DIORAMA

DIORAMA
21. Mengeja_r Asa


__ADS_3

Bandung, Agustus 2016


Aku tidak menyesalinya


Aku mengatakannya dan aku tidak menyesalinya


Entah sudah berapa kali aku merapalkan kalimat itu untuk diriku sendiri sejak aku memasuki gerbong kereta dan kereta membawaku menjauh dari stasiun Yogyakarta beberapa jam yang lalu. Bukan, nyatanya aku bahkan sudah merapalkan kalimat itu sejak lebih dari seminggu yang lalu. Sejak pertemuan terakhirku dengan Evan di perpustakaan sore itu dan apa yang kukatakan pada pria itu. Ya, aku memang mengakatannya pada Evan semua yang kurasakan. Tentang perasaanku padanya, juga tentang ketakutanku. Meski aku tidak yakin apa semua itu cukup untuk disebut sebagai sebuah pengakuan atau hanya sebagai bahan obrolan semata.


'Bagaimana itu bisa disebut sebagai sebuah pengakuan jika setelahnya, Evan justru merasa gusar denganmu, Alia?'


Tapi, bukan berarti bahwa sebuah pengakuan itu harua membawa kebahagiaan kan? Aku sudah memutuskanya dan sekarang aku mengakui keputusanku pada Evan Adiatma.


“Apa maksud kamu, Al?” aku bahkan masih ingat betul ekspresi wajah Evan sore itu saat aku mengatakan tentang keputusanku untuk bekerja ke luar kota.


“Aku akan berangkat ke Bandung minggu depan, mas.”


“Sungguh, Alia. Di Jogja banyak sekali pekerjaan yang bisa kamu kerjakan. Kenapa harus pergi ke Bandung?”


Lamat-lamat kuperhatikan raut wajah Evan dan mengikuti gerakan tangan pria itu saat melepas kacamatanya dan meletakkan benda itu tepat di samping gelas minumannya yang masih penuh. Menarik napas dengan gusar sebelum kembali memusatkan perhatiannya padaku. Dan aku, aku sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Evan saat aku sendiri sadar betapa perasaan pria ini kacau karena kabar yang kusampaikan padanya.


Tapi kupikir ini jauh lebih baik dibandingkan menyembunyikan rencana kepindahanku ke Bandung dan membiarkan Evan berspekulasi bahwa aku akan tetap berada di Jogja. Hal itu hanya akan melukai perasaab pria itu lebih dalam lagi. Dan setelah ini, aku akan berpasrah dengan semua keputusan Evan terkait perasaanya.


“Kenapa kamu justru pergi setelah kamu mengaku kalau kamu,..” sekali lagi aku hanya bisa memperhatikan Evan yang mengusap wajahnya dengan gusar. “Setelah kamu mengaku kalau kamu jatuh cinta padaku.” sambung Evan yang membuatku terdiam.


Benar juga, jika dipikirkan kembali, aku tak ubahnya anak kecil yang mengambil kembali mainan yang baru saja kuberikan pada temanku. Aku memberikan mainan itu padanya, tapi pada akhirnya aku rebut kembali mainan itu untuk kemudian kuhancurkan.


'Seharusnya tidak perlu kamu akui perasaan kamu pada pria ini, Alia. Dan semua akan berjalan lebih ringan saat Evan masih menganggapmu sebagai seorang teman.'

__ADS_1


Aku tidak yakin jika pengakuanku beberapa menit yang didalam perpustakaan lantas bisa mengubah perasaan pria itu dengan sekejap mata. Hanya saja, memang ada sesuatu yang kulihat begitu mengganggu pria itu hingga membuatku kehilangan kalimat. Aku merasa bersalah.


Satu menit, dua menit aku lupa sudah berapa menit yang kubiarkan berlalu tanpa adanya suara antara aku dan Evan. Aku yang menarik napas dalam sekali lagi dan Evan yang mengalihkan pandangannya dariku. Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka kalau pertemuan kami kali ini akan menjadi seperti ini. Tapi ditarikan napasku yang kesekian kalinya, aku sadar kalau aku tidak bisa mengulangi kesalahan yang sama dengan membiarkan waktu menjelaskan semuanya pada kami. Waktu tidak bisa menjelaskan sebab waktu hanya bisa memberi kesempatan.


“Mas,” kuberanikan diri menyentuh punggung tangan Evan dan meminta pria itu menoleh kearahku. “Tidakkah kamu ingin memberiku waktu sebentar lagi? Sampai aku benar-benar yakin.”


Ya, sebab dalam pemahamanku saat ini, perkara cinta bukanlah perkara sesederhana aku yang mengakui perasaanku pada Evan dan pria itu menerimanya. Tidak, setelah apa yang kualami dimasa lalu, aku tidak bisa memandang cinta dengan cara yang sama lagi. Butuh pemahaman dan keyakinan bahwa apa yang kurasakan terhadap Evan Adiatma memang suatu rasa yang kusebut cinta. Butuh pemahaman untuk membuatku yakin kalau apa yang kurasakan bukan hanya persoalan aku merasa nyaman bersama Evan sebab pria selalu memperlakukanku dengan sangat baik.


Itulah kenapa aku merasa perlu untuk menepi dan menemukan pemahaman yang tidak kudapatkan saat aku bersamanya. Aku hanya ingin meyakinkan diriku bahwa apa yang kurasakan terhadap Evan bukan perasaan sentimentil yang muncul dari seorang perempuan yang masih patah hati karena pernikahan mantan pacarnya. Aku ingin meyakinkan diriku kalau aku benar-benar mencintai Evan bukan atas dasar pelarian.


Bukankah seindah apapun huruf terukir, tidak akan bermakna bila tidak ada jeda diantaranya? Bukankah dua orang baru bisa saling menyayang bila ada ruang? Dan manusia bisa saling mencintai dengan saling memahami.


“Berapa lama kamu ada disana?” tanya Evan tak urung juga. Membuatku menarik ujung bibirku dan mengulum senyum tipis dan memperhatikan tangan kanan Evan yang menggenggam tanganku.


“Sampai aku benar-benar yakin dengan perasaanku, dengan kehidupanku.”


“Apa sejauh ini aku belum mampu membuat kamu yakin, Al?” sekali lagi kutarik napas dalam dan menyentuh gelas minumanku dengan ujung jari.


“Apa kamu terganggu oleh kenyataan kalau aku adalah atasan Jendra, Jendra adalah mantan pacarmu, dan kami selalu berinteraksi setiap hari?”


“Nyatanya aku memang tidak bisa mengabaikan kenyataan itu begitu saja.”


“Alia.” Lagi-lagi Evan hanya menarik napas dalam menghembuskannya kembali dengan kasar meski pria itu seperti tidak berniat melepaskan tanganku dari genggamannya. “Kamu bisa mengabaikannya. Sungguh, kamu hanya perlu bersikap sebagai perempuan yang kupilih, bukan sebagai mantan pacar dari rekan kerjaku.”


“Boleh kutanya sesuatu pada kamu, mas?” dan aku tidak menunggu persetujuan Evan untuk melanjutkan. “Bagaimana perasaan mas Evan terhadapku?”


“Aku menyukai kamu, Alia. Bahkan sebelum kamu bertanya, aku sudah jatuh cinta pada kamu.”

__ADS_1


“Rasa suka dan rasa cinta yang seperti apa?”


“Aku menyukai kamu karena kamu adalah Alia. Dan aku jatuh cinta pada kamu karena kamu adalah gadis yang kulihat sore itu dipelataran parkir gedung tempatku bekerja dan gadis yang membuatku tidak mampu berpaling.” Untuk beberapa saat mataku memanas mendengar jawaban Evan hingga tanpa sadar aku menarik tanganku dari genggamannya dan menyeka ujung hidungku yang entah kenapa terasa gatal. “Sedikit saja, apa kamu tidak ingin percaya padaku, Al?”


“Tidak, aku percaya pada kamu, mas. Aku justru ragu dengan perasaanku sendiri.”


“Alia,”


“Aku takut kalau perasaan yang kurasakan saat ini tidak lebih dari perasaan yang muncul dari perempuan sentimentil kepada pria yang dekat dengannya. Aku takut kalau perasaan yang kurasakan saat ini tidak lebih dari sebuah ego yang menjadikan kamu sebagai pelarianku dari Jendra. Aku takut tidak bisa membalas perasaan kamu dengan perasaan yang sama, mas.” Cecarku dengan kalimat yang ditelingaku sekalipun terdengar rancu dan berantakan.


“Rasanya menyebalkan sekali saat hati kecilku mengatakan kalau aku jatuh cinta pada kamu, egoku justru mengatakan kalau aku hanya menjadikan kamu sebagai pelarian. Dan aku takut kalau egoku-lah yang benar dan hati kecilku salah.”


“Tidakkah kamu tahu kalau hati kecil itu tidak pernah salah, Alia?”


“Itulah kenapa aku butuh untuk menepi, mas. Aku butuh untuk menjauh dari kamu agar aku benar-benar yakin kalau apa yang kurasakan bukan sekedar ego dari perempuan yang butuh pelarian.”


Beberapa detik kami saling terdiam dan seperti mencoba menebak isi hati masing-masing dari kami. Meski hingga hampir semenit penuh aku memilih diam dan menunggu Evan memulai kemballi pembicaraan kami.


“Apa menjauh menjadi satu-satunya cara?”


“Kalau saat menungguku mas merasa jenuh dan menganggap kalau menungguku tidak lebih dari hal sia-sia, kamu boleh menyerah, mas.”


“Apa yang kamu bicarakan, Alia? Bagaimana aku bisa menyerah kalau sejak awal aku bahkan sudah menginginkan kamu?”


“Mas,”


“Kalau ada libur panjang, aku akan mengunjungi kamu di Bandung.”

__ADS_1


Kalau sudah begini, bagian mana lagi yang membuatku ragu kalau perasaan yang kurasakan terhadap pria ini tidak lebih dari sebuah ego yang muncul dari perempuan muda yang sedang patah hati? Bagian mana lagi yang membuatku ragu kalau aku benar-benar jatuh cinta pada pria ini?


* * * * *


__ADS_2