
Lama Kania berjalan, mendorong kursi roda. Panas menyinarinya dan Adit. Kania menghembuskan nafas, rasa lelah menggerogoti tubuhnya. Perutnya pun sudah berbunyi, pertanda minta diisi.
Adit hanya duduk diam diatas kursi roda, dia pasrah dibawa entah kemana oleh Kania. Bahkan jika Kania meninggalkannya, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kini tubuhnya lemah, dipenuhi luka lebam, tangan kanan dan kaki kirinya mati rasa. Sepertinya terjadi patah tulang atau entah apalah itu. Namun apa boleh buat, dia sekarang tidak punya uang untuk berobat.
Ditengah teriknya mentari, akhirnya Kania menghentikan langkah kakinya dibawah jembatan. Teduh disana, namun ada bau aroma tidak sedap, dari air dibawah jembatan itu.
Kania duduk sejenak, memikirkan, tempat mana yang bisa dia tuju untuk tinggal. Tidak mungkin dia tidur dibawah kolong jembatan, dengan kondisi Adit yang tidak memungkinkan.
Kania menyalakan ponselnya, mencari rumah kontrakan murah, nasib baik tengah datang kepada Kania, ada rumah kontrakan murah yang menurutnya cocok untuk hidup. Ana langsung menghubungi kontak yang tertera. Karna kondisi jalan yang ramai, Kania kesulitan mendengar suara dari ponselnya, dia menjauh sedikit, menghindari keramaian. Meninggalkan Adit yang masih terlihat oleh pandangannya.
Kania mencoba bernegosiasi untuk harga kontrakannya, sementara Adit, dia terkejud saat seseorang datang dan memberikan sebuah bingkisan kepadanya.
“Dimakan ya Mas, sedikit rezeki dari saya untuk Mas nya” begitu kata-kata dari orang itu. Ingin Adit bangkit dan berkata “Gua bukan orang miskin dan Gua bukan pengemis” Namun apa daya, kelemahan kini sudah meruntuhkan kepercayaan diri Adit.
Kania datang, dia duduk sejenak, mengatur kembali nafasnya. Tiba-tiba Adit menyodorkan sesuatu padanya.
Kania mengernyitkan dahinya, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Kania, dia hanya menerima bingkisan itu, dan membuka. Ternyata ada sebungkus nasi kotak dan sebotol air mineral.
“Dari mana dia mendapatkannya?” Kania bertanya dalam hati. Dia melihat sekeliling. Ternyata ada sekelompok orang, yang tengah bagi-bagi nasi kotak diujung lampu merah sana.
Kania bernafas lega “Terimakasih Tuhan, terimakasih atas rezeki Mu” bathin Kania.
Kania menyodorkan air minum kepada Adit, dia tau Adit kehausan. Laki-laki itu seperti tidak punya harga diri lagi, dia membuka mulutnya, menelan air minum yang berhasil menyejukkan dahaganya itu. Kania seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat, Adit sangat menurut, berbeda dengan Adit sebelumnya, sangat membangkang.
“Mau makan?” Kania bertanya singkat. Adit menggeleng.
Dirasa sudah cukup untuk beristirahat, Kania kembali mendorong kursi roda Adit, menuju kontrakan yang sudah berhasil dia dapatkan.
Lama juga Kania berjalan mendorong kursi roda, akhirnya, sampai juga mereka di tempat yang dituju. Sebuah rumah kontrakan kecil, sangat ramai oleh orang-orang. Adit sungguh tidak nyaman.
__ADS_1
“Siang Neng,,” Sapa rombongan ibu-ibu yang tengah ngerumpi, dirumah samping kontrakan Kania.
“Siang Bu” Kania menjawab dengan sopan.
“Penghuni baru Neng?” tanya salah satu ibu-ibu.
“Iya Bu” Kania menjawab dengan tersenyum, membalas senyuman ibu-ibu lainnya.
“Ini yang dikursi roda siapa Neng?” lagi-lagi rombongan ibu-ibu itu bertanya, maklumlah ya,,ibu-ibu rempong,,keponya udah tingkat dewa. Jadi bahan gosipan.
“Su suami saya Bu” jawab Kania pelan. Bukan karna dia tidak mau mengakui Adit sebagai suaminya, namun karna dia takut, Adit tidak terima di sebut sebagai suami olehnya.
“Oohh suaminyaa,,ini lumpuh apa gimana Neng??” tanya ibu julid lainnya.
“Suami saya hanya luka ringan Bu, bentar lagi juga sembuh, dan bisa jalan” terang Kania.
“Oooh kirain,,Abisnya Neng cakep bener,,masak mau punya suami lumpuh,,ya kan bu ibu” tanya Ibu yang paling julid menurut Kania.
“Neng kalau mau,,saya punya anak bujang cakep, kerja dikantoran lagi, hehe” goda salah seorang ibu-ibu.
“Bener Neng, kali aja mauu, ya kan???” ibu ibu lain mulai bersuara.
“Bukan apa-apa ya Neng, kita sebagai perempuan mah, berhak cari yang bisa bikin bahagia, bukan yang nyusahin,,ya gak ibu-ibu???” lagi-lagi ibu-ibu itu mencecar Kania dan menjelek-jelekkan Adit.
Sungguh Adit seperti jatuh, ditimpa tangga pula, ingin dia menyumpal satu per satu mulut ibu-ibu itu. Dan apa tadi??? Anaknya kerja kantoran?? kerja dikator mana?? ingin Adit memecat dan blacklist anak ibu itu dari semua perusahaan yang ada!
Namun lagi-lagi, Adit hanya bisa diam dan mendendam dalam hati.
“Ibu-ibu salam kenal ya,,saya pamit masuk dulu” Kania menyudahi basa-basi yang menurutnya sangat basiiii itu.
__ADS_1
“Iyaa Neng, salam kenal, kalau ada apa-apa panggil kita aja,,kita disini terus ngerumpii” ucap ibu-ibu itu sedikit berteriak. Dengan cepat, Kania mendorong kursi roda Adit dan masuk kedalam rumah kontrakannya.
“Huuffttt” Kania bernafas lega, bisa pergi dari kerumunan ibu-ibu rempong nan julid itu.
Adit melihat sekeliling, rumah ini? dirumah ini dia akan tinggal? yang benar saja! Adit tidak terima.
“Rumah apa ini? gua tidak mau tinggal disini” akhirnya Adit bersuara. Kania hanya diam, dia juga tau rumah ini jauh dari kata sempurna, namun dia tidak punya pilihan lain, dia juga tidak ada uang untuk menyewa rumah yang lebih mewah.
“Lo budeg ya?? gua gak mau tinggal disini” Adit kini mulai menyerang Kania dengan kata-katanya. Namun Kania tetap diam. Tidak ingin menanggapi apapun.
Melihat Kania yang diam tanpa ada sepatah katapun, Adit langsung meraih kantong kresek yang berisi nasi kotak. Dia melemparkan kearah Kania. Kania kaget melihat nasi dan lauk berserakan dilantai. Padahal itu bisa menjadi makan siang untuk mereka.
Lagi, Kania tidak merespon apapun, dia duduk memunguti nasi dan lauk yang berserakan itu.
“Semua karna lo, kalau lo tidak hadir dalam hidup gua, gua tidak akan jatuh miskin seperti ini, dasar wanita pembawa sial! menyusahkan!” Adit kembali menyumpah serapah istrinya.
“Andai kamu juga tidak hadir dihidup ku, aku tidak akan kehilangan Ayah ku, dan aku juga tidak akan kehilangan rumah peninggalan orang tua ku” bathin Kania. Air mata mengalir membasahi pipinya.
Kania bangkit dan meletakkan kembali nasi serta lauk diatas meja.
“Tunggu saja sampai aku sembuh, aku akan menghabisi mu” ucap Adit, dia menatap tajam kearah Kania.
Kania hanya bisa menelan ludah, hatinya kembali tersayat, bahkan dikondisi seperti ini, Adit pun tidak berubah, Kania salah sudah menyelamatkannya. Harusnya Kania membiarkan malaikat maut menjemputnya.
Kania membuka pintu kamar dan merebahkan tubuhnya didalam sana, dia tidak lagi memperdulikan Adit yang masih diluar sendirian.
“Aaaaaaa” Adit berteriak keras, terdengar sesuatu berserakan dilatai. Kania diam, dia kembali dalam tangisnya.
“Tuhaaaan,,salahkah aku sudah menyelamatkan dia?? kenapa dia masih saja tidak berubah?? Tuhaaann,,sakit sekali Tuhaann,,aku tidak sanggup” bisik Kania dalam tangisnya.
__ADS_1
“Awas saja kalian semua! Gua akan membalas semuanyaaa!” lagi-lagi Kania mendengar Adit menyumpah dari luar sana.
Ya Allah Dittt,,ga sadar diri banget luu,,untung masih di urus sama Kania, coba aja lu jadi gelandangan diluar,,iiiihhh,,kesel gua ame lu Dit...