
Yogyakarta, Januari 2019
Bersama hujan, seolah semua kenangan yang tersimpan pada kompartemen ingatanku terputar tanpa kusadari. Kenangan tentang kehidupanku bersama Jendra dimasa lalu, kenangan tentang pertemuan pertamaku dengan Evan, juga kenangan tentang pertemuan-pertemuan kami setelahnya.
Bersama hujan, setiap rintiknya yang memaksaku untuk jujur dan setiap percikan airnya yang membasahi wajahku yang memaksaku untuk mengaku. Tentang perasaanku, tentang keinginanku, juga tentang bahagiaku.
Bersama hujan, dan segalanya memang berjalan seperti seharusnya. Seperti genangan air yang mengudara hingga menjadi awan, berkelana mencari peraduan, hingga jatuh dan membasahi jiwa yang merindukan. Ah, bukankah kisah ini juga sama seperti hujan? Berawal dari sebuah pertemuan, berkelana bersama perasaan, pelarian mencari peraduan, hingga pulang saat menemukan dia yang memang seharusnya kutemukan.
Sama seperti hujan, rintiknya yang jatuh dan saling bergandengan sama seperti kau dan aku. Berlari saling memunggungi, bersua dan bersitatap. Meski sempat kau dan aku berhenti menyapa, pada akhirnya kau dan aku kembali pada peraduan yang sama. Ya, sebab sejak awal kau dan aku memang telah bersama, kau dan aku memang ditakdirkan untuk menjadi kita.
Seperti hujan, berkelana dan mengudara bersama sang awan, namun tetap akan kembali pada peraduan. Bersama-sama hingga waktu bergulir dan membuatnya tiada.
“Jangan pergi lagi.” masih jelas kuingat kalimat Evan yang pria itu ucapkan padaku pagi itu. Dipagi hari saat kami duduk berdua ditaman belakang rumah Evan dengan dua cangkir teh yang bahkan tidak kusentuh sama sekali. Dan pagi itu, bersama matahari yang perlahan meninggi, aku paham bahwa bersama dengan pelarianku, Evan terluka begitu dalam meski pria itu tetap memilih untuk menungguku kembali. “Aku tidak akan tahu apa yang akan kulakukan kalau kamu memilih untuk meninggalkanku lagi.”
Alia yang meninggalkan Evan. Ah, selama ratusan hari aku berlari dari Evan, aku bahkan luput memikirkan bahwa dengan pelarianku itu artinya aku telah meninggalkan Evan.
“Aku tidak akan meminta terlalu banyak, Al. Cukup kamu jangan pergi lagi. Tetap disampingku dan jangan kemana-mana, hm?” entah berapa menit Evan berjongkok dihadapanku dan menggenggam kedua tanganku. Membuat lidahku semakin kelu dan dadaku yang semakin sesak.
“Aku pulang, mas.”
Pulang. Lagi-lagi aku luput memikirkan satu hal, bahwa semenjak aku memutuskan untuk berlari, satu-satunya yang kuinginkan hanyalah pulang. Merebahkan badan dan memulihkan hati yang terlalu lelah kupecundangi sendiri.
“Terima kasih karena sudah kembali pada Evan, nak.”
Kala itu, aku bahkan nyaris terlonjak karena kaget saat tanpa sepengetahuanku, Kalingga Adiatma, ayah Evan yang beberapa jam yang lalu telah menjadi ayah mertuaku tiba-tiba saja sudah duduk disampingku dengan segelas minuman dingin ditangannya. Kalau boleh jujur, aku bahkan sempat merasa takut saat untuk kedua kalinya Evan mengajakku kerumahnya dan bertemu dengan keluarganya dua bulan lalu. Aku takut dengan kondisiku yang saat ini, keluarga Evan tidak akan menerimaku seperti penerimaan mereka pada pertemuan pertama kami. Aku takut sebab aku telah melukai putra pertama keluarga Adiatma begitu dalam karena pelarianku.
“Terima kasih karena sudah bersedia menemani Evan menghabiskan sisa waktunya.”
“Terima kasih karena sudah menerima Alia, pa.”
__ADS_1
Awalnya aku sempat ragu saat Evan menentukan tanggal pernikahan kami tepat pada tanggal 1 januari tahun 2019. Lagi-lagi kondisiku yang seperti ini berulang kali membuatku merasa bahwa aku tidaklah pantas untuk menjadi istri Evan dan menjadi bagian dari keluarga Adiatma.
“Dari sekian banyak orang yang menilai kamu, hanya aku yang akan menjadi suami kamu, Al. Hanya aku yang akan menghabiskan hari-hari bersama kamu dan mendengar cerita-cerita kamu.”
Mudah memang mengatakan hal seperti itu sebab Evan tidak pernah merasakan berada diposisiku. Evan selalu mendapat peran sebagai pangeran tampan dan kaya raya sementara aku hanyalah upik abu. Evan tidak pernah merasakan bagaimana pergolakan batin yang kurasakan semenjak dokter Aslan menyampaikan berita perihal kaki kiriku dan bagaimana aku berusaha untuk berlapang dada menerima semuanya.
“Kamu sudah berjuang sejauh ini, Al. Tidak layak kalau kamu kembali menyerah dan memutuskan untuk kembali berlari dari Evan.” Bahkan Mika juga mulai bisa merangkai kalimat seperti itu dan memaksaku untuk tersenyum tipis. Benarkan apa yang kulakukan selama ini adalah sebuah perjuangan? “Sebab sejauh apapun kamu berlari, seseorang yang akan menjadi rumah kamu tetaplah Evan. Sebab kalian sudah berjodoh dan pada malam inilah Allah menjodohkan kalian dalam ikatan yang mulia dan sempurna.”
Perkara jodoh itu terlalu rumit kalau manusia mencoba untuk menelaahnya. Pun begitu denganku yang terlalu kedil untuk mampu memaknai perkara jodoh meski seringkali kutulis diksi-diksi indah perihal jodoh dalam tulisanku. Yang pasti, perkara jodoh itu lebih indah dari diksi-diksi para susastra, sebab jodoh itu ada dalam ranah Dia yang maha segalanya.
Sama seperti aku yang sempat begitu yakin pada Evan namun kemudian memilih untuk lari dan menjauh, tapi pada akhirnya pria itu pula yang menjadi peraduanku.
* * * * *
Yogyakarta, Penghujung Februari 2019
Hujan kembali turun saat aku membuka pintu pembatas antara ruang santai dan taman belakang rumah. Mengerutkan kening saat menyadari bahwa beberapa jam yang lalu cuaca bahkan masih begitu terik tapi tiba-tiba saja sudah turun hujan dengan derasnya. Bahkan perbukitan didepan sana terlihat seperti berkabut karena hujan yang turun begitu lebat.
Benar juga, aku bahkan ingat betul bagaimana reaksi Evan saat kami bertemu di teras perpustakaan umum tiga tahun yang lalu. Saat kami memulai obrolan pertama kami, dan obrolan pertama yang menjadi awal dari obrolan kami setelahnya. Juga pengakuanku tentang Jendra yang juga disaksikan oleh hujan.
Dan bersama hujan, aku dan Evan memulai mimpi sederhana kami. Hidup bersama dalam ikatan yang indah dengan sederhana. Sesederhana duduk berdua menanti senja dengan dua cangkir teh dan mendengar cerita-cerita yang akan mengantar kami pada malam yang perlahan menyapa. Berdua saling bercerita dan bertukar mimpi yang sebelumnya belum pernah kami bagi, juga tentang mimpi apa saja yang ingin kami raih.
“Pelan-pelan, Al. Sebab kamu baru saja terjatuh dan terluka, itulah kenapa butuh waktu untuk bangkit dan menyembuhkan luka itu.” semua orang tak terkecuali ibu yang begitu yakin dengan kehidupanku yang akan menjadi lebih baik setelah ini. Kehidupan yang bahkan berulang kali kuragukan dan entah sudah berapa kali aku ingin mengakhirinya saja.
“Dan yang perlu kamu lakukan adalah terus mencoba untuk menyembuhkannya. Bukan membiarkan luka itu terus berdarah.” Aku paham dengan teori seperti itu. Bahwa segala sesuatu memang butuh waktu.
Seperti luka yang butuh waktu untuk sembuh, seperti pecahan hati yang butuh waktu untuk kembali utuh, juga tentang diriku, tentang luka dan tentang hatiku. Hanya saja, sekali lagi aku mengaku bahwa terkadang sulit bagiku untuk menerima meski pada akhirnya aku memang hanya bisa terus berjalan sembari mencobanya. Mencoba menyembuhkan lukaku dan menjadi sembuh.
“Luka itu akan membuat kamu tumbuh. Luka itu akan menjadi pengingat agar dikemudian hari kamu bisa lebih berhati-hati, dan sebagai pengingat bahwa terkadang Allah menitipkan luka untuk agar kamu bisa menikmati rasa sakit itu.”
__ADS_1
Pengingat agar aku lebih berhati-hati. Ah, aku lupa bahwa satu-satunya bentuk ketidakhati-hatian yang telah kulakukan selama ini adalah membiarkan Evan terluka begitu dalam. Aku sudah berjanji untuk menjaga hati yang pria itu titipkan padaku, tapi aku justru menjadi satu-satunya orang yang menghancurkan hati itu.
“Tanpa kamu sadari, kamu berhutang begitu banyak maaf pada suamimu, Al.” gumamku sembari memejamkan mata dan menghela napas dalam, dan merasakan udara dingin menyusup memenuhi dadaku. Aroma hujan yang tinggal menyisakan gerimis, juga suara tetasan hujan yang sesekali masih terdengar menjadi irama yang entah kenapa begitu membuatku bahagia hingga kurasakan ujung bibirku yang memngembang.
“Tidak ada istilah berhutang maaf atau apapun yang kamu maksud itu, Al.” tepat saat aku membuka mata, dia sudah berjongkok dihadapanku dan pemandangan sisa hujan didepan sana berganti dengan senyuman itu. “Sebab saat kita sah menjadi suami istri, tanpa kamu sadari pula lembaran hidup kita sudah berganti. Seperti kertas kosong yang siap kita isi dengan hal-hal yang kita jalani bersama, hari ini dan seterusnya.”
“Mas,”
“Jadi tolong, berhenti merasa bahwa kamu harus meminta maaf padaku sebab kamu tidak pernah melakukan kesalahan.”
Benar juga, aku lupa bahwa sebuah kata maaf hanya diberikan oleh seseorang yang melakukan kesalahan. Tapi, apa segala hal yang kulakukan dimasa lalu bukan sebuah kesalahan?
“Segala hal yang terjadi dimasa lalu, biar kita simpan saja dan kita jadikan pengingat. Bahwa kita-pun pernah terjatuh sedalam itu. Sebagai bukti bahwa kita mampu bangkit dan kembali bersama-sama.”
Sebagai pengingat. Entah berapa orang yang kubutuhkan untuk mengingatkanku bahwa segala hal yang terjadi dimasa lalu adalah kehendak Allah yang harus dijadikan pengingat oleh hambaNya.
Sama seperti aku dan Evan. Pengingat bahwa aku dan Evan pernah terjatuh dan merasa putus asa hingga ingin berhenti saja. Pengingat bahwa kami pernah berjuang meski saat itu kami sama-sama saling melepas gandengan tangan. Pengingat bahwa kami pernah dikuasaki ego untuk berhenti meski pada akhirnya kami menyadari bahwa berjalan sendiri bukan pilihan pasti.
“Untuk sekali ini saja, mas.” Entah dorongan darimana, dan aku hanya ingin melakukannya sebagai sebuah penghormatan seorang istri pada suaminya. Menggenggam tangan kanan Evan dengan kedua tanganku dan menciumnya dengan segenap perasaanku. “Biarkan istri mas ini meminta maaf untuk semua yang telah dilakukannya selama ini.”
“Sayang,”
Rasanya seperti berbagai perasaan yang menggangguku selama ini tiba-tiba saja menguar bersamaan disatu waktu begitu kurasakan tangan Evan mengelus puncak kepalaku. Dan saat satu titik bening kurasakan jatuh menyusup melalui sudut mataku yang terpejam, satu perasaan muncul. Sebuah perasaan yang membuatku yakin bahwa, meski kami tidak mampu menjamin bahwa setelah ini kami akan selalu bahagia, tapi kami yakin kalau kami mampu menghadapinya selama kami selalu bersama-sama.
“Demi Allah, aku hanya ingin menjadi istri mas yang Allah ridhoi.”
“Bersama-sama kita raih ridho Allah, sayang.”
Sebab dalam pemikiran sederhanaku, saat aku telah mendapat ridho dari sang pemilik segala, maka segalanya akan menjadi lebih berkah.
__ADS_1
Dan mulai detik ini, biar semua yang terjadi diantara aku dan Evan cukup kami simpan dalam kompartemen masa lalu kami dan biar semua itu kami kenang sebagai sesuatu yang membantu kami untuk tumbuh. Mulai detik ini, biar kami berjalan dan melepaskan semua beban yang kami bawa selama ini. Aku dan Evan, bersama-sama kami berdua jalani kehidupan baru kami dengan sederhana. Sesederhana gerimis yang menjelma menjadi hujan dan menyapu habis kenangan.
* * * * *