
Yogyakarta, Mei 2016
Cuaca panas dibulan mei bukan hal yang asing hingga aku harus terus mengeluh seperti orang yang tidak bisa bersyukur. Itulah kenapa aku memilih untuk menepikan motor maticku dan masuk kedalam halaman parkir sebuah supermarket untuk menghindari panas yang menyengat. Yah, kupikir menepi dan menikmati semangkuk es campur di food court supermarket adalah ide yang lebih baik dibandingkan terus menggerutu karena cuaca yang bagitu panas.
Hujan sudah mulai jarang turun di penghujung bulan mei seperti sekarang ini meski gerimis masih turun sesekali. Perkerjaanku juga sudah selesai sejak seminggu yang lalu dan aku hanya butuh untuk melakukan perbaikan data bila pengawas menemukan data yang janggal dari pekerjaanku. Itulah kenapa aku bisa berkeliling kota dengan sepeda motor seorang diri seperti gadis aneh. Ya, memang aneh sekali setiap kali aku berhenti di perempatan jalan dan mendapati sepasang anak muda berboncengan diatas sepeda motor sementara aku harus pergi kemanapun seorang diri.
Semua masih berjalan normal meski terkadang ada beberapa hal yang membuatku melamun seketika dan berubah dari Alia yang logis menjadi Alia yang begitu mengedepankan perasaan.
Semua masih berjalan normal meski terkadang aku merasa bahwa waktu berjalan begitu cepat hingga terkadang aku sulit sekali mengimbangi ritmenya. Aku dan Evan masih sering bertemu di perpustakaan umum meski tidak setiap hari datang karena aku punya pekerjaan dan aku juga tahu Evan bukan seorang penganguran.
Semua masih berjalan normal meski banyak sekali hal-hal yang mengejutkanku. Termasuk kejutan yang datang dari Evan.
“Aku bekerja di gameloft, sudah sekitar tiga setengah tahun.” Dan itu adalah kejutan pertama yang kudengar dari Evan saat aku menanyakan dimana pria itu bekerja dihari dia mengantarku pulang.
Evan bekerja di gameloft, dan itu artinya pria itu bekerja di kantor yang sama dengan Jendra. Dan kenyataan itu tak urung membuatku menarik napas dalam setiap kali mengingatnya.
Bagaimana dengan Jendra? Aku tidak tahu pasti bagaimana kabarnya sebab kami sudah benar-benar kehilangan kontak satu sama lain. Lagipula tidak ada hal yang harus kami bicarakan hingga kami harus terus saling berkomunikasi. Kami sudah selesai, itu yang kutahu. Meski terkadang ada bagian dari hatiku yang maish mengharapkan pertemuan dengan pria itu dan membicarakan beberapa hal yang mungkin memang perlu untuk kembali kami bicarakan. Tapi itu hanya perasaan sesaat sebelum aku kembali sadar jika pemikiran seperti itu hanya akan membuatku kembali menoleh kebelakang dan usahaku untuk move on kembali gagal.
“Gameloft?”
“Iya, dan aku sempat bertanya-tanya apa yang kamu lakukan ditaras gedung sore-sore begitu karena aku yakin kamu bukan salah satu karyawan gameloft.”
‘Aku sedang menunggu pacarku, -yang sekarang sudah menjadi mantan- melakukan wawancara kerja, mas.’
Tapi aku belum segila itu untuk mengatakan kejujuran itu pada Evan dan membuat kami menjadi canggung dihari pertama perkenalan kami. Itulah kenapa aku hanya bergumam tentang betapa dunia tidak seluas perkiraanku tanpa berniat menanggapi kalimat pria itu.
“Oh, aku memang belum bilang ya? Waktu itu aku sedang menunggu temanku wawancara di gameloft.”
“Yang benar? Jadi ada temanmu yang bekerja di gameloft?”
“Begitulah.”
“Siapa namanya? Mungkin aku mengenalnya.”
Ya, semua memang masih berjalan normal kecuali perasaanku yang tiba-tiba menjadi kalang kambut sendiri setiap kali mengingat kalau Evan dan Jendra bekerja di satu tempat yang sama dan membayangkan kalau kemungkinan dua pria itu saling mengenal.
Apa yang kutakutkan? Tidak ada. Hanya saja rasanya menyebalkan sekali saat aku berusaha keras untuk melupakan seseorang di masa lalu, tapi orang yang sekarang ada didekatku justru selalu mengingatkanku pada masa lalu itu. Tidak hanya sekali, tapi setiap kali aku bertemu dengan Evan, setiap kali itu pula aku selalu teringat gameloft, dan mengingat gameloft sama saja aku mengingat Jendra.
“Namanya? Nama siapa?” aku bahkan begitu menyesali keputusanku untuk membuka obrolan tentang pekerjaan di gameloft dengan Evan saat pria itu terlihat begitu bersemangat bertanya tentang siapa nama temanku yang bekerja di tempat itu. Dan aku butuh waktu hingga lebih dari lima detik untuk sekedar memikirkan apa aku harus menjawab pertanyaan Evan atau mengalihkan perhatian pria itu.
“Nama teman kamu.”
“Namanya Jendra. Rajendra Yudhistira.” Tapi aku menjawabnya juga. Aku tidak tahu kenapa, tapi kupikir aku tidak ingin menciptakan sebuah kebohongan dimana nantinya aku pasti harus mencari kebohongan yang lain dimasa depan.
“Rajendra? Astaga, kenapa semua bisa kebetulan seperti ini?” aku bahkan sampat menahan napas beberapa detik saat Evan tertawa menanggapi jawabanku. Tawa yang membuatku berpikir kalau memang aka nada kejutan lain dari pria disampingku ini. “Rajendra salah satu anggota timku yang memang baru bergabung sekitar lima bulan yang lalu.”
__ADS_1
“Begitu?” aku sempat berpikir tentang bagaimana Evan tidak menyadari bahwa orang yang menjemputku tempo hari di perpustakaan dihari aku menerima pesan singkat darinya adalah Jendra? Apakah saat itu Evan tidak melihat figure Jendra atau pria ini memang lupa? Ah, aku akan menanyakannya lain waktu.
“Ya, kadang aku penasaran bagaimana semesta mengatur pertemuan antar manusia dengan begitu sempurna.” Ucapnya lagi setengah bergumam. Menarik napas pelan sebelum mengijinkanku untuk turun dan lagi-lagi meminta maaf karena sudah menahanku hingga setengah jam di dalam mobilnya. Bagaimana perasaanku? Aku sendiri tidak tahu. kenyataan kalau Jendra adalah salah satu anggota tim Evan di tempatnya bekerja membuatku merasakan bermacam-macam perasaan yang aku sendiri bahkan tidak bisa menguraikannya.
Benar juga, nyatanya semesta memang mengatur pertemuan antar manusia satu dengan yang lainnya dengan begitu sempurna hingga terkadang luput dari logika. Biarlah, kuikuti saja maunya semesta dan mempersilahkan waktu mengambil alih untuk menjelaskannya.
____________
Kutarik napas dalam sekali lagi dan menatap nanar semangkuk sup buah dihadapanku yang bahkan belum kusentuh sejak diantar oleh pramusaji lima belas menit yang lalu. Keinginan untuk menikmati dinginnya es dan segarnya potongan buah didalamnya lenyap seketika saat ingatanku tiba-tiba saja memutar percakapanku dengan Evan tempo hari.
“Bukan salah kamu kalau ternyata Evan dan Jendra bekerja ditempat yang sama bahkan mereka tergabung dalam satu tim. Kamu dan Evan di pertemukan oleh takdir, sesederhana itu sih.”
Bahkan pembelaan Kamila seminggu yang lalu saat aku menceritakan padanya tentang situasiku tidak lantas membuatku berhenti merasa bersalah. Memang benar bukan salahku kalau ternyata Evan dan Jendra adalah rekan kerja, tapi tetap saja aku tetap saja merasa kalau aku melakukan kesalahan meski aku sendiri tidak tahu kesalahan apa yang telah kuperbuat.
Dan aku nyaris melompat dari kursiku saat ponselku bergetar diatas meja. Membuatku menggerutu kesal sebelum melirik nama yang tertera pada layar ponselku.
“Assalamu’alaikum, mas Evan.” Dan pria itu seperti bapak peri baik hati yang entah kenapa seperti tahu kalau aku sedang memikirkannya hingga dia perlu untuk meneleponku. Membuatku salah tingkah untuk beberapa saat sebelum menemukan ketenangan begitu ujung jariku menyentuh permukaan mangkuk es buahku.
“Wa’alaikumussalam, aku sedang bertanya-tanya apa sekarang kamu punya waktu luang? Maksudku sekarang jam makan siang dan kupikir kamu sedang tidak bekerja.” begitulah Evan Adiatma dengan sifatnya yang to the point dan tidak suka basa-basi. Membuatku tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaannya yang menurutku justru terdengar bertele-tele.
“Kamu sedang berbicara dengan seorang pengangguran mas, kalau kamu lupa. Dan ya, seorang pengangguran memang selalu punya waktu luang. Kalau mas Evan sedang mencari partner makan siang, maka mas menghubungi orang yang tepat.”
“Good, kamu dimana sekarang? Biar kujemput. Aku masih dikantor sih, maksudku ini sedang turun dari lantai lima.”
“Oh wait, apa aku sedang mengajak seseorang makan siang sementara orang yang kuajak sedang ada di food court? Bersama seseorang?”
“Selain pengangguran aku juga seorang perempuan single mas Evan, dan tentu saja perempuan single sepertiku tidak punya pasangan yang kuajak makan siang bersama.”
“Kalau begitu calon pasanganmu akan tiba dalam…lima belas menit. Tunggu disana ya. Bye. Oh ya, jangan pesan makanan dulu. Biar nanti pesan bersama-sama. oke?”
“Siap kapten.!”
Semua orang pasti akan berpikir kalau aku adalah tipikal perempuan gampangan yang bisa dengan begitu mudah akrab dengan seorang pria dalam waktu satu bulan saja sementara dua bulan sebelumnya aku baru putus dari pacarku. Sebenarnya tidak juga, aku bahkan mengaku kalau aku bukan tipikal orang yang bisa dengan cepat menjadi akrab dengan kenalan baru. Butuh waktu lama untukku setiap kali mencoba akrab dengan orang yang baru kukenal. Tapi Evan, entah bagaimana caranya membuatku merasa kalau kami adalah teman lama yang kembali dipertemukan dan cepat sekali membuatku merasa nyaman didekatnya. Bahkan setiap kali aku bersama dengan pria itu entah di perpustakaan umum, dalam perjalanan saat pria itu mengantarku ke halte, atau sekedar makan siang bersama, Evan bisa membuatku merasa aman setiap kali bersamanya.
Aku tidak tahu harus kunamai apa perasaan yang Evan munculkan ini, sebab aku masih terus mencoba menelaahnya dan membuat diriku mengerti. Lagi-lagi, kisah ini masih jauh dari penghujungnya hingga rasanya aku belum pantas untuk memberi definisi untuk rasa yang kurasakan setiap kali bersama Evan, atau rasa yang tersisa dari Jendra.
“Hai,” sapaku begitu Evan berlari-lari kecil menuju kearahku dengan sebuah kunci mobil ditangannya yang kupikir belum sempat pria itu masukkan kedalam saku celananya. Untuk beberapa detik aku sempat mengamati penampilan Evan yang entah kenapa selalu bisa membuatku menaikkan penilain terhadapnya. Jelas yang dipakai Evan hari ini hanya kaus polo hitam dan celana khaki dan sebuah jam tangan kulit melingkar di pergelangan tangan kirinya, hanya saja penampilan sederhananya itu justru membuatnya terlihat, tampan.
“Terlambat lima menit dari janji awal. Maaf ya.”
“Kamu tidak harus meminta maaf untuk lima menit keterlambatan, mas.”
“Kamu sudah memberiku waktu, Al. Jadi kupikir aku harus menghargai waktu yang kamu berikan itu.”
Ada satu bagian dari hatiku yang tiba-tiba saja mencelos saat mendengar Evan meminta maaf untuk lima menit keterlambatannya.
__ADS_1
‘Sebelum ini bahkan ada seseorang yang tidak hanya terlambat lima menit, mas. Dia tidak menepati janjinya. Tapi dia bahkan tidak sekalipun meminta maaf padaku.’
Tapi alih-alih mengatakan kalimat itu pada Evan, aku justru tersenyum dan memilih untuk menyebutkan menu pesananku saat seorang perempuan pramusaji datang menghampiriku dan Evan. Untuk saat ini biar saja kunikmati semua pergolakan perasaan yang kurasakan ini. Kupikir setiap jengkal rasa sakit dan bahagia akan membantuku untuk tumbuh.
“Dan, boleh kutahu kenapa mas Evan memilih mengajakku makan siang alih-alih mengajak pacar kamu sendiri? Kalau alasannya adalah pacar mas Evan sedang sibuk dan kebetulan kamu sedang tidak punya teman makan, maka aku akan sangat tersinggung.” Mulaiku sebelum memasukkan gulungan mi ayam digarpuku dan memperhatikan Evan yang nyaris tersedak potongan bakso dimulutnya.
“Pertama aku tidak tahu kalau kadang-kadang mulut kamu bisa tajam juga, Al.” aku hanya mengangkat bahu dan membiarkan Evan melanjutkan kalimatnya. Ya, harus kuakui kalau aku memang sedang memancing Evan untuk mengakui hubungan romantismenya padaku. Rasanya benar-benar menyebalkan saat aku terus bertanya-tanya tentang hubungan romantisme pria itu sementara hampir setiap hari kami bertukar pesan dan beberapa kali bertemu dan menghabiskan waktu bersama-sama. “Yang kedua, dengan bangga aku akan mengaku kalau aku adalah tipikal pria yang setia, jadi apa kamu pikir pria setia akan mengajak perempuan lain makan siang hanya karena pacarnya sedang sibuk?”
Kali ini aku yang tertawa mendengar narasi Evan yang begitu bertele-tele.
“Apa semua programmer suka bertele-tele seperti kamu, mas?”
“Tidak. Kalau kamu mau tahu, sebenarnya aku tipikal orang pendiam. Aku juga tidak tahu kenapa bisa cerewet begini setiap kali bersama kamu.”
“Jadi intinya?”
“Intinya? Tidak ada pacar yang akan merasa tersakiti hanya karena aku makan siang dengan kamu karena aku sama seperti kamu, single. Dan ya, aku memang jarang sekali punya teman makan sampai terkadang aku mempertanyakan kemampuan sosialisasiku di kantor.”
Aku hanya tertawa kecil sebelum menyesap air dari dalam gelasku untuk menutupi wajahku yang entah kenapa terasa panas. Ada sebuah perasaan lega saat Evan mengatakan dirinya single dan tidak terlibat hubungan romantisme apapun dengan perempuan manapun.
“Kupikir semua orang akan berubah saat keadaan mendesaknya untuk berubah.” Gumamku sembari mendorong mangkuk mi ayamku yang hanya tersisa sedikit kuah dan beberapa lembar sawi didalamnya. Memperhatikan mangkuk bakso Evan yang juga sudah kosong sejak beberapa menit yang lalu. “Maksudku, seseorang yang pendiam bisa saja berubah menjadi cerewet saat keadaan mendesaknya untuk menjadi cerewet.”
“Kalau alasannya adalah orang lain yang membuatnya berubah, bagaimana?”
“Itu kasus yang lebih istimewa lagi menurutku.”
“Kenapa?”
“Seseorang yang berubah untuk orang lain. Itu artinya orang itu hanya berubah demi ‘seseorang’ yang istimewa baginya kan? Tidak untuk semua orang dan tidak pada semua keadaan.” Kuperhatikan Evan yang menyesap jus lemon dari gelasnya dan menautkan kedua tangannya diatas meja seolah kalimatku adalah sesuatu yang sangat menarik baginya. “Seseorang yang berubah karena orang lain. Entahlah mas, aku hanya merasa kalau itu alami sekali dan…”
“Dan istimewa sekali.” Potong Evan dan membuatku mengangkat wajah untuk membalas tatapannya dari balik kacamata. “Kamu benar Al. Seseorang berubah karena orang yang berarti datang dalam kehidupannya, atau orang yang berarti pergi dari kehidupannya. Dan apa kamu percaya saat aku bilang kalau kamu adalah orang yang berarti untukku?”
Tiba-tiba saja aku merasa kalau udara disekitarku menipis dan membuatku sesak napas saat kusadari tatapan Evan tidak bergeser sesentipun dariku dan membuatku tidak mampu membalas tatapannya lebih dari tiga detik. Meski pada akhirnya aku mampu menata perasaanku dan membalas tatapan Evan dengan seulas senyum tipis.
“Aku percaya, mas. Sebab dalam pandanganku, setiap orang yang bertemu denganku, orang yang bersinggungan denganku, adalah orang-orang yang memang Allah takdirkan untuk memberi pelajaran untukku.”
“Ya, kamu benar, Al.”
Lagi-lagi senyuman itulah yang membuatku merasa bahwa tidak ada dinding pembatas antara aku dan Evan meski kenyataannya kami baru saling mengenal kurang dari dua bulan.
‘Mungkin pria ini yang akan memberimu banyak pemahaman tentang sebuah hubungan, Al. Tentang penerimaan, juga tentang merelakan.’
Entahlah, bukankah sudah berulang kali kukatakan kalau kisah ini masih jauh dari penghujungnya? Dan hati seorang hamba bisa berbalik hanya dalam hitungan detik.
* * * * *
__ADS_1