
Menarik?
Apa dia bercanda?
Sepertinya ada yang salah dengan otaknya! Bukankah sebelumnya dia pernah bilang tidak tertarik dengan gadis sepertiku?
"Kenapa?" Cowok di depanku tersenyum dan membuat jidatku mengerut dengan tatapannya. "Apa lo tertarik sama gue, hm?" Dia pun menyisir rambutnya yang agak panjang dengan jemarinya ke belakang.
Hah?
"Gue tau gue tampan," lanjutnya lagi. Hanya saja kata-kata itu terdengar aneh keluar dari mulutnya itu. Kata-kata kasar yang biasa dia keluarkan itu lebih cocok untuknya.
Mataku menyipit dengan bulu tangan merinding. "Maaf, tapi sama sekali aku tidak tertarik denganmu!"
Aku memberikan tatapan datar kemudian pergi meninggalkan cowok aneh itu.
"Tunggu!" Cegatnya mengenggam tanganku, namun segera kutepis dengan gerakan siap siaga--kedua telapak tangan terbuka di depan dada (gerakan silat). Meski sudah lama tidak berlatih, terkadang dalam keadaan bahaya tubuhku refleks untuk melindungi.
Jidatku menyernyit. "Apa yang kau tertawakan?"
"Hanya membayangkan masa lalu."
Sial! Apa dia mengejekku?
"Baiklah, untuk saat ini cukup." Cowok itu memberikan jarak.
Apa maksudnya?
Dia pun pergi sembari mengangkat tangan sejajar dengan kepalanya kemudian bersorak tanpa menoleh ke belakang, "Untuk selanjutnya kita akan lebih sering bertemu."
"He-hei, apa maksudmu?!"
Cowok aneh!
Menyebalkan!
Aku benar-benar tidak menyukainya!
__ADS_1
...***...
"Rencana apa yang akan dia perbuat?" gumamku sembari memandang kosong ke papan tulis. Setelah bertemu Gafa tadi, pikiranku tidak bisa fokus mendengarkan pelajaran yang diterangkan guru. Tanpa sadar tanganku sudah mencoret-coret membentuk lingkaran pada sampul buku tulisku.
Sulit.
Ah, aku harus lebih berhati-hati lagi mulai dari sekarang. Karena pikiran cowok itu tidak bisa ditebak.
Drrttt ...
Ponselku bergetar dalam saku rok. Aku pun mengambilnya dan membuka layar ponselku.
"Oih, apa-apaan ni bocah?!"
"Dor-Dor Hp-nya getar tuh," kata Ela sembari tadi curi-curi pandang ke arah ponselku.
"Oih, kenapa ni anak nelpon?!" gerutuku menekan tombol reject.
Baru saja aku mendapat pesan dari Vino Virgo. Aku pun segera membalasnya.
Mataku menyipit menatap layar handphone di tangan. Padahal pesanku sudah dibaca Vino, tapi dia tidak membalasnya.
Ah, hari ini ada apa dengan orang-orang?
Ponselku bergetar kembali dengan napas kasar aku pun menundukkan kepala sembari mengangkat telpon dari Meka.
"Apaan sih, Mek? Sudah kubilang aku lagi belajar!"
"Soal kemarin."
__ADS_1
"Kenapa emang?" jawabku.
"Sorry, Ntong. Waktu itu seriusan gue lagi sibuk, jadi nggak bisa telponan. Sekarang gue bebas kok, jadi, lo mau cerita apa? Ada masalahkah?"
Aku menghela napas.
"Masalahnya sekarang akunya yang sibuk."
"Kalau gitu sesampainya di rumah lo telpon gue balik."
Aku ragu untuk mengiyakan karena aku tidak ingin menceritakan tentang Gafa padanya.
"Lihat nanti kalau aku kagak sibuk."
"DORIN!" panggilan itu membuatku mengangkat kepala dengan posisi duduk siap.
Wuuusss!
Mataku melebar. Hampir kena. Untungnya tubuhku refleks menghindar dari lemparan spidol sang guru. Kalau kena jidat, uh! Lumayan sakit juga.
"Dorin! Bukankah pagi tadi kamu terlambat? Dan sekarang kamu malah telponan di kelas!"
*Kenapa Bu Guru itu tahu? Apakah para guru juga suka bergosip di ruangan guru? Ah, mau letak dimana mukaku?
Sial! Aku benar-benar malu. Jangan-jangan guru piketlah yang menceritakan kejadian tadi pagi pada guru-guru kalau aku manjat pagar sekolah*.
"Ma-aaf, Bu ..."
"Berdiri ke depan!"
Aku pun bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke depan.
"Kamu berdiri di sana sampai pelajaran Ibu selesai."
"Baik, Bu."
Mekaaa! Ini semua gara-gara kamu!
__ADS_1
Bersambung ...