
Gue sudah sampai di tempat pertemuan yang dijanjikan. Dan gue tidak menyangka akan membahas hal pribadi di tempat ini.
"Kalian tidak setuju?" tanya Vino menatap gue dan Fandy secara bergantian.
"Yah, tidak masalah. Lagi pula kita sedang tidak mengadakan rapat OSIS," kata Fandy duduk di kursi, dan gue pun ikut duduk yang agak berjauhan dari dirinya. Fandy menatap gue lalu berkata, "Lo pikir gue terkena rabies?"
Gue hanya mengangkat bahu sebagai balasan. "Bukan gue yang bilang," cibir gue ke Fandy dan dia pun membuat wajah masam.
Vino berdehem. "Bisa kita mulai?"
Gue pun mengangguk. Seperti biasa, jika ada masalah cukup berat di antara kami, maka dalam beberapa hari kami akan saling berdiaman, dalam fase ini kami mencoba memikirkan apa kesalahan yang diperbuat. Mencoba untuk tidak mementingkan ego. Setidaknya, dalam beberapa hari ke depan amarah yang timbul akan sedikit berkurang dari hari ke hari.
Setelah merasa cukup tenang, salah satu di antara kami pasti akan mengambil tindakan untuk membahas apa yang terjadi. Padahal sebelumnya gue tidak yakin akan diadakannnya pertemuan ini. Secara, permasalahannya dengan gadis yang sama.
"Jadi, siapa yang mau mulai duluan?" tanya gue menatap Vino, kemudian beralih ke Fandy. Gue tahu awal mula kita perang dingin itu waktu di kantin. Gue yang memulainya duluan lalu disambut Vino. Memanas. Dan, karena itulah gue tahu perasaan Fandy ke Dorin, ya, kalau dia mau terbuka menjelaskannya di sidang ini.
Vino menoleh ke arah Fandy dengan tatapan tenang, namun seakan mengintimidasi. "Gue," serunya.
Gue pun juga penasaran apa yang akan Vino tanyakan.
Fandy mengangkat satu tangannya, gerakan seakan menyetop. "Gue yang duluan," ujarnya membuat gue mengalihkan pandang ke arah Fandy.
"Oke," balas Vino santai, sedangkan gue cuma nurut saja di sini karena, gue ini anaknya memang penurut.
"Kenapa lo marah sama gue?"
Gue menunjuk diri kemudian mendesah. Lo kagak sadar kenapa gue marah? gumam gue dalam hati.
"Apa pertanyaan itu perlu gue jawab? Bukannya lo sudah tahu jawabannya?" Balik gue bertanya.
Fandy mengebrak meja yang ada di depannya. Matanya memelotot tajam ke arah gue. Dia terlihat marah dari sebelumnya. " Eh, Meong. Kalo maksud lo itu tentang masalah Dorin dan Friska, ini masalah nggak bakalan berujung sampe kiamat. Lo akan selalu menyalahkan cewek gue."
"Jadi lo nyalahin Dorin gitu?" balas gue tidak mau kalah. Elo-nya saja yang dibutakan betina itu. Nah, kalau gue sebut ceweknya betina dengan lantang, palingan emosi lagi itu orang.
Vino tersenyum simpul, namun terkesan dingin.
"Kenapa lo senyum, Vin!" Fandy mengerutkan jidat menatap Vino. Sama. Gue juga heran, apanya yang lucu?
"Cewek lo?"
__ADS_1
"Dia memang cewek gue, ada masalah dengan itu?" tanya Fandy dengan tampangnya masih heran memperhatikan Vino.
"Gue nggak tahu lo terlalu baik atau terlalu begok, Fan?"
"Apa maksud lo, Vin?" Suara Fandy terdengar datar. Mendengar itu ... gue cuma menahan emosi, kenapa saat gue bilang Fandy begok, Fandy malah lebih emosi daripada gue? Kenapa, kenapa ha?
Gue hanya bisa memaki dalam hati, Fandi Sialan!
"Gue tahu lo terpaksa jadian dengan Friska dan elo nggak mau dia kecewa, kan?"
"Gue--"
Sebelum Fandy melanjutkan kata-kata, ucapannya dipotong Vino.
"Gue tahu lo nggak suka sama Friska. Elo hanya kasihan sama dia. Karena lo nggak ingin ngebuat Friska malu di depan anak-anak," sambung Vino.
Bisa dibilang Fandy itu orangnya, pertengahan antara begok dan begok amat. Nah, lo pikir saja sendiri maksud gue apa.
"Vino memang bener, Fan. Lo emang begok."
Fandy mengerutkan wajah--menatap gue masam--menarik kerah baju gue secara tiba-tiba, membuat gue sedikit syok.
"Apa maksud lo bilang gue begok, ha?"
Gue pun menunjuk Vino. "Gue cuma mengulang kata Vino." Sori, Vin. Terpaksa gue bersembunyi di belakang lo.
Vino menatap kami berdua, Fandy pun melepaskan genggamannya dari kerah baju gue. Sialan, sudah lama sekali gue tidak melihatnya marah seperti ini, sekalinya marah, fiuh ... nyawa gue berasa di tenggorokan.
Setelah kami berdua duduk seperti posisi sebelumnya, Vino kembali berkata, "Kalau lo orangnya penuh kasih, kenapa lo menolak Dorin waktu itu? Dan kenapa malah nembak Rissa?"
Tampak Fandy mengatup rahangnya kuat. Dia pun mengepal kepalan tinjunya yang ada di atas pahanya.
Nah, ini. Gue juga nunggu penjelasan ini dari Fandy, batin gue.
Fandy menoleh ke arah gue lalu beralih menatap Vino lama. "Kenapa kalian menyudutkan gue kek gini, ha?"
Vino mengeluarkan sesuatu dari kantung celana, memegang handphone di tangannya, kemudian meletakkan benda itu di hadapan Fandy.
"Itu gue temukan di kamar lo."
__ADS_1
Setelah melihatnya, Fandy kembali meletakkan benda itu di atas meja, lalu gue cepat mengambilnya karena penasaran. Bukankah ini Dorin? Gue lihat foto lama Dorin dalam HP Vino. Dia mengenakan seragam Sekolah Dasar. Jadi yang Vino bilang di kantin waktu itu ...
"Andaikan lo jujur sama gue. Ini semua tidak akan terjadi! Lo nggak akan bikin Dorin sakit hati, Fan!"
"Bagaimana lo jelasin ini, kalau lo nggak suka Dorin. Lo nggak mungkin nyimpan foto itu, Fan!" sambar gue sembari menunjuk HP Vino.
Fandy tidak menjawab pertanyaan gue. Malah berteriak, "Jadi ini semua salah gue?" Entah mengapa Fandy menaikkan nada tiap kali gue berbicara padanya.
Gue terdiam. Nyali gue langsung menciut.
Dia pun melirik Vino sembari berkata, "Lalu, mengambil seseorang yang disukai teman gue? Kemudian persahabatan kita hancur seperti sebelumnya?" kata Fandy memelankan suaranya, namun masih terdengar tegas.
Rahasia apa yang tidak gue ketahui di antara mereka berdua? Tatap gue memperhatikan saat mereka saling pandangan.
Gue mencoba mengingat-ingat kata-kata Vino di kantin waktu itu. Sepenggal kata terlintas. Mata gue langsung melebar. Gue mengangkat kedua tangan ke depan--kedua orang itu menoleh serempak ke arah gue.
"Tunggu sebentar. Gue ada pertanyaan. Fan, jadi lo tahu Vino suka Dorin sejak kelas tujuh?"
Fandy mengangguk.
"Kalau lo Vin? Kapan lo tahu Fandy suka sama Dorin?"
"Lo ingat saat acara kelulusan? Saat itu kita ngadain pesta dan nginap di rumah Fandy."
Gue bertepuk tangan sekali. "Ya, gue ingat. Dan saat itulah lo menemukan foto Dorin," sambung gue mendapat anggukan dari Vino.
Gue terdiam beberapa detik.
"Jadi lo pada nggak cerita masing-masing?" tanya gue.
Vino menunjuk Fandy dengan ibu jarinya. "Gue ketahuan dia duluan. Meski seperti itu, dia lebih peka dari yang gue duga."
Mendengar kata-kata Vino barusan membuat gue menyipitkan mata. "Peka apanya, kalau dia peka, nggak mungkin dia nyalahin Dorin." Gue spontan bangkit dan mundur selangkah saat Fandy hampir saja meraih kerah baju gue.
"Yang dikatakan Shiro itu benar, Fan. Gue sudah menyelidiki semuanya." Vino melempar sebuah plesdis ke arah Fandy. "Jadi, lo jangan terlalu percaya sama cewek kesayangan lo itu."
Gue penasaran apa yang ditemukan Vino. Bukti apa yang membuatnya yakin kalau dia bisa meyakinkan Fandy?
Diam-diam gerakan Vino cepat juga.
__ADS_1
Bersambung ...
......***......