Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 45


__ADS_3

"Rin!" panggil Fandy mengangkat tangannya. Sesuai janji, dia benar-benar menemuiku di kelas.


Ah, aku tidak mau anak-anak di kelas ini salah paham lagi denganku, apalagi Fandy baru saja putus dengan Friska, aku tidak mau nantinya gosip-gosip itu tambah menganggu kehidupanku.


"Bukankah sudah kubilang jangan menjemputku ke sini," kataku disusul dengan helaan napas kecil.


"Kalian mau ke mana? Ela ikut!" Seseorang tiba-tiba saja menyela pembicaraan.


Fandy mengembangkan senyumnya lalu mengusap kepala Ela, seperti mengusap kepala anak kucing. "Dedek di sini aja, ya," katanya dan itu terdengar seperti berbicara dengan bocah lima tahun.


Ela mengerucutkan bibirnya lalu menepis tangan Fandy. "Jangan panggil Ela Dedek! Ela nggak suka!" seru Ela tampak membuang bekas usapan Fandy di kepalanya.


Fandy hanya tertawa setelah itu lalu menarik tanganku ke luar. "Dek, gue pinjam Dorin sebentar."


Dedek? Jidatku mengerut. Apa mereka sedekat itu?


Oh ... bisa saja, kan? Shiro kan abangnya, tentu saja mereka terlihat akrab. Dan tidak heran juga mereka mati-matian bertaruh memenangkan pertandingan basket melawan Devin.


...***...


"Kenapa menghela napas terus?" tanya Fandy membuatku menopang dagu dengan satu tangan.


Apa dia tidak sadar anak-anak sedang menggosip dan memperhatikan kita sedari tadi?


"Bukankah kita hanya bicara? Kenapa malah menyeretku makan di kantin ini?"


Fandy hanya nyengir. "Gue lapar, belum makan dari pagi."


"Jadi, kamu mau bicara apa?"


Fandy berhenti menyuap lalu kembali melirikku. "Jangan jutek gitu dong, Rin. Kita makan dulu, habis itu baru bicara, Oke?"


"Hah, terserah kamulah!" seruku setelah itu menyuap makanan yang dibelikan Fandy. Kali ini dia yang mentraktirku. Kalau diingat, dulu aku sering mentraktir dia dan juga Karissa. Oh, tidak, padahal padahal aku tidak ingin mengingat nama itu lagi.


"Jadi, kalian sudah baikan?" tanyaku mengubah topik pembicaraan.


Fandy mengangguk sambil mengunyah makanannya. "Itu biasa terjadi. Biasalah, hal kecil pun bisa jadi pertengkaran di antara kami, setelah itu kami seperti bisa lagi," jawabnya dengan santai.


"Baguslah kalau gitu. Lagi pula pertengkaran kalian tidak jelas." Aku berdehem setelah itu. "Tapi ... aku melihat kamu dan Shiro masih agak canggung."


Fandy tidak membalas kata-kataku dia malah berkata, "Aaah, kenyangnya." Lalu mengusap bibir seksinya dengan tisu kemudian meletakkannya ke dalam piring bekas makannya. Aku menggeleng cepat. Fokus Rin! Kenapa kamu malah memperhatikan dan fokus pada bibirnya? Bisa-bisanya dia mengalihkan perhatianku.


"Jadi, kita bisa ke inti pembicaraan?" tanyaku setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.

__ADS_1


Fandy menatapku dengan serius lalu mengenggam tangan kananku. Aku sedikit terkejut. "Rin!" panggil Fandy ketika diriku hendak menarik tanganku, namun dia tetap menahannya dalam posisi seperti itu (mengenggam dengan kedua tangannya). "Sorry karena selama ini sudah salah paham sama lo. Gue terlalu bodoh untuk melihat kenyataan."


Ya, kamu memang super duper bodoh, Fan!


"Gue tahu gue sudah banyak nyakitin hati lo, Rin."


Tadinya kupikir, kamu nggak akan pernah sadar-sadar.


"Fan, bisa nggak lepasin tangan aku?" bisikku karena beberapa orang menatap ke arah kami. Ah, itu sangat menganggu.


"Rin, please maafin gue."


"Iya, iya, aku maafin." Aku menarik tanganku kuat. Terlepas. Fandy tersenyum lebar setelah itu, wajahnya mengatakan, seakan beban berat baru saja hilang dari pundaknya.


"Seriusan?"


Aku mengangguk.


"Dari lubuk hati lo yang terdalam?"


"Iya." Jidatku mengernyit karena kesal. "Kalau bicara lagi, aku akan menarik kata-kataku kembali!"


Fandy langsung mengatup mulutnya. Melihat wajahnya yang tampak terkejut membuatku tertawa dalam hati. Ya, bisa dibilang itu tampak menggemaskan karena wajahnya terlihat seperti anak kucing yang butuh elusan di kepala.


Aku belum menanyakan masalah ini padanya, lagi pula bukan urusanku. Dan, malah bagus sih, Fandy terlepas dari Mak Lampir itu.


...***...


"Maaf, aku duluan!" kataku pada Ela dan juga Nora ketika bel pulang berbunyi. Aku segera mungkin mengemas peralatan tulis lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Eh, Dor-Dor ...." Suara Ela terdengar memanggil.


Aku lekas berjalan setengah berlari ke luar kelas. Belum banyak orang yang pulang, jadi tidak harus berdesakan menuruni tangga. Kakiku mengerem mendadak pada anak tangga tetakhir.


"Bodoh, tidak mungkin aku menemuinya sekarang," gumamku mengingat belum ada satu pun orang yang ke luar dari kelas Vino.


Akh! Rasanya aku ingin mengacak-acak rambutku. Kenapa juga aku harus melakukan ini?


Aku membuang napas sembari mengipas wajah yang tiba-tiba terasa panas. Ini menjengkelkan mengingat perjanjianku dengan Vino Virgo. Karena inilah aku menghindar dari Ela dan juga Nora. Aku tidak tahu bagaimana reaksi mereka kalau ... aku menutup wajah. Malu membayangkan ketika harus berpamitan dulu sebelum pulang. Apa untungnya coba?


"Vino Baka!"


Baka, baka, baka! kata-kata 'bodoh' masih saja kugumamkan dalam hati.

__ADS_1


Aku melewati kelas Vino, dia sedang serius memperhatikan guru yang masih menjelaskan pelajaran di depan kelas. Padahal ini sudah jam pulang. Dan, Tampak Fandy yang melambaikan tangan ke arahku, Shiro terlihat mengerutkan dahinya, kemudian melihat ke arahku dan tersenyum cerah.


Aku memalingkan wajah saat para gadis yang ada di dalam sana serempak melihat ke arahku. Aku pun mempercepat langkah menuju ke perpustakaan, aku baru ingat ada buku yang kucari.


Bagiku, salah satu tempat favorit di sekolah ini adalah perpustakaan, bukan saja ukurannya besar, buku yang lengkap, dan tertata rapi di rak buku, tapi tempat ini sungguh damai dan tenang. Suasana yang enak untuk membaca novel. Karena tidak mungkin aku membaca komik di tempat ini, yang ada aku akan menganggu anak-anak lain dengan suara tawaku.


Aku mendesah dalam hati saat melihat seseorang yang tertidur pulas. Lagi-lagi dia tidur di tempat yang sama. Apa dia tidak masuk kelas dan belajar?


Tubuhku refleks menghindar, menggeser kaki ke samping, menyelinap pada rak-rak buku yang ada di sampingku.


Meski sudah lama, aku tidak bisa melupakan kejadian waktu itu, dan bagaimana ekspresi Meka saat itu.


...***...


Kamu di mana, Vin?


Aku mengirim pesan karena tidak menemukan Vino di kelasnya. Tidak mungkin, kan, dia pulang?


Lapangan basket


Aku pun segera menuju ke sana setelah membaca pesan dari Vino.


Dari kejauhan aku melihat trio serigala dan beberapa orang dari timnya melakukan pemanasan sambil berbicara satu sama lain. Melihat ekspresi trio serigala, kurasa mereka memang sudah kembali seperti biasanya.


"Aku senang melihat kekompakan kalian," gumamku sedikit iri dengan persahabatan mereka.


Aku menghirup napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan--berjalan cepat menuju ke arah Vino.


Trio serigala menghentikan aktivitasnya saat melihat kedatanganku.


"Hai, Rin," sapa Shiro dan Fandy serentak. Kemudian mereka berdua saling memandang, pertengkeran kecil pun terjadi, mempeributkan siapa yang lebih dulu menyapaku. Aku hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah absurd mereka.


Aku melangkah ke arah Vino, mengabaikan kedua orang itu, dan berbisik pada cowok yang ada di depanku.


"Apa, gue nggak dengar?"


"Aku pulang."


"Lo bicara apa? Gue nggak dengar?" kata Vino sembari membungkukkan sedikit badan--mengarahkan kupingnya mendekat ke arahku.


Aku menghela napas. "Aku pulang dulu!" teriakku dengan kesal. Tanpa sadar semua orang yang ada di sini menatap ke arahku, begitu juga dengan Fandy dan Shiro menatap heran.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2