Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 25


__ADS_3

Waktu istirahat sudah habis. Aku kembali ke kelas setelah 15 menit bel berbunyi, berjalan tertatih menaiki tangga. Vino masih mengikutiku dari belakang padahal sudah kusuruh dia masuk duluan ke kelasnya.


"Serius, aku bisa ke kelas sendiri. Kembalilah ke kelasmu," kataku pada Vino.


Cowok itu mengangguk pelan kemudian kembali menuruni tangga.


"Vin!" panggilku lagi membuat cowok itu berhenti dan membalik. "Terima kasih."


Vino tersenyum sembari mengarahkan jempolnya ke arahku. Cowok itu kalau sesekali senyum seperti itu tampak manis juga.


Aku menggelengkan kepala cepat, tersadar. Oh, Dorin! Apa yang kamu pikirkan?


"Dor-Dor ke mana? Ela nyariin sedari tadi, tapi Ela nggak lihat Dor-Dor di toilet."


Habis makan di kantin, aku memang berkata pada Ela dan Nora untuk pergi ke toilet sebentar, tapi setelah ke luar dari toilet tiba-tiba Fandy menyeretku dengan paksa.


"Lah, kaki Dor-Dor kenapa?" tanya Ela setelah diriku sudah duduk di tempatku.


"Hanya tersandung sedikit." Aku tersenyum. "Ini tidak apa-apa," kataku lagi saat gadis itu menunjukkan tampang khawatir.


"Apanya yang sedikit, itu kedua lutut Dor-Dor terluka."


"Psst, pelankan suaramu," bisikku saat guru melihat ke arah kami. Sudah terlambat, meribut pula? Mungin itu yang ada di pikiran Bu Guru ketika melihat ke arahku.


...***...


Aku tidak menyangka akan menangis di depan Vino. Ah, itu memalukan sekali. Aku berbaring telentang sembari menutup wajah dengan bantal lalu berteriak, "Memalukan!"


Lebih memalukan lagi saat Vino menggendongku di sepanjang koridor sekolah hingga sampai di UKS. Aku tidak berani mengintip apalagi melihat wajahnya sedikit pun. Ekspresi apakah yang akan kubuat, tersenyum malu dengan wajah memerah?

__ADS_1


Oh, saat itu hampir saja jantungku meledak.


"Rin, nanti malam tidak lupa, kan?" teriak Mama di luar kamarku.


"Iya, Ma!" balasku dengan suara lantang. Malam nanti, Mama dan Papa mengajakku pergi makan malam ke luar. Sudah lama sekali rasanya kita tidak makan malam di luar.


Sudah berapa tahun, ya? Mungkin terakhirnya saat aku kelas 6 SD, saat itu ulang tahunku yang ke 12 tahun.


"Hoaaam." Aku menguap dan mataku terasa kantuk. "Ouh!" Aku meringis saat menghadap ke dinding. Lututku yang terluka bergesekan dengan kasur.


Posisiku kembali kesedia kala, telentang sembari memeluk bantal guling kesayangan.


"Rin, Dorin ...."


Sayup-sayup terdengar suara cowok memanggil. Mataku sangat berat dan sulit untuk dibuka. Aku ingin kembali tidur.


"Dorin!"


"A-Apa yang kamu lakukan di sini?"


Aku mundur ke belakang sembari memeluk guling ketika melihat Vino duduk di kasurku. Kemudian dia tersenyum lembut. Sial, kenapa wajah tampannya itu membuatku menolak untuk mengusirnya?


"Stop!" kataku sembari mengangkat satu tangan ke depan ketika melihat cowok itu menggeser dirinya ke arahku. "Mun-mundur!"


Vino berhenti di tempat.


"Kenapa bisa masuk ke kamarku?"


"Mama yang mengizinkanku masuk."

__ADS_1


Aku memiringkan kepala dengan telunjuk di samping jidat. Mama? Sejak kapan tante berubah menjadi mama? Aku menggeleng kemudian. "Mungkin aku sedang bermimpi," gumamku sembari melirik cowok itu lagi tak kunjung hilang dari pandangan.


Aku memelotot seraya menunjuk tajam saat Vino mulai bergerak. "Diam di tempat atau aku akan berteriak!"


Dia tersenyum. Senyuman jahil dan menjengkelkan itu terukir indah di bibirnya. "Bukankah katamu ini mimpi?" kata Vino hampir saja menggigit telunjukku, untung aku menariknya cepat dan mundur ke belakang. Punggungku sudah menempel di dinding.


"Vin, jangan bercanda. Kubilang mundur, jangan sampai aku menendangmu!" Aku memperingati untuk terakhir kalinya.


"Eh?" Aku terkejut tiba-tiba saat Vino menarik kakiku dan menyeret dekat ke arahnya. Dia berada di atasku, menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang terletak antara kepalaku. "Vin, kalau kamu bercanda, ini tidak lucu!"


"Baiklah, dulu aku memang suka bercanda, tapi sekarang aku serius."


Entah mengapa dadaku semakin berdebar, tubuhku memanas saat embusan napas Vino menyapu wajahku. Guling dalam pelukan kupeluk semakin erat.


"Dorin," panggilnya membuat jantungku bergetar. Aku suka saat dirinya memanggil namaku. Suaranya terdengar merdu. Apalagi mata hitamnya memandangku lekat. Jarak pandangan kami semakin dekat.


"Vin ...," Aku memalingkan wajah ke samping. Wajah Vino semakin mendekat, aku pun tak bisa bergerak, seakan terhipnotis oleh dirinya. "Kumohon ... menjauhlah!" Tubuhku merinding hingga ke kaki saat napas cowok itu menyentuh leherku.


Aku memejamkan mata kuat-kuat. Kemudian menggeleng. Jangan! Aku tidak mau!


BAAAM!


"Aaakh!" Aku merintih sembari mengusap pantatku yang terhempas ke lantai. Aku pun bangun dan memperhatikan sekeliling. Cowok itu tidak ada di sini.


"Bodoh!" gerutuku sembari menutup wajah dengan kedua belah telapak tangan. "Kenapa aku bisa memimpikan cowok itu?"


Aku menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara ketukan. "Dorin, bersiap-siaplah, sebentar lagi kita akan berangkat!"


"Ya, Ma," balasku bangkit dengan susah payah. Lututku yang terluka bertambah sakit. Ah, ini semua gara-gara mimpi sialan itu hingga membuatku jatuh dari tempat tidur.

__ADS_1


Sebelum tidur aku memikirkan cowok itu, mungkin karena itulah aku memimpikannya, yakinku pada diri sendiri. Mana mungkin Vino memiliki perasaan terhadapku dan malakukan hal itu padaku.


...***...


__ADS_2