Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 24


__ADS_3

Gue kecewa sama lo, Rin!


Daripada mengucapkan kata-kata itu, aku lebih rela cowok itu menyebutku seperti biasa, Miss Ball. Entah kenapa mataku terasa panas, ini pertama kalinya Fandy marah sama diriku. Begitu cintakah Fandy pada Mak Lampir?


Kuyakin, dayang-dayang Friska-lah yang mengambil foto tersebut. Aku pun tidak tahu, apa yang Friska adukan ke Fandy hingga Fandy marah besar.


Aku mengusap mataku yang sedikit berair, ini, memang menyakitkan, tapi aku tidak boleh lemah karena hal ini, karena aku memang tidak salah. Tidak peduli seberapa berat itu, selama dirimu berpijak pada jalan yang lurus, kau akan tetap selamat. Itulah kata-kata yang pernah kudengar.


Meski berpikir demikian, melihat tatapan Fandy barusan membuat tubuhku lemas, hanya saja aku tidak ingin dibenci olehnya karena kesalah pahamanan yang tidak jelas begini.


Kakiku sangat berat dilangkahkan menuju kelas, seperti ada berton-ton beras yang bertengger di pundakku. Sepanjang perjalanan aku hanya menunduk seakan menghitung langkah kaki atau berjalan sembari mencari semut yang bersembunyi di rumput.


Aku menoleh ke samping ketika mendengar suara sorakan. Di sana tampak para senior sedang bermain basket, ada Rega juga, entah kenapa diriku yang biasanya refleks menghindar darinya seakan tidak peduli lagi. Aku tidak punya tenaga untuk berpikir kabur maupun menghindar darinya.


BRAK!


Sesuatu mendarat di kepalaku cukup keras hingga tubuhku terjatuh dengan wajah menempel di atas rumput. Bola bergelinding di depan mataku.


"Loe nggak apa-apa?" Itu suara Rega Valen sudah berada di dekatku dan menyentuh tanganku, mungkin membantuku untuk berdiri.


Aku menepis tangannya cepat lalu bangun duduk. "Aku oke," jawabku masih merasakan pusing dengan tangan berada di sisi kepala. Wajah cowok itu tampak membayang dua.


"Sorry, gue nggak sengaja," kata seseorang yang nadanya tidak terdengar khawatir atau meminta maaf. Aku yakin si Devin sialan itu sengaja melemparnya ke arahku. Secara lapangan basket dan tempatku berdiri lumayan jauh. Lagipula dia sangat mahir melakukan lemparan tiga point, bisa dibayangkan, kan, seberapa akuratnya lemparannya itu?


"Serius loe ngak apa-apa?" tanya Rega sekali lagi dan aku membalas mengangguk. Daripada si Devin sialan itu, Rega lebih tampak mengkhawtirkanku.


Aku berdiri perlahan dengan sisa kekuatan yang kupunya. Tubuhku terasa oyong. Aku pun mengangkat tangan saat Rega bergerak mendekat. "Aku tidak apa-apa."


Aku pun pergi meninggalkan mereka berdua dengan berjalan tertatih.

__ADS_1


"Gila loe, itu anak orang!" Aku masih bisa mendengar suara Rega yang setengah berbisik pada teman sialannya itu.


"Akh!"


Bodoh, Rin! Aku mengupat dalam hati karena tersandung oleh kerikil kecil. Kumerasakan perih pada lututku yang mendarat pada tanah yang berpasir.


Aku hanya bisa meringis pelan menahan sakit.


"Apanya yang tidak apa-apa? Berjalan saja loe nggak bisa. Izinin gue membantu loe." Kumendongak, itu Rega. Cowok menyebalkan itu menawarkan diri untuk membantuku?


"Tidak usah. Gue yang akan membawanya," kata seseorang, tiba-tiba menjauhkan tangan Rega dariku.


Kehadirannya mengejutkanku. "Vino?"


"Bisa berdiri?" tanya Vino lembut seraya membantuku bangkit. Dia melirik ke bawah kemudian membersihkan pasir yang menempel di sekitar lututku. "Gue pikir lo nggak bisa jalan."


"He-hei, apa yang kamu lakukan?!" Mataku melebar dengan dada berdebar.


Vino mengendongku di depan, ala pangeran yang mengendong sang putri kerajaan berjalan menuju kereta kencana. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menutup wajah dengan telapak tangan. Kubisa merasakan semua mata tertuju ke arahku. Apalagi salah satu dari trio serigala yang menggendongku.


Setibanya di UKS, Vino membaringkanku di tempat tidur lalu menutup tirainya rapat. "Tunggulah sebentar, gue ambil kotak P3K dulu."


Bagaikan mimpi di siang bolong. Vino Virgo berkata seperti itu? Melalukan hal baik kepadaku?


"Bodoh! Kenapa dia begitu keren sekali!" gumamku sembari menepuk kepala, "Aaahk ...," Aku merintih, lupa kalau kepalaku baru saja terkena lemparan bola basket.


Vino datang. "Biar gue bersihin luka lo," ucapnya sembari membasahi kapas dengan alkohol. "Kalau sakit bilang, ya."


"Tunggu! Aku duduk saja," ujarku cepat seraya bagun. Lagi pula tidak enak dalam posisi tidur ketika Vino membersihkan lututku yang terluka.

__ADS_1


Vino mengambil kursi--duduk di depanku. Dia mulai mengusap lututku dengan kapas. Terasa sedikit perih, sih, tapi aku mencoba menahannya.


Kenapa?


Kalau Vino bersikap seperti ini, aku tidak bisa lagi membencinya. Kejahilannya di masa lalu ... memori yang tertanam di dalam benakku seakan terkikis.


Padahal dia yang paling jahil daripada yang lainnya, kenapa tindakannya sekarang begitu memesona?


Kenapa Vino bisa berubah, sedangkan Fandy tidak?!


Mengingat Fandy yang mempercayai Mak Lampir itu membuatku jadi sedih lagi.


"Apa sakit?" Vino mendongak, kemudian meluruskan badannya menatapku.


Aku menggeleng.


"Kalau itu sakit, nggak usah tahan air mata lo, Rin," katanya membuatku meneteskan air mata. Mungkin ini ke tiga kalinya dia menyebut namaku dengan benar. Dulu dirinya seakan alergi menyebut namaku dan selalu memanggilku dengan sebutan 'Kingkong'.


"Kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini?" tanyaku dengan suara tangisan yang tak bisa kubendung lagi. Semuanya serasa bercampur aduk. Rasa sakit dan kekesalan di hatiku berkumpul jadi satu. Sudah lama rasanya aku tidak menangis apalagi di depan orang lain.


"Maaf."


Aku mengusap air mata yang membasahi pipi, namun air mataku masih tetap mengalir. Dulu, satu-satunya yang ingin kulakukan adalah ingin meninju wajah tampannya itu.


"Maafin gue karena belum mengatakannya dengan benar. Gue merasa bersalah karena membuat lo pergi ninggalin sekolah dan rumah."


"Ya, itu salahmu juga!" seruku.


"Maaf," katanya dengan suara lembut dan itu meluluhkan hatiku.

__ADS_1


...***...


__ADS_2