Doa Istri Yang Teraniaya

Doa Istri Yang Teraniaya
Laki-laki tak berguna!


__ADS_3

Malam berlalu, Kania terbangun untuk menjalankan shalat tahajud. Kania bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju kamarnya untuk mengambil mukenah. Kania membuka pintu pelan, takut Adit terbangun.


“Ggrrr” Adit menggigil. Dia membuka mata saat ada seseorang yang membuka pintu. Adit sangat bersyukur Kania datang. Apakah ada ikatan bathin pada wanita itu untuknya?? sehingga dia datang tanpa dipanggil. Ge Er luh Dit..


Kania melihat sekilas kepada Adit, dia melihat laki-laki itu meringkuk seperti orang kesakitan. Kania memberanikan diri untuk mendekat. Melihat Kania mendekat, Adit pura-pura tidur dan menutup matanya.


Kania memeriksa kening Adit, alangkah kagetnya dia, betapa panasnya tubuh Adit. Kania langsung mengambil termometer dan obat.


“Panas sekali” ucap Kania pelan. Adit menggeliat dan membuka matanya. Kania terdiam dan bersyukur juga Adit terbangun. Dengan begitu dia tidak perlu membangunkan laki-laki itu untuk minum obat.


Dengan cepat Kania membuka obat dan mengambil segelas air. Dia langsung menyodorkan obat itu kepada Adit. Laki-laki itu tidak menolak, dia membuka mulutnya dan meminum obat itu.


Kania membenarkan selimut Adit dan mengatur kembali suhu kamar. Dia berjalan keluar untuk mengambil kain kompresan, tak lama Kania sudah sampai lagi didalam kamar. Dia mengompres kening Adit.


Adit menghembuskan nafas teratur, badannya sudah mulai membaik. Berbeda dengan sebelum Kania datang. Lagi-lagi Adit bersyukur dengan kehadiran Kania, tapi hatinya tetap menolak Kania.


Dengan telaten Kania merawat Adit, dia membersihkan kembali luka-luka Adit, dia mengelap tubuh laki-laki itu. Lama berkutat dengan Adit, Kania mengingat kembali niatnya untuk shalat tahajud. Dia berjalan ke kamar mandi dan melaksanakan shalat, namun akhirnya dia memutuskan untuk shalat didalam kamar saja. Tidak tega meninggalkan Adit sendiri.


Adit menggeliat dan membuka sedikit matanya, tampak seseorang tengah shalat di kegelapan kamar. Terdengar isakan oleh Adit, namun dia tidak terenyuh. Dia kembali menutup matanya, tidak peduli dengan isakan Kania.


(Tuhan,,ampuni dosa orangtua ku, berikan mereka syurga mu. Tuhan, kuatkan bathinku, berikan aku kesabaran lebih. Tuhan, lembutkan hati suami ku, bukakan pintu hatinya untuk bisa menerima rumah tangga kami, dan menerima ku sebagai istrinya. Tuhan, lindungi rumah tangga ku, berikan yang terbaik untuk ku dan suami ku. Tuhan, bolehkah menikah hanya sekali saja?? Semoga kedepannya rumah tangga ku jauh lebih baik dari sebelumnya. Tuhan, berikan yang terbaik untuk rumah tangga ku, lembutkanlah hati suamiku, lembutkan Tuhan. Aaamiiin) Kania mengulang terus perkataannya, apalagi yang tentang lembutkan hati suamiku, lindungi rumah tangga ku.


Semoga Tuhan mendengar ya Kaniaaa...Semangatttttt...


Tak terasa pagi sudah datang, Kania tertidur di samping Adit, masih dengan mukenah yang melekat pada tubuhnya.


“Ya Tuhan, aku ketiduran” ucap Kania. Dia langsung bangkit, tak lupa dia mengecek kondisi Adit. Panasnya sudah turun, laki-laki itu tidak lagi menggigil. Dia sudah tidur dengan nyaman. Kania bernafas lega.


Lagi, pagi itu Kania memasakkan bubur untuk Adit.

__ADS_1


“Bangunlah, sudah pagi. Makanlah bubur ini” ucap Kania lembut, dia tidak berani untuk membangunkan Adit. Namun disisi lain, dia harus bangkit untuk mencari pekerjaan. Tidak ada uang yang jatuh dari langit, jika tidak berusaha dan mencari, tidak akan ada yang namanya uang.


Adit membuka matanya, sudah ada Kania dengan semangkok bubur ditangannya. Wangi bubur menghiasi hidung Adit. Entah kenapa, bubur buatan Kania berbeda dengan bubur yang pernah dia makan sebelumnya. Sangat enak.


Tanpa banyak basa-basi, Adit membuka mulutnya. Dia juga ingin segera sembuh dan menyelesaikan semua kegaduhan yang telah dia ciptakan. Kania sibuk menyuapi Adit, hingga seseorang datang mengganggu mereka.


“Duar,,” pintu kamar Kania dibuka dan di hempas dengan sangat keras. Kania dan Adit melihat sumber suara.


“Dasar anak tidak tau diri! Ayah kamu baru saja meninggal, kamu asik-asik berduaan dengan laki-laki didalam kamar” ucap seseorang yang tak lain adalah Amel (Ibu tiri Kania).


“Ibu,,ini tidak seperti yang ibu fikirkan” terang Kania. Dia meletakkan mangkok bubur dan berjalan menuju Amel.


“Ibu kemana saja? kemaren Ayah dimakamkan, tapi kenapa Ibu baru muncul hari ini” tanya Kania. Iya,,selain Adit, dia tidak melihat kehadiran Amel.


“Apa urusannya dengan mu? mau saya datang atau tidak, itu urusan saya” terang Amel.


“Suami??? suami miskin dan penyakitan??? perempuan mana yang mau dengan laki-laki seperti itu???” tanya Amel.


Adit menatap tajam kearah Amel. Dia seakan tersindir dengan perkataan wanita itu. Bagaimana tidak? kini kondisinya sekarang sudah jatuh miskin dan tubuhnya tengah sakit, siapa yang masih mau dengannya??? Jika tidak karna kebaikan Kania, mungkin dia sudah tinggal nama sekarang. Haruskah dia membuka hati dan menjalankan hidup dari awal bersama Kania? wanita yang sudah Sah menjadi istrinya?? ataukah dia mengejar cinta Angel, perempuan yang berhasil mengetuk pintu hatinya, yang telah lama padam???


“Ya Allah Bu,,Istighfar Bu,,sebelum Ayah jatuh sakit, Ayah sangat menyayangi Ibu”


“Diam kamu! jangan berani mengajari saya, mendingan sekarang, kamu bungkus semua bajumu, dan keluar dari rumah saya” Usir Amel. Kania menggeleng.


“Tidak Bu,,Kania tidak akan meninggalkan rumah ini” bela Kania, pasalnya rumah ini adalah rumah mendiang Ayah dan Ibunya. Rumah ini sudah ada, jauh sebelum Amel masuk kedalam keluarga mereka. Sangat jelas kalau itu adalah hak Kania.


”Dasar tidak tau malu! rumah ini sudah menjadi milik saya, kamu tidak berhak tinggal disini. Saya tidak sudi kamu menginjakkan kaki dirumah saya” Amel mendorong Kania.


“Tidak Bu,,rumah ini adalah peninggalan Ayah sama Ibu Kania. Ibu tidak berhak mengusir Kania dari sini” Kania tidak mau pergi. Rumah itu adalah satu-satunya kenangan dia bersama kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Lihat itu” Amel melemparkan sebuah surat kepada Kania. Dimana surat itu menyatakan kalau rumah ini benar milik Amel.


“Tidak Bu..” Kania mengelak, ini pasti ada yang salah. Tidak mungkin rumah itu jatuh ketangan Ibu tirinya.


“Pergi dari sini! atau saya akan panggil polisi untuk mengusir kamu” Amel lagi-lagi mendorong Kania, hingga dia terjatuh dilantai.


Adit menyaksikan semuanya, dia mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia bangkit dan menghajar Amel, namun apa daya, kali ini dia harus mengalah karna keadaannya.


(Tunggu saja hingga aku sembuh! aku akan membuat perhitungan dengan mu) bathin Adit.


“Kamu lagi,,siapa kamu?? sungguh menyusahkan” ucap Amel kepada Adit. Dia menarik tubuh Adit hingga laki-laki itu terjatuh ke lantai.


“Buu,,jangan..” Kania langsung bangkit dan menolong Adit. Sungguh kini laki-laki itu tidak berguna, bahkan untuk melawan Amel saja dia tidak mampu.


“Segera enyah dari rumah saya, atau kamu akan tau akibatnya” Amel menendang tubuh Adit, namun dihalangi Kania.


“Aakkh” Kania meringis kesakitan, saat kaki Amel mengenai perutnya.


“Cepat pergi dari sini!!! atau saya akan memb*nuh mu” teriak Amel. Entah kenapa perempuan itu seperti dirasuki setan, apa yang sebenarnya terjadi dengannya??


Kania langsung bangkit dengan sempoyongan,,dia mengambil kursi roda dan mengangkat tubuh Adit. Kania langsung mengambil beberapa helai bajunya dan dengan berat hati dia pergi meninggalkan rumahnya.


Adit menatap iba wajah Kania, sungguh mulia hatinya. Bahkan disaat seperti ini, Kania tidak meninggalkannya, Kania tetap setia mendampingi dan menjaganya. Adit menghela nafas, fikirannya gusar,,haruskah dia membuka hati dan memulai kehidupan baru dengan Kania??


Masih nanya ada lu Dit,, ya iyalahh,, syukur masih ada yang mau mengurus lo,, malah bimbang dan sibuk mikirin wanita lain,, hadeuuhhww


Jangan lupa like dan komen ya redersss


Makasihhh

__ADS_1


__ADS_2