
"Eh, jadi babu itu jangan kegatelan! Sok cantik banget lo cupu." Friska mendorong-dorong jidat Nora dengan kasar. Aku masih bersabar untuk tidak bertindak jauh.
Dorin, tenanglah. Kamu masih bisa menahan diri, batinku, namun kedua tanganku sudah terkepal kuat. Berdiri menyaksikan di balik pohon. Aku hanya ingin tahu alasan kenapa Friska sangat membeci Nora.
"Sadar! Dengan tampang lo seperti ini bisa merebut Fandy dari gue, ha?" Kini Mak Lampir itu mendorong kepala Nora dengan kelima jarinya.
Jadi tebakanku benar, bahwasanya Nora menyukai Fandy? Dan tidak heran lagi raut wajah Nora berubah ketika melihat Fandy dekat denganku.
Ngomong-ngomong soal Fandy, cowok itu masih marah sama aku. Hah, bagaimana mau ngomong dan jelasin sama dia, toh, ketika kami berpapasan di lorong, dia pura-pura tidak melihatku. Menyebalkan! Kenapa masalah dalam selalu hidupku datang secara bergantian? Selesai masalah satu, tambah masalah lainnya.
"Ampun, Kak ... sakit,'' rintih Nora menyadarkanku dari lamunan. Friska menarik kuat rambut Nora kemudian mendorongnya dengan kasar. ''Aaakh!''
''Sudah ribuan kali gue bilang, jangan panggil gue kakak. Lo cuma babu di rumah gue!'' pekik Friska dengan wajah merah padam. "Gue benci lo. Benci Ibu lo. Gue benci wanita murahan itu!" Friska
"Kakak boleh menghina aku sepuasnya, tapi tidak ibuku. Sekarang ini dia juga sudah jadi Ibunya Kakak."
Ibu? Jadi mereka saudara tiri?
"Aaaak! Tutup mulutmu!" Friska menarik rambut Nora kemudian menamparnya dengan kuat, membuat air mata gadis itu berderai. Bekas telapak tangan tertinggal di sana. "Semua gara-gara lo dan ibu lo. Lo perusak kebahagian hidup gue bersama Papa."
Gawat! Aku sudah tidak tahan lagi jika berdiam diri. ''Stop!" Kataku menangkap pergelangan tangan Friska. Hampir saja dia mendaratkan tamparan untuk kedua kalinya.
''Lepas! Siapa lo ha, ikut campur masalah gue?'' Tatapnya dengan garang. Tangan satunya ingin mendaratkan pukulan ke arahku, namun dengan cepat diriku mengambil langkah duluan. Menangkap tangannya.
''Sudah, cukup! Temanku tidak pantas diperlakukan seperti itu. Dia sudah kesakitan seperti itu.''
Mata Friska memerah karena emosi. Rahangnya mengeras ketika diriku menghempaskan kedua tangannya dengan kasar.
''Dor-Dor!'' Suara itu membuatku mengalihkan pandangan ke samping.Tidak heran Ela mencariku dan Nora karena sudah lama juga aku meninggalkannya di kantin. Saat kami di kantin tadi, aku tahu Nora diam-diam dapat pesan dari seseorang lalu meminta izin untuk pergi sebentar. Begitu juga dengan diriku yang pura-pura pergi ke toilet lalu mngikutinya diam-diam tanpa menyertakan Ela.
''Apa yang terjadi ... Nora?'' tanya Ela mendekati gadis yang terduduk di tanah.
''Ela, bawa Nora dari sini,'' perintahku.
__ADS_1
Ela menatapku bengong, mungkin mencerna maksudku, namun setelah itu kepalanya mengangguk.
''Hei, gue belum selesai--''
Aku menahan lengan Friska agar dia tidak mengenjar Nora.
Friska mengembuskan napas dengan kasar dari mulut lalu berdecih menatapku. ''Eh, Miss ball, lo mau jadi pahlawan kesiangan, ha?''
Aku diam tidak membalas saat dikatai.
''Cewek plastik, kenapa lo suka cari-cari gara sama gue?'' Friska mendorong bahuku kuat, membuat kakiku bergeser sedikit ke belakang.
''Apa lo nggak sadar diri atas perbuaan lo?'' tanyaku dengan nada datar. Mungkin dia tidak sadar diri atas apa yang telah dia perbuat. Baagaimana dirinya yang sudah menyakiti persaan orang lain.
''Cih!'' Friska tersenyum lebar. ''Lalu, apa yang lo dapat setelah itu, pujian?''
Asal lo tahu, aku tidak butuh itu.
''Atau kepercayaan orang-orang?" sindir Friska memberikan tatapan sombong.
Friska tersenyum miring. ''Bagaimana? Apa cewek yang lo tolong kemarin membela lo balik saat orang-orang membicarakan lo?''
Aku mengepal tangan kuat. Alasan selama ini aku tidak ingin campur masalah orang-orang inilah salah satunya. Beban itu dipikul seorang diri. Tapi lebih baik, kan, daripada tidak bertindak apa pun? Kalau aku tidak bertindak, bisa saja kejadiannya akan lebih buruk daripada ini dan itu akan menjadi penyesalan untukku.
"Aku tidak menyesal akan hal itu," jawabku dengan santainya. Aku tahu gadis bernama Meri itu ingin membela dan membuka mulut, namun dari cara dia melihatku di kantin tadi, tatapannya tampak tertekan, bisa saja dia diancam Friska dan gengnya.
Aku tersenyum sembari mengeluarkan ponsel. "Hm, karena foto itu aku sampai terpanggil ke ruang BK." Kemudian meletakkan ponsel itu di bawah daguku. "Masalahnya, saksiku tidak bisa berkutik dan malah memilih bungkam."
Friska mengerutkan jidat.
"Jadi, lo lebih cantikan dari gue, ha? Guys, apa menurut lo dia cantik?"
"Iuuuh, sok kepedean lo! Makanya ngaca!"
__ADS_1
"Mau gue percantik wajah lo? Bagaimana, hmm?"
"Aaaa ... aku, aku minta maaf, Kak!"
"Sekarang, apa lo sudah sadar, ha?"
"Am-ampun, maafkan aku."
Mata Friska tampak melebar ketika mendengar rekaman yang kuputar. Aku tahu kalau berurusan dengan gadis ini perlu berhati-hati, makanya dari itu aku mempersiapkannya sebelum bertindak.
"Eist!" Aku menjauhan benda di tanganku dari jangkauan Friska. Aku menangkap pergelangan tangannya saat ingin menamparku. "Jika tidak ingin rekaman ini sampai ke Fandy, lo hanya perlu membersihkan namaku pada Guru BK." Kurasa itu persyaratan yang tidak terlalu berat untuknya karena Aku tidak meminta dia untuk membersihkan namaku pada seluruh orang yang ada di sekolah ini.
Friska meringis. Aku mencengram tanganya sedikit kuat. Memperingatkan agar dia tidak main-main dengan orang lain.
"Dorin, apa yang lo lakukan?!" Fandy tiba-tiba muncul dan menjauhkan tanganku dari tangan Friska. Kemunculannya selalu tidak tepat. Ah, sialan.
"Kamu ngak apa-apa, Fris?" tanya Fandy lembut sembari melihat pergelangan Friska yang merah. Aku tidak sadar mencengkeramnya terlalu kuat.
"Rin, apa kata-kata gue kurang jelas untuk tidak menganggu cewek gue?"
"Fan, aku--"
"Apa lo mau ngelak lagi, Rin? Jelas-jelas gue lihat lo kasar gini!" katanya membuatku semakin kecewa karena sudah membela orang yang salah.
Seseorang tiba-tiba mendorong Fandy. "Seharusnya lo jaga cewek lo Fan! Lo salah paham sama Dorin."
"Eh, Meong. Lo kagak usah ngebela Dorin." Fandy berdecih setelah itu. "Oh, iya. Gue lupa. Lo suka Dorin, kan? Makanya lo cari perhatian. Busuk Lo, Shiro. Saat Dorin dah kurus aja lo ngejar-ngejar dia."
"Eh, Fan!" Shiro menarik kerah baju Fandy dengan kasar. "Kalau bukan karena peraturan yang lo buat, hal itu tidak akan terjadi."
Tatapan Fandy tampak terkejut. Aku sungguh tidak mengerti arah pembicaraan mereka. "Jadi, lo benar-benar?"
Keningku mengerut. Apa lagi masalahnya sekarang?
__ADS_1
***