
“aaaaaaaaaaaaaaa” teriak kania
seseorang duduk di kursi dengan senyum di salah satu sudut bibir nya setelah melepas topeng hantu yang menutup wajah tampan nya
jantung kania sedikit lega dan bisa berdetak mulai normal setelah dia tau yang dilihat nya bukan lah hantu melainkan adit, suami nya sendiri
“kamu disini mas?” tanya kania masih mengatur nafas nya, rasa takut yang tadi menghantuinya perlahan hilang
kening adit mengkerut dalam
“mas?” bathin adit
"berani berani nya dia memanggil gua dengan sebutan mas, memang siapa dia" kesal adit dalam hati
* dia istri lo ditttt hadeuuwwhhh
dia berjalan menghampiri kania yang berdiri tak jauh dari nya
“lo bilang apa tadi?” tanya adit dengan tangan yang sudah mencengkram rahang kania
kania meringis kesakitan
“sakiit mas” ucap kania dengan tangan nya berusaha menepis cengkraman adit, namun sia sia, karna adit semakin mengeratkan cengkraman nya
"saakit mass" ringis kania lagi, namun adit tak perduli, dia tetap mencengkram kuat rahang kania
“maass a pa sa lah aku?” ucap kania dengan terbata sambil menahan sakit
adit menepis kuat rahang kania hingga tubuh nya membentur sudut meja makan
“aauuwww” ringis kania saat pinggang nya menghantam sudut meja makan itu
“jangan sekali kali lo memanggil gua dengan sebutan tadi dan ingat, lo Cuma pelayan di sini, bukan istri gua” tegas adit sambil melirik tajam ke arah kania yang tengah kesakitan memegang pinggang nya
“aku gak akan merubah panggilan aku sama kamu mas dan aku adalah istri kamu” terang kania
“plaaaaakkkkk” tamparan keras berhasil mendarat di pipi mulus kania, sudut bibir kania sedikit mengeluarkan darah, lagi, kania meringis kesakitan, sekarang sudah di temani dengan air mata yang nengalir di pipi nya
“jangan pernah menjawab ucapan gua dan jangan pernah membantah apapun yang gua katakan” tegas adit
"lo bukan istri gua, ingat itu" bantah adit sambil menunjuk tepat di kening kania dan mendorong kening itu, kania menahan tubuh nya yang hendak jatuh dengan memegang meja makan yang ada di belakang nya
kali ini kania hanya diam, dia tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab atau menyanggah perkataan adit, denyutan pada pipi serta sakit di pinggang nya sudah membuat dia tak berani untuk melawan
“Tuhan,,kuat kan aku,,bantu aku merubah suami ku, bantu aku untuk bertahan” ucap kania dalam hati
__ADS_1
“nona,,anda tidak apa apa?” tanya seorang pelayan setelah adit pergi meninggalkan kania sendiri dengan kesakitan nya
“aku tak apa bu” jawab kania pada pelayan yang sudah cukup berumur itu
“mari nona, saya antar anda ke kamar anda” ajak pelayan sambil memegang tangan kania, dia hendak membantu kania berjalan
“tak apa bu, saya bisa sendiri” tolak kania sopan, dia tak mau menyusahkan siapapun termasuk pelayan yang sudah berusia lanjut ini
“silahkan non, ini kamar nona” ucap pelayan setelah membuka pintu kamar yang amat luas serta berisi dengan barang barang mewah dan sudah tersusun rapi itu, mempersilahkan kania masuk
kania membelalak tak percaya, ini kamar nya? sangat luas dan bagus, bahkan ini 4x lebih besar dari kamar di rumah nya
“mari non, silahkan masuk” ajak pelayan itu saat melihat kania masih mematung di ambang pintu
“ah iya bu,, terimakasih” ucap kania sambil tersenyum lembut, tak bisa dia tersenyum merekah seperti bisanya, karna sudut bibir nya sangat sakit kali ini
“sama sama nona, jika ada yang nona butuh kan, nona bisa panggil saya”
“baik..sekali lagi terimakasih bu”
“kalau begitu saya permisi dulu, nona biisa istrirahat” undur pelayan itu dengan sopan
kania mengangguk tak lupa dengan senyum nya
“tu tuaan” ucap pelayan yang hendak keluar kamar kania namun terhalang oleh tubuh tegap, seseorang itu adalah adit
“kenapa dia di kamar ini?” tanya adit kembali
kini dia berdiri tepat di depan pelayan itu, dengan tangan melipat di atas perut nya
“nyonya besar memerintah kan saya untuk membawa nona kania ke kamar ini tuan” jawab pelayan itu dengan takut
adit mengangguk mengerti
“apakah orang yang sudah menikah tidur dengan kamar yang berbeda?” tanya adit tepat di telinga pelayan itu dengan matanya menatap penuh arti ke arah kania, tak lupa dengan senyum di sudut bibir nya
kania menelan kuat saliva nya, nafas nya seketika memburu
“apa lagi yang ingin dia lakukan?” bathin kania
“Tuhan,,tolong aku” tambah kania
“jawab” ucap adit tegas saat pelayan yang di tanya itu hanya diam tak menjawab pertanyaan nya
“ti dak tuan” ucap pelayan itu menunduk takut
__ADS_1
“kalau begitu antar dia ke kamar saya” perintah adit sambil berlalu pergi
lagi lagi kania menelan kuat salivanya, matanya membulat tak percaya, satu kamar dengan adit? ini sungguh tidak mungkin,,apa yang akan dia lakukan nanti? takut kania
“sadar lah kania, dia adalah suami mu, wajar bukan suami istri bersama dalam satu kamar?” bathin kania menguatkan
“mari non, saya antar ke kamar tuan” ajak pelayan itu dan kania mengikutinya dari belakang
***
kania kembali takjub melihat kamar adit, kamar yang sangat luas, rapi serta di desain dengan warna yang sangat lembut, sangat berbeda dengan sifat adit yang keras, bathin kania
“apa kau puas sekarang?” tanya adit yang sudah duduk di sofa kamar nya dengan menyilangkan satu kaki nya diatas meja
kania melihat ke arah sumber suara, sejak kapan dia duduk disana? bukan kah tadi tidak ada siapa siapa dalam kamar ini, bathin kania heran
“maksud kamu apa mas?” tanya kania
rahang adit seketika mengeras, pandangan nya kini menatap tajam ke arah kania
“benar benar wanita tidak tau diri, bukankah tadi gua sudah memperingatkan dia untuk tidak menjawab dan memanggil gua dengan sebutan itu” kesal adit dalam hati
“seperti nya lo punya banyak nyawa sampai berani mengindahkan ucapan gua tadi” ucap adit dingin di iringi dengan seringai mematikan nya
“dimana salah aku? salah kah aku menjawab jika ada yang bertanya? apalagi yang bertanya adalah suami aku sendiri” ucap kania, entah keberanian yang datang dari belahan bumi mana merasuki nya, hingga dia berani berbicara seperti itu
seketika seringai mematikan itu hilang dari wajah adit, dia bangun dari duduk nya dan berjalan mendekat ke arah kania, kania yang melihat raut amarah dari wajah adit segera mundur menjauhi adit yang mendekati nya
“ma maauu apa kamu mas?” tanya kania ketakutan saat tubuh nya sudah membentur pintu sedangkan adit sudah berada tepat di depan nya
“le leeee pasiiin mass,,a"
"maa ss akuu gaa k bisa ber nafaaa ss” ucap kania terbata saat tangan adit mencekam kuat leher nya, air mata kembali membanjiri wajah cantik nya
kania menatap dalam bola mata adit yang di penuhi kabut amarah, seolah terhipnotis dengan tatapan kania, mata adit yang tadi nya merah karna amarah perlahan sendu dan damai, tangan yang tadi mencengkam kuat perlahan melemah, melihat perubahan adit membuat kania tersenyum dalam tangis nya, dia kembali menghirup udara sebanyak banyak nya
"aku yakin kamu orang yang baik mas, aku akan merubah kamu" bathin kania masih menatap mata adit
cukup lama kedua mata mereka bertemu, hingga adit tersadar, dia melepas kan tangan nya dari leher kania dan pergi meninggalkan kamar begitu saja
*** wah,, sungguh tatapan yang jitu,, mampu memadamkan api amarah adit, semangat kania, kamu pasti bisa hehe
jangan lupa like dan komen ya guys,, makasihhhh
author masih pemula yaaa
__ADS_1