Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 55


__ADS_3

"Ela pikir Dor-Dor nggak masuk. Ela pikir tadinya Dor-Dor sakit, tapi syukurlah Dor-Dor masuk. Ela senang, soalnya Ela nggak mau duduk sendirian. Apalagi Ela kesal mendengar gosip-gosip yang Ela dengar dari orang-orang tentang Do--"


Aku membungkam mulut Ela dengan telapak tanganku, baru saja bel berbunyi pergantian jam pelajaran, Ela sudah nyerocos tak henti-henti.


Aku menempelkan jari telunjuk pada bibirku kemudian berkata, "Aku capek. Jadi diamlah!" Ela mengangguk aku pun menarik tanganku kembali.


Aku melewatkan satu jam pelajaran karena menjalankan hukuman. Tubuhku panas dan berkeringat karena terik matahari. Menyebalkan, ini terasa lengket.


"Dor-Dor haus, ini Ela ada bawa jus untuk Dor-Dor, Ela bawa tiga, jadi satunya untuk Nora."


"Terima kasih," kataku mengambil lalu meminumnya hingga menyisakan setengah, sedari tadi aku sudah haus kekeringan.


Aku menyudahi minum jus karena pelajaran selanjutnya sudah dimulai.


"El, boleh pinjam catatan tadi?"


Ela mengangguk kemudian memberikan buku catatannya padaku. Mataku menyipit melihat tulisan cantiknya yang tidak bisa kubaca.


"Sepertinya aku akan meminjam catatan Nora."

__ADS_1


"Kenapa nggak jadi, Dor-Dor? Ini Ela pinjamin. Dibawa pulang juga nggak apa-apa"


Aku tersenyum malas. "Hehe, nggak usah. Aku tidak mau menambah sakit kepala."


Ela cemberut sembari memanyunkan bibirnya.


...***...


"Hah ...."


Lagi-lagi aku memutar badan untuk tidak ingin bertemu dengan cowok itu karena, kesabaran orang itu setipis tisu dibelah tujuh.


Dan ini ketiga kalinya aku melihat wajah menyebalkan itu. Seakan cowok itu tahu titik tempat yang ingin kukunjungi. Pertama di kantin, kedua di taman, dan ketiga di perpustakaan. Opsi ketiga bisa dibilang itu tempat favoritnya, tapi kedua dan ketiga? Cowok itu jarang terlihat di kedua tempat yang kusebutkan tadi karena kurasa dia tidak suka di tempat yang ramai.


Aku menghela napas kemudian berjalan sesantai mungkin tanpa memedulikan orang yang tertidur di ...


"Ish!" Aku berdecih karena tidak seperti biasanya dia tidur di sana. Hei, Itu meja favoritku! Oh, aku ingin berteriak di depan wajahnya.


Aku berjalan melewatinya tanpa suara. Ini di sekolah, tidak selmanya aku bisa menghindari cowok itu dan aku tidak akan lari jika itu menyangkut hobiku.

__ADS_1


"Kulihat kemarin ada novel baru yang datang." Tanganku sibuk memilah-milah buku yang ada di rak. Ternyata masih banyak novel yang belum kubaca. Ah, sekarang memang sulit membagi waktu antara membaca komik, novel, dan juga mengerjakan tugas yang banyaknya minta ampun.


"Kenapa lo ngindarin gue, hm?"


Terkejut.


Seseorang berbisik di telingaku. Sialan! Itu membuat tubuhku merinding--refleks membalikkan badan dengan mata membulat mendapati seorang lelaki berdiri begitu dekat di depanku. Kedua tangannya sudah berada di antara di kepalaku. Badannya sedikit membungkuk.


Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada dan berkata, "A-Apa yang kamu lakukan? Minggir!" Aku mendorong kuat, tubuhnya bergeser sedikit ke belakang dan itu memberikan jarak di antara kami.


Dia tersenyum samar entah apa yang ada di pikirannya saat ini. "Setelah dipikir-pikir, ternyata kau gadis yang menarik."


"Ha-hah?"


Apa yang dia bilang? Menarik? Apa aku tidak salah dengar?


"Baru kali ini ada seorang yang berani menatap dan mendorongku seperti ini."


Ini pujian atau apa? Apa ini orang bakalan ngamuk di tempat ini?

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2