
"Yang dikatakan Shiro itu benar, Fan. Gue sudah menyelidiki semuanya." Vino melempar sebuah flashdisk ke arah gue. "Jadi, lo jangan terlalu percaya sama cewek kesayangan lo itu."
...***...
Sesampainya di rumah, gue langsung masuk menuju kamar tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Meletakkan tas gue sembarang arah lalu mengeluarkan flashdisk yang diberikan Vino dari kantung celana--menaruhnya di atas meja belajar.
Menatap benda itu agak lama. Gue ragu untuk membuka, hingga setelah lima menit gue berpikir, gue pun menggeser kursi dan menghidupkan komputer yang ada di samping meja belajar gue.
"Vino goblok!" maki gue karena begitu banyak folder di dalamnya. "Bagaimana mungkin gue mencarinya satu per satu?"
Folder Vino I, II, sampai sepuluh? Oh ... dia mengerjai gue?
Sebelum gue menelepon Vino, ada pesan masuk darinya. Panjang umur nih, anak. Baru dipikirin dia langsung nongol di pesan, batin gue membuka dan membaca pesan darinya.
"Folder sepuluh?" Gue pun mengklik folder tersebut yang berisikan berbagai macam video. Sepertinya folder ini tempat menyimpan video-video kami. Gue lihat begitu banyak video kenangan kami waktu SMP.
Gue tersadar kemudian. "Vino goblok, mana mungkin gue mencarinya satu per satu dalam semua vidio ini, akh! Semuanya tidak ada judul lagi!" Jidat gue langsung berkedut melihat date modified pada layar komputer. Semua vidio yang ada di dalam sana memiliki tanggal, bulan, dan tahun yang sama. Itu artinya si Vino benar-benar ngerjain gue.
Daripada bertanya dan kena ceramah balik oleh Vino, mending gue cari saja satu per satu.
__ADS_1
"Hahaha, meong goblok!" Tanpa sadar gue tertawa terpingkal-pingkal melihat Shiro jatuh ke dalam kubangan. Gue ingat, waktu itu gue sendiri yang ngerekam video ini.
Tak terasa hampir satu jam gue mantengin layar komputer, hampir semua video yang ada di flashdisk ini gue lihat. Perasaan gue terasa campur aduk. Senang karena memiliki kenangan manis dan pahit bersama sahabat. Sedih karena saat ini hubungan kami yang merenggang.
Gue mendongak, mengembuskan napas ke udara. "Hah, cara Vino menghukum orang benar-benar mengerikan. Secara tidak langsung, gue disuruh mengingat masa lalu tentang kebersamaan trio serigala."
Dug!
Mata gue melebar saat berpindah pada video selanjutnya. Gue pun menekan pause untuk mensiapkan mental. Masih tidak percaya apa yang gue lihat.
...***...
Gue menoleh ke belakang ketika mendengar Friska yang baru saja sampai di taman ini.
"Ada apa?" Friska mendekat dengan wajah bingung kemudian memeluk lengan gue dengan tampang manjanya yang seperti biasa. "Beb, apa ada masalah?"
Gue melepas kasar tangan Friska dari lengan gue. "Apa maksudnya semua ini? Lo bisa jelaskan ke gue, Fris?" tanya gue sembari melempar foto-foto yang sudah gue print ke wajah cantiknya itu.
Dalam foto-foto tersebut tampak Friska dan teman-temannya sedang menempel foto lama Dorin di papan pengumuman. Gue tidak menyangka Vino Virgo bisa mendapatkan rekaman CCTV itu dengan mudahnya. Padahal yang gue tahu, siapa pun tidak diperbolehkan ke ruangan itu.
__ADS_1
Friska memungut foto tersebut. "Beb, aku ...."
"Karena lo, gue malah kasar sama Dorin. Dan, kejadian di toilet ... itu ulah lo juga, kan?"
Pertanyaan gue yang terakhir ... membuat wajah Friska semakin tegang. Padahal untuk yang masalah itu, Vino tidak memberikan bukti apa pun sama gue, namun ucapan Shiro masih terngiang. Ya, gue lebih percaya sama sahabat gue daripada cewek ini.
"Fan, aku--"
"Gue nggak nyangka lo setega itu, Fris! Lo sudah fitnah Dorin. Gara-gara lo, satu sekolah mandang Dorin rendah!" Rahang gue mengatup rapat dengan tangan terkepal erat. Sebisa mungkin gue masih mencoba sadar dan menahan emosi.
"Fan ...."
"Kita putus!" Gue menjauhkan tangan Friska dari tubuh gue, setelah itu pergi dari pandangannya.
"Fan, lo nggak bisa gitu aja mutusin gue!" teriak Friska yang diiringingi isak tangis.
Gue tidak peduli lagi dengannya. Selama ini gue sudah bersabar karena keegoisannya. Jika gue tetap bersama Friska, gue takut tuh cewek malah nyakitin Dorin lebih banyak lagi.
Shiro benar, gue memang selalu menjadi sumber masalah terlebih dalam nyakitin hati Dorin. Ah, gue memang bodoh.
__ADS_1
Bersambung ....