Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 53


__ADS_3

Tanganku berhenti menulis ketika mendapati ponselku berbunyi. Biar kutebak, pasti Meka yang menghubungiku, tanpa pikir panjang aku meraih ponsel dan menjawabnya.


"Hallo, Mek. Ada apa?" Senyumku membayangkan kerutan pada jidat Meka.


"Ada apa?" tanya Meka singkat. Tadinya kupikir dia akan berbicara panjang lebar karena tadinya aku yang menghubungi Meka duluan karena ragu berbicara apa, aku langsung mematikan telepon sebelum Meka angkat. "Gue lagi sibuk nih," sambungnya lagi.


Aku menghela napas pendek. Berpikir, kenapa orang-orang di sekelilingku berubah? Dari suaranya, entah mengapa aku merasa Meka bersikap dingin kepadaku.


"Hmmm, nggak ada. Tadi kepencet doang."


"Oh," balas Meka singkat.


Benar, Meka berubah. Biasanya kalau aku bilang gitu, Meka akan balas, bilang aja lo kangen sama gue. Tapi jawaban Meka barusan membuatku tidak terduga. Apa dia benar-benar sibuk hingga tidak bisa bercanda lagi seperti biasanya?


"Yaudah. Ada yang mau gue urus. Bye."


Belum sempat aku jawab, Meka sudah memutus sambungan teleponnya.


Aku menghela napas sembari meletakkan ponselku dengan kasar. Agak menyebalkan memang.


Aku menyandarkan kepala pada sandaran kursi sembari menatap langit-langit kamar. Suasana hatiku berubah, sangat malas rasanya untuk melanjutkan mengerjakan tugas.


"Mungkin sebaiknya aku tidak memberitahunya ...."


Lagi pula kejadian itu sudah lama. Meka juga tidak akan bertemu Gafa lagi. Kuharap mereka tidak akan pernah bertemu. Seharusnya memang begitu. Biarlah ini menjadi konsekuensiku yang pernah bertemu dengan Gafa di masa lalu dan sekarang aku perlu menghadapinya, bukan?


Tapi aku penasaran, bagaimana reaksi Meka jika aku mengatakan kalau aku bertemu Gafa di sekolah?


...***...


Selesai bersih-bersih aku turun dan bergabung bersama keluargaku untuk makan malam.


"Masak apa, Ma?" tanyaku melihat tangan Mama yang sudah mulai sehat. Padahal Papa sudah menyuruh Mama untuk beristirahat dulu dan tidak melakukan apa-apa lagi pula ada si mbok yang siap membantu.

__ADS_1


"Cumi balado. Ayo bantu Mama angkat ini ke meja makan."


"Siap, Ma." Aku mengambil piring yang berisikan cumi balado dari tangan Mama lalu membawanya ke meja makan. "Tumben hari ini menunya banyak. Ada acara apa, Ma?"


"Mama Vino baru balik dari kampung, jadi Mama mau undang mereka makan malam bersama kita," ujar Mama meletakkan sendok di atas cumi yang kubawa tadi.


Bel rumah berbunyi. "Nah, sepertinya itu Tante Mona. Buka gih pintunya, Rin."


Aku melirik ke arah pintu lalu mengangguk pelan berjalan ke arah sana.


Aku membukakan pintu. Terlihat sepasang suami istri dan juga anaknya yang berdiri di belakang mereka berdua.


"Do ... rin?" Tante Mona menatap ragu, ya, setelah sekian lama tak bersua ini kali pertamanya kita bertemu kembali.


"Halo, Om ... Tante." Aku mengangguk tersenyum sembari bersalaman dan mencium tangan Tante Mona. Perempuan itu mengusap pucuk kepalaku dengan lembut dan kini beralih bersalaman dengan Papa Vino yang tinggi mereka hampir sama, yang mungkin suatu saat nanti Vino bisa mengalahkan tinggi papanya.


"Silakan masuk, Om-Tante" kataku ramah.


"Mau masuk kagak?"


Vino berdehem sembari membawa bingkisan tersebut masuk. "Katanya nggak marah. Itu apa ...?" ledek Vino melewatiku.


Aku mendengus sembari menutup pintu dan menyusulnya dari belakang.


"Hallo, Mora. Apa kabar? Bagaimana tangannya sudah sembuh?"


Mama tersenyum sembari memamerkan tangannya beserta makanan yang sudah dimasak mama.


"Terima kasih, Vin. Ayo, silakan duduk." Mama menerima bingkisan yang dibawa Vino yang dibalas anggukan oleh cowok tinggi itu.


"Hum, suamimu mana, Mor?"


Panjang umur. Baru saja ditanya Tante Mona dan Papa muncul dari balik pintu dengan membawa tas tentengan kulit di tangan kanannya. Dasi yang menempel di leher dilonggarkan bersamaan dengan jasnya. Papa memang tampan dalam suasana apa pun.

__ADS_1


"Maaf, aku telat." Ciumnya pada jidat Mama tanpa memedulikan sekeliling. Mereka memang selalu romantis dan selalu bikin iri. Adakah cowok yang sosokya seperti papa di dunia ini?


Papa tersenyum sembari memberi salam kepada keluarganya Vino sebelum ke kamar untuk mengganti pakaian.


Tak lama setelah itu Papa ke luar dari kamar dan bergabung dengan kami.


"Tadinya Tante nggak nyangka lo kalau ini Dorin."


Aku hanya tersenyum sembari menyuap makananku. Sedari tadi Mama Vino tidak berhenti memujiku dan itu membuatku malu.


"Apa Vino masih jail lagi sama Dorin?"


Aku terbatuk atas pertanyaan Tante Mona yang tiba-tiba. Ya, karena kejadian waktu itu (membuat tangan Vino berdarah), Tante Mona jadi tahu kalau anaknya suka menjailiku.


"Kalau Vino masih ganggu Dorin, kasih tahu Tante, ya. Biar Tante jewel telinganya."


Aku tersenyum senang sembari melirik ke arah Vino karena mamanya berada di pihakku dan cowok itu hanya membalas dengan tatapan datar dan tak berkomentar.


"Malah sekarang Vino jaga Dorin loh, Mon."


Aku melirik ke arah Mama dengan tatapan menyipit. "Tapi itu, kan, Mama yang suruh!" seruku. "Jadi, Mama nggak usah suruh-suruh Vino lagi untuk jagain Dorin. Aku bisa kok, jaga diri, Ma!"


"Dorin," panggil mengingatkan karena suaraku sedikit meninggi dan kutahu itu tidak sopan.


"Maaf, Pa." Aku mengambil air gelas yang ada di sampingku lalu meneguknya hingga menyisakan setengah.


"Baiklah."


Suara barusan membuatku melirik ke arah Vino. Dan entah mengapa aku merasa kecewa?


Kenapa Rin? Bukankah itu bagus? Dan itu yang kamu inginkan? Perhatiannya hanya membuatmu kacau.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2