Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 44


__ADS_3

Entah mengapa hari ini suasanya begitu tenang. Juga, tatapan para senior yang biasanya tajam padaku hanya terlihat biasa. Apa ada hal yang baik terjadi?


Aku kembali menuruni anak tangga. Dan di pertengahan tangga aku berpapasan dengan cowok kasar, nyebelin, banci, beraninya sama cewek, tidak lain adalah Devin.


Aku menatap tajam. Jangan harap aku melupakan apa yang kamu lakukan padaku tempo hari. Aku menoleh sekilas pada cowok di sampingnya, dia Rega. Aku heran, kenapa orang pintar dan juga pengurus OSIS masih saja berteman dengan orang seperti preman itu.


"Tunggu!"


Sial, aku merasa ini seperti de-ja-vu.


Aku pura-pura tidak mendengar saat melewatinya.


"Lo tuli?! Gue bilang berhenti!" Teriakan Devin cukup keras hingga orang yang baru saja melewati koridor depan tangga berhenti menatap ke arah kami lalu pergi segera.


"Eh, Dev. Santai, Bro." Rega mengusap punggung kawannya yang mungkin kerasukan setan. Semenjak Rega minta maaf, aku tidak pernah kabur lagi dari hadapannya. Seakan aku sudah melupakan masa lalu tentang julukan yang dia kasih.


Aku mengeluarkan ponselku dengan senang hati dari saku rok lalu memberikan padanya. "Kakak ingin meminjam ponselku lagi?" Daripada bertanya 'ada apa', lebih baik langsung ke intinya.


Hah, apalagi yang dia inginkan, bukankah dia sudah menghapus rekamannya? Lagi pula aku tidak bisa lagi membungkam mulut Mak Lampir itu.


Brak!


Devin menepis tanganku, mengakibatkan ponselku jatuh, dan bergulir ke bawah. Aku pun kesal dan spontan menarik kerah bajunya. Tangan Devin pun dengan refleks meraih pegangan besi yang ada di sampingnya.


Marah. Ponselku sudah lecet dan ditambah lagi dia memperlakukan benda kesayangaku dengan kasar.


Devin menatapku dengan tatapan tajam, satu tangannya di letakkan di atas pergelangan tanganku lalu mencengkeramnya.


Aku mendesis. "Lo nggak malu berkelahi dengan perempuan?" Aku mengatakan sesuatu tanpa suara, 'banci'.


Tangan Devin yang kuat menambah mempererat cengkeramannya pada pergelangan tanganku.


"Apa yang lo lakukan, ha?" Seseorang datang dan tiba-tiba mendorong Devin. Saat itu juga aku spontan melepas cengkeramanku dari kerah baju senior kasar itu.


Jidatku mengernyit. Fandy?

__ADS_1


"Eh?" Aku terkejut. Sebuah tangan besar menarikku ke sisinya.


"Lo ngak apa-apa, Rin?" Suara lembut itu membuatku menoleh ke samping, namun tatapan lelaki ini menatap lurus ke arah Devin.


"Vi-Vino?"


"Shiro, lo jaga Dorin," katanya berjalan satu langkah menaiki satu anak tangga. Berdiri sejajar di samping Fandy. Mereka berdua seakan menjadi benteng untukku.


Aku menoleh ke belakang, di sana sudah ada Shiro dengan ponselku yang ada di tangannya, lalu memberikannya padaku.


"Terima kasih."


Aku mengutuk Davin dalam hati, ini bukan lecet lagi, layar ponselku retak. Akh! Kenapa dia selalu saja mencari masah?


Kulihat Rega sempat membuang napas dan menggleng kecil melihat Devin yang berdiri satu anak tangga di bawahnya, mungkin dia merasa malu atas keributan yang dibuat oleh temannya, secara ketiga orang yang ada di sini adalah rekan OSIS-nya.


"Ayo, Bro!" kata Devin pada Rega. Dia turun melewatiku dengan lirikan tajam. Seperti seekor elang yang tidak akan melepaskan mangsanya.


"Rin, lo baik-baik saja, kan?" tanya Fandy dengan penuh kekhawatiran.


"Apa si brengs*k itu sering ganggu lo?"


Aku hanya diam, beberapa detik kemudian menggeleng.


"Bukankah sudah gue bilang, kalau dia ganggu lo lagi, bilang ke kita," kata Fandy lagi, seakan dia sudah lupa kalau kita pernah bertengkar sebelumnya.


Maksudmu, trio serigala? Apa mungkin mereka sudah baikan? Oh, pantas saja suasana hari ini begitu terasa damai dan tenang, wajah cewek-cewek pun terlihat fresh.


"Lo mau ke mana? Biar gue temenin, takutnya Devin ganggu lo lagi." Suara Shiro membuatku menoleh ke arahnya.


Aku tahu ini masih jam pelajaran. Yang jadi pertanyakan, kenapa mereka bertiga ada di sini? Ya, meski kutahu lokal mereka ada di samping tangga ini. Tidak mungkin kan, mereka bertiga serempak keluar mendengar teriakan Devin tadi?


"Aku ... rencananya mau ke koperasi, ada yang mau kubeli." Senyumku kemudian. "Terima kasih. Tapi kalian masuklah ke kelas, aku bisa sendiri. Terima kasih atas bantuannya." Aku melambaikan tangan lalu segera pergi dari sana.


Aku berjalan cepat--mengembuskan napas dengan tangan menyentuh dada. Ini pasti mimpi, pikirku. Mereka yang dulunya suka mengerjai dan menertawakanku, sekarang menjadi benteng untuk melindungiku. Hah, entah mengapa masih terasa aneh diperlakukan baik oleh trio serigala.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan aku masih berpikir, kenapa dengan senior itu? Kenapa dia sangat membenciku? Kesalahan besar apa yang kuperbuat padanya?


Ponselku berdering singkat, ada pesan masuk dari Fandy.


Istirahat nanti gue ingin bicara sama lo, Rin.


"Fris, sudahlah! Jangan buang air mata lo karena cowok bajing--maksud gue sama cowok kek gitu! Masih banyak cowok di luaran sana yang antri untuk jadi pacar lo!""


Langkahku terhenti ketika mendengar isak tangis seseorang di dalam kelas kosong yang akan direhab.


"Hiks, gue nggak bisa, Dev. Gue cintanya sama Fandy."


Aku menggeser tubuh sedikit merapat ke dinding. Bukan maksudnya menguping, tapi sudah terlanjur dengar dan lewat sini juga.


"Gue nggak terima diputusin kek gini cuma gara-gara cewek oplas itu!"


Dug!


Jadi Fandy sudah putus sama Mak Lampir itu?


Oh, sepertinya Devin sangat dekat dengan Friska. Aku menghela napas. Jadi karena itukah Devin sangat membenciku. Uh! Terlebih lagi Friska mengkambing hitamkanku.


Aku mengintip sedikit. Apa mereka memiliki hubungan lebih daripada sahabat? Kalau tidak, mengapa mereka berpelukan seperti itu.


"Berhentilah menangis ...." Tangan Devin mengusap rambut Friska yang lurus dan panjang. Menenangkan. Perlakuan pada gadis itu tampak lembut, terlihat seakan dirinya memiliki perasaan terhadap Friska.


Tunggu ... kalau Devin memang memiliki perasaan sama Friska, kenapa waktu itu dia ingin balikan sama Ela?


Dasar playboy cap ular. Untung saja Ela tidak punya niat kembali pada cowok sialan itu.


Bersambung ....


...***...


Maaf teman-teman semuanya aku jarang upadate karena sakit.

__ADS_1


__ADS_2