
“Dorin?”
Aku membalik karena mendengar namaku dipanggil secara serempak oleh ...
“Siapa yang melakukan ini?” tanya Vino melangkah mendekat, tangannya tanpa permisi langsung membersihkan tepung di wajah dan di kepalaku, yang kurasa sudah menyatu pada tubuhku yang basah (sulit dibersihkan)—kepalanya pun mendongak ke atas, kujamin dia tidak menemukan apa pun di sana, toh, mereka sudah pada lari.
“Apa ini perbuatan Gafa, Devin, atau Friska?” Mata Shiro yang tadinya menatapku kini beralih menatap Fandy saat dirinya menyebutkan nama Friska di bagian akhir.
“Gafa?” Fandy menggelengkan kepala. “Sepertinya tidak mungkin. Lo tahu sendiri, cowok bar-bar seperti dia mana mungkin melakukan hal kekanakan dan sepengecut seperti ini. Itu anak tidak tahu batasan, baik cewek maupun cowok tidak segan-segan dia labrak.” Fandy tampak berpikir sejenak. “Kemungkinan besar ini adalah ulahnya Devin karena, hanya cowok banci yang suka ganggu cewek.” Lagaknya macam detektif yang memberikan pendapat dalam cerita anime.
Aku menyipitkan mata mendengar ucapan Fandy. Jadi selama ini kalian itu apa, ha? Bukankah kalian pernah menindasku? Hei, Fan ... kamu membicarakan dirimu sendiri, kata-kata yang ingin kuteriaki ke wajah trio serigala itu. Sebentar, sepertinya pemikiran ini pernah muncul sebelumnya. Aku menggeleng. Ah, masa bodoh!
Shiro berdecih. “Yang melakukan hal kekanakan ini biasanya para cewek, kenapa lo enggak mau mengakui ini adalah perbuatan cewek lo, maksud gue mantan lo.”
Aku menggelengkan kepala lagi karena melihat tingkah mereka yang selalu memperdebatkan hal yang tidak jelas.
“Eh, Meong. Si Friska kagak masuk. Bagaimana mungkin dia melakukannya?” jawab Fandy ngegas.
“Bisa saja, kan, itu idenya?” kata Shiro yang sepemikiran denganku tadinya.
Selagi mereka berdua sibuk berdebat, tanganku ditarik Vino. “Heh ...?”
“Ma-mau ke mana?”
“Ikut saja!”
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Vino masih mengengam tanganku degan erat, dia berada di depan tanpa mempertimbangkan langkah kakinya yang panjang. Aku mempercepat langkah untuk menyamai tempo gerakannya.
“Tidak ada orang, masuklah!” katanya setelah membuka pintu ruangan klub basketnya. Sepi. Vino pun melangkah ke arah loker besi berjejer yang menempel di dinding. Dia mengeluarkan sesuatu lalu memberikannya padaku.
“Bersihkan badanmu,” ucapnya sembari memberikan seragam olahraga beserta handuk kecil kepadaku. “Ini
baru gue cuci.” Dia pun berdehem kemudian, “Tidak mungkin lo pulang dalam keadaan seperti itu.”
“A-Apa maksudmu?” gugupku yang melihat ke mana arah matanya memandang. Aku menyilangkan kedua
tangan di depan dada. Bodoh! Aku baru sadar, bajuku transparan karena basah.
Vino memalingkan wajah, lalu berjalan ke arah luar. “Gue akan tunggu di luar, berjaga-jaga karena kunci toiletnya rusak.”
***
bersih dan semuanya tersusun rapi. Ya ... karena biasanya ... kalian tahulah para cowok kelakuannya macam mana, ya, tidak semua cowok sih.
Aku melangkah ke cermin besar yang menempel di dinding bagian pojok dekat loker dengan tangan masih
mengusap-usap rambut panjangku yang basah. Gerakan tanganku terhenti seketika ketika menatap diri di cermin. Baju Vino kebesaran di tubuhku. Dengan spontan aku menutup wajah yang mulai terasa panas. Malu. ini pertama kalinya aku memakai baju cowok.
“Lo sudah si—”
“Rin?”
__ADS_1
Aku mengangkat wajah—membalik menatap Vino Virgo dengan ekspresi yang tidak bisa kuartikan. Sial! Kenapa wajahku terasa makin panas? Aku menghidari tatapannya dengan menatap handuk yang masih kupegang dengan kedua ...
Mataku membesar dan seketika tersadar. “Ini ... ini tidak seperti yang kamu pikirkan!” Nadaku meninggi dengan penuh tekanan. Aku tidak mau Vino salah paham atas apa yang dia lihat barusan. Hanya saja, aku tidak sengaja menutup wajahku dengan handuknya, bukan mencium, ataupun menghirup aromanya.
“Bo-bodoh! Kenapa kamu tersenyum?!” teriakku sembari melempar handuk itu ke wajahnya kemudain pergi begitu
saja tanpa mengucapkan terima kasih.
***
“Thanks.” Fandy memberikan tas itu ke tanganku. Aku memang meminta tolong padanya untuk mengambilkan barang-barangku yang ada di kelas lalu menyuruh Nora dan Ela pulang duluan. Terserah deh, Fandy mau bikin alasan apa ke mereka berdua.
“Beneran nih, nggak mau gue anter?”
Aku menggeleng pelan.
“Eh, kenapa nggak pulang sama Vino saja?”
Aku menggeleng kuat.
“Malu lo ya, karena pake bajunya?” sikut Fandy membuatku jengkel.
Aku mendengkus sembari menggigit bibir bawah karena geramnya sama ini anak satu aku memukul lengan Fandy berkali-kali dan dia masih saja tertawa.
Bersambung ....
__ADS_1