
E.A
Yogyakarta, penghujung desember 2015
Aku sedang menarik buku kedua dari rak dihadapanku saat tatapanku teralihkan oleh seseorang yang kulihat dari sela-sela deretan buku dihadapanku. Seorang pria yang terlihat begitu sibuk dengan sebuah buku ditangannya hingga mungkin dia tidak sadar jika sedang diperhatikan oleh seorang gadis dari balik rak buku. Tapi sungguh, bukan karena pria itu adalah pria super tampan hingga aku harus memperhatikannya seperti gadis cabul. Aku hanya merasa mengenali orang itu meski aku sendiri tidak yakin dengan apa yang kulihat.
Seorang pria dengan sebuah kacamata yang tidak terlihat begitu tebal dan seorang pria dengan mimik wajah yang entah kenapa membuatku tidak bisa berpaling. Sungguh, aku seperti pernah melihatnya tapi aku sendiri tidak yakin kapan dan dimana aku pernah melihatnya.
“Ya ampun,” dan jantungku serasa merosot seketika saat pria itu mengangkat wajah dari buku ditangannya dan menoleh kearahku. Benar-benar menoleh hingga aku yakin kalau tatapan kami sempat bertemu.
Benar-benar memalukan saat aku menyadari betapa bodoh dan konyolnya hal yang kulakukan ini. Bersembunyi dibalik rak buku dan memperhatikan seorang pria tampan yang sedang membaca. Sungguh, harus ada yang mengingatkan pada Alia Pangesti ini jika perpustakaan umum digunakan untuk membaca, bukan untuk mengintai pria tampan.
“Mungkin hanya perasaanku saja.” gumamku pada diri sendiri dan berusaha mengusir pikiran tentang ‘aku seperti pernah melihat pria itu disuatu tempat’ dari dalam kepalaku. Benar-benar tidak lucu kalau pikiran dan konsentrasiku hari ini terganggu karena sebuah pemandangan yang benar-benar tidak kurencanakan. Hanya karena aku melihat seorang pria diperpustakaan umum, usahaku untuk menenangkan diri menjadi gagal.
“Yah, memang hanya perasaanku saja.”
Benar, aku datang ketempat ini memang untuk menenangkan diri. Menenangkan diri dari apa aku juga belum tahu pasti, hanya saja aku butuh tempat untuk sendirian saja sekarang. Tanpa ibu yang terus memperhatikanku, tanpa Lili yang tidak pernah berhenti merecoki tantenya, juga tanpa mbak Mita yang entah kenapa selalu punya alasan untuk mengganggu adik perempuannya. Juga tanpa dia.
Kuhela napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan sembari menarik kursi tepat didepan dinding kaca yang membatasi ruang perpustakaan dengan halaman samping gedung perpustakaan. Tempat kesukaanku di perpustakaan umum ini. Seperti aku menemukan ruang milikku sendiri dimana tidak ada orang lain yang akan menggangguku, dan membiarkanku dengan diriku sendiri. Yah, meski sebenarnya terkadang ada beberapa orang yang duduk disampingku dan sibuk menekuni buku mereka. Tapi aku selalu suka duduk disini. Membuatku bisa memperhatikan pohon ketapang disamping perpustakaan, anak-anak yang bermain basket dilapangan samping perpustakaan, hingga memperhatikan muda-mudi yang berjejer disamping gapura alun-alun.
“Hujan,” gumamku aneh saat menyadari hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya. Bukan tiba-tiba sebenarnya, sekarang penghujung bulan desember dan hujan yang turun disore hari seperti ini bukanlah hal yang aneh. Bahkan mendung sudah terlihat sejak siang tadi.
“Mbak Alia,” aku baru saja membuka lembar kedua buku ditanganku saat suara seorang pria mengalihkan perhatianku. Membuatku mengulum senyum tipis saat kudapati pak Wardi sudah berdiri disampingku dan tersenyum ramah. Seramah biasanya.
“Pak Wardi,”
“Sendirian?” tanyanya basa basi sembari meraih beberapa buku dari atas meja disampingku. Membuatku melebarkan senyuman untuk menjawab pertanyaannya. Pak Wardi, salah satu pegawai perpustakaan umum ini yang ‘kurasa’ sudah hapal denganku karena saking seringnya aku datang ke tempat ini di jam-jam sepi seperti sekarang. Dan pria ini seharusnya tidak perlu bertanya sebab selama ini aku memang selalu datang ke tempat ini sendirian.
“Tadi ada mas mas yang menitipkan ini sama bapak. Katanya untuk pengunjung cantik dengan jilbab hitam dan jaket coklat.” Mulai pak Wardi sembari menyodorkan secarik kertas padaku. “Dan sejauh bapak berkeliling ruangan ini, hanya mbak Alia saja yang yang pakai kerudung hitam dan jaket coklat.” sambungnya yang membuatku mengerutkan kening dan menerima secarik kertas dari pak Wardi.
__ADS_1
“Siapa pak?”
“Tidak tahu. Dia sudah beberapa kali datang ke perpustakaan ini, tapi bapak tidak benar-benar memperhatikannya.”
“Terima kasih kalau begitu, pak.”
“Kalau ada yang mencurigakan, mbak Alia tinggal teriak saja, nanti bapak datang bawa pentungan.” Gurau pak Wardi sebelum membawa tumpukan buku ditangannya dan meninggalkanku.
“Pesan singkat?” gumamku sembari membuka secarik kertas yang terlipat dua itu dengan perasaan aneh. Iya, perasaan aneh yang entah kenapa membuat jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Membaca tiga baris tulisan tangan dengan tinta warna biru.
E.A
Tanpa komando dan otakku serasa bekerja lebih liar dari biasanya. Aku bahkan mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru ruangan perpustakaan yang mampu kujangkau dengan mataku untuk mencari siapa pengirim pesan singkat ini.
“E.A?” tapi aku menyerah untuk menyapu ruangan ini dengan pandanganku dan mengurungkan niat untuk berlari ke meja pelayanan untuk menanyakan ciri-ciri pengirim pesan singkat itu pada pak Wardi. Memilih kembali mengeja deretan huruf yang tertulis dengan rapi pada secarik kertas ditanganku.
“E.A.”
Dia ada disana. Berdiri disamping rak kumpulan buku antropologi dan sebuah buku di tangan kanannya sementara tangan kirinya ia selipkan kedalam saku celananya.
Pria itu. Pria berkacamata yang terlihat begitu indah saat kulihat dari bali rak buku berdiri disana dan tersenyum padaku. Hanya saja aku tidak tahu kenapa aku sama sekali tidak bisa membalas senyumannya itu. Otakku justru bekerja terlalu keras untuk menemukan seseorang dengan inisial E.A yang pernah kutemui sebelum ini. Seorang pria berkacamata dan rambutnya yang sedikit berantakan. Juga senyuman itu.
Tapi sayangnya otak sederhanaku ini entah kenapa terlalu sulit menemukan petunjuk untuk membuatku yakin kalau aku memang pernah bertemu dengannya. Dalam kompartemen otakku tidak kutemukan seseorang dengan inisial E.A yang kukenal atau setidaknya pernah bertemu denganku barang sekali saja.
“Terkadang kita merasa pernah bertemu dengan seseorang biarpun sebenarnya kita belum pernah bertemu dengan seseorang itu.” satu detik, dua detik, dan aku tidak tahu sudah berapa lama aku hanya menatap pria berkacamata itu dan pria itu yang juga masih bergeming ditempatnya. Otakku justru memutar kalimat yang pernah diucapkan seseorang kepadaku dimasa lalu. “Dan aku menyebutnya jodoh, Al.”
Jodoh? Bukankah perkara jodoh menjadi rahasia Tuhan bahkan sebelum kita lahir dan terlalu rumit jika harus dipikirkan oleh manusia? Ah, dia pasti sedang bercanda denganku saat itu hingga dengan mudahnya mengatakan bahwa perihal jodoh kita bisa merasakannya begitu mudah.
__ADS_1
“Alia?”
Dan aku baru saja akan beranjak untuk mendekati pria berkacamata itu saat sebuah suara justru mengalihkan perhatianku. Benar, akal sehatku mengatakan jika aku harus menghampiri pria itu sebagai bentuk sopan santunku sebagai perempuan dewasa yang masih sanggup berpikir. Hanya pikiran sesaat sebelum suara itu mengalihkan perhatianku dan membuatku memutar kepala dan tersenyum aneh setelahnya. Menyipitkan mata saat orang itu justru menaikkan alisnya dan mengusap rambutnya yang sedikit basah karena air hujan.
“Mas?” tentu saja aku menyipitkan mata saat tiba-tiba mendapati Rajendra berdiri didepan meja bacaku dan menatapku aneh, sebab sejauh yang kutahu aku tidak mengatakan pada pria ini untuk bertemu di perpustakaan umum.
“Darimana mas tahu aku ada disini?” tanyaku setengah bergumam saat Jendra memberi isyarat untuk mendekat dan mengajakku keluar perpustakaan. Dan tanpa sadar aku kembali menoleh kearah jam tiga untuk mencari tahu apakah pria berkacamata itu masih ada disana atau tidak.
Dia masih disana. Bergeming sembari menatapku dengan tatapan yang sulit sekali kuartikan. Senyuman itu sudah menghilang dan digantikan dengan tatapan yang tidak kusukai. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar tidak menyukai tatapan itu. Seolah tatapan itu mengatakan padaku kalau pria itu tidak menyukai aku beranjak dari kursiku dan menghampiri Jendra. Ah, konyol sekali memikirkan hal seperti itu seolah aku dan E.A adalah dua orang yang sudah sangat dekat.
“Tadi mas ke rumah, tapi ibu bilang kamu pergi dari siang dan belum kembali.”
“Ya? Ibu bilang sama mas kalau aku di perpustakaan umum?”
“Tidak. Dan apa yang membuat kamu tidak fokus begitu? Ada seseorang yang mau kamu temui?” dan dia memang Rajendra yang begitu memahamiku hingga tahu gelagatku tanpa perlu bertanya.
“Oh, tidak kok. Jadi mas datang kemari untuk menjemputku?” dustaku. Dan jelas aku akan berdusta pada Jendra sebab tidak mungkin aku mengatakan pada pria ini kalau aku terpesona pada seorang pria berkacamata berinisial E.A yang baru saja memberiku sebuah pesan singkat. Tidak, hubunganku dengan Jendra memang sedang tidak begitu baik, tapi aku juga belum segila itu.
“Tidak mungkin ‘kan mas datang kemari untuk menjemput mbak Indah?” kelakar Jendra saat kami berjalan menuju loker tas dan berpamitan pada pak Wardi.
Sesaat, hanya untuk sesaat aku sempat berspekulasi tentang apa yang ada dalam pikiran E.A saat melihatku menghampiri seorang pria seperti tadi? Hanya saja pikiran konyol itu hanya bertahan beberapa detik sebelum keberadaan Jendra kembali menyeretku pada realita.
“Dan siapa itu mbak Indah?”
“Mbak-mbak resepsionis yang sejak mas masuk kedalam perpustakaan melihat mas seperti dia sedang melihat seorang artis.”
“Hah? Astagah mas, bu Indah tidak semuda itu sampai kamu harus memanggilnya ‘mbak’.”
Dan ya, keberadaan Jendra nyatanya mampu mengalihkan perhatianku dari sosok E.A yang beberapa saat lalu membuatku kalang kabut. Jendra dengan begitu alami membuatku melupakan anganku tentang E.A dan kembali memusatkan perhatianku hanya pada dirinya saja.
__ADS_1
* * * * *