Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 36 (Shiro)


__ADS_3

"Dek, buka pintunya dong," ucap gue lembut sembari mengetuk pintu kamarnya beberapa kali.


Adek gue belum juga keluar dari kamar, ini sudah lewat jam makan malam. Gue masih mendengar isak tangisnya sambil memanggil nama gue, maksud gue, nama almarhum kucingnya, Shiro.


Shiro yang berarti putih, adik gue sangat menyukai kucing itu, tubuhnya gembul, dan kucingnya juga pintar. Dia menemukan kucing itu di jalanan, saat dirinya pulang dari sekolah.


"Lihat apa yang Dedek bawa, namanya Shiro," katanya dengan mata gembira.


Saat itu gue sempat protes, kenapa nama gue disamain sama kucing miliknya? Tidak boleh ada dua nama di rumah ini, apalagi gue seakaan disamakan dengan makhluk itu.


"Dek, kakak minta maaf, ya. Nanti Kuro kakak marahin dan enggak kasih makan selama seminggu. Janji, deh!" tekan gue dengan suara lantang pada akhir kata janji.


Sekitar tiga detik terdengar suara pintu terbuka. Gue hanya menahan sedikit senyum karena, gue tahu adik gue tidak tahan (tega) dengan yang gue katakan barusan. Secara, anak ini sangat menyayangi binatang.


"Jangan. Kasihan Kuronya, bagaimana kalau Kuro mati kelaparan?" katanya sembari mengusap kedua pipi dengan kedua tangan. Matanya sudah merah dan bengkak.


"Maafin Kakakdan Kuro, ya, Dek." Peluk gue menyesal. Adik gue pun menggeleng dalam pelukan gue dan terisak kembali.


"Padahal Ela sudah janji sama Dor-Dor untuk nunjukin Shiro sama dia, hiks ...." Adik gue kembali nangis. Gue merasakan ingusnya nempel di baju gue. "Tapi sekarang Shiro-nya sudah mati!"


"Gue masih hidup," gumam gue yang kemudian mendapat pukulan di badan bagian belakang. Gue terkekeh pelan. "Maaf, maaf. Dedek sih, bilang kakak mati mulu." Dia pun memukul gue lagi.


...***...


Pagi harinya gue belum melihat Ela di ruang makan, biasanya itu anak paling cepat bangunnya.


"Dedek mana, Mam?" tanya gue melihat Mama sedang meletakkan makanan di atas meja. Menu sarapan hari ini adalah nasi goreng.


"Katanya hari ini tidak mau ke sekolah, malu sama teman-temannya."


Gue hanya membulatkan mulut sembari bergumam "Oh". Tak berapa lama adik gue turun dan bergabung di ruang makan bersama gue. Matanya terlihat lebih bengkak dari semalam. Hidungnya pun merah, dia kelihatan sulit mengambil napas, mungkin hidungnya tersumbat.


"Dek, cuci muka dulu gih!" kata gue melihat tangannya asyik membersihkan bagian sudut kedua matanya.

__ADS_1


Ela menggeleng pelan. "Dedek masih ngambek!" katanya sembari mengerucutkan bibir. Hah, gue pikir urusannya usai kemarin malam secara gue sudah minta maaf. Lah, ini anak masih saja ngambek.


"Dedek ...." Gue mangambil segelas air--berdiri--mencondongkan tubuh ke depan. "Mau Kakak bantu bersihin?" Gerakan mau menyirami.


Adik gue langsung mundur, menggeser kursinya ke belakang. "Mami!" rengeknya mengadu, tapi percuma saja dia lakukan.


"Dedek, dengerin abangmu. Sana, cuci muka dan gosok gigi dulu."


Adik gue terpaksa berdiri dengan wajah cemberut--menjulurkan lidahnya ke gue, kemudian berlalu menuju toilet yang ada di samping dapur. Padahal dia bisa mencuci wajah di toilet yang ada di kamarnya.


Setelah menghabiskan sarapan gue pamitan sama Mama dan juga adik gue. "Kakak berangkat dulu, jangan mewek lagi," ujar gue sembari mengacak-acak singkat rambut bagian atas kepalanya, tangan gue beralih ke pipinya, mencubit pelan. "Lihat, wajah jeleknya semakin jelek."


"Mamiii!" rengeknya lagi.


Gue cekikikan berjalan setengah berlari ke luar, menuju motor yang sudah gue parkirkan di halaman depan, sengaja pagi-pagi sekali gue bangun.


...***...


Setelah memberikan surat izin Ela sama guru yang ada di ruang piket, gue masuk menuju kelas yang berada di lantai satu, samping tangga.


Woi, *elo bisa minggir*? kata-kata itu hanya tersangkut di tenggorokan gue. Ini masih pagi dan gue nggak mau ribut hanya soal ini. Terpaksa gue mengalah dan menggeser tubuh sedikit ke kiri--menabrak bahu Fandy cukup keras--terus melangkah menuju tempat duduk gue.


Gadis-gadis yang ada di lokal memandangi gue dengan tatapan penuh tanda tanya.


Semenjak perang dingin dimulai, duduk kami terpisah. Itulah yang mungkin membuat anak-anak bertanya "ada apa dengan trio serigala?" hingga semua atau sekecil hal apa pun itu dikaitkan sama mereka, mencoba mengambil kesimpulan sendiri. Yang paling nggak gue suka, yaitu saat mereka bawa-bawa nama Dorin.


"Gue ingin bicara!" Fandy menarik lengan gue. "Sampai kapan kalian lo diemin gue kek gini?" Gue tahu dia juga lagi nyindir seseorang yang ada di ruangan ini.


Gue mengerutkan alis, menoleh menghadap ke arahnya--mengangkat satu tangan. "Bicara?" Gimana gue mau bicara sama orang yang enggak dengerin orang lain?"


"Eh, Meong. Kenapa lo makin ngeselin gini? Gue bicara baik-baik." Dorong Fandy pada bahu gue.


"Sialan lo!" Dorong gue balik. "Stop manggil gue meong!" protes Gue menunjuk lurus ke arah wajah sialannya itu. Emosi yang gue tahan sudah mencapai batas maksimal. "Emang nada lo barusan terdengar baik?"

__ADS_1


Suara dorongan kursi yang cukup kuat membuat gue mengalihkan pandangan ke arah pojok dekat dinding. Itu si Vino.


Sang Alpha berdiri lalu berjalan ke arah kami. Tatapannya yang dingin dan tenang membuat gue merasa tertekan, seakan kami membuat suatu keributan besar di kelas ini. Karena semua mata sudaj tertuju ke arah kami.


"Kalian berdua." Vino menatap gue dan Fandy secara bergantian. "Habis istirahat kita akan membicarakannya."


Gue mendengus. "Oh, Oke!" ujar gue. Lalu memberikan gerakan mengusir ke arah Fandy.


...***...


Gue melihat Dorin yang barusan keluar dari ruang BK. Wajahnya tampak tenang dan gue rasa kasus yang menuduhnya merisak Friska sepertinya sudah beres.


"Rin," panggil gue membuat gadis itu berhenti dan membalik menghadap gue.


Dorin tersenyum. "Tidak perlu khawatir, aku sudah membereskannya kemarin, jadi kamu tidak usah mengikutiku lagi seperti penguntit."


Gue tersenyum. "Jadi, gue ketahuan?"


Dorin mengangguk, kami berjalan beriringan.


"Aku melihat bayanganmu di cermin kemarin," ucap Dorin.


Di celah pintu yang terbuka, gue sempat mendengar sedikit pembicaraan mereka. Friska mengatakan pada Pak Han bahwasanya, orang yang ada di foto itu bukan Dorin, melainkan orang lain, dan Friska tidak mau mengatakan siapa orang tersebut. Tentu saja dia bisa membongkar kebobongannya sendiri.


Dan, gue tidak tahu apa alasannya, kenapa Friska menyembunyikan kebohongannya? Tapi, setidaknya gue merasa lega karena Dorin tidak kenapa-napa. Gue pun tidak perlu turun tangan hingga menerobos masuk ke ruangan itu.


"Jadi, apa yang lo lakuin di sana?" tanya gue penasaran.


"Oh, aku hanya membantu membawakan barang-barang Pak Han."


Gue berhenti melangkah ketika mendengar bel istirahat. Tadinya gue keluar cuma mau ke toilet dan tidak disangka gue melihat Dorin, lalu mengikutinya.


"Sorry, Rin. Gue pergi dulu, ada urusan." Segera gue melinggalkan Dorin dengan berat hati. Padahal itu kali pertamanya setelah sekian lama gadis itu tidak berbicara santai sama gue.

__ADS_1


...***...


__ADS_2