
Gue baru saja sampai di depan rumah Friska dan pagar rumahnya pun terbuka otomatis, mungkin Pak Satpam yang membukakannya. Secara, kan, dia sudah hapal dengan motor gue.
Gue pun membunyikan klakson motor bertanda mengucapkan terima kasih pada Pak Satpam yang menjaga di posnya.
"Friskanya ada, Bik?" tanya gue saat Bibi yang baru saja membukakan pintu, dia sedang membawa kantung hitam besar, mungkin bibi itu mau buang sampah.
"Oh, Den Fandy. Ada, Non Friskanya ada di dalam. Masuk saja, Den."
"Makasih, Bi." Gue pun masuk setelah mengucapkan salam.
Gue duduk di sofa besar yang empuk lalu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Friska. "Hallo, Honey. Gue sudah di bawah."
"Gue di samping, Fan. Langsung aja ke sini."
"Oke, gue ke sana." Gue bangkit dan menuju ke lokasi yang Friska suruh, di mana tempat itu biasanya tempat Friska bersantai.
Gue berjalan ke tengah ruangan Friska, berencana masuk dari dalam saja. Gue pun menggeser pintu kaca yang menghubungkan ke kolam berenang yang ukurannya tidak terlalu besar.
Tadinya gue pikir Friska sedang bersantai di atas kasur karet yang mengapung di atas air, eh, ternyata dirinya malah bertampang cemberut di atas ayunan.
"Hey, Honey. Apa ada masalah?" tanyaku sembari membelai rambutnya kemudian duduk di sampingnya.
Friska tidak mengangguk maupun menggeleng. Bibirnya manyun. Dari suaranya menelepon gue tadi, gue bisa menebak dia sedang kesal.
"Ada apalagi?" tanya Gue selembut mungkin.
"Benarkah itu?"
Jidat gue mengerut. Gue yang bertanya malah dia bertanya balik tanpa pertanyaan yang jelas.
"Apanya?"
"Beneran cewek oplas itu suka sama kamu ? Lalu, apa kamu juga menyukainya?"
Cewek oplas? "Dorin?" tanya gue memastikan, kemudian disusul anggukan kecil oleh Friska. "Kenapa harus mendengarkan gosip seperti itu, Honey?"
__ADS_1
Gue berusaha membujuknya dan menyakinkan bahwa gue tidak ada hubungan apa-apa dengan Dorin.
"Tapi kalian terlihat dekat. Dan kamu juga perhatian dengannya," kata Friska sembari memukul pahanya satu kali pukulan. Kurasa dia semakin kesal dan cemburu. Kalau cewek sudah cemburu itu sudah nenanginnya.
"Wajar saja, Honey. kami satu sekolah dulunya dan sekarang kita bertemu lagi."
"Tapi aku tidak suka melihat kamu dekat-dekat dengannya!" Nada Friska meninggi. "Kamu sudah tahu, kan, apa yang dia lakuin ke aku?"
Entah mengapa gue belum yakin seratus persen kalau Dorin melakukan hal itu, mungkin dia punya alasan tertentu. Tapi gue juga nggak mau mencurigai pacar gue.
"Bisakah aku tahu alasan Dorin menyerangmu, Honey?"
Nah, pertanyaan ini yang belum sempat gue tanyakan pada Friska karena, saat melihat foto itu dikirim ke ponsel gue, gue langsung berkesimpulan kalau Dorin masih marah sama Friska lalu membalasnya.
"Kamu tahu sendiri, kan, Beb? Si oplas itu membenciku dan menuduhku sembarangan menyebarkan foto-foto dan gosip itu. Padahal kamu tahu sendiri, kan, bukan aku yang ngelakuin itu?" jelas Friska meyakinkan itu.
Gue menghela napas mendengar Friska menyebut Dorin oplas. "Dia punya nama, Honey."
Friska mendengkus. "Aku tidak sudi menyebut namanya. Itu membuatku gatal-gatal!" celetuk Friska sembari menggaruk tangannya.
"Honey, kamu tenang saja. Aku sudah bicara sama Dorin dan memperingatinya untuk tidak menganggumu lagi." Bohong gue. Gue memang bicara sama Dorin, tapi tidak sempat berkata untuk tidak menganggu Friska lagi. Saat itu gue agi kesal dan pergi gitu saja setelah mengatakan kekecewaan padanya.
Friska tersenyum lebar. "Benarkah itu?" tanya Friska setelah itu memeluk gue dengan eratnya.
"Permisi. Maaf, Non, ini minumannya diletakkan di mana?"
"Kenapa lo yang antar minumannya? Mana Bi Imah?"
"Anu, Non. Bi Imah lagi masak di dapur, jadi aku yang ngantar ke sini."
"Bukankah sudah gue bilang, jangan pernah muncul di hadapan tamu spesial gue?" Friska berdiri lalu mendorong jidat gadis berkacamata itu dengan telunjuknya. Hampir saja gelas di atas nampan itu terjatuh.
"Fris, tenang dong. Kenapa kamu begitu kasar dengan pembantumu?"
"Aku hanya jijik melihat cara dia menatapmu, Fan!"
__ADS_1
Jidat gue mengerut. "Apa maksudmu?"
Friska menggela napas kasar. Dia melipat tangan di depan dada.
"Gue tahu kalo lo suka Fandy, kan?"
Gadis di depan gue menekuk wajah, menatap ke bawah.
"Jawab!" teriak Friska mengagetkan gadis yang bernama Nora itu. Sebenarnya gue kasihan melihat dia dibentak seperti itu. Selama gue ke sini, perlakuan Friska sangat kasar padanya, begitu juga di sekolah. Tapi mau bagaimana pun, Friska tidak mau mendengarkan ceramah gue. Malah gue yang diceramahin balik.
"Ti-tidak, Non. Mana mungkin."
Friska berdecih. "Lo pikir gue nggak tahu diam-diam lo memperhatikan pacar gue?"
"Fris, udah dong."
Friska mengambil gelas di atas nampan yang dipegang Nora lalu menyiramnya ke wajah gadis itu. "Lo dan Ibu lo sama-sama busuk! Lo pikir bisa merebut apa yang gue punya, ha? Ingat, ya! Kali ini gue tidak membiarkan itu."
Bahu Nora bergetar. Gue rasa dia sedang menagis. Dia hanya mencoba menyembunyikan itu.
"Fris!" Gue menarik lengan Friska ke belakang. "Kenapa kamu kek gini, sih?"
"Jadi lo juga ngebelain dia, Fan?"
Gue lihat mata Friska memerah. "Bukan gitu, Fris. Tapi kamu sudah keterlaluan."
"Keterlaluan? Keterlaluan katamu?!" Friska memejamkan mata sesaat kemudian mengembuskan napas perlahan. Gue rasa dia mencoba menahan amarahnya. Sebenarnya gue tidak tahu alasan apa, kenapa Friska begitu membenci Nora. "Lebih baik kamu pulang dulu, Fan. Saat ini aku tidak ingin bertengkar denganmu," katanya setelah itu berjalan memasuki rumah.
"Fris?" panggilku diabaikan.
"Maafkan aku, Kak. Ini gara-gara aku."
"Tidak. Ini bukan salah lo. Friskanya aja yang sangat sensitif," ucap gue tidak ingin kejadian ini menjadi beban baginya.
...***...
__ADS_1