Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 49


__ADS_3

Sesampainya di kamar, aku melempar tas ke sembarang arah. Kakiku melangkah menuju jendela kamar,


embusan angin menerpa wajah dan membelai rambutku dengan lembut. Pandanganku tertuju ke arah jendela kamar Vino yang terbuka. Kurasa dia belum pulang, mungkin saja dia masih latihan basket dengan teman-temannya.


“Dia memilki cara yang berbeda membuat hatiku luluh,” gumamku tanpa sadar. Akhir-akhir entah mengapa aku


selalu memikirkannya hingga dimana pun wajahnya selalu terbayang. Berdebar. Tanganku sudah mendekap ke dada,semakin cepat. Apa aku jantungan? Aku menggeleng kemudian. Ini hanya terjadi saat aku memikirkan si Vino Virgo itu. Sial! Makiku dalam hati karena membayangkan di depan sana cowok itu tersenyum padaku.


“Ehem!” Seseorang berdehem dan membuatku mengedipkan mata beberapa kali. “Apa wajah gue begitu memesona?” Suara itu menyadarkanku.


“Se-sejak kapan kamu ada di sana?!” sontakku menunjuk lurus ke arah Vino. *Apa dia mendengar apa yang kuucapkan sebelumnya?*Oh tidak! Rasanya aku ingin menenggelamkan diri ke dasar lautan yang terdalam.


Aku menutup wajah di belah kedua telapak tangan. Memalukan. Ah, kamu bodoh, Rin, saking bodohnya, kamu tidak bisa membedakan mana nyata dan mana yang tidak.


“Rin!” Aku menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu yang baru saja terbuka.  “Nah, kebetulan ada Vino di rumah. Rin, bisa antarkan ini ke tempat Vino?” kata Mama melirik ke seberang sana.


“Halo, Tan. Kapan pulang?”


“Tadi siang, Vin.”


Aku mendekatkan diri ke Mama lalu berbisik. “Rin mau mandi, Ma!” Alasanku agar tidak mau bertemu cowok


itu. Malu.

__ADS_1


“Iya, anterin ini dulu, setelah itu Rin bisa mandi.”


Aku mengambil bingkisan plastik itu dengan napas berat dan melangkah berat menuju rumah Vino. Kalau Mama sudah menyuruh, aku tidak bisa menolak.


“Ma ...,” Aku berbalik--berdiri tepat di depan pintu kamarku yang terbuka. Mama terlihat mengemaskan komik-komikku yang ada di atas kasur. “Boleh Rin tanya sesuatu?”


“Rin mau tanya apa?”


***


“Ini,” kataku memberikan bingkisan itu pada Vino, ternyata dia sudah membukakan pintu untukku. “Aku pergi.”


“Tunggu!” seru Vino setelah mengambil bingkisan itu dari tanganku. Aku hanya berdecak dalam hati sembari membalikkan badan—tanpa memandangnya.


“Apa lagi?” tanyaku dengan nada datar—melihatnya sekilas—kembali melirik ke arah lain. Ternyata melihatnya sedekat ini, benar-benar bikin candu. Ouh! Inginku berteriak, kenapa aku jadi ter-Vino-Vino gini? Padahal perkataan Mama tadi, bisa saja membuatku tersadar dengan kenyataan..


Aku membalas mengangguk pelan, masih tidak menatap matanya saat berbicara. “Kalau gitu ... aku balik dulu.” Aku mengarahkan ibu jariku ke samping, ke arah rumahku.


“Rin.”


Oh ... bukan saja tampangnya saja, tapi suaranya bikin candu. Seakan terdengar memanggil namaku dengan irama yang lembut. Apa aku sedang berhalusinasi lagi? Oih, Rin. Sadarlah!


“Ya?” Kali ini aku memandangnya, tatapannya cukup serius.

__ADS_1


“Lo ingat apa yang kita bahas di sekolah tadi, kan? Lo harus jauhin Gafa.”


Aku menghela napas pendek. Ini anak masih saja membahas masalah itu. “Iya, aku tahu. Lagi pula aku tidak ingin berurusan dengan orang itu.” Aku berdehem kemudian sembari melipat tangan di dada. “Sekarang, kamu tidak perlu khawatir lagi, Vin. Mama juga sudah pulang, lagi pula aku bisa jaga diri aku sendiri. Dan, kamu tidak perlu menuruti perintah Mama untuk menjagaku.”


Kerutan halus tampak di jidatnya.


“Aku tahu.”


“Maksud lo, Rin?”


“Tidak mungkin seorang Vino Virgo, yang tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba baik dan perhatian begitu saja.” Itu baru terpikirkan olehku dan tadi aku mendesak Mama agar menceritakan semuanya. Aku mengambil napas sejenak, menatap ke dalam bola matanya yang hitam sepekat malam. “Selama ini ... Mama, kan, menyuruh kamu menjagaku?”


Tanpa suara, cowok itu hanya memandangku, tak lama kemudian mengangguk kecil. “Hah, jadi semuanya jelas ....” balasku. Kerutan tipis di jidat Vino terbentuk lagi. Aku tidak tahu, apa dia tahu maksud perkataanku atau tidak. Dan, entah mengapa aku merasa sangat kecewa.


“Apa kamu melakukan ini karena merasa bersalah di masa lalu?”


“Gue tidak—”


“Jika kamu melakukan ini karena menebus dosamu, itu tidak perlu, Vin. Aku sudah melupakannya.”


“Rin, gue—”


“Maaf, Vin. Aku pergi dulu, ada yang harus kukerjakan.” Aku berbalik dan berjalan cepat meninggalkan rumah Vino Virgo. Aku menggigit bibir bawah, menahan sesuatu yang akan keluar dari mata. Padangan kiriku sedikit mengabur, aku mengerjap beberapa kali untuk menghilangkan air mata yang menggenang.

__ADS_1


Dadaku terasa sesak. Entah mengapa aku merasa kecewa, lebih tepatnya pada diriku sendiri. Aku sudah melanggar komitment awal yang kubuat.


Bersambung ....


__ADS_2