
Ela, orang yang biasanya duduk dan berisik di sebelahku masih izin, tidak masuk sekolah karena sakit. Mungkin karena telingaku sudah terbiasa mendengar ocehan Ela setiap harinya, jadinya aku merasa suasana sepi dan tenang ini menjadi terasa membosankan.
Aku menoleh ke samping, tempat itu sementara ditempati Nora. Gadis itu pun tidak banyak bicara, sesekali menanyakan tentang pelajaran yang tidak dia mengerti bagaimana menyelesaikannya.
"Apa ini sudah benar?" tanya Nora.
Aku pun mengangguk sebagai jawaban. Nora tampak senang, dia pun melanjutkan mengerjakan soal lainnya.
Tak berapa lama bel istirahat pun berbunyi dan biasanya, Ela sudah menarik kami ke kantin sekolah.
Kulihat Nora tidak membawa bekal. "Mau ke kantin?" tanyaku saat gadis itu masih mengerjakan tugasnya. Nora pun mengangguk sebagai jawaban. Kami berdua mengemas alat-alat tulis dan segera turun. Kamu tahu sendiri, kan, aku tidak ingin bertemu dengan Rega.
"Miss Ball!"
Langkahku terhenti saat menuruni tangga, kepalaku mendongak ke arah suara yang memanggilku. Sudah kuduga suara itu berasal dari cowok itu, Devin. Mungkin saja rasa dendamnya belum hilang atas kejadian waktu itu. Ya, tidak banyak yang kulakukan, mungkin sedikit melukai harga dirinya?
Rega juga ada di sana, berada di samping cowok playboy itu. Kudengar dia punya banyak cewek, mungkin saja Ela memutuskannya, dan itu pantas untuknya.
"Ayo, kita pergi!"
"Miss Baaall!" kali ini cowok menyebalkan itu mengucapkannya dengan nada berirama hingga semua orang bisa mendengarnya.
"Hiraukan," kataku pada Nora yang ikut menyeimbangi langkahku menuruni tangga.
"Hei, Dev. Berhentilah menggoda juniormu!" Itu suara Rega dan aku tidak percaya dia akan mengatakan itu.
Setibanya di kantin kami mempercepat langkah karena masih ada satu tempat kosong. Kantin ini biasanya ramai dipenuhi murid-murid, terlambat ke luar satu menit saja, tidak ada tempat tersisa untukmu. Ya, bisa dikatakan makanan di sini enak-enak dan menunya juga banyak, harganya juga lumayan dibandingkan tempat pertama kali Ela ajak.
Aku tersenyum saat kami sudah berada dekat dengan meja kosong. Saat diriku mau mendaratkan pantat di kursi ...
"Ouh!" Aku meringis sembari menyentuh bokong yang terhempas ke lantai. Seseorang menarik kursiku dengan gerakan cepat. Aku menoleh ke belakang dan mendelik tajam ketika mendapati sosok menyebalkan itu.
"Ups, kursi ini sudah ada yang punya," kata Devin membuatku ingin menonjok wajah sialannya itu, sedangkan Rega yang berdiri di sampingnya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu.
Dulu, Rega memang menjulukiku dengan Miss Ball, namun dia tidak pernah mengolok-olokku seperti yang lainnya. Aku hanya tidak menyukai cowom itu karena dia yang memberikan nama itu. Bertemu dirinya saja masih menjadi mimpi buruk buatku.
__ADS_1
Devin masih tersenyum angkuh seperti iblis karena sukses mengerjaiku.
Tahan, Rin, tahan, gumamku dalam hati sembari mencengkeram kedua tangan.
"Rin, kamu tidak apa?" tanya Nora sembari membantuku berdiri.
"Ya, aku tidak apa," balasku sembari menepuk-nepuk rok yang kotor. "Sebaiknya kita pergi saja. Kantinnya juga pen--"
Tiba-tiba seseorang menarik tanganku. "Fandy?"
"Bergabunglah bersama kami," katanya menoleh ke arahku dan Nora. Tanpa sadar aku pun mengikuti langkah kakinya.
Tak jauh di depanku, meja yang ada di pojok sana, kulihat Vino dan juga Shiro berdiri di depan mejanya. Oke, aku tidak akan pernah berpikir kalau mereka juga akan datang ke sini lalu menarik tanganku ke meja mereka.
"Duduklah, Rin!" Kemudian cowok itu melirik ke arah Nora dan berkata, "silakan duduk, aku akan mencari kursi satu lagi," lanjutnya. Karena meja ini hanya mempunyai empat kursi, jadi Fandy berinisiatif mencoba meminjam pada Ibu Kantin.
Nora tersenyum kemudian mengangguk pelan. Wajahnya tampak sedikit merona. Entah mengapa dari sejak awal aku memerhatikan gadis itu, kalau dirinya terlihat tertarik dengan Fandy. Tadi, ketika cowok itu menarik tanganku, air mukanya berubah, kurasa Nora cemburu.
Jujur saja, Fandy memang tampan dan aku juga pernah bilang sebelumnya kalau dia adalah cinta pertamaku, tapi pada dasarnya cinta pertama hanyalah sebuah dongeng belaka. Tidak akan pernah bersatu.
Vino dan Shiro duduk kembali di tempatnya. Tatapan mereka berdua seakan mengkhawatirkanku.
Pertanyaanku masih belum terjawab. Apa pertandingan basket waktu itu ada sangkut pautnya dengan Devin? Apa salah satu dari trio serigala menyukai Ela hingga mereka bertaruh dengan Devin dalam pertandingan basket?
Kalau begitu ... di antara mereka, siapa yang menyukai Ela? Dan, siapa yang Ela suka? Apakah Ela menyukai salah satu dari mereka bertiga?
Oh, Rin! Kenapa kamu masih memikirkan hal ini? Sejak kapan kamu jadi kepo begini?
"Tidak," jawabku tidak mau Shiro ikut campur urusanku.
Vino meletakkan gelas yang baru saja dia tempelkan di bibirnya di atas meja, dia tidak jadi meneguk minumannya kemudian berkomentar, "Tidak?" Vino membuat kerutan halus di jidatnya. "Rin, dia mengambil kursi yang kamu duduki dan membuatmu terjatuh!" Nadanya sedikit meninggi. Aku pun terkejut mendengar dia berbicara panjang lebar seperti itu. Ya, dulu Vino Virgo memang banyak bicara apalagi ucapannya hanya menyakiti perasaanku. Dan, orang yang dulunya jahil, sekarang bersikap peduli padaku?
Shiro pun menoleh padanya dengan tatapan yang tidak bisa kubaca.
"Hei, kalian membicarakan apa?" Fandy datang dengan sebuah kursi yang baru saja dia pinjam dari Ibu Kantin dan duduk di sebelah kiriku. "Rin, kalau cowok itu ganggu kamu lagi, kamu bilang saja padaku."
__ADS_1
Kudengar Shiro berdecih. "Jangan menawarkan sesuatu yang membuat pacarmu cemburu, Fan."
"Eh, Meong. Apa-an sih lo?! Apa gue salah, ha, peduli dengan Dorin? Dia itu teman kita juga."
Baik Shiro maupun Vino, mereka suka sekali memanggil Shiro dengan sebutan meong kalo lagi kesalnya.
Shiro mendengkus. "Eh, Man. Lo tahu sendiri, kan, cewek lo nggak suka apalagi lo dekat dengan Dorin? Bisa saja yang nyebar foto-foto itu si Friska?"
Fandy tampak kesal, dia pun meraih kerah baju Shiro. "Jangan menuduh cewek gue sembarangan!"
Aku mengerutkan jidat melihat interaksi mereka saat ini. Suasananya semakin panas. Kedatanganku di sini sepertinya salah.
Shiro menepis tangan Fandy cukup keras. "Apa lo mau membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya?"
Apa maksud mereka?
"Cukup! Waktu itu gue benar-benar tidak tahu kalau Karissa manfaatin Dorin. Gue memang nembak Karissa waktu itu, lagi pula gue sudah bilang pada Dorin sebelumnya bahwasanya gue menyukai seseorang."
Rissa? Dadaku tiba-tiba berdenyut. Sakit rasanya mengingat masa lalu. Ya, Fandy menolakku dengan halus waktu itu karena dirinya mengatakan menyukai seseorang. Tapi, yang membuatku sakit hati adalah ternyata Rissa tahu kalau aku menyukai Fandy dan sempat mengintip di saat aku menembak Fandy. Tanpa berperasaan gadis itu menerima Fandy sebagai pacarnya.
Bisa bayangkan, kan, betapa sakitnya hatiku waktu itu? Andaikan aku tidak mendengar semua itu dari Dino, mantanku dulu, aku juga nggak bakalan sakit hati. Dan sampai sekarang mungkin aku ikhlas menerima hubungan mereka berdua.
"Oke! Tapi setidaknya, lo bisa jaga cewek lo yang sekarang agar tidak nyakitin Dorin lagi."
"Jadi, Dorin pernah nembak lo, Fan?" Vino yang tadinya diam dan tenang, kini membuka suara.
"Y-ya." Fandy mengangguk. Dia menatap ke arah Vino dengan tatapan yang tidak bisa kumengerti. Aku merasa, Fandy tidak mau membahas itu.
Sial! Kenapa mereka malah mengungkit masa laluku? Selain Dino, dan Karissa, tidak ada yang tahu kalau aku menembak Fandy karena dialah cowok pertama yang kutembak.
Aku ingin menenggelamkan kepalaku ke dalam air. Mengingat betapa banyaknya diriku menembak cowok dan ditolak saat itu juga, membuat harga diriku hilang.
Hah, rasanya aku ingin menghilang saja ke dalam perut bumi.
"Bro, lo mau ke mana?" Tiba-tiba Vino berdiri.
__ADS_1
"Andaikan lo jujur sama gue. Ini semua tidak akan terjadi! Lo nggak akan bikin Dorin sakit hati, Fan!"
Aku hanya bisa melongo melihat tingkah dan perkacapan mereka. Sungguh, aku benar-benar tidak mengerti. Kini pandanganku beralih ke arah Shiro, yang wajahnya juga menunjukkan tanda tanya melihat kepergian Vino Virgo.