
Aku berdiri di depan cermin sembari memperhatikan diri. Memakai dress berwarna navy selutut. Dress ini baru kubeli di toko online dua hari lalu. Untung pas dibadan. Bersyukurlah orang-orang yang memiliki badan ideal, tidak sulit mencari baju sepertiku dulu.
Semenjak badanku menyusut, pakaianku tak seberapa, apalagi saat di kampung dulu. Kamu bisa bayangkan, kan, betapa jauhnya rumah Nenek masuk ke dalam? Nah, apalagi pasarnya yang sangat jauh.
Saat di kampung aku hanya memakai baju lama, masih memakai pakaian yang ukurannya dua kali lipat dari badanku sekarang. Ditambah lagi Meka dengan iseng suka menarik bajuku, sialan kalau diingat, bajuku sudah kebesaran ditambah melar lagi.
Setelah berada di kota ini, aku belum sempat berbelanja dan menjelajahi mall karena tangan Mama masih dibalut.
"Selesai," kataku memperhatikan bibir yang baru saja kupoles dengan lipstik berwarna merah muda. Mama memberikan seperangkat alat make up padaku sebagai hadiah karena sudah masuk SMA. Jujur saja, sebetulnya aku tidak pandai berdandan, daripada benda itu aku lebih berharap dibelikan satu paket komik.
Suara ketukan pintu membuatku menoleh. Menghentikan kekagumanku sementara pada diriku sendiri.
"Non, Ibu sudah menunggu di bawah."
"Iya, Bi. Dorin segera turun," balasku sembari mengambil tas kecil yang ada di atas kasur dan segera turun.
Setibanya di bawah, langkahku terhenti pada anak tangga terakhir karena terkejut mendapati tetangga sebelah ada di rumahku. "Vino?" gumamku. Kami saling bertatapan. Bisa dikatakan aku sedikit terpesona padanya karena dia terlihat tampan dengan pakaianya yang stylish. Mengenakan jas dan celana yang senada. Dengan kaos polos di dalamnya. Juga, menggunakan sepatu sneakers. Bagiku, penampilannya terlihat seperti oppa-oppa korea.
"Vino juga ikut bersama kita, kasihan dia sendirian di rumah," kata Mama membuatku mengalihkan pandang sembari memberikan tatapan 'kenapa?'. Ini acara makan malam keluarga kenapa dia harus ikut? batinku bertanya. Mama melangkah dekat ke arahku. "Kenapa liatin Vino segitunya?" goda Mama membuatku berdecak dan menyikut lengannya yang sehat.
Hari ini Mama cantik beratus-ratus kali lipat dari biasanya, dia mengenakan gaun berwarna merah terang tanpa lengan. Dengan rambut yang disanggul tinggi ke belakang, menyisakan sedikit terurai di satu sisi dibuat membentuk spiral. Sepertinya Mama pergi ke salon saat diriku tidur tadi. Tidak mungkin, kan, Mama bisa merapikan rambutnya hanya menggunakan satu tangan yang sehat?
"Ayo, Dorin, Vino." Mama sudah melangkah duluan meninggalkanku bersama cowok tinggi berdiri tidak jauh di depanku.
Vino masih saja tidak melepaskan padangannya dariku. Kemudian pandangannya beralih ke bawah. "Bagaimana lututmu?" tanya Vino melangkah mendekat dan itu membuatku tersadar, teringat dengan mimpi tadi.
"Su-sudah baikan!" seruku cepat dan menggeser diri ke belakang, memberi jarak antara kita. Vino mengerutkan jidat, mengkin karena melihat reaksiku yang terlalu berlebihan.
Kami berdua pun menyusul Mama di belakang. Sesampainya di luar, kulihat Mama sudah menempati kursi depan di samping Papa. Kurasa Papa masih bisa menyetir saat malam kalau jarak tempuhnya tidak jauh.
"Silakan."
Aku menoleh heran saat Vino membukakan pintu untukku. Hari ini dia bersikap seperti lelaki sejati, ya, maksudku tindakannya di sekolah tadi juga mengejutkanku. "Terima kasih," ucapku pelan setelah itu masuk.
__ADS_1
Aku merapatkan tubuh ke kaca, entah mengapa dadaku serasa berdebar duduk di sampingnya.
Mama berdehem.
"Apa-an, sih, Ma!" protesku saat Mama melirikku sembari tersenyum di kaca depan. Mama mulai menggodaku lagi.
Lo nggak nyaman gue ikut bersama keluarga lo?
Aku melirik ponselku yang bernadakan singkat. Pesan masuk. Aku menoleh ke samping. Dari mana dia dapat nomorku?
Satu pesan masuk lagi.
Kalau lo merasa nggak nyaman, gue bisa bikin alasan lain untuk tidak pergi.
''Tunggu!'' Refleks tanganku memegang tangan cowok itu, untung saja dia belum memanggil mamaku.
Kamu mau aku dimarahi mama setelah itu? balasku lagi mengirim pesan.
"Padahal dekat, kenapa kalian harus chattingan, sih?" kata Mama setelah itu disusul tawa kecil.
"Iya, soalnya dulu, Papa orangnya pendiam. Susah diajak bicara," sambung Mama mulai menceritakan bagaimana kisah percintaannya. Bisa dibilang Papa-lah pacar terakhir Mama hingga status itu berubah menjadi suami.
"Bagaimana dengan Vino? Apa sudah punya pacar?"
Mama apa-apa-an sih, bertanya seperti itu? Tapi, aku juga sedikit penasaran, sih. Bisa saja, kan, dia memiliki pacar, namun tidak diumbar?
Cowok itu menggeleng tersenyum.
"Lalu, apakah ada seseorang yang Vino suka?" tanya Mama yang malah melirik ke arahku. Menyebalkan! Mama mulai lagi menggodaku.
Vino kembali mengukir senyum di bibirnya dan benjawab, "Ada, Tan."
Entah mengapa jawaban singkat itu membuat hatiku sedikit terkoyak. Dalam benakku berpikir, gadis seperti apa yang disukai Vino? Apa itu Ela? Kata itu terlintas begitu saja di otakku.
__ADS_1
Bodoh! pekikku dalam hati. Aku tidak mau memikirkannya lagi dan memilih mengalihkan pandang ke luar jendela, memperhatikan mobil yang melaju berlawanan arah, di jalur yang beda.
Tak berapa lama kami pun sampai di tempat tujuan. Dan menunggu di loby saat Papa memarkirkan mobilnya.
"Ayo," seru Papa dan Mama pun melingkarkan tangannya di lengan suami tercinta. Di pintu masuk sudah ada pelayan yang menyambut dan memandu jalan di depan.
Aku melirik ke arah Vino sekilas lalu melangkah cepat mengikuti kedua orang tuaku dari belakang. Aku harus berhenti memikirkan yang aneh-aneh. Mana mungkin cowok itu akan mengandeng tangan ...
Tempat ini romantis sekali. Langkahku terhenti, mataku melirik ke sekitar. Saat ini kami berada di taman yang mana sekeliling area diberi lampu berkelap-kelip berbentuk hati. Di depan terbentang lurus karpet merah yang mengarah ke meja perjamuan makanan. Sudah ada beberapa pelayan yang menanti di sana. Juga, seorang pria berjas hitam memegang biola di tangannya.
"Terima kasih, ini sangat indah." Mata mama berkaca-kaca seraya memeluk sang suami, setelah itu mereka berciuman singkat di depan anaknya. Oh, itu membuatku cemburu.
Oke, aku menginginkan laki-laki seperti Papa! pekikku dalam hati masih berharap demikian.
"Tunggu, apa ini ulang tahun pernikahan kalian?"
"Lo nggak tahu?" Perkataan barusan membuatku menoleh singkat ke arah cowok itu.
"Maaf, Ma-Pa. Dorin lupa. Selamat atas anniversary pernikahan kalian." Aku pun memeluk mereka berdua. Setelah melepas pelukan, Mama mengajak Vino ikut bersama kami ke tempat yang sudah disiapkan.
Tidak ada orang. Pengunjungnya hanya kami berempat, sepertinya Papa sudah mempersiapkan khusus tempat ini untuk Mama.
"Mora!"
Aku menoleh ke belakang ketika mendengar suara perempuan memanggil mamaku.
"Apa kami terlambat?" tanya wanita itu sembari menyelipkan rambut hitam panjangnya di balik telinga.
Mataku terbuka lebar ketika mendapati seorang cowok yang kukenal, berdiri di samping wanita yang seumuran Mama.
"Rega?"
"Oh, kalian sudah saling mengenal?" tanya Mama dan juga wanita itu serempak.
__ADS_1
...***...