehku. Aku tidak tahu kalau seorang Alia yang selama ini terkenal lemah lembut bisa mengucapkan kalimat seperti itu pada pria baik hati yang bersedia menjadikannya pacar sementara diluar sana banyak sekali perempuan-perempuan cantik yang begitu potensial untuk dijadikan kekasih oleh Jendra.
“Kamu mau kita seperti apa?”
“Aku mau berhenti, mas. Aku baru sadar kalau aku sudah terlalu lelah selama ini.”
Dan, benarkah kalimat itu yang selama puluhan hari tertahan diujung lidahku hingga membuatnya kelu sendiri? Benarkah keputusan ini yang ingin kuambil untuk menyelesaikan apa yang sebenarnya tidak pernah kumulai?
__ADS_1
* * * *