
Buruk. Dorin masih saja mendapat serangan dari Friska, kali ini Dorin mendapat fitnah karena sudah merisak Friska di toilet. Gara-gara itu pula dirinya dipanggil ke ruangan BK habis istirahat nanti.
Sekarang yang makin parahnya, Si Fandy makin salah paham dengan Dorin. Gue bisa menyaksikan dari sini bagaimana tatapan kebencian Fandy ke Dorin. Mungkin lebih tepatnya tatapan kekecewaannya terhadap Dorin.
"Rin, apa kata-kata gue kurang jelas untuk tidak menganggu cewek gue?"
Gue ingin bergerak. Ingin menarik Dorin ke arah gue.
"Apa lo mau ngelak lagi, Rin? Jelas-jelas gue lihat lo kasar gini!"
Gue nggak tahan lihat ekspresi Dorin, gue pun bergerak--mendorong Fandy. "Seharusnya lo jaga cewek lo Fan! Lo salah paham sama Dorin."
"Eh, Meong. Lo kagak usah ngebela Dorin." Fandy berdecih setelah itu. "Oh, iya. Gue lupa. Lo suka Dorin, kan? Makanya lo cari perhatian. Busuk Lo, Shiro. Saat Dorin dah kurus aja lo ngejar-ngejar dia."
"Eh, Fan!" Gue menarik kerah baju Fandy. "Kalau bukan karena peraturan yang lo buat, hal itu tidak akan terjadi."
Fandy menatap gue dengan keterkejutan, mungkin dia berpikir kalau gue ngejar-ngerjar Dorin karena dia sudah berubah. Padahal gue sudah mengenal Dorin dari TK. Gue mengetahui itu setelah hari dimana gue membersihkan kamar dan tak sengaja melihat album foto lama gue saat Taman Kanak-kanak.
Dorin Tanea. Gadis kecil pemberani bermata cokelat, pantas saja aku tidak mengenali dirinya ketika di SMP. Perubahan dirinya sungguh drastis, gemuk, tapi setelah mengetahui bahwa itu Dorin yang gue kenal, gue masih menyukainya.
...***...
__ADS_1
"Ternyata gue masih menyimpannya," gumam gue masih memandang lama benda kecil yang ada di tangan.
Benda ini memiliki kisah tersendiri. Gue ingat, saat itu gue nangis di pojokkan karena teman-teman TK ngeledikin gue. Lo tahu kan, anime Shin-chan yang selalu manggil Mama-mama?
Yah, namanya juga dulu gue masih bocah yang berumur lima tahun, tentu sajalah gue manja, takut sendirian di kelas, kemudian nangis, dan manggil Mama-mama. Plus-nya, ketika gue memperkenalkan diri di depan kelas, temen gue malah tertawa.
Shiro. Saat itulah mereka selalu nertawain gue. Meaw, kucingnya Shin-chan.
"Jangan nangis."
Gadis kecil itu bernama Dorin Tanea. Dia mengusap kepala gue seperti anak kucing lalu berkata, "Jangan sedih. Untukmu" dia memberikan mainan Sailor Moon berukuran kecil dan semenjak itulah kami menjadi dekat. Dia juga memarahi anak-anak yang ngeledekin gue.
"Shiro ... Shirooo, hiks."
Suara cempreng itu mengalihkan dunia gue ke masa sekarang--menoleh ke arah pintu ketika mendengar rengekan di luar kamar. "Kenapa lagi tu anak?" gumam gue seraya bangkit dan berjalan ke luar.
"Ada apa, Dek?" tanya gue ketika sudah membuka pintu.
"Huaaa! Shiro ... Shiro mati!"
"Gue masih hidup!" canda gue seraya mendorong jidat gadis bertubuh mungil yang ada di depan gue. Mana mungkin kucingnya mati, toh, tadi pagi masih baik-baik saja.
__ADS_1
"Kucing Dedek mati, Kak. Digigit Kuro!"
"Hah?"
Mampus gue. Kucing kesayangannya malah digigit sama anjing gue. .
"Kan sudah Dedek bilang untuk mengikat Kuro di kandangnya!"
"Sudah Kakak masukin kandang, kok. Serius!" seru gue sembari membuat huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengah.
"Tapi, Kakak nggak mengikatnya!" teriaknya dengan suara parau. Air matanya sudah membasahi pipi. "Kuro kan bisa keluar sendiri!" Adik gue nangis sesegukan. Dia benar, anjing gue bisa membuka pengait kunci kandangnya sendiri. Anjing itu memang pintar.
"Huaaa, Mami ...."
"Dek!" panggil gue saat dirinya berlari ke kamar dan mengunci pintu.
Gawat! Bisa-bisa, tujuh hari tujuh malam adik gue masih menangisi kepergian Shiro, maksud gue kucingnya.
Bersambung...
Jangan lupa mampir di cerita Cinta Seorang Anak Mafia. Ceritanya juga tidak kalah menarik dari ini. Terima kasih. 😄😄
__ADS_1