
Kuyakin suasana di luar makin panas, apalagi mak lampir yang bernama Friska itu orangnya emosian. Aku membayangkan kedua cewek yang mengatai Friska bisa jadi bulan-bulanan geng mereka.
"Ma-maaf, Kak."
Dari dalam bilik toilet kudengar Friska berdehem. "Siapa namamu?" tanya Friska dengan nada lembut, namun entah dengan tatapannya, aku tidak berniat mengintip. "Lo tuli apa? Gue tanya siapa nama lo?" teriaknya menggelegar.
"Me-Meri, Kak." Suara itu terdengar bergetar.
"Jadi, lo lebih cantikan dari gue, ha? Guys, apa menurut lo dia cantik?"
Biar kutebak lagi, kalau dayang-dayang Friska serempak mengglengkan kepalanya sembari melipat kedua tangannyandi depan dada.
"Iuuuh, sok kepedean lo! Makanya ngaca!"
Aku tidak tahu apa yang mereka perbuat pada gadis yang bernama Meri itu, namun dia berteriak, begitu juga dengan temannya yang kurasa sudah kabur? Entahlah, kudengar ada langkah kaki yang mengarah ke luar.
"Mau gue percantik wajah lo?" Suara Friska terdengar geram. Bahuku seketika terangkat mendengar bilik toilet di sebelahku terdengar suara hempasan, seperti suara benda yang terjatuh.
"Bagaimana, hmm?"
"Aaaa ... aku, aku minta maaf, Kak!"
Terdengar suara guyuran air. Di toilet sebelah terdapat closet jongkok dan ada baknya juga, kurasa mereka sedang membuat Meri basah kuyup.
"Sekarang, apa lo sudah sadar, ha?" Terdenga suara dayang Friska yang tak kukenali namanya.
"Am-ampun, maafkan aku."
Meri sudah meminta maaf, tapi mak lampir itu masih mengguyurkan air begitu banyak. Aku ingin keluar, tapi kalau ikut campur masalah mereka ...
Aku mengusap wajahku. Bukankah aku juga sudah terlibat denganya? Kenapa harus takut? Kalau dibiarkan, itu orang bisa mati kedinginan.
Aku membuka pintu toilet cukup keras, sengaja membantingnya agar Friska dan gengnya mendengar.
"Hentikan! Bukankah dia sudah minta maaf?"
__ADS_1
Friska dan kedua dayangnya menghentikan aktivitas, melirikku dengan tatapan sinis lalu tersenyum miring.
"Oh, sang pahlawan datang?" katanya terdengar seperti sebuah olokan.
Dia memberi kode pada kedua temannya itu, tapi dengan gerakan cepat aku menghindar--mendorong tubuh kedua dayangnya itu hingga tersengkur ke lantai. Sekarang, aku melemparkan senyuman kepada mereka.
Friska mengambil air dengan gayung yang ada di tangannya ke dalam bak, sebelum dia menyiramiku, aku menghindar--memutar tangan beserta tubuhnya membelakangiku. Sedikit memberi tekanan pada tangannya agar dia merasa kesakitan.
"Kulihat, sepertinya Kakak suka bermain air," kataku sembari mendorong kepalanya ke dalam bak dan masih menahan satu tangannya ke belakang. Gadis itu meronta dan berteriak di dalam air. Mengupat tidak jelas.
Aku menarik rambutnya ke belakang, membiarkan dia sedikit bernapas, bisa brabe kalau anak orang mati. Sedikit memberi pelajaran kepada orang sombong dan angkuh tak masalah, lah, ya?
Aku mendorong kepalanya kembali ke dalam air. Cukup. Itu sudah cukup membuat Friska lemas kemudian aku pun melepaskannya. Dia terduduk di lantai.
"Dengar, ini bukan pembalasan atas apa yang kalian lakukan padaku. Menyebar foto dan membuat gosip sembarangan, tapi peringatan untuk kalian bertiga agar tidak menganggu orang lain lagi," ucapku datar menatap mereka bertiga. Setelah itu, aku membantu gadis bernama Meri itu berdiri.
"Terima kasih. Gue rasa Lo cukup gila melawan Kak Fris," katanya setelah berada di luar. Tubuhnya basah kuyup. Untung saja dia memakai pakaian olahraga, jadi dirinya bisa mengantinya dengan seragam sekolah.
Seperti yang mereka bicarakan, dari kejauhan aku melihat trio serigala tidak sekompak seperti biasanya. Padahal mereka adalah tim basket, namun seakan bercerai, hanya Shiro yang terlihat di lapangan basket bersama teman lainnya, sedangkan Vino si kapten basket bermain sepak takraw, dan Fandy bermain voly bergabung dengan cewek-cewek.
Melihat hubungan mereka yang renggang membuatku merasa sedih karena sudah terbiasa melihat kebersamaan mereka, mungkin bukan diriku saja, fansclub trio serigala juga. Aku mengetahui ini karena Ela pernah memamerkannya padaku bahwa dirinya baru bergabung grup itu. Bisa dibilang mereka meng-ghibah dan berhalu di sana.
...***...
"Oh itu, ada sedikit urusan," jawabku, kutahu Ela akan bertanya balik setelah itu.
"Urusan apa?"
"Penting. Tapi aku tidak mau kasih tahu."
Ela cemberut seraya memonyongkan bibirnya. "Baiklah, tapi lain kali kasih tahu Ela, ya."
Aku tidak membalas dan memilih melanjutkan mengerjakan tugas yang sudah diberikan Bu Guru di papan tulis.
"Dor-Dor," panggil Ela seraya mengamit tangannya. Menatapku khawatir.
__ADS_1
"Ada apa?" Aku melanjutkan menulis, mengerjakan soal.
"Apa kamu terlibat lagi dengan Kak Fris?"
"Apa mereka membicarakanku dalam grup itu?" tanyaku telah selesai mengerjakan satu soal--menatap kembali gadis yang duduk di sampingku.
"Benarkah Dor-Dor menyukai Kak Fandy?"
"Hah?"
Oke, saat di kantin kemarin, trio serigala memang membahas mengenai hal itu. Apa secepat itukah gosip beredar?
Lalu, kenapa Ela mengambil kesimpulan kalau permasalahanku dengan Friska ada hubungannya dengan Fandy?
Aku tersenyum samar. "Apa fansclub trio serigala berubah topik menggosip membicarakan orang lain?" kataku dengan nada tenang dan sedikit keras, supaya terdengar oleh orang-orang yang ada di kelas ini.
Diam bukan berarti tidak tahu. Sebagian cewek yang ada di kelas ini, mungkin juga brrgabung dalam grup itu. Aku juga tahu, sebelumnya mereka juga bergosip membicarakan masa laluku, tentang gosip yang beredar beberapa hari yang lalu. Itulah kenapa Ela tampak mengkhawatirkanku.
Bisa dibilang dari tatapan mereka, mereka iri karena aku bisa dekat dengan trio serigala.
...***...
"Fandy, sakit! Lepas!" Lelaki tinggi itu menarikku cukup kuat. Dia mencengkeram pergelangan tanganku cukup kuat. Fandy melepaskannya setelah kami berada di tempat yang sepi.
Fandy mendengkus. "Sejak kapan lo jadi preman gini?"
Jidatku mengerut seketika. Apa yang dia bicarakan? Apa dia juga termakan gosip murahan yang beredar?
Tapi gosip apa itu hingga Fandy terlihat marah sama aku. Seumur hidup, inilah pertama kalinya dia menatapku seperti ini.
"Apa lo masih dendam sama Friska, Rin, tentang foto-foto lo yang tersebar? Bukankah sudah gue bilang, tidak mungkin Friska melakukan itu!" Suaranya meninggi, membuat dadaku bergetar dan serasa ditusuk. Fandy mengeluarkan ponsel dari kantung celananya. "Lalu, apa yang lo lakuin, ha?"
Fandy memperlihatkan layar ponselnya ke arahku. Meski foto itu diambil dari belakang, postur dan rambut cokelat di foto tersebut tidak bisa dibohongi, kalau itu memang diriku. Dalam foto itu, aku sedang mendorong kepala Friska ke dalam bak air. Ada beberapa foto yang memperlihatkan wajah Friska dengan jelas
"Fan, aku...."
__ADS_1
"Gue kecewa ama lo, Rin! Lo tidak seperti Dorin yang gue kenal dulu!" Fandy tampak sangat kesal kemudian pergi meninggalkanku.
...***...