
Kutatap lamat-lamat selembar undangan dihadapanku meski aku belum berniat menyentuhnya. Sebuah undangan warna coklat muda dengan aksen batik dan hiasan bunga kering di sudut atasnya begitu menarik perhatianku semenjak Farhan meletakkan benda itu dihadapanku.
Satu jam yang lalu, kudapati Farhan duduk di teras rumahku sekembalinya aku dari makan siang bersama Evan. Makan siang yang bahkan membutuhkan waktu hampir dua jam dan Evan yang mangkir kerja selama sejam.
“Siapa saja yang diundang, Han?” tanyaku pada akhirnya sembari memperhatikan Farhan yang menyesap kopi yang kubuatkan untuknya.
“Ndak tahu, Al. Kemarin sore Andy hanya menitipkan dua undangan. Satu untuk kamu dan satu lagi untukku.” Jelas sekali ada perasaan simpati dari suara Farhan saat menjawab pertanyaanku. Dan aku tidak perlu bertanya kenapa pria itu merasakan hal semacam itu. “Kupikir kalian baik-baik saja.”
Tidak heran kenapa Farhan bisa menanyakan hal itu padaku sebab selama ini aku dan Jendra nyaris tidak pernah mengumbar tentang hubungan kami. Seolah kami hanya menjalani semuanya untuk diri kami sendiri dan membiarkan orang lain mengira bahwa kami masihlah baik-baik saja.
“Kami, maksudku aku dan Jendra memang baik-baik saja, Han.” Dengan enggan kuraih kartu undangan itu dan membukanya. Memperhatikan lembaran pertama yang berisi potret dua orang yang sudah kukenal, sangat kukenal dan lembar kedua berisi keterangan kapan dan dimana acara akan dilangsungkan. Acara pernikahan dua orang yang potretnya mengisi lembar pertama undangan itu. “Aku dan Jendra berteman dan kami memang baik-baik saja.”
“Al,” aku tahu susah payah Farhan mencoba menemukan kalimat yang tepat untukku meski pada akhirnya pria itu hanya mampu menggumamkan namaku. Ya, begitupun denganku yang tidak menyangka kalau sore ini akan mendapat undangan untuk acara pernikahan Jendra dengan Hesti.
Benar, aku mendapat undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan Rajendra Yudhistira dan Hesti Prasetya dibulan kedua aku dan Jendra putus. Bukankah itu sesuatu yang luar bisa hingga aku punya alasan untuk kembali menggalau? Tapi kupikir aku tidak akan menggalau setelah ini sebab aku merasakan hal yang lebih dalam dibandingkan dengan kegalauan seperti yang kurasakan dua bulan yang lalu.
Seperti ada sesuatu yang sedang coba Jendra siramkan di atas luka hatiku yang memang belum sembuh benar. Dan rasanya nyeri sekali sampai aku bahkan kesulitan menemukan definisi dari apa yang sebenarnya sedang kurasakan.
“Kamu datang dengan siapa, Han?” tanyaku mencoba menghangatkan suasana yang mulai dingin diantara aku dan Farhan. Kupikir temanku ini tidak pantas kujadikan objek kegalauan hingga aku harus mengungkapkan serentetan kalimat tidak berguna pada Farhan dan membuat pria ini bingung. Itulah kenapa aku memilih untuk tertawa hambar yang justru semakin membuat Farhan mengerutkan kening.
“Kamu nggak harus datang kalau memang kamu nggak mau datang, Al.” ucap Farhan tanpa menjawab pertanyaanku. Sebetulnya aku juga tidak peduli dengan siapa Farhan akan datang ke pernikahan Jendra dan Hesti sebab aku sendiri tidak tahu apa aku punya keberanian untuk datang atau tidak.
“Aku akan datang, Han.”
“Kalau begitu kamu bisa datang bersamaku.”
__ADS_1
“Kamu punya kewajiban mengajak Desta, bukan mengajakku.” Meski aku tertawa kecil saat mengatakannya, sungguh itu hanya tawa palsu yang bahkan Farhanpun merasa kalau tawaku itu palsu dan aneh. “Tidak usah cemas seperti itu.”
“Aku mencemaskan perasaan kamu, Alia.”
“Jendra bahkan tidak merasa cemas sedikitpun saat mengirimkan undangan ini untukku, Han.” Tapi sekuat apapun aku menahan amarah dan air mataku, pada akhirnya setitik bening itu jatuh juga di hadapan Farhan.
Ah, siapa yang peduli dengan ejekan Farhan setelah ini? Toh dia hanya Farhan yang sudah kukenal selama lebih dari tiga tahun. “Mereka akan menikah meski sebelumnya Jendra bilang kalau Hesti hanya masa lalunya. Dia sama sekali tidak memikirkan perasaanku, Han. Jadi kupikir kamu juga tidak perlu mencemaskan akan seperti apa perasaanku.”
“Dan kamu menangisi laki-laki yang…” kutatap Farhan yang seperti kesulitan menemukan kalimatnya dan membuang muka dariku. “Entah kebodohan apa yang sebenarnya ada di dalam otak kamu, Alia.”
Sebuah kebodohan? Iya, aku tahu aku telah melakukan kebodohan bahkan sebelum Farhan mengingatkan hal itu padaku. Jika Farhan saja sudah menyadari kebodohanku, lantas apa yang bisa kuharapkan dari diriku sendiri untuk mengatasi situasi seperti ini?
“Datanglah bersama seseorang kalau kamu memang mau datang. “ ucap Farhan setelah sekian menit tidak ada yang berbicara baik aku ataupun pria itu. “Dan kamu tetap bisa mengajakku kapan saja tanpa perlu mengkhawatirkan Desta.”
Tidak, aku sama sekali tidak mencemaskan Desta dan bahkan sama sekali tidak berpikir tentang gadis itu. Aku hanya mengarang kalimat sebab aku sendiri kesulitan menemukan kalimat untuk kuucapkan pada Farhan.
Tepat saat Farhan menghilang dibalik gang pertama rumahku, ponsel ditanganku bergetar dan membuatku mengerutkan kening saat membaca nama yang tertera di layar ponselku. Membuatku mengurungkan niat untuk masuk kedalam rumah dan justru berjalan keluar pagar dan menuju lapangan bermain yang biasa dipakai anak-anak bermain di sore hari.
“Halo, Al?” sapa suara diseberang sana meski aku belum mengucapkan salam seperti yang biasa kulakukan. Untuk saat ini aku tidak sanggup mengucapkan salam padanya atau suaraku akan terdengar aneh karena isak tangis yang mulai kutahan. “Alia?”
“Aku disini.” sekuat tenaga kutahan suaraku untuk terdengar sedatar mungkin. Sungguh, kupikir tidak ada perempuan yang baik-baik saja saat beberapa menit yang lalu menerima undangan pernikahan dari mantan kekasihnya, dan sekarang mantan kekasihnya itu meneleponnya. Ya, pria yang berbicara denganku saat ini adalah Jendra.
“Kudengar dari Andy kamu menerima undangan itu?”
“Ya.” Dan tepat saat aku menunduk mengamati sandal merahku, air mataku jatuh dan tidak berhasil kutahan. Rasanya seperti aku baru saja menginjak ranjau saat menyadari suara Jendra bahkan sudah berubah saat berbicara denganku. Ah, memangnya apa yang kuharapkan dari seorang pria yang akan menikah seminggu lagi?
__ADS_1
“Tidak usah datang.”
“Kalau kamu memintaku untuk tidak datang, lantas kenapa kamu memberiku undangan, mas?”
“Bukan aku yang mengundang kamu. Tya yang melakukannya.” Kali ini aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mendengus dan menyeka air mataku dengan kasar.
“Kalau begitu kamu juga tidak berhak melarangku datang. Aku datang untuk memenuhi undangan Hesti.”
“Kumohon, Alia, jangan datang.! Pernikahanku dengan Tya bukan sesuatu yang penting untuk kamu ‘kan?”
“Kenapa kamu cemas sekali aku akan datang ke pernikahanmu dengan Hesti, mas?” berat sekali. Rasanya seperti aku sedang mengangkat beban berat saat aku mengatakan ‘pernikahanmu dengan Hesti’. “Kamu cemas aku akan bertingkah bodoh dan mengacaukan pernikahan kalian? Sungguh, mas Jendra, aku bukan tipikal perempuan yang begitu menggilai drama semacam itu.”
“Aku tahu, Alia. Aku tahu kamu bukan perempuan gila yang akan bertingkah bodoh di acara pernikahanku dan Tya. Aku hanya…..” aku masih terdiam menunggu Jendra menyelesaikan kalimatnya tanpa berniat untuk menyela. “Aku mencemaskan perasaan kamu.”
Hampir semenit penuh aku dan Jendra saling mendiamkan dan membiarkan helaan napas pria itu menjadi pengisi celah keheningan kami.
“Aku baik-baik saja, mas. Aku akan menghadiri pesta pernikahan kalian, sebagai teman.”
Jadi ini penghujung batas dari perasaanku terhadap Jendra?
Jadi ini jawaban dari kegusaran yang kurasakan selama ini?
Kegusaran yang bahkan sudah kurasakan sebelum aku memutuskan untuk berhenti menjalin hubungan dengan Jendra. Aku tidak akan menuduh Jendra sebagai laki-laki kurang ajar dan menyumpah serapahi pria itu. Aku hanya akan mengatakan bahwa aku tidak menyesal karena telah membuat batas untuk perasaanku terhadap pria itu.
Dan kupikir, sudah saatnya aku berjalan dari batas yang kupijak dan beranjak untuk menapaki perasaan yang lain.
__ADS_1
* * * * *