
Brak!
"Ah, maaf," kataku cepat menundukkan kepala.
''Mata lo di mana, ha?" hardik seorang cowok yang tidak sengaja kutabrak dan suaranya itu sontak membuat jantungku bergetar hebat, mau copot. Sudah lama juga aku tidak merasakan tekanan seperti ini. Aku hanya membalas menundukkan kepala dan sekali lagi meminta maaf.
"Gaf, jangan terlalu kasar sama cewek. Ayo cabut!" Syukurlah suara teman di sebelahnya menyelamatkanku. Mereka pun pergi dari hadapanku.
Sepertinya orang itu belum sadar dengan diriku. Oh, mungkin saja dia tidak mengenali penampilanku yang sekarang, atau dia sudah melupakan masa lalu? Ya, aku berharapnya seperti itu.
***
"Rin."
"Astaga, Fandy!" Tanganku mendekap ke dada lalu memukul lengannya cukup keras. Cowok itu tiba-tiba saja muncul dari samping ketika aku menutup pintu loker. Apa kebiasaan Shiro berpindah ke dirinya?
"Soal kemarin ...."
Apa Fandy ingin membahas kejadian kemarin, soal diriku yang pamitan pada Vino Virgo? Oh, astaga Fandy! Asalkan kamu tahu, aku tidak ingin membahas hal memalukan itu.
"Gue tahu kalau lo merasa nggak nyaman, kan?"
"Hah?"
"Vino sudah cerita ke gue," sambungnya.
__ADS_1
"Cerita?"
Fandy mengangguk. "Gue denger, beberapa hari yang lalu lo diganggu sama Devin beserta teman-temannya. Jadi, lo paham, kan, kenapa Vino bersikap demikian?"
Mendengar itu aku termenung sesaat. Dari mana Vino mengetahuinya? Dan, Karena itukah Vino sangat mengkhawatirkanku sampai-sampai dia membuat persyaratan yang konyol? Mataku kembali menatap cowok tinggi yang ada di dekatku.
"Jadi, Rin. Sebelum pulang lo kagak perlu lagi melapor ke Vino, cukup ke gue aja."
"Itu sama saja, Dodol! Sama-sama merepotkan!" Aku pun memukul kepalanya dan disusul cengiran khas Fandy.
"Ah, lo ngerusak rambut gue, Rin!" keluhnya
"Sini aku perbaiki." Gemas. Aku pun tambah mengacak-acak rambut cowok itu yang sebelumnya belah tengah dan tertata rapi. Dari ke tiga trio serigala, aku hanya dekat dan nyaman berbicara dengan Fandy, ya, karena dulunya kami juga sering bercanda seperti ini.
"Iya, iya," ujarku mendorong tubuhnya agak menjauh karena jarak di antara kita terlalu dekat. "Sudah ah, aku mau balik ke kelas."
***
"Dor, Dor, lagi mikirin apa?"
Refleks tubuhku mundur ke belakang--menyandar di sandaran kursi. Mengagetkan saja. Sejak kapan Ela ada di depanku?
Aku pun menggeleng sebagai jawaban.
"Terus kenapa Dor, Dor senyum-senyum sendiri?"
__ADS_1
"Senyum? Siapa yang senyum!"
Ela pun bangkit dan kembali ke tampat duduknya karena bel masuk sudah berbunyi. Tanda jam istirahat sudah usai. Satu per satu anak-anak kembali memasuki kelas dan menempati duduk mereka masing-masing.
"Ayo, Dor-Dor. Cerita sama Ela. Kalo cerita baik itu nggak baik disimpen sendirian."
Aku menggeleng lagi. Ini anak satu cerewetnya minta ampun. "Tidak. Aku tidak punya hal untuk diceritakan." Aku hanya bisa mendesah dalam hati. Ini kebodohanku,kebodohanku yang tanpa sadar memikirkan Vino Virgo.
Uh! Bagaimana mungkin aku memikirkan Vino seperti tokoh yang ada di manga. Tipe cowok yang dingin di luar, cuek, tidak banyak bicara pada orang lain, namun justru dia orang yang sangat peduli dan juga memberikan keamanan tentunya, meski dengan caranya yang menyebalkan.
"Kenapa dia harus berubah 180 derajat?!" teriakku tanpa sadar hingga orang-orang menatap ke arahku.
Bersambung ...
__ADS_1