
Gara-gara aku hubungan duo serigala itu semakin memburuk. Fandy dan Friska sudah menghilang dari pandangan, kini tinggal aku dan Shiro.
"Rin, lo nggak apa?" Tatap Shiro khawatir mendekat ke arahku. Aku pun membalas mengangguk.
"Apa maksudnya dengan peraturan yang kalian buat?" tanyaku penasaran.
"Bukan apa-apa. Bel sudah bunyi, ayo kembali ke kelas bersama-sama," katanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Aku mengangguk kembali, berjalan di sampingnya. "Kalian belum baikan?" tanyaku menoleh ke samping, menatap cowok tinggi putih itu.
Shiro menoleh sembari mengangkat bahu. "Gue nggak tahu, Rin. Seakan ada jarak di antara kami."
Aku berhenti--menghadap ke arah Shiro yang ikut menghentikan langkahnya. "Ini gara-gara aku, kan?"
Shiro memandangku lama, namun bibirnya masih saja terkatup rapat. Apa dia juga tidak mau membahas ini denganku? Kamu sama saja dengan Vino.
"Shiro."
"Sebaiknya lo menjauh dari Friska," ujar Shiro padaku, seakan dia ingin menjauh dari topik yang kubahas. "Gue nggak mau Friska nyakitin lo lebih dari ini dan soal foto-foto itu gue yakin itu ulahnya juga."
Shiro memandangku dengan tatapan teduh. "Maafin gue, gue tidak bisa berbuat apa-apa, terlebih Fandy yang salah paham sama elo, Rin."
"Tidak masalah. Aku paham kenapa Fandy bersikap seperti itu. Terima kasih, Shiro."
__ADS_1
Kami pun kembali melangkah menuju kelas.
Shiro, dia memang cowok yang baik dari dulunya. Tersenyum ramah pada semua orang dan juga termasuk diriku, sikapnya akan berubah jika berkumpul dengan kedua sahabatnya. Begitu juga setelah aku menyatakan cinta padanya, sikap Shiro benar-benar berubah, seakan dirinya memberi jarak padaku, dia sama seperti cowok yang lainnya, memandang seorang gadis dari body dan penampilan.
"Sampai sini saja," ucapku ketika kakiku sudah menginjak anak tangga pertama. "Aku tidak mau fans-mu berpikiran macam-macam padaku."
Karena aku sudah cukup lelah ketika mendengar gosip anak-anak yang mengatakan bahwasanya, aku akan mengincar dan mengencani ketiga cowok tampan itu.
"Lo nggak perlu dengarin kata orang-orang, Rin. Lo hanya perlu melihat dan mendengarkanku."
Aku pun membalik. Jarak di antara kami begitu dekat. Tinggi kami sejajar, aku bisa melihat ke dalam bola mata Shiro yang gelap sepekat malam. Aku tidak merasakan apa-apa di sini, di dadaku. Kenapa? Kalau saja di hadapanku adalah Vino, apa jantungku bakalan melompat ke luar?
Bodoh! Kenapa aku malah kepikiran orang itu?!
Jidatku mengernyit. Sejauh mana kamu tahu tentang aku, Shiro?
*Kumohon, jangan terlalu baik padaku karena aku tidak bisa menerima perasaanmu. Aku merasa bersalah jika kamu seperti ini. Kupikir mengabaikanmu adalah jalan terbaik, tapi kenapa setiap kali aku menjauh, kamu malah semakin mendekat?
Jujur saja, untuk saat ini aku belum memiliki perasaan untukmu karena sudah membuangnya jauh. Tapi, jika kamu bersikap peduli dan perhatian ... aku tidak tahu* ....
"Sampai kapan lo berdiri di sana, ha?"
Aku menoleh pada cowok yang berdiri di depan pintu kelasnya. Menatap dingin ke arahku.
__ADS_1
Itu pertanyaan untukku atau untuk temannya, Shiro?
"Lo nggak liat gue bicara sama Dorin?"
"Gue nggak bicara sama lo!" jawab Vino dingin. Tatapan matanya seakan mau menerkam seseorang.
Entah mengapa, jika berada di antara duo seriga dalam suasana seperti ini selalu membuat bulu kudukku berdiri.
"Lo nggak lihat?" Vino memperlihatkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah sepuluh menit lewat lo terlambat masuk kelas. Lo tahu, kan, apa yang bakalan terjadi?"
Apa maksudnya?
Jidatku mengerut kemudian berseru, "Killer Be!" Tanganku menepuk jidat. Hari ini adalah dengan pelajaran dengan Guru Bean, anak-anak memanggilnya dengan julukan Killer Be karena, terlambat satu menit saja, kamu akan diberikan hadiah oleh guru itu. "Terima kasih, Vin. Aku masuk kelas dulu!" kataku cepat-cepat menaiki anak tangga.
"Hati-hati, Rin!" teriak Shiro saat diriku hampir saja terjatuh.
Aku hanya memberikan jempolku tanpa menoleh ke belakang.
Teringat sesuatu. Kakiku berhenti melangkah lalu menatap ke bawah. Berpikir, dari mana Vino tahu kalau aku sekarang belajar dengan Killer Be?
Bersambung...
...***...
__ADS_1