Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 43 (Friska)


__ADS_3

Kita putus! Dan satu lagi, kali ini gue enggak akan tinggal diam kalo lo nyakitin Dorin, ingat itu.


Kata-kata Fandy masih saja terngiang di telinga hingga sampai di rumah.


"Aaaa ...!" Gue membuka pintu kemudian membantingnya cukup kuat. Memekik histeris, "Ini salah lo! Dasar cewek oplas!" Membanting tas ke atas kasur.


Barang-barang gue yang ada di meja rias sudah terjun bebas ke lantai. Berserakan ke segala arah, begitu juga hadiah parfum pemberian Fandy. Pecah.


Air mata gue tidak berhenti. "Hiks ...." Rasanya tubuh gue lemas dan tanpa sadar sudah bersimpuh di lantai--menatap tampang gue yang mengerikan di depan cermin. Padahal sudah berdandan cantik untuk pergi kencan dengan Fandy. "Fan, kenapa lo tega mutusin gue demi cewek oplas itu, hiks. Gue nggak bisa diginiin. Lo tahu, kan, gue sangat cinta sama lo."


...***...


"Kenapa tampang lo kek benang kusut gitu, Fris?" Devin baru saja datang dengan teman-temannya. Tempat ini adalah bascamp tempat berkumpul orang-orang populer seperti kami. Sudah lama gue nggak ke sini. Juga, gue pernah mengajak Fandy ke tempat ini satu kali, namun setelah itu dia menolak tidak ingin datang ke tempat ini lagi


Devin tersenyum sembari melingkarkan lengannya ke bahu gue. "Gue sudah menyelesaikan misi yang lo berikan," bisiknya ke telinga gue.


Gue pun langsung berdiri dari bangku yang baru saja gue duduki hingga tangannya menjauh. Menatap cowok itu tajam. Dasar cowok tidak berguna.


"Lo ...." Kepala gue mendongak dan menunjuk tajam ke arah wajahnya. Hampir saja gue memakinya dan bilang kalau pekerjaannya tidak becus. Gue memang menyuruh Devin untuk menghapus rekaman dari cewek oplas itu, tapi entah dari mana Fandy mendapatkan bukti lain kesalahan gue. Agrh! Menyebalkan.

__ADS_1


"Kenapa lo kesal?"


Menghela napas. Tidak mungkin gue bilang kalau gue putus sama Fandy. Gue nggak mau anak-anak tahu soal ini. Bagaimanapun caranya, Fandy harus balik sama gue.


"Fris, lo mau ke mana?"


Tadinya gue pikir bisa menenangkan otak berada di sini, tapi tambah membuat kepala gue sakit.


...***...


"Kak Fris sudah pulang? Mama mengkhawatirkan Kakak."


Baru masuk rumah, gue sudah disambut dengan wajah yang menjijikkan, membuat emosi gue semakin naik.


"Kak Friska kenapa? Kenapa menangis? Apa terjadi sesuatu?"


Tanpa sadar air mata gue jatuh membasahi pipi. Gue ingat kenangan bersama Fandy, sudah setahun lebih kita bersama. Hanya Fandy ... hanya Fandy yang ada untuk gue, yang ngerti perasaan gue, yang selalu menghibur gue.


"Pergi lo!" Gue mendorong Nora hingga tubuhnya mengenai bibir meja, dan tangannya menjatuhkan vas bunga. Pecahannya berserakan di lantai.

__ADS_1


Gue menatap tangannya yang terkena pecahan vas bunga. Tidak peduli. Kali ini gue tidak takut ancaman cewek oplas itu karena Davin sudah menghapus rekaman itu.


"Aaaa!" Gue berteriak seperti orang kesetanan. Lagi pula itu percuma. Tidak ada gunanya lagi. Hubungan gue sama Fandy sudah berantakan. "Ini salah lo, dan teman lo itu!"


"Hentikan. Sakit, Kak. Sakit!" Gue seperti orang gila menarik rambut Nora.


"Sayang, apa yang terjadi?"


Suara itu mengagetkan dan menghentikan gue menyiksa anaknya. Gue menelan ludah. Topeng selama ini gue pasang dengan sempurna, apa akhirnya terbongkar? Apa dia akan melapor keburukan gue sama Papa?


"Sayang, apa terjadi sesuatu?"


Gue terkejut. Wanita ini malah memeluk gue, bukan anak kandungnya. Kemudian mengelus rambut gue dengan lembut.


"Maa, hiks."


Tanpa sadar gue menangis di pelukannya. Padahal gue sangat membenci wanita ini. Gue pun selalu berpura-pura baik di depannya.


"Ayo, ke kamar. Cerita sama Mama."

__ADS_1


Gue hanya mengangguk kecil berjalan di sisinya. Suasana ini, mengingatkan gue dengan Mama.


Bersambung ....


__ADS_2