Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 10


__ADS_3

Seminggu sudah orang tuaku menginap di


ruangan serba putih ini. Bersyukur hari ini mereka sudah boleh pulang. Aku pun


berkemas membereskan barang-barang. Jujur, aku nggak betah berlama-mama


di rumah sakit. Sehari bagaikan neraka apalagi dulunya aku pernah dirawat di


sini, itu mengingatkanku tentang jarum suntik yang menusuk-nusuk kulitku yang


belemak tebal. Ah, kalau diingat-ingat itu sangat mengerikan. Jarum suntik itu


hampir seutuhnya menancap di dagingku.


“Dek, maaf ya. Karena tangannya gemuk,


jadi pembuluh darahnya susah dicari,” jelas perawat yang ingin mengambil darahku


sekali lagi. Aku menggeleng kuat sembari memegang tangan mama. Ini sakitnya


luar biasa. Aku tidak mau disuntik lagi.


“Makanya ... kesehatan itu lebih penting


daripada apa pun, Dorin harus memperhatikan diri sendiri. Tidak ada diet-diet!” Kata-kata mama waktu itu.


Aku pun kembali berkemas yang tadinya sempat terhenti karena mengingat masa lampau.


Nenek sama kakek sudah pulang dua hari


yang lalu. Berat hati berpisah dengan mereka. Terlebihnya lagi aku sudah dua tahun lebih tinggal bersama mereka, aku akan merindukan kalian.


Tangan mama masih dibalut. Luka-luka


memar di wajahnya agak mulai memudar begitu juga dengan papa. Meskipun papa


diizinkan pulang lebih dulu, tapi dia ingin

__ADS_1


dirawat sampai istrinya dibolehkan


pulang. Mereka memang pasangan yang so


sweet. Rasa cinta di antara mereka makin bertambah setiap harinya. Hmmm, mungkin merekalah pasangan teromantis di dunia ini. Aku juga pengen! Teriakku dalam hati.


Pak Nono membantuku memasukkan barang ke bagasi. Penuh. Ditambah dengan batang-barangku yang belum dioper ke rumah. Semenjak dari kampung, aku gak pulang ke rumah. Mandi di sini. Makan di sini.


Tak ingin ketinggalan moment-moment penuh kehangatan.


Mobil pun melaju ke rumah. Aku duduk


bagian depan, samping Pak Nono. Sedangkan mama-papa di belakang.


Aku menoleh ke belakang sebentar. Lalu


kembali menghadap ke jalan raya. Selama di rumah sakit, aku ingin membicarakan


tentang mau melanjutkan sekolah di mananya. Masih bingung juga. Padahal awalnya sudah mentok ke SMK. Namun secara diam, aku mendengarkan percakapan mereka dalam keadaan pura-pura tidur. Papa menginginkanku jadi dokter atau menjadi


hanya membalas, ‘Pa, terserah Dorin saja mau ngelanjutin ke mana. Lagian, Dorin


juga, kan, yang menjalankan hidupnya’. Kata-kata Mama membuatku terharu.


Bagiku, mama adalah wanita yang sempurna; baik, cantik, jago masak, penyayang, tegas sama anaknya, dan ... ah, aku tidak bisa mendeskripsikan dengan kata-kata.


Tidak lama kemudian, kami pun sampai di


depan pagar rumah. Pak Nono menekan remot. Perlahan pagar besi itu terbuka secara otomatis. Masuk. Pagar pun tertutup kembali.


Aku berdiri lama di depan rumah.


Mendongak. Menatap kamarku dari bawah. Sudah lama tidak melihat mereka, koleksi


komik kesayanganku. Aku mengusap sudut mata kiri yang tak berair, terserah! Mungkin terlihat lebay. Tapi aku benar-benar kangen rumah ini.


Huaaa!

__ADS_1


Aku segera berlari ke dalam dan disambut


Mbok Nini di depan pintu. “Mbok, tolong bawa barang-barangku!” teriakku berlari menaiki anak tangga. Entah kenapa setelah berada di sini, diriku kembali seperti semula. Pemalas kata yang cocok untuk itu. Kalau Meka ada di sini pasti dia akan berkomentar, ‘dasar pemalas! Bawa barang-barangmu sendiri!’.


Hmmm, soal Meka, orang tuaku hanya


terkekeh mendengarkan ceritaku tentang kejahilan Meka di telepon. Padahal


anaknya ditindas, loh! Terlebih lagi Mama, mungkin wajahnya sudah memerah


karena tertawa terpingkal-pingkal di ujung sana. Dia mirip Meki, komentar Mama di sela tawa.


Jidatku berkedut.


Tidak! Paman tidak mirip dengan Meka.


Dia lebih mirip dengan mamanya. Aku membantah, tapi Mama melanjutkan


komentarnya, ‘dulu pamanmu memperlakukan mama seperti itu, biar gak cengeng dan manja!’.


Pokoknya dilihat dari kaca pembesar pun.


Sikap Meka gak mirip dengan paman.


“Oh, kamarku tersayang,” gumamku setelah


berada di depan pintu, lalu mengusap gagangnya dengan lembut—membuka perlahan dan melangkah masuk. Mataku berair dengan senyuman merekah menyaksikan koleksiku pada rak-rak kayu yang menepel di dinding. Tertata rapi. Tadinya aku berpikir Mama akan membakar atau membuangnya. Karena dulunya Mama sempat memprotes hobiku. Meski kena marah tiap kali membeli komik, Mama hanya bisa menghela napas kasar.


Aku menghempaskan tubuh ke kasur.


Menghirup dalam-dalam selimut tebalku. Wangi dan lembutnya masih sama. Aku rasa


Mbok Nini selalu membersihkan kamar ini, tak ada sedikit pun debu menempel di kaca atau di meja belajarku.


“Aku merindukan kalian,” gumamku pada seisi


ruangan ini.

__ADS_1


__ADS_2