
"Mora-Arlan, selamat ya anniversary pernikahanmu."
"Selamat juga untukmu. Akhirnya setelah bertahun-tahun Rega memiliki adik juga."
"Apa aku tidak terlalu tua memiliki anak?"
"Ah, tidak. Jangan pikirkan kata orang-orang. Umur 38 itu masih muda, kok."
"Rega?" ucapku pelan, terkejut mendapati cowok itu berdiri di samping wanita yang kemungkinan adalah mamanya.
"Oh, kalian sudah saling mengenal?" tanya Mama dan juga wanita itu serempak.
Aku mengangguk pelan. "Dia seniorku."
Kemudian, Mama memperkenalkan dan menjelaskan sedikit tentang sepasang suami istri itu padaku dan juga Vino. Wanita yang mengandung tujuh bulan itu bernama Tante Genita, dia sahabat Mama masih duduk di SMK dulu, sedangkan yang berdiri di sebelah kanannya bernama Om Revi. Dia tampak sedikit tua dari Papa.
Mama juga menceritakan tentang ... dulu diriku juga pernah dibawa ke rumah Tante Genita dan bermain dengan anaknya.
Mereka sudah jalan duluan. Percakapan mereka sayup-sayup masih terdengar, seakan mereka sudah lama tidak bertemu.
Pandanganku masih tertuju pada punggung Rega yang semakin jauh mengikuti para orang dewasa.
"Rin." Vino masih berdiri di sampingku. Mataku mengarah ke bawah saat cowok itu mengenggam tanganku. "Gue di sini," katanya lagi.
"Apa maksudmu?"
"Gue tahu lo nggak suka sama Rega, kan? Saat di SMP dulu, lo juga jauhin dia."
Aku tersenyum tipis. "Apakah dari dulu kamu memperhatikanku?" tanyaku menggoda Vino, membuat cowok itu melepaskan genggaman tangannya dariku.
"Itu terlihat jelas. Ayo! Mau gue tinggal?" Cowok itu pun jalan duluan, dan aku berlari kecil mengejarnya.
Berubah. Vino yang sekarang membuatku merasa nyaman berada di dekatnya. Seakan dia adalah sebuah magnet dan aku bagaikan besi yang otomatis tertarik olehnya.
"Vin, kenapa dulu kamu nyebelin?" tanyaku sembari menyikut lengan cowok tinggi itu, aku berusaha menyeimbangi langkah kakinya.
Vino malah mempercepat langkahnya. Tak acuh. Tampang sok cool-nya itu terpampang lagi di wajahnya.
"Viiin!" panggilku dengan penuh tekanan--mengejarnya lagi, namun mulutku tak bisa berkata apa-apa lagi karena kami sudah berada dekat di depan meja.
Begitu banyak makanan, memenuhi meja panjang. Tampak menggiurkan, seakan diriku melupakan pertanyaan tadi.
"Silakan," kata seseorang menarik kursi untukku. Rega Valen melakukan hal itu? Apa aku bermimpi?
Aku mengangguk pelan dan terpaksa duduk di depannya, sedangkan Vino duduk di sampingku. Bisa dibilang deretan sebelah kanan ditempati keluargaku dan sebelah kiri ditempati keluarga Rega. Kami saling berhadapan.
__ADS_1
"Terima kasih," kataku kemudian.
"Tanganmu bagaimana, Mora?" tanya Tante Genita menatap tangan Mama yang masih memakai gips.
"Kata dokter, sekitar seminggu lagi gips ini bisa dibuka."
Kedua pasang kekasih itu mulai membicarakan hal yang tidak kumengerti. Apalagi Papa yang sedang membicarakan bisnis dengan Om Revi, padahal sesaat yang lalu para istri mereka menegur untuk tidak membicarakan bisnis di hari istimewa ini.
Hening.
Pembicaraan mereka terhenti ketika sebuah alunan musik dari alat musik biola mengalun syahdu. Mata mama tampak berkaca-kaca. Dia tampak sangat menikmati malam ini dengan makanan mewah.
"Terima kasih," ucap Mama mengenggam tangan Papa. Keromantisan mereka sudah terbiasa kulihat di rumah.
Pandanganku kembali mengarah ke depan. Mataku bertemu pada lelaki yang duduk di depanku. Apa? Oke, kata itu yang tidak bisa kukatakan padanya. Mungkin hanya perasaanku saja kalau sedari tadi mata itu sedang mengawasiku.
"Apa Dorin masih ingin menikah dengan anak tante?"
Aku menepuk dada. Pertanyaan dari Tante Genita membuatku tersedak, segera aku mengambil gelas yang ada di samping piringku, mengabaikan gelas pemberian Vino-Rega yang serempak memberikannya kepadaku.
Tante Genita tersenyum, mungkin melihat ekspresiku yang memperlihatkan tanda tanya besar di depan wajahku.
"Pasti kamu tidak ingat, ya. Soalnya Dorin waktu itu masih berumur lima tahun."
Aku menoleh ke arah Mama yang mulai mengeluarkan tawa kecil. Wajahku terasa panas. Apa benar aku kecil dulu pernah berkata demikian?
Tante Genita mengangguk. "Kemudian mereka sama-sama nangis."
Mama dan Tante Genita masih saja tertawa dan menggodaku.
"Maaa!" gumamku sembari mencubit paha Mama dengan pelan. Padahal aku tidak mengingatnya, tapi sekarang aku merasa malu mendengar mereka membicarakan masa lalu.
Cemberut. Aku pun berdiri. "Maaf, aku ke toilet dulu."
"Dorin!" Suara Tante Mona memanggilku. "Mor, apa Dorin marah?"
"Tidak. Dia hanya malu."
Ya, aku masih bisa mendengar kata-kata Mama. Aku memang malu, maka dari itu lebih baik aku pergi daripada mereka masih membahas aku dengan Rega. Andai saja mereka tahu, kalau Rega itu menyebalkan dan membuat hidupku merana karena jukukan yang dia berikan.
...***...
Semenjak keluar dari toilet, aku belum kembali ke tempat mereka. Aku lebih memilih berjalan di bagian di sisi lain taman hotel ini.
Langkahku terhenti pada tempat duduk yang di depannya ada air mancur. Aku pun berisirahat sejenak, menenangkan diri.
__ADS_1
Kepalaku mendongak menatap langit kelam yang ditaburi sedikit bintang. Kalau di kampung mah, bintangnya terlihat sangat banyak. Aku rindu nenek dan kakek. Mataku terperjam begitu saja ketika membayangkan wajah mereka.
"Maaf."
Mataku terbuka saat seseorang mengusap pipiku dan segera kutepis.
Aku pun menghapus bekas tangannya yang menyentuh wajahku. Basah. Sejak kapan pipiku basah? gumamku dalam hati.
"Jangan terlalu dipikirkan apa yang nyokap gue katakan," katanya sok tahu. Mungkin dia berpikir aku menangis karena kejadian tadi. "Tunggu!"
Kenapa dia ke sini, sih? Apa Mama yang menyuruhnya mencariku? Padahal aku tidak ingin melihat wajahnya itu.
"Gue minta maaf."
Aku hanya menatap datar cowok tinggi di depanku. Tidak mempertanyakan apa kesalahannya.
"Karena gue, kan, lo selalu menghindar tiap kali kita bertemu?"
Aku mengangguk. Setidaknya, kamu tahu kesalahanmu, batinku.
"Itu terserah lo mau maafin gue atau enggak. Dan, lo nggak perlu menghindar lagi saat kita berpapasan."
"Bisakah aku pergi sekarang?" Karena tidak ada jawaban aku bangun dari tempatku dan melangkah pergi.
"Tunggu. Gue belum selesai."
Aku berhenti dan membalik menatapnya. Apa dia akan berkata seperti yang lainnya? Merasa menyesal karena telah menyakitiku? Kemudian ... bersikap baik setelah melihat diriku yang sekarang ... lalu berusaha mendekatiku?
"Apa lo masih punya nomor Karissa?" sambungnya membuat gigiku terkatup semakin rapat. Nama itu membuatku semakin kesal. "Bukankah kalian berdua dulu dekat?"
Aku mengepal kuat kepalan tangan. Seandainya bisa, Aku ingin berteriak di telinganya. Kalau saja kamu tahu, cewek itu yang membuatku tidak ingin bersekolah lagi!
Aku menghela napas pelan.
Oke, mungkin beberapa saat yang lalu aku ke PD-an. Sedikit pun dia benar-benar tidak tertarik padaku. Dan, cara dia melihatku sebelumnya ... entah. Aku tidak memedulikannya lagi.
"Dorin, tunggu!"
"Maaf, bukankah dia ingin pergi?"
Aku terkejut melihat kedatangan Vino yang tiba-tiba sembari meletakkan genggamannya di pergelangan Rega--menariknya kuat hingga genggaman Rega lepas dari tanganku.
"Ayo, kita pergi!" Kini Vino yang menarik tanganku. Menyeretku pergi entah ke mana.
"Vin!" panggilku tak dihiraukan. Aku berusaha menyeimbangi langkah kakinya yang panjang. Sedikit pun cowok itu tidak menoleh ke arahku.
__ADS_1
Meski tatapannya datar, namun kerutan halus di jidatnya tadi menunjukkan dia terlihat kesal.