
“Maaf mau kemana mbak?” tanya seorang satpam penjaga perumahan XX
“Saya mau masuk kedalam pak” jawab Kania sambil menggandeng tangan kecil Aurora.
“Maaf mbak, hanya orang yang memiliki kartu tanda pengenal saja yang bisa masuk kedalam, mohon untuk melihatkan kartu tanda pengenalnya kepada saya” ucap satpam yang bernama Joko itu, bukan karna Kania peramal, bisa mengetahui nama satpam yang berusia lumayan itu, namun nama nya tertera jelas di baju seragam yang dia kenakan.
“Maaf pak, aku cucu oma Ajeng, tolong izinikan kita masuk pak” jelas Aurora sambil menguap dengan masih menahan kantuk nya.
Joko melihat seketika ke arah Aurora, yang dia tau, memang nyonya ajeng memiliki seorang cucu, namun Joko tidak mengetahui, apakah benar anak yang ada di depannya ini cucu dari pemilik salah satu rumah mewah yang terdapat dalam perumahan itu, Joko melihat Aurora dengan seksama, pakaian Aurora nampak mahal, namun sedikit kotor, Joko masih berkelut dengan fikirannya, apakah benar ini cucu nyonya Ajeng atau tidak? Bagaimana jika ini hanya alasan saja, supaya mereka bisa masuk ke perumahan mewah itu, dan menjadi boomerang yang mengancam bagi seluruh penghuni??
“Pak,,kenapa bapak diam saja? izinkan kami masuk” pinta Kania, yang melihat Joko terdiam tanpa merespon ucapan Aurora.
Joko seketika sadar dari lamunannya.
“Maaf mbak, saya tidak bisa mengizinkan orang luar masuk kedalam, tanpa adanya kartu tanda pengenal” tolak Joko dengan sopan.
“Kalau begitu tolong hubungi Oma pak, aku mau bicara sama Oma” pinta Aurora.
“Baik dek, sebentar bapak coba hubungi dulu” Joko langsung meraih telephone dan menghubungi kediaman mewah nyonya Ajeng itu.
“Apaaaa?? benarkah Joko???” teriak histeris seseorang di seberang telephon sana, yang tak lain adalah nyonya Ajeng.
“Iya nyonya, saya akan antarkan nona muda kecil ke rumah anda” jawab Joko sambil menutup telephon nya.
Joko langsung menghampiri Kania dan Aurora.
“Mari mbak dan nona muda kecil ikut saya, saya akan antarkan kerumah nyonya Ajeng, beliau sudah menunggu” ucap Joko sopan, sambil membuka pintu mobil mempersilahkan Aurora dan Kania masuk.
Sepanjang perjalanan, Kania tak hentinya takjub melihat lampu penerang jalan yang unik berjejer, bunga mekar nan indah di tepi jalan dan rumah-rumah tinggi bak istana seperti berlomba memperlihatkan kemewahannya.
“Tuhan,,apakah ini surga mu? sungguh indah,,” gumam Kania dalam hati, tak pernah terbayang jika suatu saat nanti dia masuk kedalam perumahan ini, maka dia akan tersesat karna sangking luas dan berlikunya jalan, memisahkan satu rumah dengan rumah lainnya, tak terasa 20 menit perjalanan menuju rumah termewah diujung jalan, membuat Kania tak hentinya membuka mulut pertanda takjub.
“Mari turun mbak, kita sudah sampai” jelas Joko.
“Waaaawww ini istana atau apa? kenapa ada rumah se indah ini??” kagum Kania.
Joko hanya tersenyum melihat Kania, yang seperti terhipnotis dengan kemewahan rumah yang ada didepan matanya.
__ADS_1
“Ini rumah paling besar dan termahal di perumahan ini mbak, nyonya Ajeng dan suaminya merupakan pengusaha batu bara dan timah, masih banyak lagi usaha mereka, belum lagi ke 2 putra beliau yang juga pengusaha ternama dan termuda di negri ini, di kanca internasional pun juga” ucap Joko menjelaskan.
Kania hanya ber oh ria, sambil mengangguk kan kepalanya pertanda mengerti, matanya tak henti menatap kagum rumah yang ada dihadapan nya.
“Auroraaaa,,cucu Omaaaa” teriak seseorang sambil berlari menuju mobil yang Kania tumpangi.
“Aurora,,mana Aurora cucu ku Joko?” tanya orang itu lagi.
“Nona muda kecil ada didalam nyonya” jawab Joko sambil membuka pintu mobilnya, yah wanita yang sudah berumur 50 tahun itu adalah nyonya Ajeng, pemilik rumah mewah sekaligus Oma dari Aurora.
Walaupun usianya sudah 50th, tapi wajah nyonya Ajeng masih terlihat muda, kulit putih bersih dan dengan balutan busana yang mahal tentunya.
Kania menggendong Aurora yang sudah tertidur pulas, selama perjalanan menuju rumah mewah ini, nyonya Ajeng menatap sedih cucu kecil kesayangan nya itu, tapi tunggu,,tunggu,, leher Aurora kenapa? nyonya Ajeng kaget bukan main melihat leher cucunya yang dibaluti perban.
“Aurora,,kenapa? kenapa Aurora bisa seperti ini?” tanya nyonya Ajeng histeris kepada Kania.
“Tadi saya bertemu Aurora di tepi jalan sambil menangis nyonya, saya juga tidak tau kenapa leher Aurora bisa terluka, karna saya tidak menanyakan kepadanya” jelas Kania.
Nyonya Ajeng mengangguk, dia teringat bagaimana aurora tadi siang hilang dari pengawasannya, saat bermain di taman.
“Joko tolong jemput dokter Daniel, bawa dia ke rumah saya secepat mungkin” perintah nyonya Ajeng, Joko mengangguk mengerti dan segera melajukan mobilnya, menjemput dokter pribadi, dan dokter langganan seluruh penghuni perumahan elite itu.
“Bantu saya angkat Aurora kedalam kamarnya” perintah nyonya Ajeng kepada pengawal yang sedari tadi diam, seperti patung di depan pintu masuk rumah.
“Baik nyonya” jawab pengawal yang tinggi dan besar itu.
“Kamu masuk lah dulu nak,,terimakasih sudah mau menolong cucu saya dan mengantarkan nya kembali dengan selamat” ucap nyonya Ajeng dengan lembut.
Kania mengangguk, dan mengikuti langkah kaki nyonya Ajeng, masuk kedalam rumah mewahnya.
Belum sampai di pintu masuk rumah mewah itu, sebuah mobil datang, seseorang keluar dari dalam mobil mewah dengan tergesa.
“Mom,,dimana Aurora,,bagaimana keadaannya?” tanya pria itu dengan khawatir, sama seperti yang nyonya Ajeng lakukan beberapa waktu lalu, mengkhawatirkan cucu kesayangannya.
“Aurora dikamarnya nak,,Momy sudah meminta Joko untuk menjemput Dokter Daniel untuk datang, karna leher dan lutut Aurora terluka nak” tangis nyonya Ajeng kembali pecah dipelukan Adit.
Bak di sambar petir disiang bolong, seperti itulah yang dirasakan Adit.
__ADS_1
Pria yang sedang di peluk nyonya Ajeng adalah anak bungsunya, Aditya putra karisma, Adit seorang laki-laki tampan namun dingin dan kejam, dia seperti tak punya hati menyiksa orang, jika itu menyangkut keamanan keluarganya.
Adit melonggarkan pelukan sang Momy, dan menatap wajah Momy nya dengan tatapan tak percaya.
“Momy bilang apa? leher Aurora terluka?” tanya Adit meyakinkan apa yang dia dengar barusan.
Nyonya Ajeng mengangguk lemah.
“Momy yang salah nak, Momy yang sudah lalai menjaga ponakan kamu, Momy yang lalai menjaga cucu Momy sendiri, Momy salaaahh” rutuk nyonya Ajeng sambil kembali menangis histeris.
“Sudah mom,,jangan salahkan diri Momy seperti ini,,Adit yakin Aurora baik-baik saja” jelas Adit menenangkan Momy nya, walaupun dia sendiri khawatir, dengan keadaan ponakan kecil kesayangannya itu, apalagi luka nya ada di bagian leher, membuat jantung Adit seolah enggan untuk bekerja dengan baik.
“Sekarang Momy masuk dan istrirahat ya, Adit akan merawat Aurora” jelas Adit, yang tidak tega melihat tubuh kecil Momy nya mulai melemah.
“Tidakk,,Momy mau melihat Aurora, Momy mau tidur bersama Aurora” tolak nyonya Ajeng, masih dengan tangis terisaknya.
“Yasudah, kita kekamar Aurora sekarang Mom” pinta Adit, sambil menggandeng tangan Momynya, masuk kedalam rumah.
Kania hanya diam menyaksikan anak dan ibunya itu masuk kedalam rumah, Kania tak bermaksud mengikuti ke dua orang itu untuk masuk kedalam, dia bingung harus melakukan apa, Kania berjalan mondar mandir di depan pintu masuk.
“Aku pulang aja kali ya?” tanya Kania pada dirinya sendiri.
Lama berfikir, akhirnya Kania memutuskan untuk pulang, Kania menatap rumah mewah bak istana, yang ada di depannya itu sambil tersenyum.
“Selamat tidur Aurora, kakak pamit pulang ya” ucapnya pelan, sambil melambaikan tangan ke seluruh arah rumah mewah itu, karna dia tidak tau dimana kamar Aurora. Kania melangkahkan kakinya berjalan pulang, tak berapa langkah berjalan, tiba-tiba terdengar suara seseorang.
“Hey mau kemana lo?” teriaknya
“Kalian.. tangkap gadis itu”
***
Wah,,apalagi sekarang?? kenapa Kania di tangkap??
Sepertinya dunia mengutuk Kania,,tak henti hentinya cobaan datang kepadanya.
Pantengin terus “Buah KeSabaran Kania (Istri Ku)” yaah guysss
__ADS_1